Sosok Asing

1030 Words
Kedua dokter forensik itu berjalan menuju kantin untuk mengisi perut yang terasa lapar. Namun, di tengah perjalanan mereka terhenti karena mendengar obrolan menyeramkan. Dari pembicaraan sesama rekan sejawat, dr. Anggun dan dr. Budi mendengar bahwa supir ambulance, dan juga petugas kepolisian yang mengantar jenazah gadis belia itu tewas dengan mulut menganga dan tubuh pucat pasi, sebelum mereka berangkat kembali ke Desa Sekar Wangi. Hanya dalam sekejap mata tak lama setelah mengantar jenazah gadis yang tengah diotopsi. Belum ada perintah lanjutan apakah kedua orang yang dipastikan telah tewas seketika di tempat itu akan diotopsi juga atau tidak. Jika pun iya kemungkinan besar bukan mereka berdua yang akan mengerjakannya. Sebab mengurus satu jenazah saja membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Aplagi yang banyak kejanggalan seperti sekarang. Dua rekan seprofesi itu memisahkan diri di kantin, sebab menu yang mereka pesan berbeda. Anggun sendiri memilih melepaskan tekanan di kepalanya dengan menyantap soto yang dipenuhi potongan daging dalam jumlah yang besar. Wanita berambut panjang itu meskipun makan dalam jumlah yang banyak, tetapi tak pernah mempengaruhi bentuk tubuhnya yang senantiasa kurus. Anggun menambahkan tiga sendok sambal merah hingga kuah soto itu nyaris sama dengan warna darah yang ia bersihkan tadi. Baginya hal demikian bukanlah sesuatu yang harus dipikirkan terus menerus. Antara makan dan pekerjaan adalah dua hal yang berbeda, jika perutnya tak diisi ia tak akan bisa bekerja dengan baik. Jika tak bisa bekerja dengan baik ia tak akan punya uang untuk belanjar. Simplenya isi kepala seorang dokter forensik wanita. Namun, saat ia akan menelan kuah soto dengan rasa pedas itu, seorang laki-laki dengan pakaian rapi datang dan duduk di sebelahnya, kontan saja Anggun langsung kehilangan selera makan. Ia menjatuhkan sendok ke dalam mangkuk. Sudah tahu apa yang akan dilakukan oleh asisten lelai yang baru saja datang. Lelaki di sebelahnya mengeluarkan sebuah lunch box. Anggun menatapnya sangat tajam, ia risih jika sampai hal-hal pribadinya pun harus dicampuri seperti sekarang. Namun, Sandi tak ambil pusing, lelaki kepercayaan Ryu—kekasih Anggun itu hanya menjalankan perintah bosnya saja. Kini di hadapan Anggun tersaji sebuah makan siang dengan gizi yang lengkap untuk orang sibuk sepertinya, tak lupa pula s**u rendah lemak dan high protein dalam sebuah botol diberikan Sandi. Lelaki berpakaian rapi itu kemudian menyerahkan secarik kartu pada Anggun, dan sesudahnya ia mengambil semangkuk soto di depan dokter forensik wanita tersebut dan membawanya ke meja lain, setelahnya Sandi pun pergi kembali ke tempatnya bekerja sebagai asisten pribadi Ryu. Anggun memperhatikan kepergian Sandi, lalu beralih pada secarik kertas di atas lunch box, di sana tertulis ‘Love u honey, from Daddy Sark’. Anggun mencebik kesal, ia meremas kertas itu dan membuangnya dengan tepat ke tong sampah. Wanita berhidung mancung itu sedikit tersenyum dengan perhatian berlebihan Ryu, hingga tanpa ia sadari beberapa rekannya ternyata ikut membaca kertas itu dari belakang. “Cieh, orang-orang cari sugar dady, dia dapatnya dady shark. Au, tajam, ya, taring hiunya, Bun, sampai tembus ke ulu hati,” ledek salah seorang temannya. Wanita berusia hampir tiga puluh tahun itu tak menanggapi lebih lanjut, ia hanya melanjutkan makan siangnya yang terasa jauh lebih lezat berkat kiriman dari tunangannya. Ryu memang sedemikian perhatian dengannya, mengingat pertemuan mereka dahulu juga sangat berkesan dan sedikit menyebalkan. *** Usai menyelesaikan jam istirahat, Anggun kembali ke ruang otopsi jenazah, ia hanya sendirian, sebab dr. Budi sedang membuat laporan tentang kondisi mayat gadis belia itu untuk diserahkan pada pihak kepolisian. Sedikit terpaku dokter perempuan itu. Entah mengapa kakinya terasa berat untuk melangkah. Bahkan harus ia seret baru bisa bergerak, sampai keringat dingin mengucur dari dahi yang belum ditutupi face shield. Anggun sebenarnya sedikit takut untuk kembali ke ruangan otopsi sendirian. Mayat gadis yang tadi sempat duduk sebentar lalu berbaring lagi masih begitu nyata bergelayut di matanya. Namun, lagi-lagi semuanya demi profesionalitas. Ia dibayar untuk mencari penyebab kematian yang tidak bisa ditemukan secara kasat mata. Semuanya akan berguna untuk mencari tahu siapa dalang sesungguhnya dibalik kematian tak wajar tersebut. Anggun menarik napas lalu berusaha menenangkan debar di dadanya. Ia membuka pintu dan bersikap seperti biasa saja seolah-olah tidak terjadi apa pun beberapa waktu yang lalu. Wanita itu berjalan menuju foto-foto yang ia ambil tadi. Anggun melangkah, menembus sosok gadis yang kini senantiasa mengikutinya. Gadis itu memandangnya dengan tatapan kosong, ada air mata yang mengalir di pipinya, sebab ia masih tak habis pikir mengapa orang tua dan dirinya yang dijadikan korban. Mereka bertiga merupakan keluarga bahagia dan tidak pernah mengusik kehidupan orang lain. Anggun memperhatikan deretan foto mayat yang digantung pada seutas tali, dan satu buah foto berhasil menarik perhatiannya. Ia melihat tangan dr. Budi yang memegang pinggiran ranjang besi, di sebelahnya ada tangan juga yang dilapisi sarung hitam menyentuh kulit mayat gadis tersebut. Bukan hanya menyentuh melainkan mencengkeram dengan kuat. Wanita cantik itu menggeleng kuat, ia sangat yakin hanya dirinya dan dr. Budi yang ada di dalam ruang otopsi, lalu siapa sosok hitam yang tiba-tiba ada dalam salah satu foto itu. Ah, iya, CCTV bisa menjawab semua tanya Anggun. Mungkin, nanti akan ia lihat dengan matanya sendiri. Sebab ruangan otopsi sangat steril dan tidak boleh dimasuki sembarang orang. “Jangan-jangan bener lagi dugaan senior, ini semacam sebuah sekte atau aliran sesat. Simbol-simbolnya banyak dan aku nggak tahu apa maksudnya,” gumam Anggun seorang diri. “Ada satu orang yang paham cara baca simbol-simbol seperti ini, tapi apa dia bisa dihubungi sekarang?” tanyanya lagi sembari menyeka keringat yang menetes di pelipisnya. Anggun berbalik arah, ia membuka selimut jenazah yang menutupi tubuh dingin gadis itu. Dan sekali lagi sebuah keanehan terjadi. Mayat tersebut tak ada di tempatnya, padahal tadi sebelum memasuki ruangan ia bisa lihat dengan jelas selimut itu masih melindungi sebuah jenazah. Anggun menoleh ke sana kemari, mencari mayat yang hilang dari ruangannya. Sangat tidak masuk akal raib begitu saja, siapa yang berani mencuri mayat di siang hari seperti sekarang? Wanita itu melanjutkan pencarian, ia membuka beberapa laci besi tempat jenazah lain masih dicari penyebab kematiannya. Hingga pada laci besi paling bawah baru ia temukan mayat yang ia bedah tadi. Namun, kondisi mayat tersebut telah berbeda, menghitam dan kulitnya berkerut, ditambah mulutnya menganga. Dengan tangan gemetar Anggun menyentuh jenazah itu, ia tergerak untuk menghapus darah yang mengalir dari netra tersebut, dan ketika kelopak mata itu Anggun buka, dua bola mata mayat itu telah hilang dari tempatnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD