***
“Saya selalu kagum dengan senja. Kamu tahu kenapa, If?
Dia bisa terlihat indah meski berdiri sendiri. Seperti ... kamu.”
***
MEGA senja mulai terlihat di ujung hari, menampakkan selimut oranye yang indah dipandang semua orang.
Semakin malam, hari pertama reuni ini semakin ramai. Semakin banyak pula yang diobrolkan. Sesi nostalgia itu kali ini diikuti oleh tiga orang luar: Mas Sutomo, Izhar, dan satu orang baru itu bernama Fitri.
Ya, kemudianlah mereka tahu gadis berkerudung yang dipeluk Darwis itu bernama Fitri. Kenapa dia tidak ikut di rombongan bersama Darwis? Jawabannya sederhana: dia berasal dari sini.
Kata Fitri, dia dan Darwis bertemu di Bogor. Berkat surat dari Iif pulalah Darwis yang seorang pegawai magang di sebuah toko buku di Matahari, dipertemukan dengan Fitri. Sejak teman-temannya melihat surat itu, mereka seakan menyiapkan pelanggan yang kira-kira jomlo untuk Darwis dekati. Semuanya tak ada yang berhasil, sampai Fitri datang. Namun, gadis itulah yang menghampiri Darwis, menanyakan di mana letak buku keilmuwan biologi untuk acuan kuliahnya. Seperti biasa, setelah itu naluri sepasang kutu buku pun bekerja.
Mengetahui semua cerita itu, Iif bersyukur. Secara tidak langsung, Darwis mengindahkan suratnya walaupun surat itu dibiarkan tak berbalas. Kini, semakin ramahlah sikapnya pada Fitri. Mar pun demikian. Bahkan, terang-terangan dia mengundang Fitri dan Darwis ke acara pertunangannya yang akan diadakan bulan depan.
Kemudian, para pasangan kompak menyewa kuda untuk menikmati senja. Persisnya, pasangan itu adalah Mar-Mas Sutomo, Darwis-Fitri, Ety-Rusdy (yang memaksa Ety karena mau mengenang masa-masa pacaran mereka dulu), serta Dian dan Isyqaq. Yang tidak berjalan-jalan, duduk-duduk di pinggir pantai menikmati angin sore.
Iif termasuk yang ingin menikmati angin sore sambil menyesap teh manis hangat yang disuguhkan pemilik kedai. Bukan kepada Darwis dan Mar, fokusnya ialah kepada langit senja. Netranya memandang ufuk barat dalam diam, mengagungkan langit senja yang indah ciptaan Sang Ilahi. Untuk sejenak, ia biarkan matanya memejam, mengingat memorinya di pantai pada dua jalur waktu: kanak-kanak dan remaja.
“Yusuf! Awas kamu!”
Tergambar pemandangan Abi dan Uminya berkejaran di bibir pantai, menjadi tontonan anak-anak dan pengunjung yang ada di kedai pantai. Persis sepertinya dan Arianti tadi, Yusuf dan Aini sibuk bermain pasir, mengotori satu sama lain seperti kanak-kanak yang baru bertemu pantai. Raut wajah orang tuanya begitu lepas, mengabaikan Iif yang bahkan celingak-celinguk di sekitar mereka---mengabaikan berat beban yang ada dalam kepala masing-masing.
Kemudian, kilasan memori pantai dari garis waktu kedua, muncul. Iif dan Darwis. Mereka berdua tengah duduk di kursi kedai Pantai Citepus, mengabaikan keramaian klas trip kelulusan MTs. PUI di sekitar mereka. Sama seperti sekarang, mereka menikmati senja.
“Saya selalu kagum dengan senja. Kamu tahu kenapa, If?”
“Kenapa?”
“Dia bisa terlihat indah meski berdiri sendiri. Seperti ... kamu.”
Serentak, Iif menyudahi lamunannya. Namun, bukan karena takut dipergoki yang lain sedang memandang Darwis dan Fitri secara tak sengaja, melainkan karena Ayu menegurnya.
“Hayo, melamunkan apa? Tumben diam begitu.”
Teguran itu memancing perhatian para pria kepada Iif. Salah satunya Azhar. Izhar dan Abram turut menoleh karena ingin melihat apa lagi yang akan dilakukan bujang itu kepada Iif.
Ya, apa lagi setelah penembakan yang tak berhasil sepulang rapat terakhir persiapan reuni itu?
Kejadian persisnya, Iif tak mau mengingat lagi. Ia anggap pernyataan perasaan yang kedua dari Azhar itu sebagai angin lalu belaka. Seperti katanya tempo hari, ia sedang rehat. Entah sampai kapan, tapi setiap orang yang mendengat cerita ‘REHAT’ itu merasa kasihan kepada Azhar, mengungkapkan perasaannya pada saat yang tidak tepat.
Dengan santai, Iif menjawab Ayu, “Melamunkan kenangan.” Gadis itu lalu menandaskan tehnya. “Kenapa? Aneh, ya?”
“Gak biasanya seorang Iif melankolis begitu.” Diyah berkomentar.
Di sisinya, Dadang terkekeh, turut berkomentar, “Tinggal kamu, tuh, di antara Mar dan Darwis yang belum punya pasangan. Kapan, If? Ayo, dong.”
Fajar---gebetan Ayu---turut nimbrung setelah menyajikan kopi dan rokok untuk yang memesan. “Santai Iif mah. Nanti juga datang sendiri pacarnya. Persis, tuh, kayak Darwis.”
Ayu langsung menoleh bingung, mencerna ucapan Fajar dengan maksud lain. Lihat saja, pandangannya kini bertanya-tanya pada Iif. “Iyakah? Memang mau ada yang datang juga? Siapa namanya? Abang yang waktu itu, ya? Siapa namanya?” Ayu berpaling pada Arianti menampilkan wajah telminya. “Karta? Ya kan?”
Iif mengernyit---Arianti juga mengernyit karena tidak tahu ceritanya sama sekali. Sementara itu, Iif heran, dari mana Ayu tahu tentang dia dan Karta.
Akhirnya, karena hanya mendapat angkat bahu dari Arianti yang memang benar-benar tidak mengerti, Ayu berpaling pada Iif, mempertanyakan kebenaran ucapan itu ke orangnya.
“Benar Karta mau datang, If?” Ayu bertanya lagi, tak mempedulikan Fajar yang tersenyum tipis di belakangnya, meniup kopi hitamnya.
Menjawabnya, Iif menggeleng. “Gak ada yang mau datang, jadi ga usah ada yang ditunggu, ya. Sekarang, gimana kalau kita siapin makan malam? Biar habis magrib bisa langsung makan.”
Diyahlah yang pertama merespon ajakan itu. Lekas, dia mengomando awak yang tersisa untuk menyiapkan makan malam di tepi pantai.
***
Azan magrib berkumandang. Dua puluh satu peserta acara reuni itu serentak ke masjid seberang pantai, salat di sana. Ayu dan Diyah menjaga makanan mereka di saung.
Pukul setengah tujuh, salat magrib itu selesai. Lampu pijar di saung telah dinyalakan. Kedai yang terang membuat mereka mudah menemukan Ayu dan Diyah berada. Api unggun yang dinyalakan di dekatnya menyemarakan dekorasi makan malam.
Iif berjalan bersisian dengan Mar dan Fitri, tetapi tiba-tiba harus melambatkan langkah karena ia melihat seorang lain yang tengah mengobrol dengan Ayu dan Diyah.
Semakin dekat, Iif mengenal siapa sosok itu. Si musikus. Ya, Karta.
Entah kenapa, semesta seperti merestui berbagai kebetulan hari ini karena meskipun Iif melangkah lambat ke sana---sengaja agar Karta tidak mengenalinya dulu---Karta tetap bersitatap dengannya.
Iif tidak bisa menghindar lagi. Alhasil, ia balas menyapa Karta dan beramah-tamah. Sebelum memulai pembicaraan, gadis itu menangkap ransel kemah di sisi saung. Karena itu, dia jadi punya pembicaraan.
“Kemah?” tanya Iif pendek.
Pertanyaan itu dijawab dengan anggukan singkat. “Iya. Sudah lama gak mantai.”
“Kenapa di sini? Tau Iif mau ke sini, ya?” Entah kenapa Azhar tiba-tiba bertanya.
“Enggak, kok,” Karta menggeleng takzim, “kan saya sudah jawab tadi, sudah lama gak mantai. Kebetulan ketemu Ayu di sini.”
“Jadi, kamu kenal Ayu?” Fajar ikut bertanya. Pandangannya menyelidik pada Karta.
Iif menilai situasi, memandang Azhar, Fajar, Karta, dan ... Darwis dengan hati-hati. Kenapa mereka seolah menggantungkan kabut ketegangan?
“Iya. Dia anak pemilik warung makan tempat saya biasa ngopi.” Karta mengiyakan, lantas menoleh kepada Iif, “Ingat warung makan tempat malam puisi itu, kan? Itu punya Maminya Ayu.”
Sempitnya dunia! Iif nyaris mendengkus karena menyadari lirikan Ayu yang agak berbeda. Ia menuntut cerita setelah lagu Widuri itu, sudah pasti. Mulut ember tapi agak telminya itu kembali menggebu.
“Awalnya aku sama sekali gak ngenalin siapa yang Karta bawa ke kedai, If. Taunya, kamu! Wah dalah ... dari situ aku sudah rasa sesuatu. Dia nem---”
“Ssshhh, sudah-sudah. Ribut terus.” Untungnya, Fajrul yang mengerti situasi segera memotong. “Ayo, makan. Aku sudah lapar ini.”
“Ya, ayo!” Isyqaq turut ‘melindunginya’. Demi kesopanan, ia mempersilakan Karta, “Kang, ayo ikut makan. Kebetulan kita masak banyak.”
“Ah, gak usah. Saya makan warungan saja. Ini kan konsumsi reuni,” balas Karta sungkan.
“Sudah, gak apa-apa. Nanti kamu tinggal bayar ke Iif aja. Dia bendaharanya.” Mar berbisik. Meski begitu, karena itulah Karta memberanikan diri bergabung.
Sambil bersila, dia diam-diam memperhatikan seorang yang masih memandangnya ketus. Orang itu tak lain adalah Azhar.
Pandangan ketus itu terajukan bukan tanpa alasan. Entah sadar atau tidak, Iif memilih duduk di samping Karta dan menyodorkan Karta bakul berisi nasi.
Hingga makan dimulai, Iif masih tak menyadarinya. Namun kemudian, semesta seperti membuatnya menoleh pada Darwis yang duduk di sebelah Fitri. Mereka bersitatap. Darwis melirikkan matanya pada Azhar. Akhirnya, Iif menangkap pandangan itu.
Di sudut saung besar ini, Azhar menghentikan makannya. Iif segera menegur Izhar menggunakan lirikan untuk menyadarkan saudaranya itu.
Namun, sampai situ, ia belum sadar bahwa duduk di sebelah Karta telah membuahkan banyak prasangka.
BERSAMBUNG ....