Sosok hitam itu berlari dengan cepat ke arah Ryan, lelaki bertubuh tinggi tersebut lantas mengacungkan pistolnya untuk memberikan peringatan bagi lawan di depannya. Namun, ketika jarak mereka telah sangat dekat, makhluk bertudung hitam itu melayang dengan cepat menembus tubuh agen rahasia begitu saja dengan sensasi sesak napas hingga Ryan memegang lehernya. Napas putra dr. Budi itu seperti tercekat sesaat dan ia merasakan jeratan yang sangat menyakitkan.
“Kunci pintu, aku pergi dulu cari tahu siapa makhluk tadi.” Ryan memberikan pesan pada papanya agar sebelum pergi. Berkali-kali senior Anggun itu memanggil Ryan agar di rumah saja. Khawatir ancaman dan bahaya mengintai. Namun, agen rahasia itu tak mendengar dan pergi begitu saja.
Ia melompat dari lantai dua ke lantai satu untuk masuk ke kamarnya, mengambil ponsel dan earphone, dan tak luput meraih pisau lipat, lalu masuk ke dalam mobil. Sahabat Anggun itu menghubungi salah satu nomor orang yang kompeten untuk mencari tahu siapa yang berani meneror satu-satunya keluarga yang tersisa. Tanpa disadari Ryan, dari tong sampah di dalam mobilnya muncul sebuah lalat hijau yang mengganggu penghilatannya. Gegas lelaki itu menepisnya hingga binatang itu terjatuh dan ia injak dengan sepatu bootnya, setelahnya lelaki itu melanjutkan laju mobil.
Lalat yang telah ia injak berubah menjadi darah hitam pekat, kemudian berubah kembali menjadi ular kecil berwarna hitam, terus naik dari sepatu, masuk ke dalam celana jeans naik ke sela-sela kulit, merambat ke jaket kulit hitamnya dan bergelantungan di kabel earphone milik Ryan. Melalui celah yang tersisa di telinga yang tertutup, binatang itu masuk kedalam saluran pendengaran lelaki bertubuh tinggi itu, kemudian menetap di dalam sana dan memberinya tanda sebagai buruan berikutnya selain juga Anggun. Ryan sama sekali tak menyadari itu semua. Ia tetap saja berkendara lurus, sampai ke apartemen pribadi miliknya. Ia masuk setelah melakukan iniasiasi dengan sidik jari. Ryan masuk ke kamar, menyimpan senapan juga pisau lipat miliknya di satu lemari khusus.
“Sampai aku tahu siapa kamu. Akan aku buru walau harus menghabiskan semua peluru di dunia ini.” Ryan menutup lemari senjatanya. Peralatan yang kerap ia gunakan saat bertugas.
Spanyol 2021
Soledad terus berjalan ke lorong di dalam tanah tempat sebuah artefak kuno yang berhasil ia dan timnya temukan. Wanita berambut merah yang memiliki penghasilan sebesar 10.000 $ per tahun itu telah hampir lima tahun menjelajahi Jepang dan juga Spanyol demi meneliti sebuah wabah aneh yang ia temukan melalui sebuah tulisan kanji kuno berbahasa Jepang.
Wanita itu menghidupkan dua buah senternya, ketika di kedalaman tempat temuan artefak itu digali terdapat sebuah ruangan yang terbuat dari kayu yang masih awet hingga kini. Aneh, padahal sudah 100 tahun berlalu. Pintu itu dibuka oleh salah seorang rekannya yang berbadan jauh lebih tambun daripada dirinya. Derit pintu itu terdengar hingga membuat gigi Soledad ngilu. Ketika pintu dengan ukiran tiga ular hitam itu dibuka, bau menyengat seketika menyeruak hingga membuat lima orang dalam satu tim itu muntah.
“Kita tunda saja pencariannya, Eda. Hari hampir malam, aku takut terjadi sesuatu,” ujar salah seorang tim ketika merasakan bulu kuduknya merinding.
“Tidak, ini sudah tanggung, kita dibayar untuk mendapatkan satu lagi artefak kuno, setelah itu baru kita pikirkan akan liburan ke mana,” jawabnya sembari melangkah memasuki sebuah ruang di bawah aneh.
Sosok dengan pakaian dan tudung hitam memperhatikan segala pergerakan lima orang itu di dalam ruangan miliknya. Di sebelah sosok tersebut berdiri ada sebuah patung ular berwarna hitam sedang melilit sebuah tubuh dengan salah satu matanya tertutup. Benda itulah yang dicari oleh Eda hingga ia pergi ke Jepang dan Spanyol.
“Ini ruang apa, ya?” tanya seorang tim ketika ia membuka tutup ranjang kayu yang telah dibalut debu dan sarang laba-laba.
Salah seorang tim yang lainnya membaca tulisan-tulisan kuno yang terukir di dinding dari tanah. Setiap sebentar matanya memancarkan rasa takut ketika ia memahami apa maksud tulisan itu.
“Ini ruang kebangkitan, banyak orang yang dikorbankan di sini, yang ditutup dengan selimut itu adalah mereka yang diambil organ tubuhnya untuk proses kebangkitan pengikut sang tuan,” ucap salah seorang teman Eda.
“Kalau begitu kita harus cepat. Jangan sampai mengundang sosok hitam lainnya seperti di Jepang dulu.” Eda mengambil patung ular begitu saja, sosok hitam itu memandangnya dengan tatapan ingin melumat tulang-belulang lima orang arkeolog tersebut.
Dengan cepat lima sekawan itu berlari ketika Eda telah melewati pintu pengorbanan. Dari tempat wanita berdarah separuh Spanyol dan Indonesia itu mengambil patung, muncul ribuan lalat hijau dan juga kecoak yang terus mengikuti langkah mereka.
Dua orang teman Eda yang berbadan tambun tak sanggup berlari cepat, tubuh mereka terperangkap dengan kerumunan lalat dan kecoak. Eda dan dua yang lainnya berusaha menolong, tetapi hanya dalam beberapa detik saja, daging dua temannya telah lenyap dan tinggal tulang-belulang yang jatuh ke tanah.
“Cepat, lari!” perintah Eda. Tiga orang yang tersisa tanpa melihat ke belakang lagi terus berlarian, sementara itu dinding-dinding tanah mulai bergetar dan sosok bertudung hitam itu berniat mengubur mereka hidup-hidup.
Tak ingin ketingggalan jerit nyanyian manusia yang begitu merdu, sosok hitam itu dengan beberapa langkah besar telah berhasil menyusul tiga arkeologi tersebut. Ia menarik rambut teman Eda hingga tubuhnya terbanting ke dinding tanah dan mulutnya mengeluarkan darah segar.
“Go,” ucapnya sebelum mengembuskan napas terakhir.
Sisa dua orang berlarian dengan sekuat tenaga, lorong itu begitu panjang dan dalam, Eda ingat sendiri hampir dua kilometer panjang lorong tempat artefak yang ia cari.
“Jangan lihat ke belakang!” jerit Eda ketika salah satu temannya malah terpaku di tempat dan tak lari lagi.
Sosok hitam itu telah menguasai tubuh dan juga pikiran rekan Eda. Matanya berkerdip perlahan menyadari kematian tak lama lagi datang menjemput.
“Good bye, Eda.” Jerit teman Eda menggema di dinding lorong ketika ia tak sanggup melawan tatapan mata sosok hitam itu.
Eda tak ingin mati di sana, tugasnya belumlah selesai untuk meneliti misteri wabah aneh yang bagai benalu di tubuh manusia. Ketika sampai di tangga kayu, ia memanjat dengan cepat. Namun, salah satu kakinya ditahan oleh tangan sosok hitam itu. Wanita berambut merah itu menghantam kepala sosok tersebut dengan patung ular di tangannya. Jeratan tangan itu terlepas, Eda berhasil naik dari lorong, seketika ruang pengorbanan itu terkubur dengan getaran tanah yang sanggup membuat wanita itu memuntahkan semua isi perutnya. Hanya tinggal dirinya sendiri di sana, empat rekan Eda telah menjadi korban di lorong menyeramkan itu.
“Tidak. Jangan sampai terulang lagi. 100 tahun lagi itu tahun ini bukan?” gumamnya dalam kesunyian malam di langit Spanyol.