***
“Tahu kenapa Karta suka kopi semacam ini, If? Karena sama dengan hidupnya, pahit!”
***
SANG SAHABAT sudah kembali ke kota rantaunya, Kota Hujan, tetapi ucapan itu tak disangka meninggalkan bekas yang cukup membuat Iif memelas. Salahkah ia memberi perhatian kepada Karta selama ini? Kan mereka sama-sama menyenangi.
Sebagian diri Iif teguh untuk berpendapat bahwa perhatiannya itu tak salah. Hari Seninnya Karta menelepon ke rumah dan meminta Iif hadir di suatu acara istimewa buatnya di malam minggu nanti. Karta tak bilang apa, tapi Iif dengan cepat mengatakan bersedia datang---acara ini secara tidak langsung akan jadi jalan-jalan ketiga mereka setelah dua malam minggu yang sudah terlaksana.
Selain itu, diam-diam ia pun penasaran dan ingin membuktikan, cerita Mar kepada Darwis tentang Karta benar adanya atau hanya bualan Darwis belaka agar Iif menutup hatinya terhadap pria.
Kalau hal kedua yang terjadi, di pertemuan selanjutnya rasanya Iif akan melabrak Darwis dengan mengatakan bahwa sifat pengecutnya itu tidak pernah berubah. Berharap Iif menutup hatinya kepada pria hanya agar gadis itu memikirkan Darwis? Untuk apa memikirkan orang yang ciut lebih dulu sebelum memperjuangkan perasaannya?
Dan, hari sabtu itu tiba. Di depan cermin, Iif mendengkus---lebih kepada karena menyadari ada sosok lain dalam cermin itu yang memandanginya berkaca. Bersolek. Seorang Iif bersolek? Rasanya, setelah menyaksikan 19 tahun kehidupan Iif, ia baru melihat gadis itu bersolek di acara pergi sehabis magrib.
“Mau ke mana, Nak?”
Mendengar pertanyaan itu, Iif berbalik. Sebenarnya, ia ingin mendengkus pelan, tetapi merasa bukan tempatnya bereaksi seperti tadi. Kalau ia mendengkus untuk yang kedua kalinya, bisa-bisa disangka tidak mengizinkan sang ibunda untuk ikut campur dalam urusannya.
Dan itu kasar, Iif tahu.
“Ke undangannya Karta, Mi. Rekan guru. Dia juga sedang jadi pembina penggalang di sekolah,” jawab Iif tenang. “Cuma sebentar, kok. Nanti Iif bisa pulang sendiri.”
Ibundanya mengangguk paham, masih membiarkan kacamatanya menggantung di d**a. Rantai kacamata yang masih terselip di telinganya menunjukan bahwa wanita itu belum ingin selesai dari kegiatan membacanya. Sebuah buku P4 ada di dekapan, tanda orang tua itu mungkin saja sedang merindukan seseorang.
“Baiklah,” Aini mengizinkan, tetapi kemudian, “atau kamu bisa suruh Karta antar kamu pulang kembali---itu pun kalau dia tidak keberatan dan tidak sibuk.”
“Iya,” Iif mengangguk mengiyakan, merapikan jilbabnya, “lihat nanti, ya, Mi.”
Si anak tengah itu menyalami ibundanya, memberi hormat, lalu melangkah pergi menuju sang supir pribadi yang mudah-mudahan sudah nangkring di depan masjid. Namun, tanpa diketahui, di balik punggungnya Aini menahan sesuatu untuk terucap. Ada dua hal. Pertama tentang rapat koordinasi Persatuan Umat Islam Sukabumi yang harus dihadirinya besok, kedua tentang perasaan risinya menyadari Iif kembali dekat dengan seorang pria.
Semoga kali ini lelaki itu serius. Aamiin. Kemudian, Aini menengok anak-anaknya yang lain---Ahmad, Ina, Eri, Dodi, dan Emi---di kamar mereka masing-masing. Penjelajahan sehabis magribnya berakhir pada satu ruang besar berisi rak buku. Ruang kerja sang abi yang juga menjadi ruang kerjanya sekarang ini.
***
Vespa Karta kembali menjadi pengantar setianya ke tempat acara. Acara yang tadinya tak bernama itu sekarang kelihatan wujudnya. Ia diajak Karta ke sebuah malam puisi. Iif baru teringat, 28 April 1990, Hari Puisi Nasional.
Sebuah kedai warung makan menjadi persinggahan mereka dalam rangka merayakan hari itu. Di dalam kedai, terlihat banyak yang sudah mengenal Karta. Beberapa kali mereka terhenti karena sapaan, dan selalu dijawab sama:
“Kenalkan, ini teman saya: Iif.”
Entah harus lega atau bingung, teman mana yang diajak bermalam minggu tiga kali berturut-turut? Teman mana yang membicarakan dan mendukung cita-cita bersama? Teman mana yang---
Berhenti, Iif. Jangan kamu yang menunjukan perasaanmu duluan.
Jadi, sebenarnya ia anggap Karta apa? Pertanyaan itu berkecamuk dalam benak Iif sepanjang acara. Diajak makan, lalu mendengarkan pembacaan puisi-puisi karya pujangga kenamaan Indonesia, Iif larut dalam suasana. Ia pun berkenalan dengan beberapa teman Karta secara lebih personal. Di acara itu pula, ia mencoba meminum kopi hitam dengan cara tidak diaduk---persis seperti Karta.
Tetap saja pahit. Iif memberenggutkan bibir, tak begitu nyaman dengan rasa yang ditimbulkan kopi itu.
“Tahu kenapa Karta suka kopi semacam ini, If?” ucap Erly dengan nada jenakanya, yang langsung dijawab Iif dengan gelengan plus wajah polos. Balasan itu mengundang senyuman lebar dari Erly yang langsung saja menyela, “Karena sama dengan hidupnya, pahit.”
Lain dengan teman-teman Karta yang tertawa, Iif melirik Karta dengan sedikit tak nyaman. Ya, karena baginya urusan kepahitan hidup seseorang bukan hal yang patut ditertawakan, apalagi jika benar hidupnya pahit seperti Karta---meski Iif hanya mendengar itu dari obrolan-obrolan Karta selama ini.
Belum habis perasaan agak kecutnya kepada pertanyaan itu, sepiring gorengan kembali datang. Kartalah yang membawanya. Ia melirik Iif sambil tersenyum---atau lebih karena ia menyadari teman-temannya berhasil membuat Iif merasakan kopi yang dulu dikata aneh itu? Entahlah.
“Silakan.”
“Terima kasih.” Iif mengangguk. Namun kemudian, ia batal memperhatikan suguhan gorengan itu karena menyadari Karta naik ke panggung dadakan yang dibuat di pusat kedai. Ia memegang gitarnya. Mantan bibir perokok itu berhadapan dengan mikrofon.
Akan menyanyikah pria itu? Iif penasaran, dan tambah penasaran lagi karena seisi kedai seperti sudah menunggu Karta bernyanyi sejak lama sekali. Di sekitar Iif menjadi hening. Ia bingung sendiri karena merasa ada sesuatu yang salah. Buat siapa lagu yang akan Karta nyanyikan? Lagu apa yang akan Karta nyanyikan?
Iif mulas memikirkannya. Namun, ia berusaha menahan gejolak dalam dadanya dengan tetap mengambil tempe goreng beserta cabenya sambil memperhatikan Karta. Tak lama, petikan gitar terdengar. Dari nada minor yang dimainkan, Iif sudah bisa menebak kalau Karta akan menembangkan lagu melow.
“Saya mau mempersembahkan lagu ini kepada sahabat baru saya di sebelah Erly---Iif.”
Kemudian, melodi dan lirik lagu “Widuri” mengalun indah dan romantis dari gitar Karta dan mulutnya. Selama itu, suasana sekitar seakan sunyi untuk Iif. Bagai seorang kasmaran, gadis itu menikmati tembangan Karta seorang. Tak hanya gitarnya yang lebih merdu, suara Karta pun terdengar sedikit berbeda---bernyawa.
Tersentuh hati dalam kehancuran,
Setelah tahu apa yang terjadi.
Sekian lamanya engkau hidup seorang diri,
Kuingin membalut luka hatimu.
Bukan pada bagian akhir lagu yang berisi pernyataan perasaan, perhatian dan penghayatan Iif larut pada empat baris di jembatan antar-reff. Sepasang netranya sedikit memanas menyerap kata-kata itu. Belum lagi, sepasang mata bola Karta yang juga tertuju kepadanya, menimbulkan arti bahwa pemuda itu sudah menyadarinya---bahwa Iif yang sebenarnya bukanlah Iif yang ceria dan optimis. Iif yang sebenarnya adalah yang seringkali merasakan kesepian meski dalam rumahnya sendiri.
Iif yang sebenarnya adalah seorang anak gadis yang masih suka merindukan ayahnya di barzah sana.
Setelah lagu selesai, tepukan tangan menyambut berakhirnya penampilan Karta. Kini, Iif sudah enggan menganggap larik-larik akhir lagu itu sebagi pernyataan perasaan. Ia merindukan hal lain, yang hanya ia bisa temukan di rumah. Maka, begitu Karta kembali duduk di sampingnya, tak ada yang Iif katakan selain:
“Acaranya masih lama?”
“Kamu mau pulang?”
Iif hanya mengangguk, tak mau tinggal---tak mau berusaha tinggal lebih lama lagi.
“Oke, saya antar, ya?”
*
Dikarenakan kedai yang agak jauh dari rumah Iif dan Karta menyangka kalau tidak betahnya Iif di sana karena lingkungan obrolan dan lagu yang baru saja Karta nyanyikan, motor Vespa itu dilajukan kencang-dengan tetap mematuhi batas kecepatan. Sepanjang perjalanan, mereka saling diam. Sibuk dengan pikirannya sendiri.
Karta yang tak mampu menerka pikiran Iif, akhirnya menuntaskan rasa penasarannya dengan mencoba menegur usai memelankan laju motornya, “If?”
“Ya?”
“Kamu nggak biasa nongkrong-nongkrong seperti itu, ya?”
Tidak biasa? Iif ingin sekali dengan tegas menjawab SUDAH SANGAT BIASA. Bersama Mar dan Darwis---tak jarang dengan teman-teman MTs. dan MA yang lain---ia sudah sangat biasa mengobrolkan apa pun sambil makan-makan seperti tadi. Walaupun ia berkerudung dan dibesarkan di lingkungan agamis, juga disekolahkan di sekolah agama, bukan berarti ia tabu terlibat nongkrong-nongkrong seperti tadi. Tidakkah Karta menyadari kalau diamnya itu berarti kerinduan pada sang ayah? Dia hanya fokus ke usaha pernyataan perasaan yang gagal total itu, ya?
Menjawab pertanyaan Karta, Iif menggeleng. “Aku kepikiran sekolah tadi. Rasanya ada tugas yang belum aku selesaikan. Besok akan ada rapat koordinasi dengan PUI soalnya, jadi tugas sekolah harus segera dibereskan.”
“Begitu saja?”
“Ya.” Iif menambahkan jawabannya dengan mengangguk supaya lebih meyakinkan Karta---jaga-jaga pula kalau-kalau Karta tidak mendengar suaranya.
Karena jawaban yang---padahal---dusta itu, heninglah yang tersisa di sepanjang perjalanan mereka kembali ke rumah.
*
Entah untuk alasan apa, Karta berpikiran mengantarnya sampai ke depan rumah. Awalnya Iif hendak menolak, tidak enak dengan adik-adiknya karena terkesan memberi contoh yang tidak baik sebagai anak tertua yang masih tinggal di rumah. Namun, ia tidak ingin kesan malam minggu yang sudah tidak bagus ini menjadi lebih buruk karena penolakannya. Jadi, ia mengiyakan saja, lalu menunjukan rumahnya yang terletak di belakang masjid tempat ia biasa menjemput Iif.
Setibanya di depan rumah berpagar cokelat itu, Iif turun dan membiarkan Karta memutar Vespanya untuk pulang.
“Hati-hati,” pesannya kemudian, yang dijawab Karta dengan anggukan dan senyuman. Pemuda baik hati itu pun pergi dan Iif masuk.
Di dalam, terlihat orang rumah sudah siap tidur. Lampu ruang depan sudah dimatikan walaupun pintu masuk tidak dikunci. Saat ia melangkah masuk ke ruang tengah, Aini sedang duduk di sana memangku buku yang sama seperti yang ia lihat saat berangkat.
“Diantar Karta?”
“Iya, Mi,” Iif mengangguk seraya melepas jilbabnya dan menyampirkannya di kursi, “tadi dia langsung pulang. Tidak enak, sudah malam.”
Tidak ada balasan dari Aini. Ibundanya hanya menutup buku itu dan mengembalikannya ke dalam bupet, lalu berkata, “Besok ikut Umi jadi pengganti Teh Fifi di rapat koordinasi PUI Sukabumi, ya. Kasihan, hamil besar begitu ikut-ikut rapat.”
Tanpa sadar, Iif menelan ludah---antara bersyukur dan agak malas karena kehilangan waktu liburnya. Biarlah. Yang penting aku tidak sepenuhnya berbohong kepada Karta.
Dan dengan titah itu, ia dipersilakan menuju kamarnya dan melaksanakan salat isya. Tak lupa, Iif mempersiapkan bawaannya untuk besok hari. Sejenak, ia melirik foto di ujung cermin kecilnya sebelum berucap doa hendak tidur, kembali terpikirkan lagu “Widuri” yang dinyanyikan Karta tadi.
Bi, Karta itu baik, kan, Bi?
BERSAMBUNG....