Kata Orang Itu adalah Keberuntungan

1672 Words
INASDAQ Sekuritas, Treasury Tower, Jakarta Pusat – 2021 [15:30 PM] SAAT jam menunjukkan pukul satu siang kantor INASDAQ Sekuritas kembali ramai seperti sebelumnya –seperti awal-awal jam masuk kerja– karena semua orang yang beristirahat dari jam makan siang telah kembali ke meja mereka masing-masing tak terkecuali tim lima yang telah kembali duduk di kursi masing-masing, ada dua puluh menit sebelum jam pra-pembukaan sesi kedua dimulai tapi semua orang telah bersiap di kursi mereka masing-masing untuk melihat harga saham yang terbaik. “Sen sudah makan belum kamu? kok masih aja anteng di kursi mu?” tanya Pak Reyhan berbasa-basi aku mengangguk dengan pelan sebagai jawaban atas pertanyaan nya, pria itu selalu mengecek itu kepada ku. “Sudah kok Pak, tadi sempat turun ke bawah.” Jawab ku dengan singkat, aku memang telah makan siang, makan dengan menu bento yang tadi ku beli dari kantin Treasury Tower ya karena lebih menghemat waktu, lebih murah dan gak perlu keluar dari gedung kantor. Dan karena aku memutuskan gak ikut dengan yang lain makan siang keluar building aku jadi punya cukup waktu untuk melakukan analisis sekali lagi tentang Evalean Tbk Stock. Setelah berbicara dengan Julian Dewanto, perasaan ku menjadi tidak tenang. Jujur saja pria itu begitu aneh dan tidak tertebak dan perasaan ‘gagal menebak’ itu sedikit mengganggu diriku. Selama ini aku dapat dengan mudah hampir menebak pikiran semua orang namun Julian Dewanto adalah pengecualian kalau tentang wanita – terutama Irene Tjana – aku masih dapat meraba-raba jawabnya tapi dengan Julian Dewanto aku tidak bisa menemukan apapun bahkan clue sekalipun aku tahu manusia itu memang salah satu makhluk yang complicated namun Julian Dewanto lebih complicated daripada orang kebanyakan. Pokoknya ada beberapa hal yang mengganggu ku hari ini, dan aslinya kalau aku memikirkannya lagi memang banyak sekali pertanyaan yang berseliweran di otaku seperti; apakah pria itu benar? Apakah perkataanya tentang Evalean Tbk stock benar? kalau benar apa yang terjadi? lalu seperti apa seterusnya? Maksud ku disini kalau yang dikatakan oleh Julian Dewanto benar maka tidak dapat dipungkiri lagi kalau pasar saham hari ini akan sedikit kacau walaupun tidak benar-benar kacau dan kalau boleh menambahkan satu fakta lagi kekacauan nya mungkin akan lebih banyak do internal INASDAQ Sekuritas sendiri karena kebanyakan dari pialang saham di INASDAQ Sekuritas beberapa minggu ini menyarankan Evalean Tbk menjadi stock mid cap – saham lapis ke dua yang worth it sampai dengan kapitalisasi pasar hingga melebihi angka satu triliun– dan termasuk diriku sendiri juga merekomendasikan saham Evalean Tbk. Kekhawatiran ku terjadi karena beberapa minggu ini entah bagaimana aku berhasil menyarankan dua nasbah ku untuk membeli saham di Evalean Tbk–walaupun lot saham yang mereka beli gak banyak-banyak banget gak sampai ratusan seperti yang lain tapi tetap saja kalau mereka merugi kan gak bagus buat reputasi ku kedepannya juga dan beban mental kerugian itu pasti ada. Dan buntut karena kekhawatiran gak beralasan ku itu akhirnya seharian ini aku berhenti untuk menawarkan saham Evalean Tbk dalam tier mid cap dan menawarkan stock alternatif yang lain, walaupun sempat juga di tegur oleh Pak Reyhan Dinata. So back to the topic, jadi kalian bayangkan saja jika Evalean Tbk stock benar-benar loss atau downtrend terus-menerus, INASDAQ Sekuritas akan sedikit kacau karena ada begitu banyak nasabah middle yang membeli saham tersebut, gak cuma satu tapi puluhan bahkan ratusan kalau di total dari nasabah per pialang saham. “Sen, Arsenio sini dulu kamu.” Pak Reyhan memanggil ku dengan suara sedikit keras, pria itu mengibaskan tangannya menyuruh diriku untuk mendekat padanya. Tanpa banyak kata aku mendekat ke arah pria itu, sambil otak ku menebak-nebak alasan dia memanggilku. “Iya Pak ada apa?” tanya ku, mengingat-ingat apakah aku melakukan hal yang patut untuk ditegur lagi? “Ini kenapa Opsi Jual Evalean Tbk milik kamu kok sampai seribu lima ratus lot gini?” tanyanya dengan suara sedikit gusar, saat melihat track list di komputernya, “Ini kamu gak salah lagi kan Sen, Nasabah bener minta Opsi Jual bukan hold atau buy sahamnya?” “Enggak kok pak sudah benar, nasabah mintanya seperti itu” Kataku dengan mantap, dia pikir aku salah lagi begitu? Pasti seperti itu ya manusia, kalau sudah pernah salah sekali diungkitnya terus-menerus walaupun sudah berusaha semaksimal mungkin. “Saham apa pak?” tanya Saka Wijaya ingin tahu, pria itu ikut melongok ke arah meja Pak Reyhan, ingin bergabung dengan percakapan kami. “Ini loh Saka Evalean Tbk.” Kata Pak Reyhan, “Vi ... Vivi coba kamu ke server di bawah minta log line panggilan transaksi milik Pak Arsenio ya.” perintah Pak Arsenio kepada Vivi. “Yang mana pak lebih tepatnya?” Tanya Vivi sopan. “Yang satu jam sebelum penutupan sesi pertama dari jam sepuluh tiga puluh ya Vi kalau bisa.” Jawab Pak Reyhan Dinata dengan cepat. “Baik Pak.” Kata Vivi dengan sigap, wanita itu sedikit berlari untuk menuju ke ruang server yang berada satu lantai di bawah kami. Aku yang di remehkan, hanya diam di tempatku. Menunggu dengan sabar Vivi Pitaloka yang akan membawa bukti ‘ketidak bersalahan diriku dalam memilih opsi’ manusia itu memang begitu kan sekali bikin kesalahan diingat-ingat terus dan akhirnya di bawa-bawa terus dengan kesalahan yang lama. “Katakan lah kamu benar Sen si Nasabah minta opsi jual tapi ini kamu gak menyarankan untuk milih hold dulu ke Nasabah?” tanya Pak Reyhan lagi dengan kening berkerut-kerut. “Sudah Pak, nasabah yang menolak saran saya da–“ perkataan ku terpotong karena Saka Wijaya yang nyerocos setelahnya. “Gak masuk akal banget nih Pak, fundamental dan teknikal Evalean Tbk kan lagi bagus-bagus aja.” Kata Saka Wijaya menyahut. “Nasabah saya juga banyak yang pakai kok Mas.” Kata Irene Tjana ikut menyahut dengan suara pelan, menyetujui ucapan Saka. Ternyata wanita itu sedari tadi menguping pembicaraan kami. “Nasabah Lo nih Sen yang gak bener.” Celetuk Saka Wijaya, pria itu tumben banget satu pendapat denganku. “Hmm, Iya mungkin memang begitu, Nasabah saya yang gak bener.” balasku dengan pelan menyetujuinya. Tapi tuh kan, benar kan semua orang bilang keputusan Julian Dewanto gak masuk akal. Wajar sih kalau dia baru di pasar modal tapi hei! Dia bahkan punya portfolio yang daftarnya saja high profit hig risk. Saham yang dibelinya komplit tiga tier Dari blue chip hingga lapisan satu jadi mana mungkin kalau pria itu amatiran dan tidak bisa membedakan mana yang untung mana yang rugi. – Atau asumsi lainnya pria itu hanya melakukan ini untuk bersenang-senang? Tidak beberapa lama setelah itu Vivi Pitaloka datang, wanita itu menyerahkan sebuah flashdisk kepada Pak Reyhan. “Ini pak rekaman log line nya milik Bapak Arsenio.” “Oke thank you.” Katanya dengan pelan. “Sama-sama pak.” Jawab Vivi. “Sesi kedua segera di buka yang lain siap-siap dulu ya, Sen kamu disini dulu oke.” Pinta Pak Reyhan sambil menancapkan flashdisk itu di slot, aku melirik jam dan sepuluh detik lagi jam bursa sesi kedua dimulai. “Arsenio, kamu tahu kan melepaskan lot segitu banyaknya di market bursa bisa membuat sentimen publik kacau sesaat?,” tanyanya, pria itu bertanya tanpa ingin jawaban dari ku dan aku hanya diam menerima semua omelan nya. “...” “Harusnya kamu itu menahan nasabah untuk gak membuat keputusan riskan seperti itu, itu sudah jadi tugas kita buat kasih advice.” lanjutnya, setelah pria itu menyelesaikan suaranya bel pembukaan terdengar –jam satu tiga puluh– semua telephone kembali berdering hampir secara bersamaan, selalu seperti itu. Kejadiannya begitu sangat cepat, deringan telepon dan dentingan tidak wajar terdengar bersahutan di telinga ku dan gak beberapa lama setelah itu teriakan kesal dari tim satu dan tim dua bersahutan. “Siapa itu wooyyyy siapa yang melakukannya.” “Apa ini?!!” Saka Wijaya yang berada di sebelah ku ikut juga bersuara kesal. Dan gak beberapa lama setelah teriakan itu, pintu Pak Wirasetya menjeplak terbuka dengan suara keras, “Evalean Tbk downtrend ! Apa yang sedang terjadi sebenarnya disini?” Mendengar dan melihat serentetan kejadian itu aku akhirnya berbalik melihat Trend line saham di panel besar, dan hanya butuh sepuluh detik setelah pembukaan bursa, yang terjadi adalah saham Evalean Tbk turun secara drastis terjun bebas hingga membuat garis Trend line menukik dengan curam setiap detiknya se iringi dengan itu umpatan-umpatan, dan permohonan maaf kepada nasabah terdengar begitu nyaring di ruang kerja INASDAQ Sekuritas dan aku hanya dapat terpaku di tempatku melihat itu semua. Julian Dewanto benar, pria itu melakukan cut loss di waktu yang tepat dengan begitu pria itu telah mengantongi keuntungan sembilan puluh delapan persen dan terhindar dari kerugian besar-besaran dan saham Evalean Tbk setiap detiknya kini Bearish dan kondisi market nya mengalami down trend yang sangat cepat. “Sen kamu –” Aku terpaku di tempat ku terlalu gak menyangka apa yang baru saja terjadi – saat semua orang sibuk mengangkat gagang telepon milik mereka masing-masing bahkan pak Reyhan Dinata juga menjadi sangat sibuk dengan panggilan yang masuk, aku hanya terdiam sambil mengamati panel dimana Trend line terus terusan menurun dan bahkan melewati level support. It's bearish time!! kondisi yang ditakuti sekaligus ditunggu oleh segelintir pelaku pasar saham. lewat Trend line yang tersaji aku dapat melihat dengan begitu jelas ketika penawaran jual lebih besar daripada permintaan beli dan itu mengakibatkan penurunan harga saham di market. Penurunan nya membuat semua orang menjadi sangat pesimis atas kondisi pasar, dan membuat investor yang lain buru-buru pasang bid dan INASDAQ Sekuritas sedikit kacau siang itu. Sialan sekali! Bagaimana Julian Dewanto bisa seberuntung itu?! hell yah! maksud ku kata Ibu ku yang merupakan oportunis, keberuntungan itu terjadi ketika momen di mana persiapan bertemu dengan peluang maksud ku orang beruntung itu adalah orang-orang yang selalu mengambil kesempatan yang ada di depan mereka, sementara orang yang merasa sial biasanya tidak mengambil atau ragu terhadap kesempatan yang ada di depan mereka jadi ... dan apa itu artinya Julian Dewanto telah bersiap sebelum nya dan mengambil kesempatan yang ada di depannya tanpa memperhatikan resiko yang akan dia dapat kan selanjut nya? dan apakah itu maksudnya dia tidak ingin bertaruh lagi? SIAL SEKALI! Aku sama sekali tidak mengerti dan tidak paham dengan apa yang terjadi di depan ku saat ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD