“Jadi kau mau meninggal, hah! Sayang sekali aku lebih suka melihatmu tetap hidup dan menerima, bagaimana aku dan keluargaku membalas perbuatan Ibumu!” Bentak Ryan emosi. Karin terdiam ia menatap Ryan dengan tatapan kosong. Apa Ryan fikir ia bisa makan, setelah mendengar apa yang dikatakannya barusan? Tentu saja ia tidak memiliki selera sama sekali. Ia pun bangkit dari duduknya, lalu keluar dari rumah makan tersebut. Begitu berada di luar Karin disambut udara malam yang terasa dingin, tetapi menyegarkan. Ia memilih untuk duduk menunggu Ryan di bangku yang ada di bagian luar rumah makan tersebut. Ia menyadari tidak mungkin ia berjalan kaki menuju tempat tinggalnya, karena ia sama sekali tidak mengetahui arah untuk pulang. Ia benar-benar bergantung kepada Ryan sekarang ini. Didengarnya s

