Bagian Satu

1339 Words
*** "Satu bulan dari sekarang kamu enggak bawa calon ke hadapan Papa, itu berarti kamu setuju untuk Papa jodohkan. Keputusan mutlak, Papa enggak nerima bantahan atau penawaran. Paham?" Sean menghela napas kasar setelah keputusan dari obrolan panjang dia dan sang papa malam ini, akhirnya keluar. Bukan tentang harta warisan atau urusan perusahaan, topik pembicaraan yang dibahas olehnya juga Renan adalah perihal jodoh. Dan tentunya bukan jodoh orang lain, melainkan jodoh untuk dirinya sendiri yang sampai saat ini belum memiliki pasangan. Padahal, usia Sean sendiri sudah menginjak angka tiga puluh satu tahun. "Kenapa diam, Sean? Enggak terima?" Hampir sepuluh detik tidak memberikan respon, Sean ditodong pertanyaan tersebut oleh Renan—membuatnya lagi-lagi mengambil helaan napas kasar. "Aku enggak terima pun, Papa enggak bakalan dengar ucapanku, kan?" tanya Sean. "Satu bulan, aku enggak ngenalin perempuan ke Papa, perjodohan akan Papa rencanain buat aku. Begitu, kan?" "Iya," jawab Renan tanpa pikir panjang. "Terkesan kejam dan memaksakan kehendak memang, tapi percayalah, ini demi kebaikan kamu sendiri. Papa sama Mama enggak akan hidup abadi. Jadi mau enggak mau kamu harus punya pasangan, biar ketika tua nanti kamu enggak sendiri." "Sendiri pun sebenarnya enggak masalah," jawab Sean, seolah menantang. "Aku punya akal sehat, dan aku bisa urus diri sendiri. Jad—" "Kalingga Sean Tirtayasa!" Tidak selesai Sean bicara, Renan lebih dulu berseru—membuatnya seketika diam dengan perasaan yang kesal. Bukan tak mau memiliki pasangan, sejujurnya Sean sangat ingin. Namun, setelah ditinggal pergi oleh sang kekasih beberapa tahun ke belakang, Sean trauma. Dia takut kehilangan lagi, karena dipisahkan oleh takdir dan mendadak harus hidup berbeda alam dengan orang yang sangat dia cintai, rasanya sesakit itu. "Obrolan kita selesai, kan?" tanya Sean, setelah beberapa detik membisu. Tidak terus duduk di sofa, dia beranjak kemudian memandang sang papa dengan raut wajah serius. "Kalau udah, aku pamit pergi." "Mau ke mana kamu malam-malam begini?" "Cari angin," jawab Sean. "Ditodong terus menerus urusan jodoh, bikin otak aku kalut. Jadi aku butuh udara segar buat tenangin pikiranku. Enggak apa-apa, kan?" Renan tidak menjawab, dan hanya memandang putranya itu, hingga tidak berselang lama yang dipandang, melengos begitu saja sambil berkata, "Diam berarti enggak apa-apa. Aku pergi dulu." Tanpa menunggu jawaban, Sean melangkah pergi meninggalkan Renan di ruang tengah, hingga ketika sampai di pintu menuju ruang tamu, sebuah panggilan terdengar—membuat kedua kakinya spontan berhenti. "Sean." "Kenapa?" tanya Sean tanpa menoleh. "Papa memang kasih kamu deadline sebulan untuk mencari pasangan yang sesuai dengan keinginan kamu, tapi Papa harap kamu enggak salah pilih apalagi nekad ambil perempuan dari tempat enggak benar," ucap Renan, memberi pesan. "Yang kamu butuhkan itu pasangan untuk seumur hidup, bukan sekadar pemuas nafsu belaka. Paham?" "Paham," jawab Sean tanpa menoleh. "Seleraku juga enggak serendah itu. Papa enggak perlu khawatir." "Ya sudah." Sean tidak menimpali dan melanjutkan lagi langkahnya yang sempat tertunda. Sampai di luar, dia disapa semilir angin malam yang terasa menusuk ke pori-pori kulit. Diam sejenak sambil menikmati tenangnya suasana di halaman rumah, helaan napas lagi-lagi terdengar sebelum akhirnya Sean berjalan menuju mobil dan melajukannya pergi meninggalkan rumah. Entah akan pergi ke mana di malam yang mulai larut, Sean tidak tahu. Namun, yang jelas dia butuh ketenangan, dan dibanding kegiatan lain, Sean merasa mengemudikan mobil adalah kegiatan terbaik. "Tiga puluh satu tahun sudah terlalu tua katanya," celetuk Sean di tengah kegiatan mengemudi. "Papa enggak tahu aja di luaran sana banyak laki-laki lima puluh tahun yang masih melajang. Entah terlalu kudet atau terlalu ngebet punya menantu perempuan, aku enggak tahu Papa yang mana." Tidak terus di jalanan ramai, Sean coba melajukan mobilnya di jalanan alternatif yang sedikit lengang bahkan sepi. Tidak melulu melewati perumahan, mobilnya terkadang melaju juga di jalanan yang sepi, hingga ketika melewati sebuah taman, Sean dibuat terkejut setelah seorang perempuan tiba-tiba menyebrang ke tengah jalan—membuatnya spontan menginjak rem. "s**t!" Sean mengumpat setelah mobilnya berhenti tanpa menghantam tubuh perempuan tersebut. Tidak diam saja dan larut dalam kekagetan, dia memutuskan untuk keluar. Di depan mobilnya, Sean mendapati seorang gadis berjongkuk sambil menutup wajah—membuatnya yang masih diselimuti kesal, bertanya dengan intonasi yang sedikit arogan. "Punya nyawa berapa, Mbak, sampai berani lari ke tengah jalan tanpa lihat kanan kiri? Sembilan?" Tidak ada jawaban, perempuan di depan Sean membisu, hingga selang beberapa detik, dia mengangkat pandangan dengan raut wajah takut yang begitu kentara. "S—saya minta maaf, Mas," ucap perempuan tersebut dengan suara tergagap. "Saya terlalu fokus sama hp sampai enggak noleh dulu pas mau nyebrang. Saya kalut." Sean mengerutkan kening. Melihat raut ketakutan gadis di depannya, rasa kesal dia perlahan memudar—berganti dengan rasa penasaran juga kasihan. Perlahan merendahkan posisi, Sean berjongkok di depan gadis tersebut lalu bertanya, "Kamu kalut kenapa memangnya?" "Ibu saya di rumah sakit, Mas, kondisinya kritis dan masih butuh pengobatan, tapi saya enggak punya lagi biaya," jawab gadis tersebut dengan wajah memelas—membuat Sean dilanda kasihan. "Saya udah coba hubungi banyak orang buat pinjam uang, tapi enggak ada satu pun yang mau pinjamin. Saya bingung harus apa, karena cuman Ibu yang saya punya, Mas. Saya enggak mau kehilangan Ibu saya. Saya enggak siap." Sean menarik napas berat kemudian menghembuskannya secara perlahan. Memandangi gadis di depannya yang kini sibuk mengusap air mata, rasa iba datang bahkan menyelimuti hatinya, hingga tidak berselang lama dia bertanya, "Berapa banyak uang yang kamu butuhkan untuk pengobatan ibu kamu?" Alih-alih menjawab, gadis di depan Sean justru balik bertanya, "Mas mau bantu?" "Saya pengen tahu dulu nominalnya berapa," ucap Sean. "Seratus juta, Mas," jawab gadis tersebut. "Ucapan saya mungkin terkesan enggak tahu diri, tapi kalau Mas mau bantu, saya akan sangat berterimakasih, karena saya benar-benar bingung harus ke mana lagi cari uang sebanyak itu. Sementara kalau saya enggak segera melunasi, ibu saya akan dipulangkan besok dari rumah sakit. Saya enggak bisa, Mas, lihat Ibu saya meninggal. Saya enggak siap." Sean tidak menimpali dan coba menimang keputusan apa yang akan dia ambil. Mengedarkan pandangan untuk memastikan tidak ada siapa-siapa di sekitar mereka berdua, dia bertanya lagi, "Ini cerita kamu serius, kan? Bukan sekadar karangan atau usaha buat menipu saya?" "Saya serius, Mas. Kalau Mas enggak percaya, saya tunjukin foto ibu saya di rumah sakit." Tidak hanya bicara, gadis di depan Sean langsung mengotak-atik ponselnya kemudian menunjukan sebuah foto. "Ini ibu saya, Mas, pas di ruang ICU. Sekarang ada di kamar rawat biasa, tapi kondisinya belum stabil," ucap perempuan tersebut. Seolah belum merasa puasa, dia juga menunjukan fotonya saat bersama sang ibu. "Dan ini saya sama ibu saya, kalau Mas masih ragu." Sean tidak memberi respon, sementara gadis di depannya kembali bicara. "Kalau Mas berbaik hati pinjamin uang, saya akan sangat berterimakasih, dan saya janji akan berusaha sebisa saya untuk membayarnya, Mas, atau kalau Mas butuh jasa, saya bisa bekerja di Mas buat bayar hutang itu. Pokoknya apa pun akan saya lakuin kalau seandainya Mas mau bantu." "Nama kamu siapa?" tanya Sean, mengabaikan dulu ucapan panjang lebar gadis di depannya. "Dan berapa usia kamu?" "Nama saya Isyana, Mas, dan saya dua puluh delapan tahun," ucap gadis di depan Sean yang akhirnya memperkenalkan diri sebagai Isyana. "Masnya siapa kalau boleh tahu?" "Kalingga Sean Tirtayasa. Kamu bisa panggil saya Sean," ucap Sean. "Sebelum saya putusin buat kasih bantuan atau enggak ke kamu, boleh saya tanya satu hal lagi?" "Boleh, Mas. Apa?" "Apa kamu sudah menikah?" "Belum, Mas," jawab Isyana. "Saya masih gadis, dan selama ini saya tinggal sama ibu saya. Jadi saya enggak bisa banget kalau harus kehilangan beliau." "Oke," ucap Sean. Diam lagi sejenak sambil menimbang, dia bicara lagi selang beberapa detik setelahnya. "Kalau kamu butuh bantuan saya, saya bersedia bantu, tapi sebagai balasan, kamu harus bantu saya juga. Kebetulan saya sedang ada masalah." "Boleh, Mas, boleh sekali," ucap Isyana tanpa pikir panjang. "Bantuan apa memangnya yang bisa saya beri?" "Menikah dengan saya," ucap Sean—membuat Isyana membulatkan mata dengan raut wajah kaget. "Tapi statusnya cuman istri kontrak." "Istri kontrak, Mas?" "Ya. Kita menikah, tapi cuman di atas kontrak," ucap Sean. "Sebagai imbalan, saya kasih uang yang kamu butuhin. Gimana?" Kini giliran Isyana yang diam, tapi tak lama, karena tidak sampai semenit, perempuan itu menjawab, "Saya mau, Mas, tapi apa boleh saya minta sesuatu lagi?" "Apa?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD