Bagian Empat

1351 Words
*** "Mbak Isyana, sudah siap? Acara akadnya akan segera dimulai, Mbak. Mari kita ke venue." Isyana tersentak, sebelum kemudian menoleh ke asal suara yang barusaja dia dengar. Di ambang pintu, dia mendapati seorang perempuan dengan setelan serba hitam, yang tidak lain adalah tim dari WO yang jasanya dipakai di acara sore ini. Waktu berlalu cepat, hari pernikahan Isyana dan Sean akhirnya tiba. Digelar di sebuah hotel berbintang, keduanya akan melangsungkan akad pukul lima sore di sebuah venue outdoor. "Eh, acaranya dimulai sekarang?" tanya Isyana dengan perasaan yang cukup gugup. Sudah selesai didandani sejak setengah jam lalu, Isyana yang sore ini tidak ditemani satu pun keluarganya, terlihat cantik dengan gaun berlengan panjang yang dipilih langsung oleh Sean. Tidak memakai adat, pernikahan Isyana dan Sean mengusung tema modern dengan durasi pesta yang juga tidak terlalu lama. Bukan keinginan Isyana, semua adalah kemauan Sean yang katanya tidak mau terlalu menguras tenaga, karena tidak akan diam saja, besok mereka berdua akan langsung bertolak menuju Bali untuk berbulan madu. Hanya menikah kontrak, Sean awalnya tidak punya niat untuk honeymoon bersama Isyana. Namun, karena Renan dan Atlanna meminta, mau tidak mau dirinya manut agar hubungan sandiwara dengan Isyana tidak membuat orang tuanya curiga. "Iya, Mbak. Itu di venue udah sambutan," jawab sang staff WO. "Enggak sampai sepuluh menit, Mbak Isyana pasti dipanggil." "Oh, oke," jawab Isyana sambil tersenyum samar. Tidak terus duduk di kursi rias, dia beranjak secara perlahan. Merapikan dulu gaun panjang yang dikenakannya, Isyana menghampiri sang staff di ambang pintu. Jika di kamar tempat Sean bersiap-siap, suasana ramai, maka tidak dengan kamar Isyana yang sepi, karena memang di hari pernikahannya sore ini, tidak ada satu pun keluarga yang hadir. Ingin mengundang tetangga, Isyana tidak bisa, karena selain pernikahannya dengan Sean yang tidak mereka ketahui, dia juga sedang berpura-pura menjadi orang dari kalangan atas, sehingga mengundang para tetangganya di pesta pernikahan sama saja membongkar sandiwara yang Isyana lakukan. "Mbak beneran enggak punya saudara buat diminta nemenin ke pelaminan?" tanya sang staff WO, saat Isyana sudah berdiri di dekatnya. "Kalau enggak saudara, sahabat deh. Ada enggak kira-kira?" "Saya enggak punya sahabat, Mbak," jawab Isyana apa adanya. "Saya apa-apa sendiri. Soal orang tua, saya yakin Mbak sudah tahu." "Oh, ya sudah kalau begitu sama saya aja berarti. Ibu Atlanna mendampingi Mas Sean soalnya." "Kalau Mbak keberatan, saya sendiri aja," ucap Isyana sungkan. "Gaunnya enggak terlalu ribet, saya bisa jalan sendiri." Jika boleh jujur, sejak tadi Isyana diselimuti rasa sedih. Bukan karena tidak suka pada riasan yang dia pakai, rasa sedihnya muncul karena ketidakhadiran sang ibu di sampingnya. Padahal, jauh sebelum ini dia selalu berharap Paramitha ada di sampingnya saat menikah. Dengan Sean, Isyana mungkin hanya menikah kontrak. Namun, meskipun begitu pernikahan dia dan pria itu sah di mata hukum dan agama, sehingga Isyana pikir seharusnya Paramitha ada untuk menyaksikan dirinya dipinang seorang laki-laki. "Saya enggak keberatan kok, Mbak. Ini kan tugas saya. Jadi enggak apa-apa. Maaf kalau pertanyaan saya sebelumnya menyinggung Mbak Isyana. Saya enggak bermaksud." "Saya enggak tersinggung," ucap Isyana sambil tersenyum tipis. "Mbak tenang aja." Tidak ada perbincangan lebih panjang, Isyana akhirnya dipanggil dan diminta untuk segera memasuki venue. Berjalan sedikit cepat dari depan pintu kamar, langkah Isyana memelan ketika akhirnya dia sampai di venue. Didampingi staff WO, Isyana berjalan menyusuri rumput bertabur bunga dengan langkah yang anggun. Sambil memegangi buket mawar merah, dia kini akan menghampiri Sean di meja akad. Rasanya seperti mimpi. Tidak pernah punya kekasih setelah lulus kuliah beberapa tahun ke belakang, Isyana masih sedikit tidak percaya jika hari ini dia akan dipinang oleh seorang pria yang bahkan asing untuknya. Jika bukan demi Paramitha, Isyana tidak mau mempermainkan pernikahan karena selain disaksikan sang ibu saat menikah, cita-cita lain Isyana adalah; menikah sekali seumur hidup. Namun, ini demi nyawa sang ibu, karena jika Isyana tidak mau melakukan semua ini, maka kehilangan Paramitha untuk selama-lamanya akan menjadi konsekuensi yang harus dia terima. "Tidak ada kendala?" tanya Sean, saat Isyana sudah duduk di sampingnya. "Enggak ada, Mas, semuanya aman," ucap Isyana. "Terima kasih karena sudah mempersiapkan semuanya dengan sangat baik." "Demi saya sendiri." Isyana tersenyum tipis sebagai respon, hingga ucapan dari penghulu yang akan menikahkannya dengan Sean, membuat atensi dia dan pria itu beralih. Tidak langsung ijab kabul, pemeriksaan data diri dilakukan, hingga setelah semuanya dirasa pas, Sean siap menikahi Isyana. "Baik, kita mulai ya akad nikahnya," kata sang penghulu sambil menjabat tangan Sean yang terlihat begitu siap. "Baik, Pak." "Saudara Kalingga Sean Tirtayasa, saya nikah dan kawin kan engkau dengan Isyana Edlyn Citraloka binti Farhan Rajaksa Manaf, dengan mas kawin uang tunai sebesar dua ratus juta rupiah, dibayar tunai!" "Saya terima nikah dan kawinnya Isyana Edlyn Citraloka binti Farhan Rajaksa Manaf, dengan mas kawin uang tunai sebesar dua ratus juta rupiah, dibayar tunai!" "Bagaimana saksi, sah?" "Sah." "Sah." Begitu dua orang saksi berkata sah untuk pernikahannya dengan Sean, kedua mata Isyana berkaca-kaca. Bukan terharu karena akhirnya resmi menjadi istri Sean, cairan bening tersebut terbentuk karena rasa rindu pada sang ibu yang tiba-tiba menyelimuti hati. Isyana berada di tempat yang sangat ramai, tapi karena ketidakhadiran Paramitha, dia merasa kesepian. Selain Sean dan kedua orang tua pria itu, Isyana tidak mengenal siapa pun sehingga dia seperti orang asing yang salah masuk ke lingkungan yang tidak seharusnya dia masuki. "Besok pagi kita ke Bali," ucap Sean, ketika kini dia dan Isyana sudah berada di pelaminan, setelah serangkaian acara akad nikah, selesai. "Nanti malam kalau mau menemui ibu kamu dulu, silakan, tapi hati-hati dan jangan sampai ketahuan orang lain. Pakai masker dan kacamata karena di rumah sakit tempat ibu kamu dirawat, kamu bisa saja ketemu dengan orang yang mengenal saya." "Baik, Mas," ucap Isyana patuh seperti biasa. "Jam berapa saya bisa pergi?" "Jam sepuluh malam," jawab Sean. "Acara selesai jam setengah sembilan. Kamu bisa mandi dulu terus bersihin semua makeup kamu sebelum pergi." "Oh, oke." "Mas kawin yang saya sebut tadi bukan fiktip, tapi nyata," ucap Sean lagi—membuat Isyana menoleh, kemudian memandang pria yang resmi menjadi suaminya itu dengan raut wajah penasaran. "Nanti malam kirimkan nomor rekening kamu biar saya kirim uangnya. Anggap saja itu bonus karena sejauh ini kamu selalu nurut sama saya." "Mas serius?" Sean yang semula memandang lurus ke depan, menoleh kemudian mengangguk sambil mengukir senyum tipis. "Sangat serius," ucapnya. "Kenapa? Enggak mau?" "Mau, Pak, mau," ucap Isyana dengan segera. "Cuman agak kaget aja karena semenjak kita kenal, Bapak udah kasih uang tiga ratus juta sama saya. Padahal, waktu itu perjanjiannya seratus juta." "Kamu mudah diajak kerjasama dan enggak rewel," ucap Sean. "Saya suka." "Suka?" tanya Isyana memastikan. "Ya," jawab Sean. "Suka dengan sikap kamu yang profesional." "Oh, baik, Mas," ucap Isyana dengan senyuman samar yang terukir di bibirnya. "Saya pikir suka apa." "Jangan berharap lebih," kata Sean, seolah menyadarkan Isyana dari mimpi. "Sampai sekarang hati saya masih untuk mendiang pacar saya. Jadi enggak akan semudah itu saya suka sama perempuan lain." "Iya, Pak. Saya sadar diri kok." Setelah akad, pesta resepsi berlangsung meriah. Resmi menjadi istri Sean, Isyana mendapatkan banyak ucapan selamat dari para tamu yang hadir. Pukul setengah sembilan malam, acara akhirnya selesai. Tidak terus di venue, Isyana dan Sean beristirahat di kamar pengantin yang sudah disiapkan. Tidak ada keromantisan, Sean dan Isyana sibuk dengan kegiatan masing-masing, hingga ketika Sean berada di kamar mandi untuk membersihkan badan, Isyana mendapat panggilan dari sebuah nomor. Tidak menjawab telepon di dalam kamar, dia keluar kemudian berdiri di balkon. Memastikan dulu semuanya aman, Isyana baru buka suara. "Halo, Pak. Selamat malam," sapanya, seperti biasa sopan. "Kamu sibuk, Isyana?" tanya seorang pria dari sebrang sana. "Berpesta sejak tadi sore, kamu pasti lelah." "Enggak terlalu, Pak," ucap Isyana disertai senyuman samar. "Bapak ada apa?" "Saya pengen ketemu. Bisa kamu turun ke lobi hotel?" "Sekarang, Pak?" "Ya. Saya ada di lobi sekarang." "Baik, Pak. Saya ke sana sekarang." Obrolan selesai, Isyana mematikan telepon lalu memasukan ponselnya ke dalam saku. Tak akan menunda, dia berbalik dengan tujuan; pergi menuju lobi untuk menemui seseorang di sana. Namun, belum sempat Isyana melangkah, sosok Sean yang tiba-tiba berdiri di ambang pintu, membuatnya dilanda kaget. "M—Mas Sean?" tanyanya gagap. "Mas sejak kapan ada di situ?" "Kenapa kaget?" tanya Sean, tanpa menjawab pertanyaan Isyana. "Itu barusan kamu teleponan sama siapa? Kok panggil Pak?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD