Ular hitam sepanjang hampir satu meter itu menggeliat di lantai ruang otopsi jenazah. Anggun dan super seniornya tak habis pikir, bagaimana mungkin ada binatang melata yang masuk ke dalam tenggorokan seorang gadis belia. Bergerak-gerak kepala ular itu seoalah membanting diri di tepian lemari besi. Membuka mulut yang bertaring seolah-olah mengeluarkan racun yang berbisa.
“Apa binatang itu, Dok, penyebab kematiannya?” Anggun berkedip cepat ketika ular itu menggelepar di lantai dan beberapa detik kemudian tidak bergerak lagi. Bau busuk begitu cepat menyeruak memenuhi seluruh ruangan otopsi jenazah.
“Bagaimana caranya ular segitu licinnya masuk ke dalam tubuh gadis ini, ditelan bulat-bulat begitu maksud kamu?” tanya dr. Budi balik pada Anggun. Dua dokter forensik itu saling melirik lalu menelaah semua dengan akal sehat mereka. Namun, bukankah dua orang itu sudah terlalu sering menemukan hal-hal di luar logika. Hanya saja kasus hari ini merupakan yang paling menyeramkan daripada sekadar penampakan.
Lelaki berambut putih semuanya itu kemudian mengambil kantong plastik, lalu memasukkan binatang tak bernyawa itu ke dalamnya, untuk kemudian ia cari penyebabnya bagaimana jalan ceritanya hingga dua makhluk beda jenis itu bisa bersama. Ular tinggal di dalam lambung manusia, sounds crazy to him.
“Lanjutkan pekerjaanmu, anggap saja hari ini kita sidang tesis kedua kalinya!” perintah lelaki tua itu pada Anggun. Wanita bermata kelam itu hanya menghela napas panjang. Sesekali ia sempat melirik ular yang telah tewas itu. Lalu ia terkejut ketika masih saja ular itu menggeliat lagi.
Wanita berhidung mancung itu kemudian mengangguk. Ia mengambil pisau bedah tipis dan tajam yang diarahkan ke kaki mayat gadis belia itu. Sebab sedari tadi, baik Anggun atau pun dr. Budi sesekali melihat tungkai tersebut bergerak. Bukan karena gerakan alamiah akibat efek kejut, melainkan seperti diikat tali dan ingin diseret. Bahkan Anggun menahan jempol kaki gadis tersebut agar tak melawan.
Baru saja dr. Anggun hendak menggoreskan pisaunya, lampu di dalam ruangan mendadak padam. Gegas saja dr. Budi berjalan ke arah stop kontak hendak menghidupkan kembali sumber cahaya. Namun, ketika tangannya hendak menekan benda putih itu, ada telapak tangan dingin yang juga menyentuhnya. Lelaki tua itu terdiam di tempatnya, sungguh kejadian aneh hari itu terlalu banyak yang harus ia kaji di kepalanya. Ia mengabaikannya lalu menghidupkan lampu. Hidup, lalu mati kembali sendiri tanpa sebab, begitu terus lelaki itu ulangi, hingga Anggun secara tak sengaja melihat penampakan sosok gadis di dekat lemari sedang memandang dirinya. Tangan sosok itu menunjuk ke arah dokter forensik tersebut lalu beralih ke jenazahnya yang akan segera diotopsi.
“Hentikan. Jangan rusak tubuhku. Aku hanya korban.” Gerak bibir sosok gadis di dekat lemari. Ia menatap sendu pada pisah bedah yang ada di tangan dr Anggun.
Saat Anggun melirik ke arah pembaringan mayat, mata gadis itu yang sedari tadi tertutup mendadak menatapnya dengan tajam. Keringat dingin kembali mengalir dari dahi wanita itu lalu terserap oleh masker. Ketika lampu berhasil dihidupkan oleh rekan kerja dr. Anggun, sosok gadis di dekat lemari telah hilang dan mayat itu kembali menutup matanya.
“Tolong, segera kuburkan aku,” ujar sosok gadis itu dari sebelah Anggun ketika wanita cantik tersebut mulai menggoreskan pisau bedahnya.
“Oh, My God.” Anggun terkejut ketika kulit kaki yang ia tarik menyebabkan darah muncrat dan mengotori face shield-nya. Pelindung wajahnya penuh dengan bercak merah, begitu juga dengan pakaian birunya.
“Sudah sana, bersihkan dirimu sebentar, biar saya yang lanjutkan.” dr. Budi mengambil alih pekerjaan Anggun, ia membersihkan kulit kaki gadis itu yang telah ditarik Anggun. Beberapa waktu ia bersihkan terlihatlah sebuah lambang yang dahulu juga ia temukan pada kulit istrinya yang belum lama meninggal.
“Ambil kamare, foto ini!” perintah lelaki tua itu lagi.
Anggun, dengan cekatan melakukan pekerjaannya. Ia menelisik tanda yang tergambar di kulit kaki gadis itu, lambang bulan dan bintang yang terbelah dua.
“Apa maksudnya ini, ya, Dok?”
“Dulu di punggung istri saya malah lambang salib terbalik, tapi tidak saya otopsi, karena kamu tahu sendiri mendiang sakit kanker cukup lama, tapi apa semua ini ada hubungannya saya juga tidak terlalu paham. Semoga saja tidak ada apa-apa.”
Anggun menjahit kembali kembali kulit kaki yang telah ia koyak tadi. Tidak ada keanehan lain yang muncul, hanya lambang aneh saja yang mereka temukan. Namun, saat hampir selesai menyatukan kulit yang terpisah itu, wanita berhidung mancung itu melihat sehelai rambut putih panjang muncul dari dekat lutut.
“Lihat, Dok,” ujar Anggun pada dr. Budi.
Anggun menarik rambut putih itu, tetapi sangat panjang dan tak putus, hingga membuatnya kembali mengerutkan kening. Wanita itu memastikan penglihatannya, ia koyak kembali kulit di dekat lutut, dan ia memastikan rambut itu berasal dari dalam tulang.
Wanita bermata hitam kelam itu mengambil gergaji tulang, secara perlahan ia menggerakkan besi bergerigi tajam tersebut, hingga ia temukan kembali kumpulan rambut putih dan berbagai huruf aneh dengan ukuran kecil-kecil terukir di tulang jenazah tersebut.
Dua dokter forensik itu terus bekerja tanpa mengenal lelah, sampai-sampai mereka tak menyadari ada dua sosok aneh yang memperhatikan mereka dari tadi. Di dekat lemari pendingin, sosok gadis itu terus memperhatikan kelincahan tangan Anggun yang senantiasa merobek dan melukai tubuhnya. sementara itu, dari dekat pintu sosok hitam besar dengan tutup kepala memperhatikan ketiga makhluk di dalam ruang otopsi itu dengan maksud tersendiri.
Telunjuk sosok hitam itu menunjuk ke arah gadis itu berdiri, sontak saja sosok itu menghilang dari sana karena tak kuat menatap aura hitam yang terlalu kuat mengelilinginya. Aura hitam itu tidak hanya satu, melainkan masih ada lagi di luar ruang otopsi, mereka tengah menanti kebangkitan sang tuan.
“Selesai,” ucap Anggun ketika telah mengambil semua yang diperlukan dari tubuh gadis tersebut.
“Semacam korban sekte atau aliran sesat. Terlalu banyak simbol dan huruf aneh di tubuhnya,” sahut dr. Budi.
“Semoga kita segera menemukan jawabannya, and it’s time to lunch.” Anggun melepaskan satu demi satu APD-nya.
Ketika dua dokter forensik itu selesai mengemas diri dan hampir keluar ruangan bersamaan. Jenazah tersebut tiba-tiba saja duduk dan memandang mereka berdua dengan tatapan dingin. Baik dr. Anggun maupun dr. Budi kembali terpaku di tempatnya.
“Kalian berikutnya.” Kemudian tubuh itu kembali terjatuh di brankar besi.
Dua rekan kerja itu berkedip cepat, mereka keluar ruangan mengistirahatkan pikiran yang sedari tadi dihantui hal-hal aneh.
Ketika ruangan otopsi itu telah kosong, sosok hitam itu muncul tepat di depan jenazah yang terbaring. Ia mengerakkan telunjuknya. Tubuh yang telah kaku itu terbangun dan menatapnya, mayat tersebut membuka mulutnya, seketika tubuhnya berkerut dan muncul asap hitam dengan bau hangus dari dalam bibirnya.