3 ORGANISASI DAN SEGALA BUNTUTNYA

1972 Words
*** “Kamu itu dilahirkan dari perempuan pergerakan, If, dan akan selalu jadi penggerak di manapun kamu berada.” ***     ESOKNYA, dilema itu hilang sejenak dari permukaan benak Iif. Gadis itu lebih fokus kepada rakor PUI Sukabumi. Meski mewakili Fifi, Iif bukan menggantikan tugas Fifi di bagian urusan persekolahan agama. Setidak-tidaknya, belum. Ia di sana hanya sebagai pencatat poin-poin dalam rapat, yang ditujukan untuk urusan persekolahan agama se-Kecamatan Cisaat. Tetap, yang sering berbicara di dalam rapat adalah sang ibunda, ketua urusan agama PUI Kecamatan Cisaat. Rapat yang dipimpin langsung oleh ketua PUI Sukabumi, Pak Hasyim Anshari, itu berlangsung lancar meski tertutup. Pembahasan utamanya memang isu lama kembali berkembang di awal tahun 90 ini, yakni pembungkaman aktivis dakwah. Rapat kali ini diselenggarakan bukan dalam rangka menyudutkan pemerintahan orde baru, tetapi mendiskusikan bagaimana PUI Sukabumi harus  mengambil sikap. Setelah rencana koordinasi dibentuk dan kesimpulan didapat, rapat dibubarkan. Namun, sebagaimana biasa, kepulangan Iif dan Aini tertahan oleh beberapa orang yang mengajak Aini berbincang. Yang paling mencolok adalah dua duda, dan satu orang teman kecilnya---teman kecil Iif. Dua duda itu menunjukan gerak-gerik mencurigakan di mata Iif yang membuatnya sedikit mendesak sang ibu untuk menyegerakan basa-basi itu. Kemudian, sang teman kecil muncul di luar gedung sekretariat PUI Cisaat. “If!” Panggilan itu membuat Iif yakin, kali ini si penyapa punya urusan dengannya, bukan Aini. Iif pun berhenti. Aini turut menghentikan langkahnya dan menoleh. “Ah, Zain?” Iif balas menyapa lelaki itu. Ingat si kakak kelas ketua pramuka MTs. yang pernah menyukai Iif? Ya, itu dia. Namanya Zainal Abdullah, anak Kyai Sastranegara, kepala pondok pesantren tempat Abinya pernah memberikan suatu materi tentang P4 dulu. Berbeda dengan Iif yang mengingat Zain sebagai salah satu penyemangatnya untuk meneruskan kiprah di kepramukaan, Aini mengingatnya sebagai teman sepermainan Iif dulu. Mereka sempat satu SD meski sepertinya Iif tidak mengingatnya, sebelum Zain pindah ke Cianjur melanjutkan Ibtidaiyahnya, lalu kembali lagi ke Sukabumi saat jenjang SMP dan bertemu dengan Iif. Memang, anak itu pemuda yang sopan. Sayang, Iif masih suka bertualang, tidak seperti Zain yang mulai jelas berkepribadian. Anak sebaik itu tidak akan bisa meredam Iif, begitu pikirnya. “Umi,” Zain mengangguk kepada Aini sekarang setelah sapa-menyapa dan menanyakan kabar, “kelihatannya Iif sudah mulai menunjukan ketertarikan kepada PUI, ya?” “Alhamdulillah,” jawab Aini takzim,  “harus ada yang melanjutkan jejak umi dan abinya, seperti kamu.” Zain mengulas senyum simpulnya. Ia lantas melanjutkan keperluannya dengan Iif. “Sore ini kamu ada acara?” Iif mengingat-ingat. Adakah ia acara dengan Karta atau Mar? Rasanya tidak ada. Iif pun menggeleng. “Enggak. Kenapa memangnya?” Menjawabnya, Zain mengangguk paham. “Kalau begitu nanti datang ke rumah, ya,” lelaki itu juga menoleh kepada Aini, “Umi silakan datang juga. Sudah lama Ibu tidak bersua, katanya.”  “Ah, sayang sekali,” Aini mendengkus tipis, terlihat menyayangkan agaknya, “nanti sore Umi harus mengisi pengajian di masjid kampung sebelah. Iif saja yang mewakilkan, tidak apa, ya?” “Siap, tidak apa-apa, Umi.” Zain segera memaklumi dan lantas meminta diri. “Kalau begitu, saya permisi dulu. Assalamualaikum.” Usai menjawab salam, kedua perempuan berbeda generasi itu memandang kepergian Zainal Abdullah dengan jalan pikiran yang berbeda. Aini dengan rasa penasarannya akan kabar keluarga teman Yusuf itu sekarang, dan Iif sedikit bingung harus bersikap bagaimana. Tadi, Zain tidak menyebutkan urusannya mengundang Iif. Pertanyaan itu menggantung di benaknya di sisa hari menjelang siang itu, membuatnya tidak memikirkan Karta.   ***   Rumah keluarga Sastranegara tak ubahnya sebuah rumah impian Iif. Rumah itu bergaya eropa karena memang bekas rumah kumpeni---dengan halaman luas berhiaskan kembang-kembang, banyak jendela, dan jalan batu terhampar menuju pintu masuknya. Terawat. Luasnya kira-kira sama dengan rumahnya, membuat Iif merasa tidak terintimidasi. Rumah ini hanya berjarak lima ratus meter dari rumahnya, dekat. Hidangan Bika Ambon yang Iif bawa sebagai buah tangan pun masih terasa hangatnya walau ia berjalan santai ke rumah itu, menikmati udara sore hari yang jernih dari langit yang cerah. Pintu pagar besi itu tidak dikunci, membuat Iif dengan leluasa masuk. Di pelataran rumah, sang ibu tuan rumah sedang mengobrol sore dengan bungsunya yang gadis, terlihat semringah saat Iif datang. “Assalamualaikum, Bu, Wati,” ucap Iif ramah. “Wa’alaikumussalaam,” Nyonya  Sastranegara menjawab salam itu, senyumannya kelewat lebar, “alhamdulillah kamu sudi memenuhi undangan Zain, Nak. Masuk, masuk.” Keramahan yang sama yang ia terima. Di dalam, Iif menyerahkan bawaannya kepada Nyonya rumah. “Maaf cuma bisa bawa ini, Bu. Salam dari Umi.” “Wa’alaikumussalaam.” Nyonya Sastranegara mengangguk, menerima buah tangan itu dengan tangan terbuka dan menyerahkannya kepada Wati untuk dihidangkan. Setelah Wati meminta diri ke dapur, Nyonya Sastranegara lanjut bertanya, “Ibu dengar dari Zain, tadi kamu ikut rapat dengan Umimu, ya? Sudah siap jadi pengurus rupanya?” “Ah,” Iif tertawa pelan---ramah, sopan, “belum, Bu. Cari pengalaman saja dulu.” “Di kepramukaan hampir sepuluh tahun belumlah cukup?” “Dibanding Zain, saya rasa belum,” jawab Iif takzim. Menanggapinya, seperti biasa, Nyonya Sastranegara menepuk-nepuk pundaknya dan menampakkan senyum keibuan itu lagi. “Selagi muda, baik cari pengalaman sebanyak-banyaknya, kamu betul. Tua saatnya istirahat. Satu hal yang Ibu agak bingungkan, tapi, If.” Sepanjang ocehan itu, Iif menurut saja dibawa oleh nyonya rumah ke taman belakang rumah. Ada dua  ayunan tua di tamannya. Iif ingat, ia sering duduk dan bermain di ayunan itu bersama Zain ketika menunggu makan siang selesai dibuat nyonya rumah. Kini, ia pun dibawa ke dekat sana, persisnya ke kursi rotan yang ada di teras. Diam-diam, Iif menikmati kebawelan Nyonya Sastranegara sekali lagi. Siapa lagi, coba, yang bisa membaweli kelakuan uminya selain orang yang seusia? “Soal apa, Bu?” “Kapan umimu itu istirahat?” tanya si nyonya rumah sembari mempersilakan Iif duduk di kursi sana sementara ia mengambil tempat di kursi goyangnya, lanjut menyulam. “Berapa umur dia sekarang?”  “Empat puluh enam,” jawab Iif pada pertanyaan kedua. Terdengar embusan napas dari Nyonya Sastranegara. Cukup keras, tetapi belum mampu menghilangkan fokus Iif pada wangi Bika Ambon dan teh hangat yang dihidangkan Wati. Ia mengangguk pada bungsu itu, lantas memperhatikan Nyonya rumah lagi karena Wati langsung pergi. “Memang Aini menikah di usia muda, ya. Bagaimana aku bisa lupa?” Si Nyonya mendengkus. “Haduh, sudah pikun. Punten, ya, Nak. Wajar semangatnya masih membara untuk sibuk di mana-mana, tidak seperti aku yang sudah tua renta ini.” “Tapi masih geulis, kok, Bu.” Iif mencoba membelokkan obrolan agar tak berisi keluhan-keluhan. Nyonya Sastranegara terkekeh, melanjutkan sulamannya. Sambil itu, ia melanjutkan pula obrolan mereka. “Organisasi dengan segala buntutnya ....” Kini nada berucap itu berubah menggerutu. “Kamu percaya kalau orang yang sibuk di usia muda tidak akan pernah bisa istirahat sampai hari tuanya?” Iif terdiam sejenak, menimbang bagaimana akan menjawab pertanyaan itu. Kalau pertanyaan semacam ini diajukan oleh orang yang sebaya, ia masih bisa balik bertanya untuk mengetahui latar belakang pertanyaan itu atau pendapat si penanya tentang pertanyaannya sendiri. Sekarang, yang mengajukan pertanyaan ini adalah orang yang tiga puluh dua tahun lebih tua darinya. Bagaimana Iif harus menjawab? Karena duduk perkaranya masih samar, maka ia memutuskan untuk bersikap sesuai yang dirasainya dari melihat nasib abi dan uminya di organisasi. “Percaya, Bu. Menurut saya, penggerak akan selamanya jadi penggerak.” Nyonya Sastranegara melirik Iif dalam senyumannya. Meski begitu, wanita itu lalu menghela napas dalam-dalam dan mengembuskannya kuat-kuat lagi, seperti melampiaskan kesal dan sesal terhadap sesuatu. “Nah, itu kamu tahu. Andai Zain sadar itu, dia pasti tidak akan dilangkahi Wati menikah. Wati, lulus sekolah sudah punya calon saja. Semalam calonnya datang melamar. Zain? Sulung ibu itu malah sibuk  mempersiapkan rakor tadi pagi. Giliran ditanya soal perempuan atau adakah kader yang nyangkut ke dia, tahu jawabnya apa?” Dari semua cerocosan Nyonya rumah, Iif merasa tanggapan tertepat adalah ini: “Apa, Bu?” “Dia serahkan surat tanda diterima di kedokteran UI. Kapan dia ke Jakarta buat mengurus perkuliahannya itu? Kenapa ibunya tidak dia beritahu?” ‘Kedokteran UI’. Dua kata itu membuat Iif terperangah dan nyaris berdecak kagum kalau ia tidak keburu menyadari keberadaan Zain di teras belakang rumah. Lelaki itu merangkul ibundanya dengan sayang, lalu menyapa Iif terlebih dahulu, “Aku kira kamu jam karet, If.” “Dia jam emas, Zain!” Nyonya rumah menepuk pundak putranya. “Mana ada anak Yusuf tidak menghargai waktu?” “Betul juga,” Zain melebarkan senyumnya, “Abi sudah pulang. Umi ke depan dulu, gih.” “Mengusir?” Nyonya Sastranegara mendelik. Iif sampai-sampai tersenyum melihat kelucuan tingkah ibu dan sulung itu. “Tidak, sungguh! Kan umi tahu abi maunya dimanja. Sana hampiri dulu.” Lagi, Nyonya Sastranegara mendengkus, menyerah kali ini untuk teguh menemani Iif mengobrol dengan putranya. Akhirnya, membawa serta sulamannya, nyonya rumah melangkah ke depan. Zain berubah fokus, jadi duduk di sampingnya. Kedekatan mereka dibatasi meja makanan sekarang. “Jadi, kamu sudah dengar dari Ibu,” buka Zain kemudian. “Besok aku berangkat ke Jakarta, melanjutkan pendidikanku di sana. Sayang kesukaanku ke biologi tidak diteruskan.” “Ya,” Iif mengangguk, lalu menyesap tehnya, “tapi kalau begitu kemungkinan kamu terima beres saja jadi tamu di nikahan Wati?” Zain tertawa menanggapinya, melirik Iif terkesima. Masih saja ia bisa melawak dengan menyinggung ‘dilangkahi menikah dengan adik sendiri’ itu. “Mungkin. Tapi sepertinya aku nggak akan setega itu. Pastilah aku pulang dulu beberapa hari. Absen dari perkuliahan kalau perlu. Kita lihat nanti.” “Kamu sendiri,” Zain melanjutkan, “menjadi guru di MTs. dan pengajar Pramuka di dua sekolah sekaligus---masih belum berminat melanjutkan studi?” “Sudah kepalang tanggung,” balas Iif. “Kerjaanku sekarang sudah jadi zona nyamanku. Biarlah. Nanti perempuan juga bakal berakhir di tiga ur.” “Tiga ur?” Jawaban dari pertanyaan itu terjeda sedikit karena Bi Laela mengantar kopi untuk Zain. “Sumur, dapur, kasur.” Kembali, Zain tertawa. Namun, tawanya itu menyurut menjadi ketidaksetujuan. Lelaki itu menggeleng, bersiap mengemukakan pendapatnya. “Tidak sepenuhnya begitu. Kan seminggu lalu kita baru merayakan Hari Kartini? Kenapa langsung pesimis begitu?” “Setahuku itu bukan pesimis. Itu sadar diri.” Iif menggeleng tidak setuju. “Lagi pula, emansipasi bukan berarti harus bebas sebebas-bebasnya, kan? Bebas dalam berpikir melakukan yang terbaik di bidang pekerjaan yang sekarang juga termasuk emansipasi. Kamu tahu, banyak yang nggak bisa aku tinggalkan di sini. Kasihan Umi.” Zain mengangguk setuju, lalu menuangkan sedikit kopinya ke pisin yang menjadi alas gelas itu. “Rupanya kamu penganut belajar bisa darimana saja dan kapan saja. Bagus. Jadi, kapan?” Iif mengernyit, tidak mengerti dengan pertanyaan itu. “Kapan apanya?” “Kapan kamu mau menyusul jejak kakak-kakakmu di PUI? Selain pramuka, PUI juga layak menjadi tempat belajar berorganisasi, lho, If.” Sekarang, Iiflah yang mendengkus malas merespons pertanyaan itu. “Kamu dibisiki Umi, ya, menyuruhku bergabung?” “Lho, buruk sangka begitu?” Zain terkekeh pelan. “Maksudku kan nggak harus sekarang----tapi memang, lebih cepat lebih baik. Organisasi dengan segala buntutnyalah yang menuntunku bisa ke UI. Semoga itu bisa berlaku juga terhadap kamu.” “Kenapa begitu?” Kali ini, Zain menyesap kopi hitamnya sebelum menjawab. Tidak menatap Iif, pandangannya justru terpaling ke langit sore. Mega petang mulai terlihat. “Kamu itu dilahirkan dari perempuan pergerakan, If, dan akan selalu jadi penggerak di manapun kamu berada. Aku---” “Kamu tahu itu gak menjawab pertanyaanku yang tadi.” Iif memotong, meski dengan nada yang tetap santai terdengar. “Kenapa lebih cepat lebih baik?” “Kamu akan paham nanti, tapi betapa menyenangkannya punya teman yang sejalan dengan visi keluargamu. Umi pun akan tenang tahu kamu di lingkungan yang benar dan baik.  Kamu tahu maksudku.” Karena perkataan itu, Iif diam sediam-diamnya. Bukan karena tak suka Zain terkesan mengguruinya walaupun ia memang lebih tua, tetapi karena Iif menyadari satu hal. Zain melihatnya diantar-jemput Karta beberapa minggu ini. Oke, jadi, setelah Darwis yang menentangku, Zain mau menentang Karta? Ada apa, semesta?      BERSAMBUNG....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD