4 TANYA HATI

1239 Words
*** “Jangan khawatir, aku nggak sepengecut itu mengundurkan diri dari sekolah hanya karena ini. Kita akan tetap saling ketemu sebelum masa dinasku habis. Aku harap, setelah ini kita masih bisa menjadi teman.” ***     SEMENJAK perbincangannya dengan Zain seminggu lalu, Iif lebih banyak membisu. Bukan karena ia memikirkan dan kembali mendebat Zain seperti pikirannya yang masih saja mendebat Darwis. Tidak sama sekali. Api karena ucapan janggal Zain sebelum kepergiannya ke Jakarta telah dipadamkan dengan satu sambungan telepon yang langsung ke rumahnya, pada senin sore. Zain minta maaf dan mengakui bahwa motifnya berucap begitu. Benar Iif, lelaki itu berulang kali melihatnya dengan Karta. Mendengar Zain mengaku begitu, Iif tak ambil pusing dan mendakwa, tidak. Gadis itu langsung menganggap ucapan Zain yang tak perlu didengarkannya sebagai angin lalu. Kemudian, hari itu Iif menanyainya tentang sekolah kedokteran yang ternyata baru ditempuhnya senin ini, bukan senin kemarin persis setelah keberangkatannya. Zain sengaja berangkat seminggu lebih awal untuk mencari indekos, beres-beres, dan sedikit waktu untuk menyesuaikan diri. Sekali lagi, Iif menangkap nada suara yang seolah mengharapkan kehadirannya di sana---apalagi ketika lelaki muda penuh ambisi itu bicara tentang rencana kiprahnya di senat. Semuanya begitu wajar bagi seorang Zain, membuat Iif yakin bahwa suatu saat nanti lelaki itu akan menjadi orang yang berhasil. Lantas, bagaimana dengan seorang lelaki yang lain? Si musikus itu? Sejak menerima telepon panjang dari Zain, ghirah bersaing serasa terpantik kembali. Meski mulai bosan di sekolah karena tugasnya sebagai guru piket masih begitu-begitu saja, Iif tidak tinggal diam. Dia membuat dirinya kembali sibuk dengan menerima tawaran mengajar di Diniyah dekat rumah Umam. Walhasil, dari pagi hingga siang dia bersekolah, sorenya ia mengajar agama di Diniyah itu. Ketika sabtu dan minggu, kesibukan kepramukaanlah yang mengisi harinya. Lumayan, walau masih belum bisa membantu uang belanja keluarga, paling tidak ia bisa memenuhi inginnya sendiri dengan bekerja seperti ini. Kembali lagi pada persoalan pria, intervensi yang Iif hadapi dari Darwis dan Zain siapa sangka akan membuahkan segannya saat bertemu Karta. Kesiswaan menjadwalkan pramuka jam tujuh pagi ini. Setengah tujuh Iif sudah datang, semata untuk menikmati sepinya sekolah dan memberi makan ikan di kolam sekolah sambil terapi kaki. Sejumput cacing kecil kehitaman itu belumlah habis dimakan, tahu-tahu sudah ada saja yang mencelupkan kakinya ke kolam yang sama. Iif menoleh, tahu siapa orang itu. Tepat, si musikus yang sempat membuat sudut hatinya sedikit retak karena lagu “Widuri”. “Seminggu ini,” Karta memulai, “kamu nggak ada kabar. Sibuk, ya?” “Kebetulan aku ambil tawaran mengajar lagi di luar sekolah. Hariku penuh.” Iif memberitahu tanpa berusaha terlihat meninggikan dirinya di hadapan Karta---tanpa berusaha memperlihatkan bahwa dirinya sudah orang sibuk sekarang, sedangkan dahulu tidak. “Mengajar di mana?” “Diniyah dekat rumah kakakku,” jawab Iif. Lengang. Meski begitu, kelengangan pendopo sekolah sekalipun tidak dapat menyaingi kelengangan pikiran mereka. Iif duduk di sisi lelaki itu tanpa memikirkan apa-apa, Karta menatap ikan-ikan kecil yang sedang menggerayangi kakinya itu dengan tatapan kosong. “Karta,” panggil Iif, mulai merasa kalau ini adalah akhir kisahnya dengan Karta. Namun, ia bergeming pada pikiran itu. Iif tidak membiarkan pikiran tentang perpisahan itu mempengaruhinya sebelum kegiatan pramuka hari ini terlaksana. Tidak boleh ada yang kacau di hari ini. Tidak boleh. Tiba-tiba ingatan tentang malam lagu Widuri itu terselip dalam benaknya. Iif teringat, maksud Karta mempersembahkan lagu lawas itu untuknya belum terjelaskan. “aku mau tanya sesuatu, tapi kamu jangan tersinggung, ya.” “Silakan,” ucapnya mempersilakan. “Waktu itu, maksud kamu tiba-tiba mengajakku ke acara itu dan menyanyikan lagu itu ... apa?” Iif mengernyit sendiri setelah kalimat itu terucap. Haduh. Mengapa kalimat pertanyaannya jadi berantakan begitu? Ke mana semua perbendaharaan katanya? Kenapa pula tiba-tiba badannya jadi menggigil, perutnya berubah mulas, tak ketinggalan lehernya berubah kaku sekaku kayu? Ah, semoga Karta tidak salah mengerti. Beberapa saat tidak ada jawaban, Iif memberanikan diri menolehkan kepalanya pada si penjawab pertanyaan. Lelaki itu masih di sana, hanya saja pikirannya seperti tidak di sana. Dalam diamnya, sorot matanya seperti mengawang ke satu masa lalu tempat kesenangan mereka berdua terlaksana. Karena menyadari semua itu, Iif sudah tahu jawabannya sebelum terkatakan. Satu tarikan napas panjang terdengar dari Karta seolah meluapkan sesal dan malunya sendiri karena maksud tak patutnya terungkap tidak secara jantan di depan Iif. Gadis itu pun bisa merasainya. “Lagu itu masih membutuhkan jawaban?” Iif bertanya lagi, lebih tegas dan lugas kali ini. “Masih berminat kamu menjawabnya?” Karta balas buka suara. “Aku rasa enggak. Waktu istirahat kamu akan tersita kalau aku memaksakan semua ini. Aku kenal diriku sendiri, If---lelaki yang butuh perhatian dari wanitanya. Dengan semua kesibukan itu, rasanya nggak mungkin kamu bisa sempat bermanja-manja denganku. Kita berdua akan sama-sama sakit kalau semua ini diteruskan.” Antara sadar dan tidak, balasan Karta menciptakan satu jurang perbedaan yang besar di antara mereka. Si musikus itu terduduk dalam tundukan yang dalam seakan mengheningkan cipta untuk nasibnya sendiri. Namun, semua itu tak berdurasi lebih lama dari lagu “Mengheningkan Cipta”. Karta cepat kembali mengangkat kepalanya sembari mengulas senyum. “Jangan khawatir, aku nggak sepengecut itu bakal mengundurkan diri dari sekolah hanya karena ini. Kita akan tetap saling ketemu sebelum masa dinasku habis. Aku harap, setelah ini kita masih bisa menjadi teman.” Iif mengerjap. Kepala 19 tahunnya hanya bisa memikirkan satu jawaban yang masuk akal, “tentu,” tanpa memberi pengharapan lebih lagi. Kemudian, para siswa mulai berdatangan. Dengan tertib, kegiatan pramuka itu pun dimulai.   ***   Yang terpikir oleh Iif ketika tiba di rumah pada siangnya adalah mengabari Darwis lewat surat soal kelanjutan hubungannya dengan Karta yang sempat dirisaukan lelaki itu. Oleh karena itu, ia ambil kertas dan pena, lalu mulai menulis. Usai itu, ia poskan surat itu ke kantor pos di sisi jalan raya dengan perangko edisi istimewa bergambar PUI. Kira-kira beginilah tulisan itu:   Sukabumi, 5 Mei 1990   Darwis, semuanya sudah berakhir, tepat pada hari ini di taman sekolah tadi. Iya, aku dengan Karta. Tanya hatiku ini sudah selesai.   Kenapa perasaanmu selalu tajam kalau dalam urusan laki-laki yang akan tersakiti karena tingkah lakuku, hm? Ah, ya, aku lupa. Kamu kan lebih berpengalaman soal hati dan anatominya daripada diriku sendiri.   Hai dokter jantung tidak resmi, kami (aku dan Karta) berikrar menjadi teman saja. Meski begitu, jujur, nantinya aku tidak ragu kalau akan ada satu-dua tindakannya yang membuatku teringat kembali dengan perasaan yang sempat membuncah, dulu. Jadi, aku putuskan untuk mengurangi kontak dengannya seperti orang yang tidak akan berkontak dengan penderita penyakit cacar. Aku akan lebih banyak sibuk, tapi kamu salah besar kalau menyangka kesibukan itu dalam rangka melupakan Karta.   Darwis, untuk ke sekian kalinya rasanya kamu benar. Aku masih belum bisa membedakan antara kagum, suka, sayang, dan cinta. Kuputuskan yang kurasakan kepada Karta hanyalah kagum. Aku kagum dengan permainan gitarnya, dengan kepiawaian ramah tamahnya di depan kanak-kanak, dan gagasan taman bacaannya. Tidak lebih tidak kurang.   Jadi, sudah jelas aku kembali sibuk bukan karena Karta.   Mar belum kuberitahu soal ini, dan sepertinya tidak akan pernah aku beritahu. Dia sibuk berpacaran dengan Mas sunda-jawanya yang dari Cianjur itu, aku rasa. Melihat setiap hari curhatnya hanya soal Mas Sutomo, aku rasa kamu setuju kalau sebentar lagi mereka akan jadi satu. Aku senang kalau itu yang terjadi.   Omong-omong, gimana kabarmu dan pekerjaanmu? Aku harap Bogor tetap ramah padamu, ya. Di surat balasan, ceritakan aku tentang Kebun Raya. Ingatanku kabur terhadap itu. Maklum, ingatan masa kecil.   Ya ya ya?   Sudah dulu. Aku baik-baik saja di sini. Semoga kamu punya cerita soal kedekatanmu dengan gadis Kota Hujan di surat balasan.   Salam sahabat, Iif.  BERSAMBUNG ....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD