6 REUNI

1429 Words
*** “Eh, serius, aku sibuk mengumpulkan picisan buat melamar anak orang.” ***     TANGGAL tujuh Juli hari reuni itu tiba. Sabtu pagi, kali ini yang Iif ributkan bukan persiapan ekskul pramuka, tetapi kotak-kotak makanan bekal dan bahan mentah yang kira-kira diperlukan untuk acara. Makanan yang dimasaknya sekalian membantu Aini memasak sarapan sudah ditempatkan ke kotak-kotak bekal. Kebanyakan merupakan makanan berat kering seperti ayam goreng, tempe bacem, telur dadar, dan lalapan. Satu-satunya benda basah dalam kotak bekal itu adalah sambal terasi. Di tempat yang berbeda, di kantong kain yang waktu itu dicarinya untuk menempatkam berkas sekolah, ada kudapan kering yang kira-kira cukup untuk sepanjang perjalanan berangkat.   Kedua bekal itu sudah naik ke motor Ahmad---motor Asep tadinya. Setelahnya, Iif naik ke kursi belakang. “Aku jalan dulu, ya! Assalamu’alaikum!” Sebagai satu-satunya orang yang berdiri di pintu, Aini menjawab salam itu---tak lupa menyertakan doa supaya anak tengah tukang petualangnya itu selamat selama di sana dan dalam perjalanan pulang-pergi. Sementara itu, setelah agak jauh dari rumah, Iif berkata kepada Ahmad, “Nanti tungguin dulu, ya. Soalnya batas kumpulnya jam 9.” Dari kursi kemudi, Ahmad tak membalas apa-apa selain anggukan. Memang, benar-benar adik berbakti.   *   Sekarang, Iif tahu Ahmad memandangnya keki sambil mengetuk-etukan kaki pelan-pelan dan sesekali melihat jam tangannya. Sudah jam sembilan lewat sepuluh tapi belum ada yang datang. Kalian jangan salah sangka. Bukannya tidak ikhlas melakukan tugas pagi itu, Ahmad sama sepertinya, tidak suka jam pasir, telat seberapa menit pun itu. Yah, tampaknya karena menyadari gestur yang sama dari sang kakak, keterlambatan ini sedikit termaafkan. Bukan hanya Ahmad yang menunggu peserta dan panitia reuni itu. Iif menyadari gerak tak sabar itu meski sudah sedikit dikurangi. Ia segera melayangkan tatapan permintaan maaf dan memelasnya pada Ahmad. “Maaf, ya, kamu tahu kan teman-temanku jam karet.” “Iya,” angguk Ahmad, berusaha tersenyum selebar mungkin. Senyum palsu, Iif tahu. Tatapan membunuh siapa pun yang telat itu semakin terlihat tatkala ia melayangkan pandangan pada beberapa mobil bak terbuka yang lewat. Harap-harap cemas Iif berharap, salah satu dari mereka adalah mobil Isyqaq atau Fajrul. Kira-kira sepuluh menit berlalu, dua  mobil menepi. Satu mobil bak terbuka yang dikemudikan Fajrul, dan satu mobil kijang yang dikemudikan Isyqaq. Di mobil Fajrul ada Rasti di kursi depan dan para pria di belakang, antara lain Abram, Mas Sutomo, Azhar, dan saudara kembarnya dari jurusan agama yang minta ikut serta. Iif menaikan barang bawaannya ke bak terbuka sembari saling menyapa. Ahmad membantu. Mereka rupanya tahu diri. Segera, para mulut besar di dua mobil itu menyanjung-nyanjung Ahmad. Redamlah kemarahan remaja itu. “If, ke Isyqaq aja. Perempuan semua di sana.” Rasti memberi saran. “Ya, biar kamu juga ga diganggu sama Azhar,” Izhar menimpal lalu tertawa, sama sekali tak menghiraukan jegalan tangan saudaranya pada mulutnya, “dia masih patah hati rupanya kamu tolak tempo hari.” “Bohong!” Azhar membela diri, sibuk sendiri menyembunyikan rona sialan itu dari wajahnya. Apalagi, sekarang Abram yang terkenal pendiam kini turun menertawakannya. “Benar, If,” anak sahabat uminya itu turut menimpali, “sepanjang perjalanan kemari, dia nelangsa begitu bernyanyi lagu-lagu sedih.” Tawa kompak menguar dari dua mobil itu sementara Iif mengalihkan perhatiannya sejenak pada Ahmad, menyuruhnya pulang. Usai adiknya itu pergi, Iif berpaling pada Isyqaq, mengabsen jumlah orang dalam mobil kijang itu, lalu masuk. Bagian tengah mobil yang tadinya berisi dua orang, jadi tiga: Mar, dirinya, dan satu orang lain itu bernama Ety, salah satu sahabat Iif juga semasa MA. Sementara itu, bagian belakang diisi dua orang lain dari kegiatan Teater sekolah yang dulu diikuti Iif dan Ety, Ariati dan Dian. Pintu ditutup, mobil melaju. Tanpa berlama-lama lagi, obrolan antarwanita bergulir di antara mereka. Defenisi reuni tertampak jelas dari beberapa kalimat pertama. Tahu, kan, bagaimana hebringnya perempuan dalam obrolan perempuan seperti model baju, macam sepatu, kisah asmara, dan nostalgia masa lalu? Untungnya di kursi kemudi Isyqaq telah menyiapkan senjata andalannya: walkman. Lagu-lagu lawas diputar dari kedua mata walkman-nya. Berbeda dengan orang di sisinya yang tidur---atau pura-pura tidur?---Isyqaq menikmati perjalanan dengan mengeluarkan suara sumbangnya. “Eh,” tiba-tiba Mar mencolek Iif yang sedang tertawa bersama Ety mengenang kegiatan Teater dahulu. Tawa itu menyurut, lantas si empu menoleh pada Mar. “Kenapa?” Bukannya menjawab, Mar menggedikan kepalanya ke arah kursi penumpang di depan. Dengan spontan, Iif melihat ke kaca spion dalam. Bersamaan, Isyqaq ‘membenarkan’ kaca spion itu sehingga terlihatlah sosok di kursi penumpang depan yang menoleh pada Isyqaq. Bukan perempuan, tetapi laki-laki. “Darwis?” Iif tak membunyikan pertanyaan itu, hanya memandang Mar penasaran. Ketika Mar mengangguk, sekonyong-konyong Iif menempeleng kepala kursi itu. “Siapa yang suruh kamu datang, hm?” “Hish,” Darwis terdengar memprotes, “kan kamu surati aku beberapa kali. Undangan masa nggak dipenuhi?” Lelaki itu lanjut mengambil kudapan jagung kering dari pangkuan Iif---bukan satu kepal, tetapi semuanya. Walhasil, bertambah ramailah mobil itu. “Tapi kenapa nggak dibalas?” Iif tak mau kalah dalam memprotes. “Sok sibuk.” “Kalau memang sibuk?” “Sibuk mendekati anak orang kali kamu mah!” Ariati nimbrung menyahuti. “Eh, serius aku,” Darwis menyangkal, “aku sibuk mengumpulkan picisan buat melamar anak orang.” “Siapa itu? Ceritalah!” Sekarang, giliran Ety menggodanya. “Ada, nanti kalian tahu, kok.” Jawaban misterius itu membuat para perempuan heboh. Isyqaq meningkatkan volume lagunya sepanjang perjalanan.   ***   Macetnya perjalanan membuat mereka tiba di Pantai Citepus pada waktu zuhur, sekitar pukul satu  siang. Meski begitu, perbekalan makan siang tidak dikeluarkan. Mereka sepakat untuk membuka bekal di Cibangban saja bersama anak-anak lain yang menyusul dengan motor atau bahkan sepeda. Mereka tinggal dekat dengan Plara---julukan umum untuk Pelabuhan Ratu. Ada sebuah surau di pinggir Citepus. Isi kedua mobil itu serentak turun melaksanakan sholat zuhur. Tak lama kemudian, mereka melanjutkan perjalanan. Lalu lintas Citepus-Cibangban yang ramai lancar menyebabkan kedua pantai itu ditempuh dalam waktu setengah jam. Pukul setengah dua lewat sedikit mereka tiba di pantai itu. Isyqaq menyerahkan karcis parkir pada Darwis, Iif membayar parkirnya. Di belakang, mobil bak Fajrul mengikuti. Mereka sengaja parkir di dalam karena ingin ke pantai dulu hingga senja tiba. Setelah itu, barulah mereka istirahat di rumah 2D; Diyah dan Dadang, alumni pula, suami istri pula. Kamar tamu di rumah itu cukup untuk menampung sepuluh perempuan dari kelas biologi Angkatan 89. Itu pun kalau semua datang. Kalau tidak, sudah tentu kamar yang ditempati akan lebih lega. Pukul dua, satu angkatan biologi yang terdiri dari satu kelas pun sudah kumpul. Jumlahnya ada dua puluh  orang, delapan perempuan, dan dua belas laki-laki. Mereka melingkar dua tempat yang berdekatan: saung dan kursi meja milik kedai yang sama. Makanan buatan Iif dikeluarkan, dimakan bersama masakan yang dibawa Diyah. Singkat saja, jam makan siang terlewati dengan mulus, sesuai susunan acara. Setelah itu, acara bebas hingga ashar. Terbayang dalam benak Iif, betapa menyenangkan bermain air hingga ke tengah, apalagi bersama teman-temannya sekarang. Lihat, bahkan para pria sudah duluan melaksanakan angan-angannya. Mereka kompak bertelanjang d**a dan menceburkan diri ke tengah--membakar habis lemak-lemak yang baru saja masuk ke perut masing-masing. Tak ada yang mempedulikan pasangan, karena mereka tahu ini jam teman. Maka, begitulah para perempuan beradegan pula. Setelah membereskan makanan dan wadah, mereka bermain di tepi, saling melempar pasir, terkadang berlari-larian ke sana kemari, persis seperti anak kecil. Tak apalah, Iif sendiri menggubris betapa kekanak-kanakannya ia dan kembali sibuk mendorong Ariati ke tengah laut. Diyah dan Dian kompak mendukung. Mar dan Ety? Jangan ditanya, mereka sibuk bergosip soal Mas Sutomo. Rasti? Si badung itu tengah bersama badung lainnya menjelajahi tengah laut. Untungnya mereka berdua bisa berenang, jadi tidak akan ada yang terjadi. Ariati membalas Iif, menyorongkannya ke tengah ombak pasang. “Halah, segitu saja?” Ariati setengah meledek, lantas semakin maju ke tengah hingga air pasang itu setinggi pinggang. Saat air kembali surut, di mahasiswi Mapala alias Dian memunguti plastik yang dibawa air laut, beranjak sejenak dari keceriaan itu. Kemudian, dari saung tempat makan siang tadi, Ayu dan Diyah yang tengah kedatangan tamu bulanannya kedatangan tamu sungguhan pula. Seorang gadis menghampiri mereka, lalu mengajak mengobrol. Tak lama, Ayu melambaikan tangan. Darwislah yang menjawab dari tengah laut. Iif, Arianti, Dian, Mar, dan Ety teralihkan. Mereka terdiam sejenak dari aktivitas bermain air itu mengamati adegan yang terjadi antara Darwis dengan si gadis baru. Itukah yang dimaksud Darwis sebagai gadis yang akan dilamarnya? Benak mereka bertanya-tanya. Tanpa Iif sadari, benaknya lebih dari bertanya-tanya. Iif penasaran, tetapi bukan kepada sosok baru itu. Ia bertanya-tanya, masih dianggapkah ia dan Mar sebagai sahabat sampai-sampai Darwis tidak berkabar mengenai hal yang sekrusial ini? Seketika, Iif merasakan bahwa atmosfer reuni akan berubah karena di depan sana, Darwis memeluk si orang baru tanpa malu seolah meluapkan rindu.  BERSAMBUNG ....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD