Pulang

1065 Words
Rapat mendadak digelar bersama dengan kepolisian dan juga dokter yang menangani wabah di Desa Sekar Wangi. Sebuah penyakit yang hanya menyebar dan menyerang orang-orang asal desa tersebut saja, dan kini ditambah pula dengan kematian tragis seorang gadis dan juga dua petugas yang mengurus jenazah itu. Keputusan telah diambil, agar tidak ada lagi organ tubuh yang hilang, mayat tersebut dikubur di kawasan khusus yang meninggal karena wabah dan juga dijaga ketat selama 24 jam sampai keadaan dinyatakan aman. Anggun resah, sebab malam itu ia memiliki janji penting dengan Ryu, sebuah pertemuan yang melibatkan rekan bisnis lelaki berdarah separuh Jepang. Wanita berhidung mancung itu melirik ponselnya ketika rapat baru saja ditutup, benda itu masih tidak menyala sejak peristiwa menyeramkan tadi siang. Wanita berusia tiga puluh tahun itu pergi ke kamar mandi ketika rapat telah selesai, arwah gadis tersebut masih setia mengikutinya. Anggun mencuci wajah dan juga membasuh tangannya, ia ingat dengan baik kuku jari manisnya dirasuki ular kecil. Meski tidak ada tanda aneh atau rasa sakit lebih lanjut, tetap saja wanita yang berencana untuk menikah dalam waktu dekat itu merasa ada yang mengawasinya. Anggun menggulung lengan baju, matanya kemudian membesar, ada sebuah tanda hitam yang mulai terukir di dengan urat nadinya, tanda kecil dengan gambar meliuk berwarna hitam. Agak mirip dengan lambang sebuah logo kesehatan. “Apa ini?” tanyanya dengan menggigit ujung jarinya sendiri. Mulai berpikir yang tidak-tidak Anggun dibuatnya. “Itu tanda, perburuan segera dimulai,” jawab arwah itu tanpa didengar Anggun, “Berhati-hatilah,” lanjutnya ketika Anggun keluar dari kamar mandi. *** Dua dokter forensik itu berpisah di parkiran, Anggun menyetir sendiri ke rumahnya, sementara itu dr. Budi ditemani seorang supir. Lelaki berambut putih itu merebahkan kepalanya di kursi belakang mobil, hidupnya yang sepi semakin menjadi dingin sejak istrinya meninggal karena tak mampu melawan penyakit kanker. Ia hanya memiliki seorang putra lelaki, itu juga jarang ada di rumah karena pekerjaannya yang serba rahasia. Lelaki yang beberapa tahun lagi memasuki usia 60 tahun masuk ke dalam rumahnya yang besar dan sunyi. Lampu rumahnya kembali hidup meski ia belum menyentuh sakelarnya. Seorang laki-laki muda berperawakan tinggi tegap dan rambut dipotong sangat rapi duduk di meja makan, menunggunya setelah beberapa waktu yang sangat lama tidak pernah bertemu. “Baru pulang?” tanya dr. Budi pada putranya. Basa-basi yang sangat kaku dan tidak akrab, seperti orang asing saja. “Iya,” jawab Ryan, ia menyenderkan kepalanya di kursi, tubuhnya terasa lelah, cuti baru saja ia dapatkan setelah menyelesaikan sebuah tugas rahasia. Ia ingin mengakrabkan diri dengan ayahnya. Lelaki yang hanya hidup seorang diri tanpa ada niat untuk menikah lagi. “Masih ingat rumah? Papa pikir sudah lupa.” “Please, jangan mulai lagi.” Ryan menghelan napas panjang. “Bahkan saat mamamu sakit dan dimakamkan saja kamu tidak datang, sekarang untuk apa kamu kembali. Menemani lelaki tua yang kesepian dan sebentar lagi mati?” sahut dr. Budi emosional. Tidak salah pikirannya, sebab peristiwa siang tadi dan pesan dari mayat yang bangkit hanya sesaat di ruang otopsi. “Aku kerja, Pa, demi kebanggaan orang tua. Demi tidak dicap sebagai anak nakal dan manja. Bukannya itu yang kalian mau?” Hilang sudah selera makan Ryan, makanan yang ia masak sendiri tadi tiba-tiba terlihat hambar di matanya. Tak menjawab, dr. Budi naik ke kamarnya di lantai dua. Ia melewati foto pernikahan yang telah dipajang selama puluhan tahun di sana. Tidak ada satu pun wanita yang sanggup menggantikan istrinya. Dari luar lelaki tua itu memang terlihat baik-baik saja, tetapi tidak di dalam hatinya, ia merasa usang dan hampa. Ryan juga beranjak kembali ke kamarnya, salah besar ia kembali ke rumah itu untuk menjenguk papanya. Lelaki bertubuh tinggi itu mengambil jaket hitam dan kunci mobilnya, ia ingin kembali ke apartemen pribadinya saja. Namun, niat itu ia urungkan, agen rahasia sekaligus sahabat Anggun itu melihat sekelebat bayangan hitam yang melesat ke lantai dua. Ia pun mengikuti nalurinya, naik ke kamar papanya demi memastikan lelaki itu baik-baik saja. Walau jarang bertemu, hubungan darah tetap tak bisa dielakkan. *** dr. Budi meletakkan tasnya di meja. Ia merebahkan dirinya di ranjang lalu berdiri lagi, mengambil handuk untuk membersihkan diri. Merasa ada yang aneh dan ada yang mengikuti, ia menoleh ke belakang. Kosong, tak ada siapa pun, ia berkali-kali mencoba memanggil Ryan, mencoba memastikan anaknya yang ada di sekitar, tetapi tak ada jawaban. Ia melangkah lagi ke kamar mandi, dari cermin di dekat pintu, dr. Budi melihat sekelebat sosok tinggi besar yang sama dengan di ruangan otopsi. Dokter senior itu terpaku di depan cermin. Ingin teriak tidak bisa, hanya air liur saja yang ditelan berkali-kali. Sosok yang ia perkirakan kalau menghantamnya sekali saja, tentu atasan Anggun itu langsung mati terkapar. Namun, lelaki berambut putih semuanya itu masih sempat menyapa tamu tak diundang di dalam kamarnya. “Ada apa? Di sini nggak ada yang penting. Kalau mau pergi, silakan baik-baik. Kalau mau membunuhku, kamu salah orang,” ucap papa Ryan tanpa beban sama sekali. Ryan mencoba mengetuk pintu kamar papanya, tetapi tidak ada jawaban. Ia pun mencoba membuka paksa, lalu mengambil pistol di pinggangnya. Namun, ia urungkan, sebab tak ingin mengundang perhatian orang lain. Pintu itu ia tendang berkali-kali hingga terbuka paksa. Dan detik itu juga Ryan saksikan sosok berpakaian dan bertudung serba hitam ada di belakang ayahnya. Ia berlari cepat, menyentuh bahu orang yang ia rasa asing ada di rumahnya, dan lagi sosok hitam itu menghilang. Ryan tak bisa mengimbangi kecepatannya. “Siapa dia?” Ryan menyiagakan pistolnya ke segala penjuru arah. “Teman baru Papa sama Anggun, baru jumpa tadi siang,” dr. Budi menjawab dengan tenang sembari tangan kirinya gemetar. Tangan kanan telah terkulai lemas di dekat lutut. Merasa tidak ada gangguan lagi di kamar papanya, Ryan menurunkan senjatanya. Ia melirik sebentar ke arah dr. Budi yang masih berdiri kaku, lalu ingin melangkah ke luar. Akan tetapi, ia merasakan sebuah hantaman di perutnya hingga tubuhnya terdorong jauh ke belakang dan menghantam lemari besar. Lelaki itu terbatuk tetapi langsung berdiri dan siaga, dengan mata kepalanya sendiri Ryan lihat sosok dengan wajah tersembunyi oleh tudung hitam berjalan cepat ke arahnya. Kaki besar itu dilayangkan ke arah perut Ryan. Agen rahasia itu menghindar sebisa mungkin. Tendangan yang mampu membuat lemari mahal itu rusak dan berlubang. Ryan berdiri, ia mengepalkan tangan berniat meninju d**a sosok hitam itu. Namun, lawannya hilang begitu saja tanpa jejak sama sekali. Selama bertugas sebagai agen rahasia, tidak ada masalah yang luput dari mata tajam Ryan. Lelaki itu begitu awas, menanti serangan yang akan datang berikutnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD