Sudeot Tjerita

1810 Words
Sudeot Tjerita – Pantai Indah Kapuk, Jakarta 2021 [8:20 PM] SUDEOT Tjerita aslinya hanya lah sebuah tempat ngopi dengan konsep balcony cafe minimalis yang i********: able yang juga di penuhi oleh kalangan anak-anak muda milenial, yang membedakan antara Sudeot Tjerita dan Coffe shop yang lainya yang ku tangkap sejauh ini hanya lah konsepnya saja, namun memang sih bagi diriku sendiri – no judge no offense ya! Sudoet Tjerita hanya lah seperti balcony cafe kebanyakan di Indonesia dan kenyataan itu juga yang membuatku sedikit terusik, ku pikir ada something bigger. Keberadaan diriku dan Irene Tjana di salah satu kursi di area balcony yang berada di tengah-tengah Sudoet Tjerita begitu mencolok – aku sudah meminta untuk duduk di dalam saja namun Irene Tjana menolak karena katanya suka angin malam– kenapa aku tadi bilang mencolok ya karena hampir semua pengunjung yang ada di Sudoet Tjerita memang di d******i oleh anak-anak muda kebanyakan ABG berpakaian kasual dan begitu santai berbanding terbalik dengan diriku dan Irene yang masih menggunakan setelan kerja formal lengkap. Dan karena aku tidak ingin mendapatkan perhatian berlebihan dari beberapa remaja tanggung yang berjenis kelamin wanita dari sebrang meja aku akhirnya menanggalkan Peter Millar Flex Blazer milik ku di sandaran kursi dan menggulung kemeja putih ku hingga ke seperempat siku, yang ku lakukan itu membuat Irene Tjana yang berada di depan ku menangkup kan wajahnya di telapak tangannya sambil memandangku tanpa berkedip dia memang kurang ajar dan tidak sopan aku sudah terlalu terbiasa dengan dua sifat buruk wanita itu. “Yeokshi, Arsenio Sadewadiningrat kamu memang sengaja ya melakukan hal itu sekarang?” kata Irene dengan alis naik turun aku menangkap kalau dia sedang menggoda diriku. “Apa sih melakukan apa?” Kata ku gak paham apa yang di katakan nya, selain kurang ajar, gak sopan dia itu selalu absurd dan sedikit mendekati freak. “Kamu sengaja banget ya bikin cewek-cewek disini memandang kamu sampek ileran gitu?” tanyanya sambil menggeleng dengan pelan, dia masih berlanjut membawa topik yang gak penting ini ke permukaan. “Saya tidak melakukan apapun.” jawabku bersikeras. “Menanggalkan jas.” katanya dengan senyum lebar, ia melihat jas yang tersampir dan diriku bergantian. “Saya pakai lagi kalau gitu,” kata ku singkat meraih kembali blazer ku di sandaran kursi, tapi lengan ku di hentikan oleh Irene Tjana wanita itu meringis tanpa dosa. “Bercanda aja gak usah cemberut gitu wajahnya.” Aku hendak menceramahi dirinya karena selalu seperti itu namun urung ku lakukan saat seorang waiters menyela pembicaraan kami dan meminta ijin untuk meletakkan pesanan kami di atas meja. “Iced Caramel Latte, Bintang Radler, Madeira Afternoon dan air mineral ada yang kurang kak untuk drink nya?” Tanya waiters itu menempatkan beberapa gelas ke meja kami. Irene Tjana menggeleng sambil melemparkan senyuman tipis, “Nope Correct thank you.” Setelah Irene Tjana mengatakan itu waiters pria itu undur diri digantikan waiters wanita lain yang sebelumnya ada di belakangnya. Aku sadar kok kalau wanita itu beberapa kali mencuri pandang ke arah ku, bukannya aku narsis atau percaya diri yang berlebihan namun aku ini terlalu peka dengan keadaan sekitar. “Main Course nya kak, Truffle Bacon Carbonara-“ “Itu untuk mas nya.” Potong Irene saat waiters itu hampir meletakkan plate ke depannya. “Oh iya maaf ya Kak,” kata sang waiters lalu buru-buru meletakkan plate itu di depan ku, “Aglio E Olio dan Mix platter sudah benar kak?” Tanya Waiters itu melirik sekilas ke Irene dan diriku. “Sudah thank you.” Balas Irene Tjana dengan ramah “Sama-sama.” Jawabnya. Setelah pelayan itu berbalik pergi aku tidak lagi bisa menahan cibiran ku melihat mix platter yang berada di tengah-tengah meja, “Banyak banget loh ini Rene.” “Apanya?” tanya Irene acuh pria itu lebih memilih untuk mulai memakan Aglio miliknya dan tangannya yang lain meraih kentang goreng dari mix platter. Aku menatap semua makanan di atas meja dan mix platter berukuran besar yang sangat menggangu diriku, ini boros banget dan kami hanya berdua mix platter yang umumnya di gunakan untuk food sharing pengunjung berkelompok itu di pesan Irene Tjana untuk dirinya sendiri. Aku gak berlebihan, coba bayangkan mix platter yang isinya set lengkap kentang goreng, nachos, calmari, dori, onion ring hingga kulit ayam crispy! Yang jumlahnya terlalu berlebihan untuk dimakan seorang diri kini tersaji di depan kami! DASAR WANITA RAKUS “It’s okay, nanti biar ku bungkus bawa pulang.” Jawabnya gak serius. “Kamu bukan tipe orang yang bungkus makanan bawa pulang." jawab ku singkat. “People change.” katanya dengan penuh makna sambil melemparkan senyum berarti kepada ku. Aku menghela nafas lalu meraih gelas Iced Caramel latte milik ku,” Jadi apa yang hendak kamu bicarakan?” tanya ku akhirnya. “Gak makan dulu kamu?” tanyanya berdehem canggung. “Keburu kemalaman lebih baik sambil ngobrol.” Irene mendengus, wanita itu mendadak memakan makan malamnya dalam diam. “Irene.” panggil ku dengan suara rendah karena dia bukannya bicara malah makan terus. “Aku gak akan bisa hidup dengan tenang kalau kamu masih seperti ini.” katanya dengan pelan. Angin malam bertiup, semakin malam suasana di sekeliling kami semakin dingin dan itu sejalan dengan ekspresi ku sekarang kurasa. Irene kembali membahas tentang pembicaraan kami selepas makan malam tim beberapa hari yang lalu. “Seperti apa?” tanyaku sama pelannya tidak ingin membangun keributan yang tidak perlu seperti yang terakhir kalinya terlalu banyak orang dan saksi mata. “It’a all about seven years ago, dan aku terus merasa bersalah akan keadaan kamu Arsenio. Let me help you Sen.” Katanya dengan sungguh-sungguh. Tujuh tahun yang lalu katanya, it’s just odd story for me. Tujuh tahun yang lalu karena menyelamatkan Irene Tjana dari mobil yang akan menabrak wanita itu di jalanan sibuk Seattle aku harus mengorbankan diriku sendiri. Yes you are right, aku menggantikan wanita itu untuk tertabrak mobil. Jika kalian bertanya tentang kondisi ku maka aku dapat menjawab dengan sangat lantang kalau itu luar biasa mengerikan, setidaknya itu dulu tujuh tahun yang lalu namun sekarang bagi ku aku telah baik-baik saja, safe and fine. Tapi pandangan ku ini tidak sama dengan Irene Tjana, wanita itu masih terjebak dalam masa lalu. Dia merasa bersalah dan masih menganggap diriku kalau aku tidak baik-baik saja. manusia dan asumsi mereka itu sangat-sangat menyeramkan kan? “Saya baik-baik saja.” “No you’re not,” bantahnya tegas. “Kamu dokter Irene Tjana? You are just broker dan setahu Saya broker tidak memvonis pasien yang sakit mereka menganalisis tentang pergerakan saham.” “Aku enggak sedang bercanda Arsenio!-“ “Me either.” dengus ku sebal sebelum melanjutkan, “Memangnya apa yang bisa kamu lakukan kepada saya, how, how you fix this?” tanya ku menghela nafas berat. “....” Bagaimana dia bisa menolong diriku kalau dokter saja telah berusaha sangat keras untuk melakukan itu padaku sebelumnya “Kamu bukan seorang dokter Irene Tjana jadi bagaimana kamu bisa menolong saya dengan uang kamu?.” “Arsenio!” suara Irene Tjana mengeras membuat beberapa orang menoleh ke arah kami, aku menyenderkan tubuhku di sandaran kursi dan menyedot Iced caramel latte milik ku yang es nya sebagian telah mencair. “What? Benar kan money can fix anything saya mengakuinya.” Jawab ku kurang ajar membuat wanita itu semakin berang padaku. “How rude you are Arsenio!!!” sentak nya kesal, wajahnya merah padam menahan amarah yang dapet keluar kapan saja, beberapa orang melihat kami dengan penasaran tapi menyadari kalau itu gak sopan mereka tidak menatap kami dengan terang-terangan seperti awalnya. “I am talking about fact, kenyataan yang ada, jangan naive Irene.” “Tapi maksud ku bukan seperti itu!” balasnya sangat kesal. “So How? Like what?” tantang ku kesal, dia benar-benar ingin berdebat tentang ke- logisan dengan ku sekarang? “Aku akan menghubungi dokter Neurologi terbaik untuk kamu dan lanjutkan pengobatan kamu.” Katanya merendahkan suaranya. Aku memang berhenti mengunjungi dokter Neurologi –dokter saraf ku– setelah kembali ke Jakarta dari Seattle, dan itu tidak lain karena aku merasa bahwa aku telah baik-baik saja, aku dapat beraktivitas dengan baik seperti manusia kebanyakan hanya saja ada satu hal yang hilang setelah kecelakaan itu –setelah melakukan operasi pembedahan akibat kecelakaan itu.- I am lost all emotions, iya aku sulit mengenali sebuah perasaan emosi dan sulit juga bagaimana mengungkapkan emosi ku. Kata Dokter Zui Madrim psychologist ku yang menangani diriku setelah operasi di USA bilang keadaan ku ini bukan karena gangguan mental, Alexithymia –yang anti sosial– , maupun kondisi sub klinis. Tidak ada dugaan pasti atau penjelasan pasti mengenai kondisi diriku ini karena mereka bilang bahwa kondisi ku ini muncul karena efek samping setelah melakukan tindakan pembedahan. “Tuh, it’s all about money Irene, Neurologi, psikiatri, psikologis semuanya dibayar dengan uang jadi bagaimana menyebutnya kalau itu bukan uang.” “Arsenio kamu-“ “Saya bisa membayar semuanya sendiri jadi jangan merepotkan dirimu sendiri seperti itu.” Kataku memotongnya dengan sekali tarikan nafas. “You are mess!!” kata Irene, wanita itu hendak kembali melayangkan seluruh umpatannya namun keburu di hentikan oleh seseorang yang menyeruak datang diantara pertengkaran kami. “Hei sayang, tenang.” Oliver Sykes datang diantara kami dengan sedikit panik, pria itu berusaha menenangkan pacarnya yang kehilangan kontrol diri. aku hanya duduk tenang di kursi ku dan terlalu kontradiktif dengan Irene di depanku. “Kamu sakit tahu Sen!” Itu adalah kalimat terakhir yang di ucapkan oleh Irene Tjana sebelum berbalik menjauh dari ku. Aku menatap punggung itu nanar hingga wanita itu hilang dari pandangan ku. “Easy Bro, maafkan Irene Tjana dia hanya khawatir dengan keadaan Lo beberapa hari terakhir ini lo tahu kan?, gue susul dulu si Irene nanti gue hubungi lo lagi, good bye Sen hati-hati kalau mengemudi.” Kata Oliver Sykes menepuk pundak ku beberapa kali sebelum ikut berbalik menyusul Irene Tjana. Aku menatap nanar kekosongan di depan ku, mereka semua tidak tahu apa-apa, tapi berlagak mengetahui segalanya. kenapa aku bisa bilang begitu hei dude! setiap orang hidup di dunia ini memiliki cerita mereka sendiri, dan alasan mereka seperti yang mereka lakukan sekarang, tidak semua orang menceritakan kisah mereka dan terkadang tidak ada yang selalu bertanya alasannya. Mata manusia itu begitu cepat menilai orang lain dan menganggap mereka sendiri tahu banyak hal tentang kita padahal ya hanya berdasarkan pengamatan sepintas mata mungkin dari pakaian mereka, dengan siapa mereka bergaul, dan bahkan apa yang mereka makan –gak adil kan kalau mereka hanya menilai dari faktor itu! padahal ada begitu banyak faktor yang mereka tidak ketahui tapi mereka telah menghakimi dengan penilaian mereka sendiri. Gak adil padahal aku selalu mengingatkan diriku sendiri kalau aku melihat seseorang yang "tidak biasa" dan sedikit berbeda dari aku, itu mungkin cerita mereka juga berbeda, mereka hanya memiliki beberapa bab lebih banyak atau lebih sedikit dari diriku dan tidak ada yang salah dengan itu semua orang punya cerita mereka masing-masing dan tidak ada seorang pun bisa ngasih judgmental seenaknya begitu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD