40. Pulanglah

1530 Words

Aku meneguk segelas kopi dengan gerak pelan. Uap panas yang mengepul membuat wajahku terasa hangat. Aku bukan penyuka kopi, tapi sepertinya malam ini aku membutuhkannya agar perasaanku lebih baik. Aroma khas kopi yang kuhirup membuat perasaanku terasa lebih baik. Apalagi saat aroma kopi yang kental itu seperti berputar-putar di indra penciumanku. Rasanya aku mulai ketagihan untuk mencium aroma kopi. Pekatnya warna kopi sebanding dengan warna langit yang begitu gelap dan tanpa ada bintang satu pun. Hanya ada bulan yang terlihat bulat besar. Aku melihat ke arah langit sejenak, sepertinya sebentar lagi akan hujan. "Kamu bisa pesan coklat panas kalau mau," tawar Beni sambil memperhatikanku yang sedang meniup uap panas dari kopi sebelum kemudian meneguknya kembali. "Kamu baru sembuh, kenapa

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD