“Aku janji tidak akan mabuk lagi, Kak.” Tavie berlari kecil mengikuti Zendra yang sudah berjalan di depannya dengan langkah lebar seolah ingin menghindarinya. Seperti biasa, Tavie akan diantar oleh Zendra ke sekolahnya, tapi sekarang sang kakak marah padanya dan Tavie yakin semuanya akan menjadi canggung.
“Kakak, dengarkan aku dulu.” Tavie menahan lengan kakaknya ketika Zendra akan masuk ke mobilnya. “Aku janji, Kak. Jangan marah lagi padaku, Ayah dan Mama saja tidak repot-repot memarahiku.” Masih saja bengal dan membela diri. Zendra menghela napas. Pria itu tetap masuk ke mobilnya, tidak memedulikan Tavie yang sudah akan menangis.
“Kak, jangan marah lagi...” Tavie sudah pasrah akan dimarahi kakaknya ketika ia duduk di.mobil, di samping kakaknya.
Zendra sendiri tidak ingin menanggapi hal itu karena Tavie pernah mengatakan; janji tidak pulang malam lagi, tapi perempuan itu mengingkarinya walau saat itu ia terpaksa kerja kelompok sampai malam. Zendra melirik adiknya yang menunduk. Ia tahu Tavie mencoba menahan tangisnya.
Zendra tetap menjalankan mobilnya, hingga jaraknya cukup jauh dari rumahnya, ia memberhentikannya. “Jangan nangis.” Hanya itu yang ia ucapkan.
Tavie diam. Tapi, tangannya menghapus jejak air mata yang entah kapan mengalir. “Maaf.”
Zendra menghela napas untuk kesekian kalinya. “Okay, aku pegang janji kamu, Magentha.”
Tavie mendongak. Wajahnya langsung berubah sumringah. "Aku sayang Kakak." Tangannya langsung memeluk erat leher Kakaknya.
Zendra terkejut dengan gerakan Tavie itu. Ia tidak membalas ucapan adiknya. Sebaliknya, ia melepaskan pelukan itu.
Sial. Ini tidak baik untuk jantungnya.
***
"Hati-hati. Pulang jam berapa sekarang?" tanya Zendra saat adiknya itu bersiap keluar dari mobilnya.
"Jam setengah enam sore mungkin, aku ada ekskul dulu."
Zendra mengeryit. "Bukankah kamu sudah tahun ketiga? Seharusnya tidak ikut ekskul."
Tavie tersenyum. "Hanya untuk memilih ketua baru saja, Kak."
"Nanti aku jemput."
Tavie tersenyum dan mengangguk semangat. Gerakannya mencium pipi Zendra membuat pria itu mematung di tempatnya. "Aku sangattttt sayang Kakak."
Zendra diam. Mukanya hanya menampilkan wajah datarnya. "Cepat, kamu bisa kesiangan."
Tavie mengangguk. Dan Zendra hanya memandang sang adik yang keluar dari mobilnya, lalu melangkahkan kaki menuju gerbang. Zendra menelan ludahnya susah payah. Tidak. Seharusnya tidak seperti ini.
***
"Kita bisa menanam saham di perusahaan tersebut, proyek ini sangat menguntungkan, Pak Zendra. Semuanya menguntungkan." Zendra mendengarkan ucapan asistennya dengan saksama. Ia hanya mengangguk-angguk saja karena sudah tau apa yang diucapkan asistennya itu.
"Kamu yang urus pertemuan dengan perusahaan induk." Zendra memberikan dokumen yang sudah ia tanda tangani.
Baru saja asistennya keluar dari pintu ruangannya, selang beberapa detik, pintu itu terbuka lagi dan kali ini Zendra tersenyun melihat siapa tamunya. "Anaya."
Wanita dengan tinggi semampai yang mengenakan dress berwarna maroon melekat di tubuhnya itu tersenyum lebar. "Hai, Zendra." Anaya memeluk Zendra ketika sudah berada di hadapannya.
"Kenapa tidak bilang dulu jika akan kemari? Aku bisa menjemputmu, Ay."
Ay. Hanya Zendra yang memanggilnya dengan sebutan itu. "Aku hanya ingin...memberi sedikit kejutan." Anaya memainkan kemeja Zendra dengan jari lentiknya.
Zendra tersenyum. Tangannya masih bertengger manis di pinggang ramping Anaya. "Aku kira kamu masih marah karena kejadian semalam."
"Tidak, aku tidak marah padamu."
"Tapi pada Magentha?"
Anaya mencebik. "Terkadang aku merasa diduakan olehnya. Adikmu itu terlalu manja, Zendra. Harusnya dia sudah bisa mandiri dan mampu mengurus dirinya sendiri. Dan harusnya kamu lebih memprioritaskan aku dibandingkan dia."
Zendra melepas pelukannya pada Anaya. Ia tidak suka ucapan Anaya yang menjelekkan Tavie. "Dia adikku. Aku punya tanggungjawab padanya," ucap Zendra dengan nada dingin.
Anaya menghela napas. Tangannya ia lipat di depan d**a. "Selalu saja seperti ini. Setiap kita menyinggung Tavie, kamu selalu bertingkah seperti pacar yang cemburu. Kamu harus tau, Zendra, sikapmu berlebihan."
Zendra memutar bola matanya malas. "Oke. Aku minta maaf." Ia tidak mau bertengkar dengan Anaya sekarang. Tidak ketika pikirannya masih bercabang pada satu orang perempuan manja yang selalu mengisi otaknya.
Anaya tersenyum kecil. "Dimaafkan. Sekarang, karena akan istirahat, bagaimana jika kita makan siang di luar?"
"Ide bagus." Zendra tersenyum.
***
"Papa bilang, kamu akan pergi ke Sydney?" tanya Anaya ketika mereka berada di restoran cepat saji di dekat kantor Zendra. Wanita itu sepertinya kesulitan membuka tutup botol air mineralnya.
"Ayahmu sudah tau? Padahal aku baru memutuskannya tadi pagi." Zendra berbicara seraya membantu Anaya membuka tutup botolnya.
"Thanks." Ketika air mineralnya sudah diberikan padanya. "Sepertinya Ayahmu yang memberitau Papa."
Zendra hanya mengangguk. "Sean Wijaya menginginkan aku memimpin perusahaannya. Sepertinya hanya sementara, sampai anak bungsunya mampu meneruskan."
Anaya memasang raut wajah kecewa. "Lalu bagaimana dengan aku?"
"Hm?" tanya Zendra tidak mengerti.
"Kita akan berhubunan jarak jauh, kan?"
"Sydney tidak terlalu jauh, Ay." Zendra fokus pada makanannya. Sebenarnya meninggalkan Anaya tidak menjadi beban untuknya. Ia tidak masalah jika harus berhubungan jarak jauh sekalipun, ia yakin Anaya sudah berpikir dewasa dan wanita itu dapat menjaga dirinya sendiri. Tapi, yang ia khawatirkan adalah perempuan ceroboh dan manja yang selalu membuntutinya kemanapun ia pergi. Ia takut bocah itu tidak bisa menjaga dirinya sendiri, apalagi dunia perkuliahan nanti akan--
"Zendra." Ternyata Anaya sudah memandanginya sedari tadi
"Hm?"
"Kamu janji akan selalu bersama aku, kan?"
"Maksudmu?" Zendra masih tidak mengerti.
"Maksudku, jika kamu pergi ke Sydney, akan banyak ancaman untuk hubungan kita."
"Lalu?"
"Bagaimana jika kita membawa hubungan ini lebih serius? Maksudku, Papa dan Ayahmu juga sudah saling mengenal. Kenapa kita tidak--"
"Bertunangan?" tebak Zendra.
"Iya." Pipi Anaya sedikit memerah ketika menjawabnya.
Zendra tepaku. Ia tidak tau. Bahkan hubungannya dengan Anaya sekarang hanyalah teman. Ralat, friends with benefit. Mereka memang dekat, layaknya orang pacaran. Tapi, Zendra tidak pernah berusaha menjadikan Anaya pacar resminya. Mungkin, Anaya saja yang terlalu percaya diri, ditambah Papa Anaya--Raharja Harris--seolah ingin mendekatkan anaknya itu dengannya.
"Bagaimana?" tanya Anaya penasaran.
Namun, pertanyaan itu lenyap oleh dering telepon Zendra. "Apa?"
"..."
"Bagaimana bisa? Di mana dia sekarang?"
"..."
"Aku ke sana sekarang."
Anaya melihat Zendra sudah siap-siap meninggalkannya. "Kenapa? Apa yang terjadi?"
"Tavie pingsan di sekolahnya. Sekarang ia ada di rumah sakit." Zendra tidak memandang Anaya dan langsung beranjak dari sana.
Zendra bakan tidak repot-repot menanyakan bagaimana Anaya yang ditinggalkan begitu saja olehnya, menanyakan dengan siapa nanti Anaya pulang saja tidak Zendra lakukan. Hal itu semakin memperjelas posisinya di hidup Zendra dibandingkan dengan gadis belia itu.
Anaya menghembuskan napas kesal. Ia menatap kursi tempat Zendra duduk tadi, kini kosong. Anaya berdecak. Sedari dulu, sejak ia menjadi teman Zendra, ia sudah tidak terlalu suka pada remaja yang manja itu. Awalnya Anaya mengira, mungkin itu prasangkanya saja. Tapi, semakin lama ia semakin yakin bahwa ia memang akan menjadi rivalya—dan kejadian hari ini membuktikannya.
***