8 ANGIN MALAM

1587 Words
*** “Ety mau tanya, kalau kita balikan lagi, gimana?” ***     SEHABIS isya, acara reuni ini berlanjut dengan api unggun, acara inti. Sesuai rencana awal, mereka duduk di hadapan api unggun selama acara inti berlangsung. Acara inti yang dimaksud sebenarnya sederhana saja: jujur-jujuran. Namun, formatnya dibuat sedikit menegangkan dengan format ‘Truth or Dare’ yang menggunakan permainan kotak pos sebagai media undiannya. Jadi, begini susunan acaranya: sambutan-sambutan, permainan, lalu  doa dan penutup. Sederhana, kan? Semesta pun seolah mendukung terselenggaranya permainan ini di luar ruangan dengan tidak mengirimkan hujan. Mereka masih di kedai yang sama. Bedanya, ada tujuh kursi, satu balok kayu besar yang diduduki lima orang, dan saung yang berisi lima orang  yang melingkari api unggun itu. Apinya mulai membesar sejak sehabis isya agar tahan lama menghangatkan tubuh mereka. Di kursi, duduk Fajrul dan Rasti, Dadang dan Diyah, Isyqaq, Darwis, Iif, Mar, dan Mas Sutomo. Di batang kayu besar ada para pria seperti Fajar, Azhar, Rusdy,  Ali, Herman, Abram, Beno, dan Maman. Di saung duduk Fitri, Ayu, Arianti, Ety, dan Dian. Izhar mengiringi mereka dengan lagu-lagu istimewa sebagai pengganti lagu kotak pos, bergantian dengan si satu orang tambahan itu yang mendadak diundang dalam acara: Karta. Awalnya, Karta menolak untuk ikut dan hendak mendirikan tendanya saja di dekat bukit karang sekitar sana. Namun, lagi-lagi Mar memaksa pria itu untuk tinggal. “Mainkan, Kang Izhar!” perintah Isyqaq. Melodis harmonis dimainkan Izhar. Rasti yang ditunjuk sebagai MC langsung membuka acara. “Assalamu’alaikum, semuanya. Puji syukur patut kita panjatkan kepada Allah Subhanahu Wata’ala yang telah mengumpulkan kita kembali dalam acara yang sersan ini. Semoga silaturahmi seperti ini tetap terjalin ke depannya, insya Allah. Sholawat teriring salam tak lupa juga kita ucapkan pada Nabi Muhammad Salallahu ‘Alaihi Wassalam, semoga kita termasuk ummat yang mendapat syafaatnya di Hari Akhir nanti.” Ucapan pembuka itu diaminkan, disambut baik oleh melodi gitar yang mendayu pula dari Izhar. “Seperti yang teman-teman tahu, kita berkumpul di sini dalam rangka Reuni Klas Biologi Angkatan 86-89. Acara ini terselenggara karena kerja sama dan kehadiran teman-teman semua. Jadi, pastinya terima kasih sekali sudah datang. Tanpa kehadiran kalian, acara ini tidak akan terselenggara. Secara khusus, silakan Pak Isyqaq menyampaikan sambutan dan ucapan terima kasihnya.” Rasti mengerling. “Tapi tolong, jangan kepanjangan, ya. Ini acara santai.” “Bukannya justru itu harus panjang?” canda Dadang, yang langsung ditolak mentah-mentah oleh Beno. “Janganlah, horor pisan kita jadi didongengin dongeng sebelum tidur sama ketua kelas tersadis sepanjang sejarah.” Tawa menguar dan menguat di lingkaran itu---termasuk dari Iif yang menimpali ucapan Beno dengan, “Satu-satunya yang bisa ngejinakin dia cuma Dian, tuh.” “Itu dulu!” Si mahasiswa Mapala segera menyangkal. “Sekarang mah Isyqaq sudah gak bisa diganggu.” “Ditikung lagi boleh, kok.” Isyqaq balas mengerling, mengeluarkan sisi dirinya yang hanya sering dikeluarkan di depan Dian, disahuti oleh tertawaan dari semuanya. “Hus!” Fajrul mendesis seakan menyuruh mereka diam, tapi kemudian, “Boleh-boleh, sepanjang janur kuning belum melengkung, Yan!” Tawa kembali terdengar. Izhar membunyikan gitarnya bak latar suara di acara-acara teve, menyesuaikan situasi dan kondisi. Kemudian, ketika tawa itu mulai surut, Rasti menyela mereka, “Jadi, Bung Isyqaq, silakan.” Yang dituju mengucapkan sambutannya. Setelah selesai, permainan itu pun dimulai. Kali ini, Karta yang menggitari. “Jadi, aturannya gimana, nih?” Abram bertanya. “Sama kayak aturan kotak pos?” “Kurang lebih begitu,” Fajrul, si ketua permainan, mengangguk setuju, “tapi di mana lagu berhenti, di situlah orang yang kena harus jawab apa pun dari siapa pun. Truth atau Dare. Yang kena gak bisa milih, dan kalau itu Truth, harus jawab dengan jujur.” “Oke,” sahut yang lain serentak. “Semua ikut main?” Arianti bertanya. “Kan kita banyak banget ini.” “Iya, gak papa, semua saja. Justru di situ serunya.” Isyqaq menjawab dengan tegas. “Tapi khusus untuk Mas Sutomo, Karta, Izhar, dan Fitri, kalian silakan pilih mau ikut atau engga. Bebas. Oke, ya?” Kompak, semuanya mengiyakan. Tak lama, permainan pun dimulai. Lagu “Kisah Kasih di Sekolah” dinyanyikan Izhar dengan gitar dari Karta. Tangan mereka mulai bertepukan seperti dalam permainan kotak pos, mengikuti irama lagu. Tiba-tiba lagu berhenti. Di ... Rusdy. Di antara yang bersorak heboh, Etylah yang berteriak paling keras seakan mendapat kesempatan jackpot dalam permainan ini. “Oke, oke, tenang.” Rusdy kembali mengeluarkan gayanya yang sengak itu. “Jadi, siapa yang mau tanya ke Aa Rusdy?” “Aku!” Ety menunjuk tangan. “Oke, jawab jujur, ya ....” Mungkin sama dengan yang lain, tapi Iif memandang mereka berdua dengan lucu. Ia masih ingat cerita dua sejoli ini, berpacaran dua tahun, putus setelah kelulusan dengan alasan Ety enggan berhubungan jarak jauh. Dan sekarang, Rusdy di sini, kembali ke Sukabumi karena ingin menempuh sekolah polisi di Kaler. Akankah yang diajukan Ety adalah pertanyaan tentang itu? Kalau ya, berarti Ety sudah berubah pikiran pula tentang hubungan jarak jauh yang kelak akan mereka alami kalau berniat serius. Ety tentu tahu polisi seperti apa karena abangnya pun begitu. Sementara Rusdy mengangguk mempersilakan, Iif menoleh sejenak kepada Darwis yang juga menoleh padanya---kiranya pria itu juga punya pikiran yang sama terkait dengan pertanyaan Ety. Darwis menyeringai, lalu kembali menikmati kehebringan Ety. “Ety mau tanya, kalau kita balikan lagi, gimana?” “Halah sia mah!” Rusdy tertawa, mengusap mukanya yang merona. Si bangor itu---yang badungnya lebih dari Fajrul---tak kuat menahan malu di depan teman-temannya karena ketahuan kelepasan tertawa dan menunjukan wajah yang penuh pengharapan. “Jawab, Rus!” Beno bersorak. “Jangan enggak ini mah!” Ali menimpali tidak kalah mendukung. Ya, yah ... walaupun dulu ia adalah ‘musuh besar’ Rusdy serta kawan-kawan bangornya karena mereka terlalu sering berbuat gaduh di sekolah, mahasiswa jurusan agama itu tidak bisa tidak menyetujui hubungan itu. Sejauh yang Ali tahu, dulu Etylah yang bisa menjinakan Rusdy. Tingkat kebangoran Rusdy berkurang sekian persen ketika bersama Ety. “Hayo jawab, Kang!” Mas Sutomo turut menyemangati bunga perasaan  itu kembali bermekaran. Menjawabnya, Rusdy beranjak dari duduknya dan menarik Ety ke pangkuan. “Hayuk. Besok kita nikah juga hayuk.” “Gas terus!” Isyqaq meledek mereka berdua, tetapi lantas berpaling pada Karta, “Mainkan lagi, Karta.” Berbeda dengan yang sebelumnya, kali ini Karta memainkan lagu andalannya: lagu melow dan lawas. “Angin Malam” Broery Marantika mengalun dari mulut Izhar sementara Karta memainkan gitar. Tepukan tangan itu berlanjut dari Rusdy.   Berhembus angin malam Mencekam menghempas Membelai wajah ayu Itulah kenangan yang terakhir denganmu   Kudekati dirimu Kau diam Tersungging senyuman di bibirmu Itulah senyuman yang terakhir darimu   Diiring gemuruh angin Meniup daun-daun Alam yang jadi saksi Kau serahkan jiwa raga   Lagu tiba-tiba berhenti, tepukan tangan pun turut berhenti di orang yang sangat tepat untuk menerima truth atau dare dari orang tertentu---setidaknya menurut Karta dan Ayu. Kalian tahu siapa itu. Orang itu menelan ludah dan ketar-ketir memandang sekeliling. Mereka semua pernah dekat dengan dia, tapi orang yang paling mungkin mengajukan permintaan agak berbahaya adalah Azhar, Karta, dan Ayu.  “Oke, silakan ... jawab jujur atau dare.” Iif berkata santai. Tak terduga, di sisinya Darwis menunjuk tangan. “Dare.” Dan, ketar-ketir itu pun menguap sudah. Darwis meminta dare, tapi entah bagaimana Iif yakin kalau permintaan yang akan diajukan pria itu tidak akan aneh-aneh. Darwis tahu dia, dan Iif pun akan melakukan hal yang sama kalau Darwis ditunjuk nanti. “Oke. Apa?” “Duet lagu cinta dengan Karta.” Astaghfirullah. Jawaban itu membuat Iif murni berubah pikiran. Saat Darwis ditunjuk nanti, dia akan ajukan dare juga: suruh lelaki itu melamar Fitri di depan mereka kalau perlu. Iif mendengkus di balik napas, hendak berdiri. Akan tetapi, keberaniannya itu diinterupsi oleh Fajrul. “Tunggu tunggu, ini permintaannya melibatkan non alumni.” Fajrul menoleh pada Karta. “Gimana, Bang, mau duet bareng Iif?” “Aku yakin A Karta maulah.” Darwis menguatkan urgensi permintaannya. Seakan menyetujui perkataan itu, Arianti dan Ayu kompak bertepuk tangan. “Ayo, Kang Karta!” sorak Ayu heboh. “Oke,” Karta mengangguk setuju, “tapi Iifnya ke sini, dong. Kan duet.” Ini yang terakhir kalinya. Iif membisiki dirinya sendiri, lalu  beranjak ke sisi Karta. Karta mengalungkan tali gitar Izhar dan menyambutnya dengan petikan melodi minor seraya beranjak berdiri. “Lagu apa?” tanya Karta santai. “Kamu yang pilih,” jawab Iif tegas dan lugas. Intro lagu pilihan Karta dimainkan. Kemudian, Karta mulai bernyanyi. “Berhembus angin malam, mencekam, menghempas, membelai wajah ayu ... itulah kenangan yang terakhir denganmu.” Iif memandang lelaki itu, sorot matanya setara dengan bertanya-tanya. Bukan karena lagu yang dipilih Karta, tetapi karena sepasang netra itu terarah lurus kepadanya seolah  sedang bicara lewat lagu. Apa yang sedang coba dikatakannya, Iif tidak tahu. Ia hanya menyadari lagu itu mirip dengan situasi mereka sekarang. Angin malam, mencekam karena dingin, sedang berhembus lumayan kencang di antara mereka. Kejadian tempo hari membuatnya yakin bahwa wajah ayu yang dimaksud Karta adalah dia. Bahkan, Ayu yang asli memandang mereka berdua dengan gemas. Karta meneruskan, “Kudekati dirimu, kau diam, tersungging senyuman di bibirmu. Itulah senyuman yang terakhir darimu.” Iif menyambung. Bersamaan dengan santainya Karta, ia perlahan merasa nyaman seperti duet profesional saja antarteman duet. “Diiring gemuruh angin, meniup daun-daun. Alam yang jadi saksi.” Keduanya menunjuk masing-masing. “Kau serahkan jiwa raga.” Melihat interaksi keduanya, tanpa mereka sadari Azhar merasakan satu tanda---keharusan bahwa ia harus mundur pelan-pelan. Iif hanya bisa didekati dan melunak dengan sikap bersahabat yang tulus, bukan keagresifan seperti yang ia tunjukan selama ini.  BERSAMBUNG ....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD