“Ryan, bangun, hei, kenapa kamu!” Berulang kali Eda menyentuh bahu kekasihnya. Kemudian mata-mata itu pun membuka mata. Ia melihat dirinya sendiri, sekeliling dan dua wanita di depannya. Lalu ke mana perginya sosok bertudung hitam tersebut? “Rasanya tadi aku di kamar mandi terus duel sama orang,” gumam lelaki bertubuh tinggi itu perlahan. “Kamu mimpi buruk?” tanya Eda mengeluarkan tisu dan membersihkan dahi Ryan yang berpeluh. “Iya, anggap aja begitu. Terus, kalian gimana. Udah selesai cari tahu apa yang terjadi di desa ini. Atau udah selesai jalan-jalan ngemilnya?” tanya Ryan to the point dengan tujuan dua wanita itu. “Ngemilnya udah. Cari tahunya belum. Yuk, bisa, yuk.” Anggun membuang sampah terakhir makanan yang ia beli. Ryan mengernyitkan kening. Tidak paham dengan jalan pikira

