*** “Yang penting aku tahu alasannya bukan kamu ‘nyaris mandul’ seperti yang dibilang orang-orang. Mereka cuma gak paham bentuk perencanaan masa depan yang matang.” *** Sukabumi, Desember 1994. Sepasang mata itu berbinar memperhatikan wajah lucu di hadapannya. Bulat, tembam, merah. Bukan tomat, karena tomat tidak punya wajah---dan mata. Sepasang mata di wajah itu mengerjap merasakan sentuhan pelan di wajahnya. “Ih, dia bangun, Mar!” “Digangguin, sih.” Mar berlalu dari sisi ranjang, mengenakan kerudungnya dengan tatapan yang terfokus pada si jabang bayi, “Mau liat Ateu Iif, ya, Dek? Iya?” “Iya?” Lagi, Iif menepukan ibu jarinya pelan ke pipi tembam itu. “Dek Kahfi lucu banget, sih!” Kemudian, dia menoleh pada ibunya, “Aku bawa pulang, ya, Mar?” “Walah, mau apa? Mau diadopsi?

