Bagian Lima

1301 Words
*** "Isyana?" Sambil menaikkan sebelah alis, Sean kembali memanggil setelah pertanyaannya tentang dengan siapa Isyana mengobrol di telepon, tidak kunjung mendapat jawaban. Sempat mendengar perbincangan singkat Isyana dengan seseorang yang perempuan itu panggil Bapak, Sean penasaran, karena jika dari nada bicara saat mengobrol, Isyana terdengar segan pada orang yang sedang meneleponnya. Meskipun Isyana hanya istri yang dia nikahi secara kontrak, Sean tetap merasa bertanggungjawab pada istrinyaa tersebut, sehingga jika seandainya Isyana dalam bahaya atau sedang tidak baik-baik saja, dia ingin melindungi. "Ya, Mas?" "Kamu teleponan sama siapa barusan?" tanya Sean sekali lagi. "Saya dengar kamu panggil orang yang ngobrol sama kamu itu, Pak. Apa dia orang penting? "Bukan, Pak," jawab Isyana pada akhirnya. "Eh, apa penting ya? Duh, penting atau enggaknya saya enggak tahu, Pak. Cuman, yang jelas saya minta izin turun ke lobi buat nemuin beliau. Boleh, kan?" "Kamu belum jawab pertanyaan saya yang pertama," ucap Sean, cukup teliti. "Kalau sudah kamu jawab, baru saya bisa ambil keputusan boleh atau tidaknya kamu temuin orang itu." "Tentang siapa orang yang ngobrol di telepon sama saya ya, Mas?" tanya Isyana. "Iya." "Pak Ganda, Mas," jawab Isyana pada akhirnya—membuat Sean mengerutkan kening. "Beliau ini yang punya kontrakan tempat saya dan ibu saya tinggal. Malam ini beliau telepon buat minta uang kontrakan karena kebetulan saya belum bayar dua bulan. Jadi saya mau nemuin dia di bawah buat bayar. Boleh, kan?" "Jadi rumah kamu sama Ibu kamu itu ngontrak?" tanya Sean, tanpa menjawab permintaan izin yang dilontarkan Isyana. "Iya, Mas, ngontrak," jawab Isyana. "Beberapa minggu ke belakang kan Ibu saya kecelakaan. Jadi saya kelupaan buat bayar. Sore tadi Pak Ganda udah chat, cuman karena kita lagi ada acara, saya minta dia ke sini malam aja. Malu, kan, kalau saya ditagih kontrakan pas tadi kita ada acara." Sean tidak menimpali, sementara otaknya sibuk mencerna penjelasan Isyana, hingga tidak berselang lama dia bertanya lagi. "Berapa uang yang harus kamu bayar?" "Tiga juta lima ratus, Mas," jawab Isyana. "Sebulannya kan satu juta tujuh ratus lima puluh, karena ukuran rumahnya lumayan. Jadi karena saya dua bulan belum bayar, saya harus kasih segitu." "Kenapa enggak transfer?" tanya Sean. "Repot banget juragan kontrakan kamu harus ke sini malam-malam. Zaman kan sudah canggih." "Pak Ganda enggak punya m-banking, Mas. Jadi katanya ribet kalau saya transfer, karena beliau harus cek ke atm," jawab Isyana. "Jadi setiap bulannya siapa pun yang ngontrak di beliau, harus bayar cash." "Kamu ada cash segitu memang?" "Enggak ada, tapi saya mau ambil dulu di atm," jawab Isyana. "Kalau enggak salah lihat, di sebrang jalan ada atm cukup gede. Kayanya bisa saya ambil uang di sana." Lagi, Sean kembali diam sambil mencerna ucapan demi ucapan Isyana. Tidaka ada yang mencurigakan, semuanya cukup masuk akal, sehingga seharusnya tidak ada yang perlu dia takutkan dari gadis di depannya itu. "Gimana, Pak, apa boleh?" tanya Isyana lagi, setelah beberapa detik hening. "Boleh," jawab Sean pada akhirnya. "Tapi pakai masker sama kacamata kalau bisa. Mama sama Papa saya masih ada di hotel ini. Mereka akan curiga kalau lihat kamu bertemu seseorang, apalagi melakukan transaksi." "Tapi saya enggak punya masker sama kacamata, Mas. Gimana dong." "Saya ada," jawab Sean. "Kamu masuk dulu biar pintunya saya tutup. Dingin." "Oh, baik." Isyana patuh dan melangkah masuk—membuat Sean sigap menutup pintu, lalu melangkah menuju lemari untuk mengambil apa yang dia butuhkan. Masih menggunakan bathrobes hotel, Sean mengeluarkan kacamata hitam miliknya lalu masker berwarna serupa yang selanjutnya diberikan pada Isyana. "Ini," ucapnya pada Isyana. "Kalau Pak Ganda itu tanya, bilang aja kamu lagi sakit mata dan batuk." "Siap, Mas," ucap Isyana seraya mengambil dua barang yang Sean berikan. "Mas enggak mau nganter?" "Saya belum pake baju," jawab Sean—membuat wajah Isyana sedikit melongo. "Kamu saja sendiri, saya percaya." "Oh, baik kalau begitu," ucap Isyana. "Terima kasih karena sudah diberi izin." "Sama-sama," ucap Sean. "Jangan lama-lama. Selesai transaksi, kamu balik lagi ke sini dengan segera. Saya tunggu." "Siap, Mas," ucap Isyana. "Saya pergi dulu kalau gitu ya. Takut Pak Gandanya keburu pergi terus marah-marah. Beliau enggak sabaran soalnya, terus kalau udah marah gitu, kadang suka berbuat nekad." "Berbuat nekad apa?" "Masuk ke rumah kontrakan terus duduk di sofa, Mas," jawab Isyana. "Enggak macam-macam memang, tapi itu bikin enggak nyaman." "Ah, oke, saya paham," ucap Sean. "Ya sudah sana temuin kalau gitu, terus kasih uang yang dia butuhkan. Ke depannya bayar sekalian untuk satu tahun. Kamu kan nanti punya uang mahar dari saya." "Iya, Mas. Kalau gitu saya pamit dulu ya." "Pake masker sama kacamatanya." "Siap." Tidak banyak bicara, Isyana lekas memakai kacamata dan masker yang Sean berikan. Tidak terus di kamar, dia berpamitan pergi meninggalkan suaminya itu. Masih berdiri di tempatnya setelah Isyana keluar dari kamar, Sean sempat sibuk dengan pikiran sendiri sebelum kemudian buka suara. "Enggak ada yang mencurigakan," ucapnya pada diri sendiri. "Aku yakin Isyana gadis baik-baik." Tidak terus memikirkan Isyana, Sean memutuskan untuk segera berpakaian kemudian beristirahat, karena rasa lelah yang menyelimuti. Tak ada rasa lapar, yang dia lakukan setelah memakai piyama adalah: duduk bersantai sambil mengotak-atik ponselnya. Sejak hari jumat hingga satu minggu ke depan, Sean akan terbebas dari pekerjaan kantor, karena Renan yang akan mengambil alih semuanya. Bukan tanpa alasan, Renan membebaskannya agar dia bisa fokus dengan Isyana karena katanya sang papa tidak sabar menimang cucu. Bukan anak semata wayang, Sean memiliki satu saudara perempuan yaitu; Gevania. Sebelum dirinya, Gevania sudah lebih dulu menikah. Namun, belum memiliki anak, sehingga selagi sang adik belum hamil dan memiliki anak, Sean pasti akan terus dirongrong untuk segera memiliki keturunan. "Udah lima belas menit, tapi Isyana belum ke sini lagi," ucap Sean, setelah sebelumnya bermain game tanpa banyak bicara. "Ke mana dulu coba dia? Diminta buat enggak lama-lama, malah lama." Setelah sebelumnya selalu puas terhadap kepatuhan Sienna, malam ini Sean mulai dibuat kesal pada perempuan itu. Terus menoleh ke pintu di tengah-tengah kegiatannya dengan ponsel, Sean berdecak. "Isyana ... Kontrakan apa sih yang kamu bayar, sampai harus selama ini?" Dua puluh menit, Isyana masih belum kembali, sehingga tidak diam saja, Sean memutuskan untuk menghubungi perempuan itu. Bukan apa-apa, Sean takut Isyana dilihat dan dikenali oleh orang yang dia kenal atau lebih parahnya orang tua dia sendiri, karena meskipun memakai masker dan kacamata, penyamaran perempuan itu belum tentu aman. "Halo, Mas." Beberapa detik menunggu, panggilan dari Sean dijawab oleh Isyana, dan suara perempuan itu pun terdengar menyapa—membuatnya dengan segera buka suara. "Kamu di mana, Isyana?" tanyanya. "Kamu janji pergi sebentar, tapi kenapa masih belum kembali? Ini udah dua puluh menit lebih sejak kamu pamit dari saya." "Saya udah di lift, Mas, mau ke kamar," jawab Isyana. "Tadi atmnya agak ngantri, jadi lama, terus Pak Ganda juga ajak saya ngobrol sebentar. Maaf kalau bikin Mas Sean nunggu." "Enggak ketemu sama orang tua saya, kan?" tanya Sean. "Enggak, Mas," jawab Isyana. "Saya enggak ketemu siapa pun yang Mas kenal pas di lobi. Selain itu, saya transaksinya juga di depan gedung hotel, enggak di dalam lobi. Jadi seharusnya aman." "Oh oke," ucap Sean. "Saya tunggu kamu di kamar kalau begitu. Saya udah ngantuk sebenarnya ini, cuman karena kamu belum kembali, saya enggak bisa tidur. Enggak akan tenang soalnya kalau kamu belum ke sini." "Siap, Mas," ucap Isyana. "Maaf karena bikin Mas Sean nunggu." "Enggak apa-apa," ucap Sean. Tidak menunggu tanggapan Isyana, Sean menyudahi panggilan lalu menyimpan ponselnya di sofa dan bersandar. Berbeda dari dia, Isyana yang benar-benar berada di dalam lift, masih menggenggam ponselnya dengan sedikit erat. Selesai mengobrol dengan Sean, perasaan Isyana mendadak tidak enak. Teringat lagi pada pertemuan dia dan pria itu, lalu semua bantuan yang sudah Isyana terima, rasa bersalah ikut muncul di dalam hatinya. "Mas Sean," gumamnya dengan raut wajah gelisah. "Bisa enggak ya aku bikin dia jatuh cinta selama dua bulan? Terus, bakalan tega enggak ya aku nanti?" Isyana menghela napas kasar. Hanyut dalam pikirannya sendiri, dia kembali berkata, "Kalau bukan demi nyawa Ibu, aku enggak mau lakuin ini semua."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD