***
Lagi pula, apa tidak bisa lelaki dan perempuan hanya berteman saja?
Buktinya mereka berdua bisa, kan?
***
KATA ORANG, cinta itu dari mata turun ke hati. Pengamatan Iif tidaklah demikian. Dua minggu sudah semesta mempertemukannya dengan Karta di sekolah, sekali dalam kelas pada kali pertama, tiga kali dalam kegiatan Pramuka. Itu pertemuan resmi. Pertemuan tak resmi? Dua sabtu malam sudah mereka lewati bersama, menghabiskan waktu berdua dari siang hingga malam hari.
Apa pula yang mereka kerjakan di dua malam minggu itu sampai pergi begitu lama dari rumah? Iif memberi alasan pada ibundanya bahwa ia mengunjungi taman bacaan yang digagas Karta. Mereka menikmati sabtu di sana dengan membaca, bernyanyi dengan anak-anak, dan tak lupa, Iif menyumbangkan buku pula.
Kebersamaan sabtu itu ditutup oleh makan malam di luar, berdua. Keramaian warung pinggiran Sukabumi menjadi saksi kedekatan mereka berdua, sampai pada titik membicarakan cita-cita masing-masing.
Usia Karta hanya setahun lebih tua darinya, genap dua dekade. Meski sudah menjadi guru, pria itu masih memiliki cita-cita terpendamnya, yakni masuk dalam sebuah grup musik, menjadi gitaris atau apa saja, asal jangan unjuk vokal.
Sebagai orang yang pernah mendengar Karta ikut menyanyi, yaitu saat pertemuan pertama mereka, Iif terang menyanggah penolakan Karta untuk unjuk gigi di dunia tarik suara.
“Menyanyimu juga bagus padahal. Kenapa tidak mencoba, A?” saran Iif di sebuah perbincangan dalam malam minggu pertama mereka.
“Tapi tidak sebagus kamu,” sanggah Karta dalam senyum simpulnya. “Aku cuma pintar menarik senar, tidak pintar tarik suara.”
“Sayang, aku sedang sibuk-sibuknya di organisasi dan sekolah. Kalau tidak, mungkin kita bisa bentuk grup band bersama?”
Iif sangat santai saat berucap begitu. Ia tak tahu saja, Karta menyimpan satu harapan padanya. Sejak malam minggu pertama itu, Karta berusaha mendekatinya secara terang-terangan hingga terjadilah malam minggu kedua dengan kegiatan yang sama.
Iif tak menganggap itu sebagai hal yang harus ia ambil pusing. Malahan, ia senang jadi memiliki tempat berbagi selain Mar---dan supir pribadi, tentunya. Selama dua minggu ini, suara vespa milik Karta rajin mengisi harinya.
Gadis itu tidak menyadari, kabar kedekatannya sampai kepada sang sahabat di perantauan. Orang itu bukan Mar, karena dia tinggal dekat dengan Iif dan yang dimaksud adalah pemuda tampan berambut klimis, kurus, bermata lebar.
Namanya Darwis. Sama dengan Mar, orang itu bersahabat dengan Iif sejak jenjang MTs. Namun, berbeda dengan Mar dan Iif, Darwis lebih tertarik ke klub belajar daripada pramuka.
Namun, bukan hendak nostalgia alasan Darwis mengumpulkan Mar dan Iif di sini. Ia hendak mempertanyakan sejauh mana kedekatan Iif dengan Karta. Iif pun menyadari keperluan ini, tetapi ia tetap datang karena tak ingin melewatkan kesempatan bercengkerama dengan Darwis yang hanya bisa terlaksana sebulan sekali di hari libur kerja masing-masing.
Jadi, di hari minggu usai malam minggu kedua itu, di sinilah mereka---rumah Darwis. Bukan rumahnya sendiri, rumah orang tuanya, tapi itulah yang membuat Iif lebih leluasa. Selain bernostalgia dengan setiap bagian rumah ini yang sering ia kunjungi dulu, Iif pun dapat bertegur sapa lagi dengan orang tua Darwis. Kedua orang tua itu namanya Ganda dan Sri. Mereka menyambut Iif sebagaimana anak sendiri.
“Sini, If, ibu lagi masak pisang goreng buat kalian. Yuk ke dapur.”
“Ibu! Iif baru sampai. Jangan---”
“Sudahlah, biarkan ibumu kangen-kangenan dengan mantan teman tapi mesramu ini. Kamu mengopi saja sama Bapak di teras. Barangkali sebentar lagi Mar datang.”
Bukan timpalan dari Ganda yang membuat Darwis membisu, Iif bisa merasakan itu. Tarikan ayahnya langsung, kuat-kuat menuju ruang depan, membuat Darwis tidak bisa berkutik. Ia pun kurang lebih sama. Dibawa Sri ke dapur, Iif langsung terlibat kegiatan goreng menggoreng.
Tak lama kegiatan itu selesai. Pisang goreng dihidangkan Iif dan Bu Sri ke ruang depan. Ada dua piring jumlahnya, masing-masing berisi sepuluh.
“Terima kasih,” ucap Ganda kepada keduanya, sementara Darwis hanya mengangguk dan tersenyum kepada Iif.
Namun, balasan itu membuatnya mengernyit walau tipis. Ke mana nada risi yang terdengar di telepon kemarin? Sudah lenyapkah keinginan mempertanyakan soal Karta? Akankah obrolan mereka jadi berisi soal nostalgia kisah SMA yang indah?
Iif menghela, terpikir daripada mempertanyakan itu sekarang, ia hanya turut saja ke obrolan basa-basi yang diciptakan Ganda dan istrinya. Seperti menanyakan kabarnya, kabar keluarga, kabar adik-adik dan kakak-kakaknya. Sampai Iif puas menjawab semua pertanyaan itu, Mar belum datang juga. Ia jadi bertanya-tanya, ke mana gerangan Mar?
Beberapa saat kemudian, pertanyaan itu akhirnya terjawab. Ada telepon ke rumah Darwis. Pemuda itu yang mengangkatnya. Usai bertelepon, ia memasuki teras kembali dengan wajah agak kecewa.
“Mar tidak jadi datang?” tanya ibundanya langsung.
“Ya. Dia ada urusan mendadak ke Cianjur kota dengan Masnya,” jawab Darwis.
“Ya sudah, kalian mengobrol saja di sekitar, di luar. Tidak enak di sini, sebentar lagi ada tukang buat melihat sumur.”
Dengan izin itu, Darwis membawa Iif berjalan-jalan pagi ke sekitar rumahnya.
***
Pagi yang lengang tersaji di sana. Wajar saja rasanya karena sudah lewat jam sarapan. Lengangnya suasana sekitar, lebih lengang lagi obrolan mereka. Beberapa menit pertama, mereka hanya bertegur sapa dengan tetangga sekitar dan menjawab salam. Ketika sudah tak ada lagi yang menyapa mereka, obrolan menjadi mati begitu saja.
Beginikah obrolan dua orang yang pernah mengenyam dua jenjang pendidikan bersama?
Jujur saja, Iif risi memikirkannya. Maka dari itu, ia memberanikan diri membuka obrolan. “Wis, kamu masih mau obrolkan soal itu?”
“Ah, ya, soal Karta,” gumam Darwis, lebih kepada dirinya sendiri. “Kamu sendiri ... masih berminat menjawabnya?”
“Kenapa tidak?”
Darwis berdehem. “Semalam Mar sebenarnya sudah bercerita banyak tentang kamu dan Karta.”
“Dan ...?”
“Boleh saya kasih saran?”
Tentu, Iif terbuka atas berbagai saran dari siapa pun tentang apa pun. Darwis dan hubungan asmaranya dengan seseorang adalah dua hal yang entah bagaimana cocok. Dibanding dengan Mar, sejak dulu Iif memang lebih banyak bercerita tentang lelaki yang dekat dengannya kepada Darwis.
Sudah tidak terhitung jumlahnya sejak mereka berdua sama-sama di sekolah menengah pertama. Dari mulai ketua Pramuka di zaman SMP yang kakak kelas Iif sendiri, sampai teman satu cerdas cermatnya di SMA, sudah terpikat dengan kepintaran dan kecantikan Iif. Tak satu pun dari mereka yang berakhir dengan bahagia. Ibunda dan kakak-kakaknya selalu menjadi penyebab mereka ciut sebelum melaju berperang, baik yang sudah menyatakan perasaannya atau pun yang masih teman tapi mesra.
Itu menurut Iif, dan menurutnya, saran Darwis kali ini akan berisi cara-cara ampuh untuk Karta menaklukan hati keluarganya. Kalau itu yang akan diucapkan Darwis, ia akan sangat berterima kasih.
Tunggu, kenapa Iif terkesan mengharapkan sesuatu yang lebih jauh lagi bersama Karta? Bukankah mereka baru saling mengenal dua minggu belakangan ini?
Ah, Karta pun tidak buruk, kan? Dia pintar, rajin ibadah pula, dan giat bekerja. Iif meyakinkan dirinya sendiri. “Boleh, apa?”
“Jangan kasih dia pengharapan, If.”
Meletuslah balon keheranan itu. Karena saran yang diucapkan dengan nada datar itu, Iif menghentikan langkah, yang menghentikan langkah Darwis pula. Selanjutnya, gadis itu menoleh pada sang sahabat.
“Maksud kamu?”
“Seharusnya kamu tahu maksud saya,” Darwis mengangkat bahu, “sudah jelas.”
“Seharusnya Karta mundur, begitu?” Iif tak menyerah. Ia mendesak Darwis lebih keras. “Kenapa dia tidak dibiarkan mencoba?”
“Perasaan bukan permainan, If,” ungkap Darwis tak setuju. “Jangan sampai seperti yang sudah-sudah. Bagaimana pun lelaki juga manusia.”
“Dia senang padaku---kami sama-sama senang berteman sampai sekarang. Dia baik, Wis. Apa salahnya?”
“Salah kalau niat kamu hanya supaya memiliki teman laki-laki yang baik ke kamu.” Darwis menukas tajam. “Mar cerita ke saya, Karta mulai nyaman lebih dari sekadar teman. Dia---”
“Kalau begitu, aku akan kasih dia kesempatan.”
“Dengan perasaanmu yang belum jelas ke dia? Saran saya, mundurlah teratur. Jangan meninggalkan kesan cinta pertama yang hancur lebur ke dia.”
Hening. Iif menyadari bahwa intensitas obrolan mereka mulai meningkat. Dia pun tahu kalau Darwis baru saja menyinggung kisah kedekatannya dengan beberapa pria. Iif dianggap terlalu polos sehingga membiarkan mereka mendekat.
Tak tahukah Darwis kalau Iif berlaku demikian karena kesepian, tak cukup perhatian dari ibunda dan kakak-kakaknya? Ia hanya ingin mencari figur lelaki terbaik yang perhatian dengannya yang benar-benar dirinya. Salahkah?
Iif rasa Darwis menyadari bahwa itu tak salah sama sekali---seharusnya Darwis menyadari sikapnya kepada Karta bukanlah bentuk pemberian pengharapan. Ia hanya mencoba baik dan ramah kepada orang yang seharusnya.
Lagi pula, apa tidak bisa lelaki dan perempuan hanya berteman saja? Buktinya mereka berdua bisa, kan?
Namun, belum sempat Iif menimpali ucapan itu dengan bantahan yang dapat mematahkan saran Darwis, lelaki itu sudah duluan mendengkus dan lanjut berlalu sambil berkata:
“Jangan bilang kamu sudah seiya sekata dengan dia. Saya tidak percaya semuanya bisa secepat itu.”
BERSAMBUNG