***
Hari minggu berlalu, senin pagi akhirnya datang. Tidur kurang dari lima jam, pukul lima pagi Sean sudah kembali membuka mata. Tidak tidur di kasur dan membiarkan Isyana menempatinya sendiri, Sean terlelap di sofa dan bangun dengan kondisi badan yang sedikit pegal.
"Isyana ke mana coba?" tanyanya. "Jam segini udah hilang aja dia."
Tidak mendapati Isyana di kasur, Sean dilanda heran. Alih-alih memanggil sang istri untuk mengetahui di mana keberadaannya, dia memilih beranjak lalu pergi ke kamar mandi dengan tujuan; membasuh wajah.
Suara Isyana tidak terdengar, Sean berjalan ke ruang sebelah—di mana televisi dan sofa berada. Tidak ada Isyana, dia dihampiri penasaran hingga ketika hendak membuka mulut untuk memanggil sang istri, suara ketukan di pintu lebih dulu terdengar.
Menunda dulu niatnya memanggil Isyana, Sean berjalan menuju pintu dan membukanya. Bukan orang lain, yang dia dapati di depan kamar adalah Isyana—membuatnya lekas bertanya,
"Kamu habis darimana? Jam segini udah dari luar aja."
"Jalan-jalan, Mas," jawab Isyana—membuat Sean mengerutkan kening. "Tadi saya bangun jam empat terus enggak bisa tidur lagi. Jadi turun aja ke bawah buat cari angin."
"Udah mandi?"
Isyana menggeleng sambil tersenyum. "Belum," jawabnya.
"Bangun pagi terus enggak bisa tidur harusnya mandi, bukan malah jalan-jalan," ucap Sean, sedikit memberitahu. "Kalau kamu udah mandi, saya kan enggak perlu ngantri."
"Mas kalau mau mandi, mandi aja," ucap Isyana. "Nanti saya mandi setelah Mas Sean."
"No, ladies first," tolak Sean. "Kamu dulu baru saya."
"Sekarang?"
"Enggak. Tahun depan," ucap Sean, sarkas. "Ngapain coba mandi sekarang? Kan kita enggak punya kegiatan."
Tanpa menimpali, Isyana hanya tersenyum samar sebagai respon, hingga tidak berselang lama dia dipersilakan untuk masuk. Tak mau mengundang omelan Sean, Isyana bergegas menuju kamar mandi sementara untuk mengisi waktu kosong, Sean menonton berita di ruangan yang terpisah dengan kasur dan kamar mandi.
Tidak ada gangguan, untuk beberapa saat Sean tenang menikmati berita yang tersaji, hingga dering ponsel dari ruangan sebelah membuat dia mendesah sebelum kemudian beranjak.
"Papa lagi," gumamnya setelah mendapati nama Renan terpampang di layar ponsel. Meskipun agak malas, dia menjawab panggilan lalu menyapa, "Halo, Pa."
"Halo, Sean," sapa Renan. "Kamu udah bangun ternyata. Papa pikir masih tidur."
"Aku morning person, Pa. Jadi jam segini udah bangun," jawab Sean. "Papa ada apa telepon?"
"Enggak ada apa-apa," jawab Renan. "Papa cuman takut kamu sama Isyana kesiangan. Semalam kan pas tengah malam, kalian masih di luar. Jadi siapa tahu sekarang belum bangun."
"Aku sama Isyana udah bangun, Papa tenang aja," ucap Sean. "Isyana sekarang bahkan lagi mandi."
"Keramas enggak?" tanya Renan dengan intonasi menggoda.
"Eng ... Eh, iya," jawab Sean bohong.
Malas mendengar ocehan sang papa jika seandainya tahu dia dan Isyana tidak melakukan apa-apa semalam, solusi tersebut diambil karena meskipun salah, setidaknya Sean aman dari rongrongan.
"Beneran keramas?" tanya Renan, terdengar antusias. "Itu berarti kalian semalam udah dong?"
"Enggak perlu aku jawab, kan?" tanya Sean. "Itu privasi, dan aku bukan anak kecil yang apa-apa harus laporan."
"Oke," ucap Renan, masih dengan suara yang terdengar senang. "Papa lega dengarnya kalau memang kalian udah. Enggak apa-apa tanpa cinta, siapa tahu ke depannya bisa pake cinta."
"Iya, tapi aku harap Papa enggak ngerongrong Isyana buat segera punya anak," ucap Sean. "Manusia bisa berusaha, tapi yang menentukan hasil tetap Tuhan."
"Aman," ucap Renan. "Papa enggak akan menekan kok. Papa cukup menghargai usaha kamu dan Isyana, tapi enggak akan bikin Isyana tertekan. Asalkan kalian udah usaha, Papa siap nunggu. Siapa tahu Gevania sama Abyan secepatnya."
"Iya," jawab Sean.
"Sarapan bareng ya nanti," kata Renan. "Papa sama Mama tunggu di restoran bawah jam setengah tujuh. Jam tujuh kalian harus berangkat, kan?"
"Iya, aku sama Isyana berangkat jam tujuh."
"Ya udah kalau gitu nanti makan sama-sama dulu," ucap Renan.
"Oke."
Tidak ada obrolan, setelahnya panggilan diantara Sean dan Renan berakhir. Tak kembali menonton tv, Sean memilih untuk menunggu di sofa bekasnya tidur. Selang lima menit, Isyana keluar dengan bathrobes yang menyelimuti—membuat dia sigap bertanya,
"Udah mandinya?"
"Udah, Mas," ucap Isyana. "Ini bathrobesnya enggak apa-apa, kan, saya pakai?"
"Itu kan emang buat kamu," kata Sean. "Punya saya udah dipake semalam."
"Oh iya."
"Saya mau ngomong sesuatu sama kamu," ucap Sean—membuat Isyana mengerutkan kening dengan perasaan heran.
"Mau ngomong apa, Mas?"
"Habis ini kita bakalan sarapan sama orang tua saya di restoran bawah," ucap Sean. "Kalau Papa atau mama saya bahas malam pertama kita, kamu harus bersikap seolah-olah kita udah lakuin itu semalam. Oke? Enggak usah frontal ngomong, cukup dengan gesture aja. Paham enggak?"
"Oh, paham, Mas," ucap Isyana. "Maksudnya kita bohong seolah-olah udah habisin malam pertama dengan tidur berdua, kan?"
"Iya," jawab Sean. "Kalau enggak gitu, Papa saya bakalan terus ngerong-rong. Jadi cari aman, kita pura-pura aja udah lakuin itu. Males soalnya saya dirongrong terus."
"Oke, Mas," ucap Isyana.
"Good," puji Sean sambil beranjak. "Sekarang siap-siap, biar setelah saya mandi nanti, kita tinggal turun. Cewek suka lama soalnya kalau dandan."
"Iya, Mas."
Tidak ada obrolan yang lebih panjang, Sean melangkah menuju pintu kamar mandi. Namun, belum sempat dia membuka pintu dan masuk, Isyana lebih dulu memanggil—membuat dia menoleh.
"Mas."
"Ya?"
"Mas belum cerita detail soal alasan Mas enggak punya pendamping sampai ditekan untuk segera menikah sama Papanya Mas," ucap Isyana. "Kalau enggak salah, saya baru tahu kalau Mas ditinggal meninggal sama pacar Mas beberapa tahun lalu."
"Terus kamu mau cerita detail apa memangnya?" tanya Sean. "Bukannya informasi itu sudah cukup jelas? Saya ditinggal meninggal oleh perempuan yang ingin saya nikahi, dan karena hal itu saya trauma. Saya takut kalau saya mencintai seorang perempuan lagi, saya akan ditinggal untuk yang kedua kalinya. Jadi saya memilih sendiri, sampai akhirnya Papa menekan saya buat menikah dan kita bertemu."
"Sekarang lebih jelas, Mas, informasinya karena sebelumnya saya pikir alasan Mas enggak mau menikah karena Mas enggak nemuin sosok yang seperti mendiang pacar Mas," ucap Isyana disertai senyuman samar. "Banyak kan laki-laki kaya gitu."
"Hal itu jadi salah satu alasan juga," ucap Sean. "Saya dulu secinta itu sama pacar saya. Jadi agak susah buat saya buka hati ke perempuan lain. Cuman, ya alasan utamanya saya trauma ditinggalkan. Butuh waktu lama untuk saya sembuh karena tiba-tiba ditinggal orang yang sehari-harinya selalu ada sama kita, rasanya sakit, Isyana. Masih lebih baik ditinggal putus, karena meskipun enggak ada hubungan lagi, kita masih bisa lihat orang yang kita cinta. Enggak kaya ditinggal meninggal. Kita pergi ke penjuru dunia pun orang itu enggak akan kita temuin lagi. Di akhirat juga belum tentu ketemu."
Mendengar penuturan panjang Sean, kedua mata Isyana berkaca-kaca, dan hal tersebut tidak luput dari pandangan sang suami yang langsung bertanya,
"Kenapa mata kamu basah?"
"Sedih, Pak," jawab Isyana sambil mengusap kedua pipinya yang tiba-tiba ditetesi cairan bening. "Enggak kebayang gimana sakitnya Bapak dulu."
"Kejadiannya beberapa tahun ke belakang, tapi rasa sakitnya masih ada sampai sekarang," ucap Sean. "Biasanya setiap tahun saya suka ke Amerika buat ngunjungin makam pacar saya. Tahun ini belum karena sibuk. Mungkin beberapa bulan ke depan."
Isyana tidak menimpali, sementara Sean setelahnya berpamitan untuk membersihkan badan, dan meninggalkan Isyana di posisinya. Masih menggunakan bathrobes, Isyana tidak ke mana-mana dan larut dalam pikirannya sendiri.
"Mas Sean enggak mau punya pasangan lagi karena trauma ditinggalkan," ucap Isyana pada dirinya sendiri. "Sekarang, tugas aku justru bikin trauma dia memburuk."
Isyana mendadak frustasi sendiri. Menyugar rambutnya ke belakang, dia bergelut dengan pikiran juga hati nuraninya, hingga tidak berselang lama dia mencari ponselnya.
Menghampiri benda pipih itu di atas meja nakas, Isyana mencari sebuah nomor untuk dia hubungi. Tidak menunggu lama, panggilannya dijawab, dan suara seorang pria pun terdengar.
"Halo, Isyana. Ada apa? Mau bertanya tentang cara penggunaan alat penyadap suara yang saya berikan?"
"Enggak, Pak," jawab Isyana. "Saya tahu cara pakai alat itu."
"Terus kenapa menghubungi saya?"
"Saya pengen ketemu sama Bapak sebelum pergi ke Bali. Apa bisa?" tanya Isyana tanpa berbasa-basi—membuat sang lawan bicara, bertanya,
"Ada apa memang?"
"Nanti saya bicarakan langsung," ucap Isyana. "Kalau Bapak berkenan, saya datang ke rumah Bapak sekarang juga."
"Rumah saya?"
"Iya, Pak Panji," ucap Isyana yang akhirnya menyebut nama sang lawan bicara secara langsung. "Boleh enggak?"