Aku menegang dan menatap mata Beni tanpa berkedip. Beraninya dia melampiaskan kemarahannya padaku seperti ini. Hanya gara-gara aku ergo dari bakery sebentar, dia menjadi sangat emosi seperti itu. Dan apa tadi katanya? Sudah setengah gila? Aku malah berharap dia benar-benar gila. Dulu dia boleh saja melakukan ini padaku, membentak bahkan berkata kasar padaku. Tapi tidak lagi sekarang. Sekarang ini aku dan dia bahkan tidak memiliki hubungan apa pun lagi. Kemarahannya membuat emosiku seperti mau meledak. Dulu aku hanya bisa diam dan memendam amarahku jika ada hal yang tidak sesuai dengan keinginanku. Rasanya sangat melelahkan jika beradu pendapat saat sedang emosi. Dan sepertinya sekarang tidak lagi. Bahkan hanya dengan melihat wajah Beni saja sudah membuatku ingin melampiaskan kemarahanku.

