Lelaki yang menggunakan name tag Budi Atmaja, Prof, dr, SpF(K), datang memasuki ruangan, di mana dr. Anggun SpF(K) telah menanti di sana. Dua orang profesional dengan beda usia sangat jauh itu telah hampir tiga tahun lamanya menjadi rekan kerja. Mereka kerap dijuluki sebagai silent witness. Berbagai kasus pembunuhan yang cukup rumit menemukan titik terang berkat keahlian dua orang yang kini mengenakan APD lengkap itu dalam mengotopsi jenazah. Tak jarang pula berbagai hal menyeramkan kerap menghantui dua rekan lulusan universitas ternama itu. Namun, baik dr. Budi maupun dr. Anggun tetap menjalankan tugas dengan sepenuh hati.
Usai menandatangi surat serah terima jenazah dari petugas berseragam cokelat dan membaca surat perintah dari pihak yang berwenang, dua dokter forensik itu langsung bertindak tanpa basa basi. Anggun membenarkan hand scoon, lalu matanya menghadap mayat yang baru saja tiba. Begitu juga dengan dr. Budi, lelaki dengan semua rambut berwarna putih itu mengenakan face shield, sebab korban yang datang berasal dari desa yang terjangkiti wabah aneh. Sebuah desa tempat di mana istrinya berasal, dan juga telah terlebih dahulu menghadap yang kuasa.
“Oke, relax,” ujar Anggun, wanita berhidung mancung itu merasa ada hawa panas yang baru saja melintas melewati lehernya. Seharusnya ia tak merasakannya, sebab APD-nya begitu lengkap. Akan tetapi, ia hanya mencoba bersikap seperti biasa saja, karena hal demikian bukanlah yang pertama kali untuknya. Selain hawa panas, penampakan dan berbagai macam hal menyeramkan lainnya kerap kali Anggun dan seniornya tersebut rasakan.
dr. Budi membuka kain putih yang menutupi tubuh jenazah. Mayat gadis itu mengeluarkan cairan yang begitu menyengat. Langsung saja dua dokter forensik itu melakukan tindakan selanjutnya, dr. Anggun memotret jenazah di setiap lipatan tubuh. Jemari lentik yang terlindung latex itu menyentuh mayat yang berair, Anggun menyentuh cairan itu dengan ujung telunjuk dan ibu jarinya. Cairan tersebut lengket, terlihat dari dua jari Anggun yang menariknya dan tak mau terlepas. Wanita yang baru saja memasuki usia kepala tiga itu menggeleng. Selama mengotopsi jenazah belum pernah ia temukan kejadian serupa di hadapannya, sebab jenazah itu belum 24 jam dalam keadaan tak bernyawa.
“Weird,” ujar Anggun sembari tetap memotret.
“Just go on,” sahut dr. Budi sembari mengambil beberapa tabung kaca. Lelaki berambut putih itu akan memasukkan beberapa sample bagian tubuh jenazah untuk diteliti di bagian yang lebih berwenang. Selalu seperti itu agar barang bukti tersimpan rapi.
Saat Anggun memotret jenazah secara keseluruhan dari atas ranjang besi, sebuah keanehan terjadi. Mayat tersebut kejang-kejang karena efek blitz kamera, hingga menyebabkan dua rekan kerja itu mundur beberapa langkah ke belakang dengan napas tersengal-sengal, begitu terus hingga jenazah itu tak lagi bergerak, dan keluar asap putih dari setiap lipatan tubuhnya.
“Ada apa ini, Dok?” tanya Anggun. Keringat jatuh menetes di atas maskernya. Bola mata hitam kelamnya melirik ke sudut ruangan. Ia seperti melihat sosok bertudung hitam dalam sekelebat pandangan.
“Mana saya tahu. Nggak mungkin mayat nari tanpa sebab, bukan? Itu tugas kita untuk mencari tahu. Tetap tenang, we are the silent expert who can talk with the silent witness. Understood!” dr. Budi berusaha menenangkan rekannya, padahal dirinya juga cukup terkejut dengan mayat menari barusan.
“Yes, Sir!” jawab Anggun.
Dua dokter forensik itu kembali melanjutkan pekerjaannya. Anggun, usai mencatat hal-hal yang diperlukan dalam bukunya, membantu super seniornya dalam otopsi jenazah. Wanita yang juga mengenakan face shield dan masker dua lapis itu mengambil tabung kaca, memasukkan rambut, cairan tubuh ke dalam masing-masing bejana, lalu menyimpannya di tempat khusus, meski sudah dilakukan oleh rekannya, semuanya agar tersimpan cadangan di dalam box pendingin.
“Dokter, ini ada yang aneh?” Kening Anggun berkerut, sebab ia sangat yakin mayat di depannya adalah seorang gadis belia.
“Apa?”
“Rambutnya kenapa cepat sekali berubah jadi warna putih.” Anggun memperlihatkan helaian legam yang kini sedikit demi sedikti warnanya mulai berubah sama dengan warna rambut dr. Budi.
Lelaki berusia hampir kepala enam itu terdiam di tempatnya. Kasus yang benar-benar di luar nalar mereka berdua. Jika hanya berupa bisikian dan penampakan, mereka berdua sering melihatnya. Namun, mengapa kini semuanya begitu aneh. Lelaki berambut putih itu bahkan tadi sempat tak merasakan kakinya sendiri ketika mayat tersebut kejang-kejang.
“Anggun, jangan terpaku, simpan semuanya lalu lanjutkan pekerjaanmu, semakin cepat kita bekerja semakin cepat pula kita temukan apa penyebab kematiannya,” ucap lelaki yang selalu menggunakan gaya bahasa formal itu.
Tak ada bantahan yang terucap, wanita itu hanya mengangguk saja, dr. Anggun kemudian mengambil sample darah yang keluar dari sela-sela kuku gadis belia itu. Cairan yang mengalir tanpa sebab yang jelas. Tidak ada bukti penganiayaan yang tertinggal, bukti pertikaian bahkan bekas rudapaksa pun tidak. Mayat itu bersih dari jejak apa pun, hanya banyak kejanggalan saja.
“Tolong aku,” ucap sebuah suara hingga membuat Anggun menoleh ke belakang. Nihil tak ada siapa-siapa, ia pun melanjutkan pekerjaannya, tentu sambil merasakan bulu kuduknya merinding. Sebelah alis Anggun naik, ia berusaha tetap santai sambil bernyanyi dalam hatinya.
“Aku hanya korban, tolong,” lanjut suara itu dan kini dr. Budi pun turut pula mencari asal suara tersebut. Perlahan-lahan juga mulai terdengar suara berat seseorang menyeret langkah kaki.
Anggun mengambil sehelai tisu, netra mayat itu mengalirkan air mata. Sekilas terlihat oleh Anggun, gadis belia yang telah meregang nyawa itu bibirnya sedikit berkedut ketika dokter forensik itu membersihkannya.
Atas perintah dr. Budi, Anggun membuka mulut mayat itu, bau menyengat seketika menyeruak kembali memenuhi indra penciuman dua dokter forensik di dalam ruang otopis, padahal mereka telah mengenakan dua lapis masker.
“Giginya masih utuh, Dok.” Anggun mematikan pencahayaan setelah melihat dalam mulut itu dengan seksama.
Namun, saat itu juga, ia kembali menghidupkan sumber cahaya. Ada benda menggeliat berwarna hitam yang seolah-olah ingin keluar dari dalam tenggorokan mayat itu. Gegas super seniornya yang berambut putih itu turut melihat. Tanpa menunggu, dr. Budi mengambil alat penjepit lalu menarik temuan aneh itu keluar dari dalam mulut jenazah yang belum 24 jam meregang nyawa.
“Tolong, dia seperti menarik diri ke dalam.” Lelaki itu terlihat seperti mengeluarkan seluruh tenaganya.
Anggun turut serta mengambil alat penjepit, ia membantu menarik keluar temuan yang bewarna hitam dan berlendir itu. Nyaris saja wanita itu muntah, tetapi ia teruskan saja, hingga sebuah binatang serupa ular dengan panjang hampir satu meter berhasil mereka tarik keluar dan binatang itu menggeliat di lantai ruang otopsi jenazah, membuat dua dokter forensik terdiam di tempatnya.