***
"Ini. Seratus juta yang kamu minta, sudah saya bayarkan untuk biaya perawatan ibu kamu. Enam puluh juta untuk biaya kamar rawat selama dua bulan, sementara empat puluh jutanya saya simpan untuk biaya penanganan yang mungkin dibutuhkan Ibu kamu selama menjalani perawatan."
Dengan raut wajah datar, Sean berucap panjang lebar sambil memberikan secarik kertas—berisi rincian biaya rumah sakit yang barusaja dia bayar.
Merasa buntu setelah diberi waktu sebulan untuk mencari pasangan sendiri, Sean nekad menawarkan kerjasama pada Isyana—gadis asing yang barusaja dia temui beberapa waktu lalu di jalanan.
Tanpa menunggu surat kontrak, Sean ikut bersama Isyana ke rumah sakit tempat ibu dari perempuan itu dirawat. Tak ada kebohongan, dia benar-benar mendapati seorang perempuan paruh baya di sebuah kamar rawat, sehingga dengan segera dia membayar biaya perawatan yang sempat Isyana bicarakan.
"Terima kasih banyak, Mas," ucap Isyana, sambil meraih kertas yang Sean berikan, lalu memandanginya dengan kedua mata berkaca-kaca. "Dua bulan ke depan saya enggak perlu khawatir Ibu dipulangkan paksa. Saya lega."
"Sama-sama," ucap Sean. "Setelah ini tinggal kamu yang menepati janji untuk menjadi istri saya."
"Kapan kita menikah?" tanya Isyana, sigap mengangkat pandangan kemudian menatap Sean dengan raut wajah penasaran. Tidak menunggu dulu jawaban, dia berkata lagi. "Kapan pun Mas mau, saya siap. Mas enggak perlu repot cari wali nikah karena saya yatim sejak kecil. Jadi tinggal daftar saja dan pakai wali hakim."
Mendengar kesiapan Isyana, Sean tersenyum samar. "Sudah siap sekali ya sepertinya kamu menjadi istri kontrak saya," ucapnya. "Tidak terlihat terpaksa sama sekali."
Isyana membalas senyuman Sean dengan raut wajah kikuk. "Saya cuman enggak mau punya hutang terlalu lama," ucapnya. "Selain itu, saya juga enggak punya pasangan. Jadi Mas bisa nikahi saya kapan pun Mas mau."
Sean membenarkan dulu posisi berdiri sebelum kemudian menimpali. "Saya enggak mau buru-buru," ucapnya. "Saya memang ditekan untuk segera mendapatkan pasangan dalam waktu sebulan, tapi itu bukan berarti kita harus menikah dengan segera, karena saya ingin hubungan kita terlihat natural dan seperti pasangan pada umumnya."
"Oh, baik kalau begitu. Saya ikut saja apa kata Mas Dean," celetuk Isyana—membuat Sean spontan mengerutkan kening.
"Dean?" tanyanya.
"Namanya Mas, Dean, kan?"
"Sean," ucap Sean, mengoreksi. "Kalingga Sean Tirtayasa. Lupa?"
"Ah iya, Mas, maaf," ucap Isyana. "Tadi perasaan saya lagi kalut. Jadi pas Mas sebut nama, saya belum konsentrasi."
"Its okay," ucap Sean. Menghela napas pelan, dia berkata, "Untuk sementara waktu, kamu tidak perlu melakukan apa-apa dan cukup tunggu surat kontrak yang saya buat selesai. Seperti yang saya bilang, pernikahan kita hanya di atas kertas. Jadi nantinya ada beberapa poin yang perlu kamu dan saya penuhi. Paham?"
"Paham, Mas."
"Kalau selama jadi istri kontrak saya, kamu bersikap baik dan mematuhi semua poin yang tersedia, saya akan kabulkan permintaan lain yang kamu minta tadi, yaitu; membiayai perawatan ibu kamu sampai pulih," ucap Sean lagi. "Jadi kalau mau biaya rumah sakit ibu kamu aman, patuh sama saya dan ikutin semua yang saya bilang. Bisa?"
"Bisa, Mas," ucap Isyana, sambil mengangguk. "Pokoknya saya ikut aja apa kata Mas Sean. Mas sudah sangat baik soalnya sama saya. Jadi saya pun akan bersikap sama ke Mas."
"Oke, good," puji Sean. "Sekarang kamu bisa kembali ke kamar rawat ibu kamu, dan saya pulang. Nanti setelah surat kontrak selesai, saya hubungi kamu lagi. Aktif terus, kan, nomornya?"
"Aktif, Mas."
"Sip."
Tidak ada obrolan lebih panjang, selanjutnya Sean dan Isyana berpisah. Tidak ada komunikasi lagi, keduanya sibuk dengan kegiatan masing-masing, hingga setelah satu minggu berlalu, surat kontrak yang Sean buat melalui pengacara pribadinya, selesai dibuat.
Tanpa sepengetahuan Renan, surat kontrak tersebut dibuat secara diam-diam. Namun, tentunya memiliki kekuatan hukum yang kuat, karena meskipun cukup percaya pada kesungguhan Isyana, Sean tetap ingin berjaga-jaga.
"Isyana, bisa kita ketemu siang ini? Saya share lokasinya ke kamu."
Memiliki sisa waktu tiga minggu lagi, Sean lekas menghubungi Isyana kemudian mengajak perempuan itu bertemu. Tidak ada penolakan, Isyana bersedia, dan perempuan itu juga datang tepat waktu di restoran tempat Sean membuat janji.
"Ini surat kontraknya, silakan dibaca," ucap Sean, sambil menyodorkan map biru yang dia bawa pada Isyana. "Ada beberapa poin di sana yang harus kamu lakukan dan tidak boleh lakukan. Kalau sekiranya setuju, silakan tanda tangan supaya surat kontrak ini bisa saya sahkan."
"Baik, Mas."
Tak banyak bertanya, Isyana yang siang ini datang dengan setelan rok juga kemeja garis berwarna putih, lantas mengambil map pemberian Sean kemudian membaca poin di dalamnya dengan sangat teliti.
Tidak ada poin aneh, Sean hanya meminta Isyana untuk selalu mematuhi apa yang dia minta dan perintahkan, lalu untuk urusan tidur, Sean meminta Isyana agar berada di dalam satu kamar yang sama dengannya.
Namun, tentunya mereka tidak akan tidur seranjang karena di pernikahan kontrak ini, Sean tidak akan meniduri Isyana dan diantara mereka berdua tidak akan ada anak—bahkan, di surat kontrak tertera waktu pernikahan mereka yaitu delapan belas bulan alias satu tahun setengah.
"Waktu pernikahan delapan belas bulan," ucap Isyana, membaca poin tersebut secara perlahan, lalu memandang Sean. "Maksudnya setelah delapan belas bulan, kita berpisah, Mas?"
"Iya," jawab Sean. "Setelah delapan belas bulan, pernikahan kita selesai alias kita akan bercerai. Mau kamu atau saya yang gugat cerai, itu bebas. Yang jelas, tergugat harus mencari gara-gara supaya perceraian dikabulkan."
"Oh, oke," ucap Isyana, yang setelahnya kembali membaca surat kontrak.
Tidak sampai lima menit, kegiatan Isyana akhirnya selesai. Menutup lagi map yang sempat dia buka, dengan mantao dia memandang Sean lalu berkata,
"Saya setuju sama semua poinnya, dan saya siap tanda tangan, Mas."
"Serius?"
"Iya," ucap Isyana sambil tersenyum tipis. "Tentang Bapak yang akan melunasi biaya rumah sakit Ibu saya ada di dalam kontrak. Jadi saya enggak akan khawatir, karena itu yang terpenting untuk saya."
"Oke," ucap Sean tanpa banyak bertanya. "Silakan tanda tangan kalau begitu. Bolpointnya sudah saya sediakan."
"Baik, Mas."
Tanpa ada keraguan, Isyana mengambil bolpoint di atas meja lalu membubuhkan sebuah tanda tangan di sana. Mengembalikan map pada Sean, dia berucap,
"Sudah, Mas."
"Terima kasih," ucap Sean.
"Sama-sama," ucap Isyana. "Oh ya, apa boleh saya foto isi kontraknya? Buat pengingat aja supaya saya enggak lupa setiap poin di dalamnya."
"Boleh. Silakan."
Isyana kembali mengukir senyum tipis sebelum kemudian mengambil lagi map milik Sean untuk dia potret bagian isinya. Selesai, dia mengembalikan lagi map tersebut sambil berucap,
"Terima kasih, Mas."
"Sama-sama," ucap Sean. "Minggu ini urusan kita selesai. Nanti saya hubungi lagi minggu depan untuk bertemu dengan orang tua saya. Akan ada briefing sebelumnya supaya kamu enggak salah jawab. Paham?"
"Paham, Mas."
"Sip," ucap Sean, yang kemudian beranjak dari kursi. "Saya masih ada urusan setelah ini. Jadi kamu silakan lanjutin makan siangnya sendiri. Semuanya sudah saya bayar kok. Kamu enggak perlu khawatir."
"Terima kasih banyak, Mas."
"Sama-sama."
Tidak terus bersama Isyana, Sean melangkah pergi meninggalkan gadis itu sendiri di meja yang sebelumnya dia pesan. Tanpa rasa curiga sama sekali, Sean bergegas menuju mobil, sementara di kursinya, Isyana barusaja mendapat panggilan dari sebuah nomor yang sigap dia jawab.
"Halo, Pak."
"Bagaimana, Isyana? Semuanya lancar?"