Bagian Tiga Puluh

1075 Words

*** “Ibu, maafin Isyana ….” Duduk di sebuah bangku panjang di bagian pinggir taman, Isyana berucap dengan suara yang terdengar lirih. Memeluk kedua tangannya di d**a, Isyana hanyut dalam rasa sedih setelah beberapa waktu lalu sebuah jawaban yang jauh di luar dugaan, dengan santainya dilontarkan Panji. Ini tentang yang terjadi pada Paramitha. Merasa curiga pada Panji selaku satu-satunya orang yang memiliki alasan untuk mencelakai sang ibu, Isyana coba menghubungi pria itu untuk bertanya. Tidak mengaku, awalnya Panji menyangkal tuduhan yang dia lontarkan. Namun, setelahnya—dengan suara yang terdengar tidak bersalah, Panji akhirnya mengakui apa yang dia lakukan pada Paramitha. Tanpa ragu ataupun takut, Panji dengan terang-terangan berkata jika perbuatannya tadi hanyalah sebuah latihan. “

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD