***
“Kenapa rehat segala?
Sekarang sudah merasakan gimana susahnya memperjuangkan perasaan?”
***
SURAT untuk Darwis memang belum berbalas hingga dua bulan kemudian. Lelaki itu pun entah kenapa tidak berminat untuk pulang kampung. Setiap ditanyai melalui orang tuanya, Ganda dan Sri pasti mengatakan, ‘tidak ada kabar’, atau ‘dia mungkin sedang sibuk, biarlah’.
Oleh karena itu, dengan sedikit berat hati, Iif meredam keingintahuannya atas alasan Darwis begitu diam kepadany---ralat, kepada mereka. Mar pun mendapatkan jawaban yang sama dari teror telepon dan surat yang dilayangkannya kepada Darwis. Tak berbalas. Akhirnya, mereka berdua memutuskan melanjutkan hari-hari tanpa terlalu banyak memikirkan Darwis.
Mungkin saja lelaki itu sedang sibuk-sibuknya di pekerjaannya. Atau, mungkinkah Darwis sedang pendekatan dengan seorang gadis Kota Hujan makanya tak berminat pulang? Baik Iif maupun Mar tidak ada yang berani menduga.
Bagi Iif sendiri, dua bulan berjibaku dengan pekerjaannya, ia merasa lebih tenang karena sibuk di jalur yang benar. Lama kelamaan Iif menikmati bekerja nonstop dan tidak memikirkan lelaki. Bisa dibilang, seperti inilah rehat versinya.
Namun, hati dan pikiran yang sedang lurus kepada pekerjaan nampaknya tak sejalan dengan anggapan orang. Seperti biasa, Iif berhasil memunculkan percik kekaguman itu lagi dari benak seseorang.
Jangan kaget, dan jangan anggap Iif genit kepada semua pria. Gadis itu hanya beramah tamah dengan orang yang baik padanya. Soal perasaan orang itu, tidak ada yang pernah tahu bagaimana bisa timbul.
Fakta, kita tidak bisa memilih akan mencintai siapa, kan?
Namanya Azhar, teman cerdas cermat Iif saat Madrasah Aliyah. Bersama Darwis, mereka berdua mengharumkan nama MA Yasti dan Kabupaten Sukabumi di Cerdas Cermat P4 tingkat provinsi. Percikan perasaan itu terpantik kembali ketika Isyqaq, ketua angkatan 89, mengumpulkan alumni untuk reuni.
Hari ini, Minggu pagi, rapat ketiga digelar. Sayang, berbeda dengan Azhar yang menanti kesempatan bersua lebih jauh dengan Iif, yang dituju justru diam-diam menanti Darwis.
Rapat ketiga itu digelar di halaman belakang Masjid Agung Cisaat. Pukul delapan pagi beberapa orang sudah datang, termasuk Iif, Mar, Azhar, Isyqaq, Fajrul, dan istrinya yang sesama alumni bernama Rasti.
Usai menggunakan kesempatan menunggu untuk duha terlebih dahulu, yang sudah datang duduk melingkar di halaman. Bermacam kudapan dikeluarkan, kopi dipesan.
Fajrul, mantan si badung, menoleh kepada Isyqaq yang melirik jam tangannya sejenak. “Menunggu siapa lagi, Saq?”
“Katanya Abram mau datang,” jawab Isyqaq, “tadi ane samper dia masih di jalan. Tapi sudah sampai Cibolang. Tunggu sebentar lagi.”
“Dari mana dia memangnya?” Mar bertanya.
“Baru pulang dari Kairo. Bawa oleh-oleh mungkin tuh orang makanya minta ditungguin.” Kali ini, Azhar berkomentar, nadanya bergurau.
“Wih, canggih. Yang di Kairo langsung balik begitu tahu mau reunian!” Rasti bicara, lalu menoleh kepada Iif yang sejak tadi sibuk mengamati buku catatan keuangan panitia reuni ini. Ya, dia bendahara.
“If,” tegur Rasti langsung. “Darwis pulang nggak? Gak ikut dia reunian?”
“Sudah aku kabari,” dengkus Iif. “Cuma, nggak tahu kenapa nggak ada balasan. Biar jadi peserta ajalah dia, itu juga kalau datang.”
“Semoga datanglah,” Isyqaq harap-harap cemas, “ini reuni kita pertama setelah setahun, loh. Masa nggak ramai?”
Mar cepat mengangguk mengaminkan. “Insya Allah ramai. Apalagi kan ada yang sudah berkeluarga. Pasti pada datang bawa buntutlah.”
Serentak, semua yang ada di lingkaran itu membenarkan. Namun, sebelum di antara mereka ada yang menyambung obrolan dalam pertemuan itu, kedatangan seseorang memotongnya.
Sebuah kijang berhenti di pagar belakang masjid---halaman depan Gedung Islamic Centre. Dari roda empat itu, keluarlah ... dua orang. Kedatangan seorang tambahan membuat Isyqaq bersorak senang.
“Oi, Zain!”
Karena memang Zain cukup dikenal di MTs. dan MA Yasti, semua panitia reuni dari Angkatan 89 itu menyambut kedatangannya dengan ramah. Tiga bulan di Jakarta membuatnya semakin gagah.
Ada satu hal yang baru Iif sadari dari kedatangan teman kecilnya, dan anak sahabat uminya sekaligus mantan ketua Seksi Kerohanian di OSIS dulu. Jika Abram membawa satu kresek besar suvenir dari Kairo, Zain membawa satu undangan.
Undangan pernikahan Wati, kah, itu?
***
Rapat terakhir reuni Angkatan 89 itu selesai dua jam kemudian. Semuanya telah rampung, dari mulai susunan acara, penetapan tempat acara, panitia hari H, hingga laporan keuangan final.
Sesuai rapat awal, reuni itu dilaksanakan pada Sabtu, 7 Juli di Pantai Citepus, Pelabuhan Ratu, Sukabumi. Berangkat dari titik temu Alun-alun Cisaat, pukul 9 pagi, menginap. Mereka pulang besoknya setelah makan siang.
Dengan susunan acara yang telah disetujui bersama, reuni nanti dijamin akan mengingatkan mereka pada masa-masa SMA dulu.
Setelah rapat itu---plus-plus penyerahan undangan Wati untuk angkatan 89---semuanya kembali pada kegiatan masing-masing di hari minggu. Ada yang langsung pulang, ada yang lanjut mengobrol di masjid atau alun-alun, ada pula yang mengisi kajian di masjid kampung dekat sana, ada juga yang menengok keluarga.
Iif melakukan poin terakhir. Usai memasukan buku keuangan reuni ke dalam tasnya, ia bergegas ke depan jalan dan menyetop angkot arah Bojong Nangka. Walaupun akan agak jauh karena angkot tidak bisa terus ke dalam, tak apa. Mumpung masih siang. Masalahnya, ojek motor tidak akan membantu bokongnya Jalanan ke sana masih berbatu. Iif tidak mau mengambil risiko akan sakit p****t begitu tiba di rumah Mak Niyah, neneknya, ibunda Yusuf.
Alhasil, angkotlah pilihan terbaik. Lumayan, ia pun dapat merehatkan matanya sejenak karena pemandangan sawah di Bojong Nangka akan menyegarkan matanya.
Makanan dari Uminya sudah di dekapan. Tangan kanan Iif teracung, bersiap menyeberang, setidaknya sebelum klakson motor RX100 mengurungkan niatnya.
“Mau ke Bojong Nangka?”
Iif menoleh, dan mendengkus tipislah ia menyadari siapa yang menyapanya. Azhar. “Iya, Zhar. Mau antar makanan buat Emak.”
“Saya antar saja, ya? Sekalian, mau ke rumah teman SMP juga, di sekitar sana. Biasa, mancing hari minggu.”
“Gak usah, takut merepotkan,” tolak Iif sopan. “Jalan ke sana kan masih rusak. Kasihan kamu bonceng saya.”
“Memangnya kamu gajah? Kurus begitu kok berat? Gaklah!” Azhar tetap kukuh dengan ajaknya. Lelaki itu bahkan menepuk jok belakangnya, “Ayo, naik!”
“Benar nggak apa-apa?”
“Ya sudah, saya nggak datang reuni, nih.” Azhar bersidekap, menghiraukan tawa lucu Iif terhadap nada berucapnya.
Dan, memang Iif tertawa, tetapi lebih karena kelepasan. Apa hubungannya mengantar sekalian memancing, dengan batal datang ke reuni? Lagi-lagi, itu sudah jelas sebuah ancaman kosong saja. Iif menolak pun Azhar akan tetap datang ke acara mereka.
Dia kan MC-nya. Iif melirik Azhar aneh, berusaha mengabaikannya. Namun, lelaki itu dengan agresif meneruskan, “Kamu kan tahu saya nggak pernah main-main sama ucapan saya, If. Mau acaranya kacau kalau saya nggak ada?”
Ah, justru itu! Itulah kartu AS Azhar. Iif berubah memelas karenanya. Walhasil, ia tak bisa berbuat apa-apa selain menurut. Dengan agak berat hati, Iif menaiki motor itu. Ketika ia hendak meletakan makanan di tengah, tangan Azhar menarik makanan itu supaya ditempatkan di depan.
“Ada kait di depan, di depan saja.” Cepat, lelaki itu memberi alasan.
Iif tidak tinggal diam. Sebelum Azhar berkesempatan menarik salah satu tangannya, ia menempatkan ranselnya di depan dan berpegangan pada jok motor.
Gadis itu tak menyadari, kepribadian lelaki dalam diri Azhar terbagi menjadi: menyayangkan dan semakin mengagumi. Menyayangkan karena tidak ada tangan yang melingkari pinggangnya. Mengagumi karena Iif masih seperti yang dulu, pandai menjaga diri.
Tak ada paksaan lagi dari Azhar. Kemudian, mereka pun berangkat ke rumah Mak Niyah.
***
Berbeda dengan ojek-ojek motor itu, Azhar menjalankan motornya dengan perlahan ketika tiba di jalan masuk Bojong Nangka. Memang, jalan berbatu menjadi penghalang mereka. Namun, kecepatan yang diturunkan jauh membuat Iif nyaman. Matanya jelalatan ke kanan dan kiri jalan, dipenuhi sawah dan kolam ikan warga. Asri. Indah.
Hening menyelimuti mereka lebih lama setelah obrolan basa-basi tentang kabar keluarga yang Azhar tanyakan di jalan raya tadi. Tiba-tiba Azhar membuka obrolan mereka kembali dengan:
“If, boleh saya tanya soal yang agak pribadi ke kamu?” tanya Azhar sungkan.
“Soal apa?”
“Boleh atau enggak?”
Iif menghela napas, menginsafkan satu hal. Ternyata pemuda ini masih seperti dulu, pemaksa. Kembali, ia mati kutu sehingga hanya menjawabnya dengan anggukan kecil dan kata, “Silakan.”
“Siapa yang lagi dekat dengan kamu sekarang?”
Wajah sudah kuduga langsung muncul dari gadis itu. Namun, dia memutuskan untuk tidak ambil pusing dengan motif pengajuan pertanyaan. Dengan santai, Iif segera menjawab, “Sedang rehat dulu, Zhar. Banyak kerjaan.”
Jauh di dalam hatinya, Iif berdoa semoga itu adalah tanda yang cukup jelas agar Azhar mundur teratur. Yah, ya ... tentu Iif masih mengingat jelas bagaimana Azhar terang-terangan meletakan bunga mawar di tasnya waktu mereka pulang sebagai juara tiga cerdas cermat P4 itu. Azhar berkilah, bunga itu sebagai ucapan selamat. Sayang, tak lama kemudian modusnya terbongkar. Besoknya, Azhar menyatakan perasaannya kepada Iif.
Semoga sekarang tidak seperti itu lagi.
Tapi sepertinya harapan itu tidak dapat terwujud karena Azhar kemudian menyahut cepat, “Kenapa rehat segala? Sekarang sudah merasakan gimana susahnya memperjuangkan perasaan?”
Kini, Iif jadi membisu, semakin mencurigai motif nada berucap itu. Lho, kenapa dia emosi?
BERSAMBUNG ....