Bagian Enam

1423 Words
*** Malam pertama pernikahan. Jika kebanyakan pasangan akan menghabiskan malam pertama setelah menikah, dengan bermesraan, maka Isyana dan Sean berbeda, karena alih-alih cuddle atau menghabiskan malam dengan tidur di satu ranjang yang sama, keduanya justru pergi ke rumah sakit untuk menjenguk salah satu pasien tak berdaya di sana. Bukan orang lain, yang Isyana dan Sean jenguk adalah Paramitha. Akan terbang menuju Bali pukul sembilan pagi di hari esok, beberapa waktu lalu Isyana menagih janji Sean untuk mengizinkannya menjenguk dulu sang ibu. Awalnya—sekitar pukul sebelas malam lebih beberapa menit, Isyana berniat pergi sendiri dan diizinkan Sean. Namun, persis ketika dirinya hendak meninggalkan kamar, tawaran untuk diantar, dilontarkan sang suami. Tak langsung menerima, Isyana sempat menolak karena tidak enak. Namun, karena terus dibujuk oleh Sean, Isyana mau tidak mau menerima tawaran suaminya itu. "Lepas aja maskernya, suasana udah sepi. Jadi kecil kemungkinan kita ketemu sama orang-orang yang mengenal saya." Di tengah langkah menyusuri koridor, perintah tersebut Sean lontarkan—membuat Isyana menoleh lalu bertanya, "Beneran boleh, Mas?" "Iya. Saya juga dilepas," jawab Sean sambil melepas kacamata dan masker. "Jangankan ketemu sama orang yang kenal saya, ketemu orang lain aja enggak sejak tadi. Jadi seharusnya aman." "Oke deh." Manut pada perintah Sean, Isyana melepas masker juga kacamata yang semula menutupi wajahnya. Tanpa berhenti, dia terus berjalan ditemani Sean di samping kanannya. Benar-benar tidak enak pada pria itu, Isyana sempat meminta Sean agar menunggu di parkiran. Namun, suaminya tersebut menolak dan ingin mengantar dia sampai ke ruangan Paramitha, sehingga lagi-lagi Isyana manut meskipun sebenarnya banyak sekali yang ingin dia ceritakan pada sang ibu. "Sampai, Pak," jawab Isyana ketika akhirnya dia sampai di depan kamar rawat sang Ibu. Tidak di kelas VIP atau president suit, Paramitha menjalani perawatan di kamar rawat kelas satu dengan fasilitas yang cukup baik. Masih jauh dari kata sadar, kondisi perempuan itu kini koma karena benturan di kepala yang dialami saat tertabrak mobil. "Ya sudah silakan masuk," ucap Sean. "Saya nunggu di luar supaya kamu bisa deeptalk sama ibu kamu." "Bapak enggak mau ikut masuk?" tanya Isyana memastikan. "Enggak. Saya di sini aja," ucap Sean. "Lagian percuma juga saya masuk, karena enggak bisa ngenalin diri. Ibu kamu kan koma." Isyana tersenyum tipis. "Oke deh," ucapnya. "Saya enggak akan lama kok. Paling sepuluh menit." "Lama juga enggak masalah," ucap Sean. "Saya bukan suami yang suka mengekang atau membatasi interaksi istri saya dan ibunya. Saya fleksibel." Tanpa menimpali, Isyana tersenyum sebelum kemudian berpamitan masuk ke kamar rawat—meninggalkan Sean yang berjalan menjauh dari pintu. Menemukan sebuah bangku di sana, Sean menunggu, hingga di tengah kegiatannya itu sebuah panggilan tiba-tiba saja masuk. Mendapat telepon dari Renan, Sean lekas menjawab lalu menyapa, "Halo, Pa. Ada apa?" "Kamu sama Isyana mau ke mana tadi ninggalin hotel?" tanya Renan tanpa berbasa-basi—membuat Sean mengerutkan kening. Seingatnya saat dia dan Isyana keluar, dia tidak melihat kehadiran Renan di mana pun sehingga ketika sang papa bertanya demikian, Sean sedikit merasa heran. "Kenapa Papa tahu aku sama Isyana keluar dari hotel?" tanya Sean, sebelum menjawab pertanyaan Renan. "Dari Mama," jawab Renan. "Tadi beliau gofood makanan terus katanya enggak sengaja lihat kamu sama Isyana masuk ke mobil terus pergi. Karena lapar, Mama lupa bilang dan baru laporan sekarang. Semuanya oke, kan? Kamu sama Isyana enggak ada sesuatu, kan?" "Aku sama Isyana baik-baik aja, Pa," jawab Sean. "Kita keluar hotel bukan karena ada apa-apa, tapi karena pengen cari udara segar. Keliling aja sambil cari makanan." "Beneran?" "Ya beneran," jawab Sean. "Masa bohong?" "Kenapa enggak di kamar aja?" tanya Renan—membuat Sean menaikkan sebelah alis. "Malam pertama tuh enaknya tidur berdua terus bikin anak. Semakin cepat kalian produksi, kan semakin cepat juga Papa punya cucu." "Pa," panggil Sean tidak habis pikir. "Papa pikir aku sama Isyana itu pabrik? Frontal banget bahasanya. Produksi." "Ya pokoknya itulah," kata Renan. "Daripada jalan-jalan, mendingan di kamar aja. Kalian kan nikah buat punya anak, bukan buat jalan-jalan doang." "Aku sama Isyana bahkan belum ada dua belas jam nikah lho, Pa, tapi bisa-bisanya Papa serewel ini," kata Sean. "Sana recokin Geva. Dia sama Abyan lebih dulu nikah sebelum aku." Tentang Gevania—adik Sean, perempuan itu menikah tiga bulan lalu sebelum Sean bertemu dengan Isyana. Sudah lama ditodong soal jodoh dan cucu, Sean pikir dirinya akan aman setelah sang adik menikah. Namun, ternyata salah karena meskipun Gevania sudah menikah, Sean tetap didesak agar peluang Renan mendapatkan cucu menjadi besar. "Mereka bukan pengantin baru. Jadi enggak perlu direcokin," ucap Renan. "Lagian Geva sama Aby sudah jelas saling cinta, enggak kaya kamu sama Isyana yang masih ngambang. Papa enggak lupa lho ucapan Isyana tempo hari tentang perasaan kamu ke dia. Katanya kamu belum sepenuhnya cinta sama Isyana, cuman karena enggak mau dijodohin, kamu ngajak dia nikah. Iya, kan?" "Pa ...." "Papa harap kamu bisa segera mencintai Isyana dengan tulus, karena sejauh ini dia kelihatan baik dan tulus," ucap Renan. "Jangan sampai kamu menyesal di kemudian hari, karena yang tulus seperti Isyana juga punya rasa capek. Dia bisa pergi kalau kamu enggak menghargai dia." "Iya, Pa. Papa tenang aja karena aku tahu apa yang harus aku lakuin," ucap Sean menenangkan. "Oke, kalau gitu jangan lama-lama di luarnya karena besok pagi kamu sama Isyana harus ke Bali," ucap Renan. "Jangan sampai enggak jadi gara-gara ngantuk atau kecapeam, karena bulan madu tuh penting untuk pengantin baru." "Iya, Pa, tenang aja. Enggak lama lagi aku sama Isyana pulang." "Oke, bagus." Beberapa menit mengobrol dengan Renan, Sean menyudahi panggilan. Menurunkan ponselnya dari samping telinga, dia menghela napas kasar sebelum kemudian berucap, "Andai Papa tahu kalau Isyana enggak tulus sama sekali. Jangankan punya perasaan cinta, kenal sama aku aja enggak sebelum kejadian itu." Sean tersenyum samar tatkala momen pertemuan pertamanya dengan Isyana, melintas begitu saja. Tak mau larut dalam lamunan, dia beranjak dari bangku lalu sedikit berjalan-jalan sambil menikmati sepinya suasana rumah sakit. Dua puluh menit berlalu, Isyana yang semula menetap di kamar rawat akhirnya keluar—membuat Sean lekas menghampiri istrinya itu lalu bertanya tentang kondisi Paramitha. "Bagaimana kondisi ibu kamu? Apa ada kemajuan?" Isyana menggeleng. "Belum ada, Pak," jawabnya. "Masih sama kaya sebelumnya." "Oh, oke," ucap Sean. "Semoga ke depannya segera ada kemajuan." "Aamiin," ucap Isyana. "Lihat kondisi Ibu saya sekarang, saya pengen banget nemuin orang yang udah nabrak beliau. Cuman, kalau dengar keterangan dari tetangga, orang yang nabrak ibu kayanya bukan orang sembarangan, karena mobilnya bagus." "Mobil apa memang yang dipakai pelaku saat menabrak ibu kamu?" tanya Sean penasaran. "Jenisnya sih kaya sedan putih gitu katanya, Mas. Spesifik merknya enggak ada yang tahu, bahkan plat nomornya juga enggak ada yang sempat foto. Jadi susah kalau mau dikasusin," ucap Isyana. "Ada bukti aja, kemungkinan saya kalah di persidangan, besar, apalagi enggak ada bukti." "Kenapa kalah?" tanya Sean. "Kalau ada bukti kan semuanya jelas." "Iya memang, tapi di negera ini kapan sih Mas orang kecil bisa menang lawan orang berada apalagi berpengaruh?" tanya Isyana. "Faktanya diputar balikan paling nanti, terus Ibu saya bakalan dibuat seolah-olah bersalah. Jadi percuma dikasusin juga. Pelakunya belum tentu dapat hukuman yang setimpal." "Iya sih." "Pulang sekarang?" tanya Isyana. "Kalau kemalaman, Mas Sean pasti ngantuk dan enggak akan konsen nyetir." "Ayo." Tidak memperpanjang obrolan, Isyana dan Sean melangkah bersama menuju parkiran—tempat mobil Sean terparkir. Tidak ada perbincangan, sepanjang langkah keduanya sibuk dengan pikiran sendiri, hingga tidak berselang lama sampailah mereka di mobil. Tanpa ada adegan Sean membukakan pintu penumpang, isyana mandiri dengan membuka sendiri pintu tersebut. Namun, persis ketika dirinya hendak masuk, ponsel yang dia bawa di tas kecil tiba-tiba saja berbunyi singkat—membuat dia menunda niarnya masuk ke mobil, lalu meminta izin untuk mengecek ponselnya itu. Mendapati sebuah pesan, Isyana membukanya sambil sesekali memastikan Sean tidak turun dari mobil. Bukan dari orang asing, Isyana mendapat pesan dari nomor yang cukup sering berkomunikasi dengannya. (Mulai besok, saya mau kamu bawa ini, Isyana. Paketnya saya kirim ke hotel pukul enam pagi. Ambil di lobi tanpa sepengetahuan siapa pun. Oke?) Membaca pesan berisi gambar dan teks yang diterimanya, Isyana menggigit bibir bagian bawah dengan perasaan campur aduk. Tidak tahu harus membalas apa pesan yang diterimanya, dia bingung, hingga tidak berselang lama sebuah pesan kembali masuk. (Kenapa tidak dibalas, Isyana? Menikah dengan Sean, tidak membuat kamu berniat mengkhianati saya, kan? Nyawa ibu kamu di tangan saya kalau kamu lupa." "Ck, ancaman itu lagi," ucap Isyana, nyaris tanpa suara. Tak diam saja, dia mengetikkan sebuah pesan. Namun, belum sempat pesan dikirim, gelembung chat baru lebih dulu muncul. (Pilih saja. Mau bawa alat penyadap suara ke mana pun kamu pergi, atau diawasi Baron? Saya tunggu respon kamu. Saya harap menjadi istri Sean tidak membuat kamu lupa pada tugas kamu yang sebenarnya. Paham?)
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD