Dua bola mata mayat itu lenyap, Anggun duduk tepat di depan laci jenazah. Ia tak melihat sama sekali adanya bukti pencurian di dalam ruang otopsi. Tak ada tanda-tanda pintu dirusak atau benda yang bergeser dari tempatnya. Bahkan wanita berhidung mancung itu belum juga menemukan bagaimana caranya jenazah itu berpindah sendiri ke dalam laci besi. Semuanya seakan-akan terjadi hanya dalam sekejap mata saja. Tanpa perlu meminta izin dari Anggun selaku dokter forensik di dalam ruangan steril itu.
“Mana mungkin hantu yang mindahin, kan?” Anggun masih berjongkok sembari matanya memindai seisi ruangan. Ia tak menyadari sosok gadis di sebelah laci turut memandangnya dengan tatapan kosong. Perlahan tangan arwah gadis itu menyusuri telapak tangan Anggun, ingin mencoba berbicara dengannya, ia ingin memberi tahu apa yang menimpa dirinya malam itu. Namun, pintu ruangan otopsi terbuka dan menampilkan dr. Budi dengan map di tangannya.
“Kamu ngapain di sana?” tanya lelaki berambut putih itu sembari berjalan mengeluarkan pena.
“Mayatnya pindah sendiri ke laci, Dok, saya nggak ngerti apa lagi kejadian aneh hari ini?” sahut Anggun dengan memegang kedua lututnya yang terasa dingin. Ia mencoba berdiri, sayangnya betis masih terasa kebas juga kaku. Seperti dikerubungi semut sampai ribuan jumlahnya.
“Ha, bagaimana ceritanya, kan, ruangan ini yang paling tidak mau didatangi sama siapa pun selain kita-kita,” sahut dr. Budi, ia juga melihat ke laci, bahkan terkejut ketika kondisi jenazah itu telah berubah berkerut dan menghitam. Seperti bekas hangus, tapi kulit dan daging masih utuh. Anggun tak menjawab lagi, ia hanya menggeleng saja. Jangan tanyakan padanya, ia sendiri tidak paham. Jika tak ingat sedang bertugas rasanya wanita bermata kelam itu ingin merebahkan diri seharian saja di atas ranjang.
Atas perintah dari dr. Budi, kembali mereka berdua sekuat tenaga mengeluarkan jenazah yang bertubuh mungil tetapi terasa sangat berat. Keringat Anggun bahkan mengalir deras dan dr. Budi terengah-engah sebab dirinya yang memang sudah tidak muda lagi. Rambut yang telah putih itu menjadi pertanda.
“Hmm, semakin aneh, bekas jahitannya menghilang begitu saja, dan gigi-giginya juga berubah menghitam, seperti habis kena racun kelas berat.” dr. Budi memperbaiki kacamatanya yang sedikit berembun terkena asap dari bibir mayat itu. Asap yang juga menimbulkan bau tak sedap. Tak hanya itu, sosok arwah gadis di sebelah Anggun juga menatap raga kasarnya yang hancur lebur. Seharusnya ia sudah masuk ke liang lahat dan terputus dengan urusan dunia.
Anggun mengambil ponselnya, cepat ia memotret simbol-simbol aneh yang semakin bertambah di kulit mayat itu. Ia sadar tindakan tersebut mendapatkan tatapan tajam dari super seniornya. Namun, gadis itu tahu siapa yang bisa ia andalkan untuk mencari jawabannya. Usai mengetik help pada foto terakhir yang ia kirim, ponsel Anggun langsung mati padahal dayanya masih penuh sampai semalaman.
“That’s ilegal, you know?” dr Budi mengingatkan wanita muda di depannya. “You can get punishment.”
“I have no coice,” jawab Anggun sambil menggunakan face shieldnya lagi. “I know someone better on this case. My best friend.”
Ketika di ruangan otopsi tersebut tidak ada yang membuka suara, pintu besi itu terkunci tanpa ada yang menyentuh gagangnya. Sontak dua dokter forensik itu melihat ke arah pintu dan saling memandang lagi satu sama lain. Keanehan lagi untuk yang kesekian kalinya dalam setengah hari saja.
Tatapan dua orang pintar itu kemudian beralih ketika dari mulut mayat itu mengeluarkan seekor lalat hijau dengan suara yang sangat mengganggu. Binatang menjijikkan itu lantas terbang ke kacamata dr. Budi, lelaki itu menepis dengan tangannya. Hewan itu terbang ke telapak tangan Anggun, wanita itu berusaha mengusirnya dibantu dengan sosok gadis yang kini terus berada dekat dengannya. Tunangan Ryu tersebut mengambil sehelai papan lalu mengusir lalat itu sebab terus saja berusaha mendekatinya. Bahkan ingin masuk ke dalam mulut Anggun.
Kena, serangga itu jatuh di lantai lalu Anggun menginjak dengan sepatu kerjanya. Dan beberapa saat kemudian darah hitam mengalir membasahi lantai ruang otopsi. Perlahan-lahan darah hitam itu berubah menjadi wujud seekor ular hitam yang sangat kecil dan bergerak dengan cepat menuju kaki Anggun.
Wanita itu panik, ia mengambil gunting untuk menghalau agar ular tersebut tidak menggigitnya. Namun, binatang tersebut bergerak terlampau gesit meski berkali-kali terjatuh. Kini ular hitam itu telah berpindah ke telapak tangan Anggun. Berusaha berkali-kali dokter forensik perempuan tersebut tepis sebab takut terjadi sesuat dengan dirinya sendiri.
“Help!” jerit Anggun, dr. Budi kemudian datang membantunya, ia menggunakan pena untuk menyikirkan benda menjijikkan itu. Tak mempan, sang dokter yang sudah senior mengambil penjepit yang cukup kuat.
Akan tetapi sia-sia saja, ular kecil itu terus bergerak hingga masuk ke dalam kuku di jari manis Anggun. Wanita itu terdiam sesaat, tubuhnya serasa dingin seperti es, sensasi aneh ia rasakan ketika ular kecil itu telah hilang wujudnya di keheningan ruang otopsi. Rasa yang mudah hilang begitu saja seperti tidak ada hal mengerikan yang harus ditakutkan.
“Saya kenapa, Dok?” Anggun memperhatikan dua tangannya tanpa berkedip.
“Saya tidak tahu, yang jelas semuanya seperti benang kusut. Bukankah kata mayat ini tadi, kita berikutnya. Bisa jadi setelah kamu, saya selanjutnya.” dr. Budi menyandarkan tubuhnya di lemari kaca tempat berbagai macam tabung kecil disimpan.
“Terus saya harus bagaimana sekarang?” Anggun, wanita cerdas itu bak orang linglung. Tidak ada jawaban dari dr. Budi, lelaki berambut putih semuanya itu pun bingung. Tangan sebelah kanannya menggenggam tangan sebelah kiri demi menetralisir rasa takutnya.
“Saya akan laporkan detail kejadian ini dengan AKBP Handoko. Kamu pulang saja, tapi sebelum itu kita kemas dulu semua, kerja dua kali kita hari ini. Sorry.” dr. Budi menghela napas panjang.
Ketika dua rekan seprofesi itu hendak membersihkan semua benda yang telah dipakai. Lampu dalam ruangan mendadak mati hidup lagi tanpa ada yang menyentuh sakelar. Tidak hanya itu saja, berbagai benda untuk mengotopsi jenazah juga berjatuhan ke lantai begitu saja. Salah satu pisau tajam hendak menyasar Anggun, dengan cepat wanita itu berjongkok lalu berlindung di tempat aman dari terjangan benda-benda berbahaya, begitu juga dengan dr. Budi. Ia menutupi kepalanya dengan kedua tangan.
Arwah yang mengikuti Anggun datang dan melindunginya dengan memeluk wanita itu, berbagai benda yang hendak menghantamnya tak mengenai tubuh Anggun. Sosok gadis tersebut dipandang lagi oleh yang menggunakan pakaian dan tudung serba hitam.
“Jangan mati. Jangan sampai korban jatuh lagi,” ujar sosok itu tanpa didengar Anggun.
Dua dokter forensik itu kemudian berjalan dengan berjongkok ketika ruangan hening, mereka berusaha untuk keluar dari sana. Ketika mereka berhasil membuka paksa pintu, sosok hitam besar itu muncul tak terlalu jauh dari Anggun dan menarik napas panjang menatap kepergian dua rekan seprofesi tersebut. Ada seringai bengis yang terbit dari balik topengnya.