***
"Ini maksudnya apa coba? Dia mau coba berontak?"
Berdiri sambil memegangi ponsel yang masih menampilkan sebuah pesan, pertanyaan tersebut Sean lontarkan pada dirinya sendiri dengan perasaan yang cukup kesal.
Selesai mandi beberapa menit lalu, Sean kembali tidak melihat Isyana di dalam kamar. Coba memanggil perempuan itu yang mungkin berada di ruangan sebelah, Sean tidak mendengar sahutan dari istrinya tersebut, sehingga pada akhirnya yang dia lakukan adalah mengecek ponsel.
Mendapati notikasi pesan di bagian depan, Sean membukanya dengan penasaran, dan yaps! satu chat dia terima dari Isyana dengan isi: sebuah izin untuk pergi meninggalkan hotel.
Bukan pergi ke sembarang tempat, Isyana katanya harus ke rumah sakit untuk mengecek kondisi sang ibu, setelah dokter di rumah sakit menghubunginya. Entah benar atau tidak alasan perempuan itu, Sean tidak tahu. Namun, yang jelas dia sebal, karena lagi-lagi Isyana pergi tanpa izin secara langsung padanya.
"Baru kemarin-kemarin aku puji, sekarang malah bikin aku kesal. Enggak bisa dibiarin."
Menunda dulu niatnya memakai baju, Sean memutuskan untuk menghubungi dulu Isyana. Tidak melalui chat, tapi melalui telepon langsung karena setelah sang istri kontrak pergi secara mendadak, dia perlu memastikan sesuatu.
"Halo, Mas."
Menunggu selama beberapa detik, panggilan dari Sean dijawab Isyana, dan suara perempuan itu pun terdengar menyapa.
"Di mana kamu sekarang?" tanya Sean. "Enggak sopan banget pergi tanpa izin saya. Ketuk pintu kamar mandi. terus panggil, sesusah itu memangnya?"
"Saya minta maaf, Mas, saya tadi buru-buru karena khawatir sama kondisi Ibu saya," ucap Isyana. "Seperti yang saya jelasin dichat, Dokter di rumah sakit telepon saya terus minta saya datang. Jadi saya langsung pergi karena takutnya ada apa-apa."
Sean kesal dan ingin mengomel, tapi mendengar penjelasan Isyana tentang alasan perempuan itu pergi, dia merasa tidak tega dan iba. Sebagai anak, Sean pikir dirinya pun akan melakukan hal serupa jika hal yang terjadi pada ibu kandung Isyana, menimpa sang mama.
"Mas?"
"Kita kan mau ke Bali, gimana?" tanya Sean. "Belum lagi habis ini sarapan sama orang tua saya. Kamu enggak ada, saya harus bilang apa coba?"
"Tolong bilang aja kalau saya ada urusan mendadak, Mas," ucap Isyana. "Soal pergi ke Bali, saya janji jam tujuh pagi udah ada di bandara. Jadi kita ketemunya di sana. Ya?"
"Barang bawaan kamu?" tanya Sean, sambil melirik koper kecil milik Isyana yang dia belikan beberapa waktu lalu.
"Kalau Bapak enggak keberatan, tolong bawain ya, Pak," pinta Isyana—membuat Sean menghela napas kasar. "Tadinya mau saya bawa ke rumah sakit, tapi kayanya bakalan repot. Jadi saya tinggal aja."
"Kamu ngerepotin banget," kata Sean. "Padahal, kalau dalam segi pekerjaan, saya bosnya di sini."
"Sekali lagi saya minta maaf, Pak," ucap Isyana. "Saya tahu saya lancang, tapi tadi tuh saya buru-buru karena panik. Jadi langsung pergi aja."
Sean tidak menimpali dan hanya memijat kening yang tiba-tiba terasa pening. Diam sejenak sambil berpikir, selanjutnya dia bertanya, "Ini kamu serius ke rumah sakit, kan? Bukan cuman akal-akalan doang terus kabur dari saya?"
"Kok Mas Sean nanya kaya gitu?" tanya Isyana.
"Ya karena kali aja kamu kabur," ucap Sean. "Semalam, kan, kamu habis dapat dua ratus juta dari saya. Jadi barangkali kamu ngerasa cukup, terus mutusin buat pergi."
"Kabur enggak semudah itu kali, Mas," ucap Isyana. "Saya memang cuman istri kontrak buat Mas, tapi secara agama dan hukum pernikahan kita sah. Jadi enggak segampang itu saya pergi karena saya terikat status. Selain itu Mas sudah tahu Ibu saya dan dimana beliau dirawat. Jadi mana mungkin saya melarikan diri."
"Iya sih," ucap Sean. "Di mana kamu sekarang kalau gitu?"
"Masih di jalan, Mas," jawab Isyana. "Saya pakai taksi online dan ini di dalam taksi."
"Ya udah kalau gitu lanjutin aja perjalanannya," ucap Sean. "Kabarin saya kalau ada sesuatu, terus langsung ke bandara kalau urusan kamu di rumah sakit sudah selesai. Jam sembilan pagi soalnya kita take off, dan satu jam sebelum take off, kita harus udah ada di bandara."
"Siap, Mas," ucap Isyana. "Maaf ya kalau pagi ini saya bikin Mas Sean kesal. Saya janji ke depannya enggak akan kaya gini lagi."
"Buktiin aja langsung jangan cuman janji," ucap Sean. "Bukan bermaksud mengungkit kebaikan, tapi kamu tuh uang cashnya aja udah dapat tiga ratus juta dari saya. Belum baju sama barang yang lainnya. Jadi saya harap kamu enggak macam-macam. Selain itu, kamu juga sudah terikat kontrak. Jadi kalau aneh-aneh, saya bisa gugat kamu. Paham?"
"Paham, Mas," ucap Isyana. "Saya janji enggak akan macam-macam kok, terus ke depannya saya juga janji akan izin langsung ke Mas Sean kalau mau pergi."
"Oke," ucap Sean. "Hati-hati kalau begitu. Kita ketemu di bandara."
"Baik, Mas."
Tidak ada ucapan penutup, setelahnya Sean menyudahi panggilan begitu saja. Menghela napas kasar sambil menurunkan ponselnya dari samping telinga, Sean memutuskan untuk segera memakai baju.
Masih jauh waktu sarapan yang dijanjikan, Sean bersantai di sofa depan tv kemudian hanyut dalam pikirannya sendiri. Tiba-tiba memikirkan Isyana, dia bertanya, "Isyana perempuan baik-baik, kan? Kalau dari cara dia bersikap pun penampilan, seharusnya iya, karena sejauh ini Isyana enggak neko-neko."
Hening, Sean sibuk lagi dengan pikiran sendiri, hingga tidak berselang lama sebuah panggilan diterimanya. Bukan Isyana, kali ini yang menelepon Sean adalah Atlannna sang mama.
Bukan sekadar menyapa, Atlanna menelepon untuk bertanya sekali lagi perihal sarapan, dan di momen tersebut Sean mengungkap ketidakberadaan Isyana. Agar sang mama tak curiga, dia menjelaskan juga alasan sang istri tidak ada.
Bukan alasan yang sesungguhnya, Sean mengungkap alasan palsu karena jika Atlanna diberi tahu alasan yang sebenarnya, Sean sama saja membongkar sandiwara sendiri.
"Setengah tujuh aku turun ya. Sekarang aku mau santai dulu, kebetulan masih agak ngantuk."
"Awas ketiduran."
"Enggak akan, Ma, aman."
"Ya udah, nanti Mama telepon kamu lagi," ucap Atlanna. "Mendadak malas sebenarnya karena enggak ada Isyana, tapi enggak apa-apa. Mama udah pesan makanan, nanggung."
"Next time deh, Ma, sama Isyana. Dia ada urusan urgent pagi ini."
"Iya."
Tak lama, setelahnya panggilan berakhir, dan untuk mengisi waktu kosong, Sean benar-benar bersantai. Berbeda dengan dia, jauh di sana Isyana justru masih di perjalanan menuju tempat yang akan dia sambangi.
Bukan rumah sakit seperti yang dijelaskan pada Sean, Isyana justru pergi untuk menemui seseorang yang jauh dari kata sakit, di kediamannya. Bukan di lingkungan tempat tinggalnya, rumah dari orang yang akan dia temui berada di sebuah kawasan elit, karena memang dia bukanlah orang sembarangan.
"Sampai, Mbak."
Empat puluh menit di perjalanan, taksi yang Isyana tumpangi akhirnya berhenti di depan gerbang mewah sebuah rumah. Lekas turun kemudian memberikan ongkos, Isyana memanggil satpam lalu mengungkap keinginannya untuk bertemu dengan sang pemilik rumah.
"Pak, saya mau ketemu sama Pak Panji," ucap Isyana. "Sebelumnya saya udah buat janji sama dia."
Tidak dipersulit, Isyana mendapatkan izin kemudian dipersilakan untuk masuk. Dari gerbang, dia berjalan cukup jauh menuju rumah, hingga ketika akhirnya sampai di depan pintu, Isyana disambut lagi oleh salah seorang art di sana yang cukup akrab dengannya, karena selama Paramitha bekerja di kediaman Gardapati, Isyana sering datang.
"Kamu ada urusan apa emangnya sama Pak Panji, Syana?" tanya Bi Kokom—rekan baik Paramitha di kediaman Gardapati. "Seram banget ih urusannya sama Tuan besar."
Isyana tersenyum. "Syana enggak bisa jelasin, Bi, tapi yang jelas penting."
"Kamu tuh."
Tidak menunggu layaknya tamu, Isyana terus melangkah menuju lantai dua karena untuk bertemu dengan Panji, dia harus datang ke ruang kerja pria itu di sana.
Sampai di tempat tujuan, Isyana lekas mengetuk pintu. Tidak menunggu lama, perintah untuk masuk didapatkannya, sehingga dengan segera Isyana membuka pintu dan masuk ke ruangan milik Panji.
"Kenapa sampai datang ke sini, Isyana?" tanya sang pemilik ruangan yang duduk santai di kursi kerjanya. "Kangen kamu sama saya, hm?"
Isyana menggeleng pelan. "Bukan, Pak."
"Lalu?"
"Saya datang ke sini buat bicarain hal penting, dan ini tentang kerjasama kita," ucap Isyana—membuat Panji mengerutkan kening.
"Ada apa memangnya sama kerjasama kita?"
"Anu, Pak," ucap Isyana sambil berusaha menahan gugup. "Kalau Bapak mengizinkan, saya pengen batalin kerjasama kita."