Bearish Hukum Ekonomi

1675 Words
INASDAQ Office, Treasury Tower, SCBD Jakarta Pusat, 2021 SEPERTI yang telah ku prediksi sebelumnya, hari ini aku sedikit terlambat datang ke kantor INASDAQ Sekuritas akibat dari morning running rush dan endingnya aku berakhir membawa mobil ku alih-alih berjalan kaki – akhirnya kini aku bergabung menjadi salah satu makhluk di bumi ini yang menjadi pelopor meningkatnya kadar emisi karbon monoksida di bumi kita tercinta dan berakhir menimbulkan peningkatan pemanasan global. Damn you Arsenio! umpat ku, mengatai diriku sendiri hari ini karena menjadi salah satu makhluk itu, walaupun aku bukan seorang aktivis lingkungan tapi tetap saja gak perlu jadi aktivis lingkungan dulu baru sadar tentang lingkungan di bumi ini kan? Ngomong-ngomong lagi tentang kedatangan ku yang morning running rush kalau dipikir-pikir lagi sebenarnya kedatangan ku ini belum dapat dikatakan terlambat juga sih karena market bursa belum di buka namun aku melewatkan briefing pagi tim lima dan berakhir diberi wejangan lisan selama hampir delapan menit dari Pak Reyhan Dinata yang memanfaatkan waktu itu semaksimal mungkin. Saat pria paruh baya itu memberikan wejangan yang baik kepada diriku tapi aslinya berkedok memarahi ku sebagai supervisor yang baik dan peduli dengan karir ku. Pikiran ku masih melayang memikirkan perkataan Julian Dewanto pria yang ku temui malam itu. Karena perkataan pria itu yang mengatakan bahwa Stock Evalean Tbk. akan jatuh aku tidak berhenti memikirkannya bahkan setelah pulang dari Lola, malam itu bukannya tidur aku malah melakukan analisis fundamental dan teknikal mengenai Stock Evalean Tbk semuanya tanpa terkecuali. “Jangan di ulangi lagi ya Arsenio walaupun ini yang pertama kalinya buat kamu, nanti jadi kebiasaan kalau di maklumi oke.” Kata Pak Reyhan Dinata, pria itu mengibaskan tangannya kearah ku mengisyaratkan diriku untuk kembali ke meja ku. “Ya Pak, maaf.” Kata ku pasrah. “Lo kelihatan kacau banget deh Sen, ngapain aja tadi malam?” Kata Saka Wijaya saat aku melewati mejanya, pria itu gak akan melewatkan peluang untuk mencela diriku dan aku cukup sangat paham dengan tabiat kurang ajarnya itu, untung aku orang yang gak peduli dengan lingkungan sekitar. Aku menengok sebentar untuk menatapnya yang pagi ini kelihatan seperti hari-hari sebelumnya shinning, shimmering, splendid pari purna, “Iya.” jawabku pendek. “Nggak jawab? Lo abis ngapain emang tadi malam?” interogasinya dengan curiga, melihat raut wajahnya yang begitu, aku buru-buru mengeluarkan jawaban untuk membungkamnya. “Lembur tapi gak seperti yang anda pikirkan.” Jawabku singkat lalu berlalu melewati meja pria itu sebelum duduk di meja ku. Dari ekor mata ku, aku dapat melihat Irene Tjana yang berkali-kali melirik diriku ingin mengatakan sesuatu namun urung. Aku dapat menebak kalau ini masih berkaitan dengan masalah tadi malam. “Pak Arsenio dan Bu Irene sedang marahan ya?” tanya Vivi Pitaloka dengan suara sedikit keras membuat Saka yang gak berada jauh dari kami seketika menoleh ke arah kami. Vivi Pitaloka dan sifatnya yang tidak peka dengan keadaan dan bermulut besar memang gak bisa tertolong lagi, aku hanya diam sambil fokus menatap komputer ku gak ingin mengkonfirmasi apapun biarkan mereka berspekulasi sesuka hati mereka, toh mereka kan gak pernah benar-benar peduli. “Marahan kalian? lah kenapa?” tanya Pak Reyhan Dinata dengan kening berkerut bingung. “...” “Pantesan makanya Lo pagi ini kacau banget Sen, dah gue nemu jawabannya sendiri.” Kata Saka Wijaya berasumsi sesuka hatinya, manusia kan memang begitu senang banget berteori cocok- ologi padahal kalau dipikir mereka bisa bertanya alasannya tanpa harus berasumsi asumsi tak berdasar sendiri seperti itu. Karena diantara kami berdua – aku dan Irene Tjana – gak ada yang menjawab akhirnya mereka semua kembali menutup mulutnya rapat-rapat selain itu mereka juga mulai bekerja ketika jam bursa akhirnya dibuka. Dan pada akhirnya hampir selama setengah hari ini berlalu Irene Tjana gak berbicara sama sekali kepadaku dan itu merupakan rekor yang sangat menguntungkan buatku karena gak harus meladeni ocehannya. Lalu rekan kerja yang lain juga gak banyak komen seperti biasanya karena mungkin tahu bahwa mood diantara kami memang telah buruk. Dan tiga puluh menit mendekati jam makan siang, dan penutupan bursa sesi pertama telephone di atas meja ku berdering untuk kesekian kalinya –telephon dari Nasabah INASDAQ Sekuritas– dan gak butuh waktu yang lama aku mengangkat gagangnya pada dering pertama. “INASDAQ Sekuritas, Arsenio ada yang bisa saya bantu?” tanya ku seperti biasanya, entah untuk yang ke berapa puluh kalinya aku mengucapkan kata itu. “Arsenio Sadewadiningrat?.” panggil seseorang di ujung sana, aku mengerjapkan mata ku sedikit bingung pada awalnya saat suara di ujung sana menyebut nama ku secara lengkap padahal tadi aku hanya menyebutkan nama panggilan ku saja saat menyapanya. “Ya benar Saya Arsenio, ada yang bisa saya bantu Pak?” tanya ku sekali lagi, tangan ku yang bebas menggerakan tetikus dan membuka tab informasi nasabah bersiap memberikan layanan yang dibutuhkan oleh mereka. “Saya butuh kamu untuk melakukan opsi Jual, seluruh stock yang saya miliki di Evalean Tbk sekarang juga.” Tangan ku yang menggeser tetikus berhenti bergerak, untuk sejenak aku terkejut dan terlalu bingung karena permintaan tentang ‘menjual seluruh stock di Evalean Tbk sekarang juga’ namun keterdiaman ku ini hanya berlangsung se persekon karena yang aku lakukan selanjutnya adalah segera membuka stock Evalean Tbk untuk melihat market bursa nya, “Mohon tunggu sebentar ya Pak.” kata ku dengan suara pelan sambil mata ku tifak lepas mengamati analisis fundamental dan teknikal dari Saham Evalean Tbk sebelum memberikan broker service advise untuk orang diujung sana. “Mohon maaf sebelumnya untuk memproses permintaan anda Pak kalau boleh, saya dibantu untuk menyebutkan namanya Pak yang terdaftar di INASDAQ Sekuritas sebelumnya?“ tanya ku sesuai dengan prosedur, jari jemariku bersiap mengetik di atas keyboard mencari nama nasabah. “Julian Dewanto.” “Pak Julian Dewanto benar ...” aku melirik kartu nama pria asing tadi malam yang tergeletak sembarangan di atas meja, perkataan dari ujung sana mengkonfirmasi pikiran di otakku. “Tolong boleh dibantu untuk disebutkan tempat dan tanggal lahirnya Pak Julian?” “Jakarta, 1 Januari 1983.” “ID nya Pak boleh bantu disebutkan?” “151323” Karena tebakan ku benar aku buru-buru menutupi keterkejutan ku dengan berdehem pelan, “Baik Pak Julian Dewanto, ini saya baru saja melihat kalau fundamental Evalean Tbk cenderung bagus walaupun hari ini Trendline Evalean Tbk sedikit turun namun menurut analisa stock market dalam seminggu atau dua minggu lagi harga sahamnya bisa naik lagi.” “Begitu kah?” tanya pria itu diujung sana dengan nada nggak sungguh-sungguh, maksudnya dia gak benar-benar ingin tahu penjelasan yang ku sampaikan ini, menjadi pialang beberapa tahun ini aku jadi begitu peka terhadap nada suara semua orang. “Benar pak biasanya seperti itu saya lihat Trendline saham dari Evalean Tbk memang beberapa hari ini mengalami sideways, harga saham Evalean Tbk sekarang yang fluktuatif bisa terjadi karena sentimen sesaat, kalau Bapak ingin mendapatkan Gain Capital yang lebih tinggi dari harga sekarang bapak bisa cut loss beberapa hari kemudian saat Trendline mengalami kenaikan yang lebih high profit.” Kata ku mataku gak lepas melihat grafik di depan layar iMac ku, sekaligus membaca analisis dari keuangan Evalean Tbk sendiri. “Tapi saya tetap ingin menjualnya sekarang juga, saya tidak ingin bertaruh lebih banyak kalau akhirnya merugi.” Katanya diseberang sana, suaranya yang dominan nya meyakinkan ku kalau itu adalah Julian Dewanto yang sama dengan yang tadi malam. “Kalau itu keputusan bapak baik pak, berapa tolong dibantu sebutkan jumlahnya?” tanya ku menyerah, intinya kami sebagai pialang telah memberikan nasihat terbaik sesuai dengan analisa teknikal dan fundamental kepada para nasabah perkara di terima atau tidak itu terserah mereka. “Semuanya yang ada di sana.” Perintahnya. Aku menggulirkan kursor dan mengakses data nasabah, nominal yang tertera di Imac ku membuatku melongo tidak percaya, ada seribu lima ratus lot saham di sana padahal per lot itu berjumlah seratus dan Julian Dewanto ingin diriku menjual semuanya dan capital gain yang di dapat pria itu kurang lebih sebesar enam ratus juta rupiah, terlalu sayang apabila harus di jual sekarang pria itu memang gak rugi apapun namun bagiku dengan hold saham Evalean Tbk dia bisa mendapatkan capital gain yang lebih besar nantinya. “Seribu lima ratus lot saham Evalean Tbk telah di jual ya Pak.” Umum ku melakukan konfirmasi akhir, dan pria diujung sana mengiyakan, tangan ku lalu bergerak mengklik tetikus mengirimkan command kepada iMac di depanku. “Ada yang bisa di bantu lagi Pak?” “Saya akan menjadi nasabah tetap anda.” Katanya sebelum memutuskan panggilan secara sepihak. Setelah itu aku meletakkan gagang telepon itu kembali ke tempatnya lalu melirik tab layar iMac terbawah di sana yang terdapat pop up yang bertuliskan. Comission Fee 2.625.000 IDR send to you Komisi terbanyak ku hari ini, dan sekaligus menjadi satu-satunya komisi milik ku yang tembus di atas satu juta dalam satu kali klik. aku menghela nafas lalu menyenderkan tubuh ku di punggung kursi saat suara ring terdengar menandakan pasar busa sesi satu telah berakhir dan kami semua bisa beristirahat. “Tumben kamu Arsenio dapat komisi tembus tiga juta.” Suara Pak Rayhan terdengar sesaat setelah akumulasi comission fee ditampilkan di iMac masing-masing berhubung Pak Reyhan Dinanta itu yang merupakan supervisor membuat pria itu dapat melihat seluruh komisi anak buah yang ada dibawahnya dengan mudah. “Lucky you Sen,” Kata Saka Wijaya sebelum berdiri dari tempat duduknya, “Ayo guys makan ke Pasific Place.” Ajaknya dengan begitu gembira. Semua orang mengangguk dan berdiri namun seperti biasanya aku tidak ikut pergi, “Gak ikut lagi kamu Sen?” tanya Pak Reyhan yang sangat hafal kebiasaan ku, karena saking seringnya absen. Aku mengangguk lalu mereka semua gak lagi memaksa ku untuk ikut, Pak Reyhan, Saka dan Vivi Pitaloka sudah beranjak dari tempat mereka masing-masing dan berjalan menuju pintu keluar, tersisa Irene yang masih berdiri di samping meja kerjanya. “Berantem dengan aku bikin kinerja kamu meningkat ya Sen, dasar gak punya perasaan kamu.” Cibirnya tanpa perasaan sebelum melanjutkan langkahnya mengikuti yang lain. Memangnya apa sih hubungannya antara kinerja kerja ku, perasaan ku dan Irene Tjana? GAK ADA Aku hanya menggeleng dengan pelan, memang sih perempuan dan semua pemikiran aneh mereka memang sesuatu yang gak pernah bisa diprediksi sekeras apapun kamu mencobanya, poor us! para lelaki.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD