Di salah satu sebuah taman hotel berbintang, telah di gelar acara resepsi pernikahan mewah. Dengan konsep gorden party, pernikahan itu terlihat mewah, bunga lili segar tertata rapi di setiap sudut, kelopak bunga mawar bertebaran di lantai beralas karpet dan pohon buatan yang terdapat rangkaian anggrek turut mempercantik resepsi itu. Pita putih turut membingkai pernikahan itu agar terkesan cantik. Jangan lupakan altar berbentuk kubah berhias ukiran cantik yang diselingi renda - renda dan kristal berkilau berwarna putih.
Tetapi ada yang salah dengan pernikahan ini. Pernikahan ini seharusnya terlihat bahagia dan penuh cinta karena dekorasi mewahnya. Pernikahan ini seharusnya penuh tawa dan senyum dari kedua mempelai. Tetapi mengapa justru terlihat suram seperti pemakaman. Selena melangkah anggun menuju Travis yang menunggunya dengan wajah suram penuh kesakitan.
Calon suaminya berdiri di sana dengan wajah pucat, ia memakai tuxedo putih sesuai tema pernikahan yang Selena pilih. Sosoknya yang menawan bertambah menakjubkan dengan balutan Armani yang dipesan khusus. Merek itu tidak pernah gagal membuat pria bertambah elegan. Travis terlihat sangat tampan meski sorot matanya kosong.
Di pernikahannya yang kedua kali. Travis tidak mampu menutupi beban berat di dadanya. Berkali-kali pria ini hampir roboh karena tekanan batin. Tubuhnya bergetar melawan rasa yang berdenyut di hatinya. Dia berusaha sebisa mungkin menjaga tubuhnya tetap berdiri melaksanakan pernikahan hingga selesai. Semua terasa sulit di saat bayangan Pamela menari-nari di matanya.
"Mengapa tidak ada keluarga dari pihak pria? "
"Stth lihat di sekiling kita, bahkan tidak ada teman-teman sang mempelai pria. Bahkan pria itu tidak tersenyum sama sekali. "
"Ku dengar dia baru saja kehilangan anak dan istrinya, tapi mengapa dia sudah menikah lagi? "
"Jadi gosip itu benar? Si pengantin wanita itu yang merusak rumah tangga."
"Astaga, sungguh tidak tau malu. "
Bisik-bisik tamu undanganpun mulai menyapa telinga Selena. Senyum sempurna yang mengembang tidak lagi bisa ia pertahankan. Langkah kakinya yang diiringi lagu menjadi berat karena ocehan tamu yang hadir.
'Aku bukan pihak ketiga, Pamela-lah pihak ketiga yang memisahkan aku dan Travis! '
Ingin sekali Selena berteriak pada orang-orang yang menggosipkannya. Mengapa orang-orang ini tega mengatakan hal buruk di pernikahannya. Mata abu-abu Selena diam-diam memperhatikan tamu yang hadir. Ternyata yang dikatakan mereka ada benarnya. Tidak ada satupun keluarga Manex yang hadir. Bahkan teman-teman Travis seperti Clark, Stewent, Inoe, Keyba dan Dean juga tidak nampak. Hatinya sangat dongkol ketika menyadari jika dia seperti tidak direstui keluarga Manex.
Sedangkan Ken Miller selaku ayah Selena sangat marah dengan gosip yang timbul. Ini sangat memalukan bagi keluarga Miller yang terkenal sebagai keluarga yang santun. Dia bahkan tanpa sadar mencengkeram tangan putrinya ketika menyerahkannya pada Travis. Matanya menyorot marah pada Selena. Karena langkahnya yang terburu-buru dia membuat malu dirinya.
Sebenarnya Ken juga keberatan dengan pernikahan ini, terlebih ketika mengetahui jika anak dan istri Travis meninggal belum lama ini. Sayangnya sikap Selena yang keras kepala tidak menghiraukan ucapannya. Kini keluarga Miller harus menganggung ejekan dari para tetangga dan kerabatnya. Ingin sekali Ken memberikan tamparan pada putrinya yang keras kepala ini.
"Ais... "
Selena sedikit mengernyit merasakan tekanan pada tangannya. Dia melihat pemilik dari tangan yang mencengkeramnya. Ternyata sang ayah terlihat sangat marah sehingga lupa jika mereka sedang di pesta pernikahan. Selena melepas tangan sang ayah dan mengulurkan tangannya ke arah Travis.
Travis tertegun melihat tangan Selena yang terulur padanya. Dia jadi teringat ketika tangan lembut Pamela memegang tangannya saat pernikahan. Tangan Pamela saat itu terasa kecil dan rapuh. Travis meraih tangan Selena, dan perasaan kekecewaan menghampiri dirinya.
'Ternyata tangan Selena tidak senyaman tangan Pammy, ' batin Travis. Dengan wajah kecewa, Travis membawa Selena mengucapkan sumpah pernikahan.
'Apa yang salah dengan pernikahanku ini? ' batin Selena. ' Tidak, ini adalah awal bagiku untuk memiliki Travis. ' Selena menggigit bibirnya ketika menyadari jika wajah Travis menjadi lebih murung. Ini menyakitinya.
'Padahal kami sedang melangsungkan pernikahan, tapi mengapa dia seolah sedang menangis! ' jerit Selena dalam hati.
Pernikahan inipun dilaksanakan hingga selesai. Para tamu mengucapkan selamat pada kedua pengantin dengan senyum lebar. Namun ketika Travis pamit meninggalkan resepsi lebih dulu dengan alasan tidak enak badan. Gosip dan ejekan kembali terdengar.
'Eh, pengantin pria hanya menyapa undangan sekilas dan meninggalkan tempat resepsi. Apa ini pernikahan paksaan? ' bisik salah satu tamu.
'Sungguh mengejutkan, kalau aku jadi pengantin wanita, aku pasti malu setengah mati. '
'Ssstth jangan keras-keras. '
Selena memberikan tatapan maklum pada tamu. Dia sebenarnya merasa malu dengan ulah Travis. Hal itu menambah kecurigaan undangan yang hadir justru semakin kuat. Mereka yakin ada yang salah dengan pernikahan ini.
Ketika Travis berada di luar gedung, ia melihat Claudia yang hadir menuju ke arahnya. Wanita itu mengukir enyum sendu yang tulus dibibirnya yang dihiasi garis keriput halus.
"Ibu--"
"Aku senang kau masih memanggilku ibu, Travis, " ucap Claudia lembut. Dia tidak tau jika kehadirannya membuat Travis merasakan sedikit obat di dadanya yang terasa sesak.
"Aku, aku sudah melakukan pesan ayah. Ku harap dia memaafkanku, " ucap Travis lirih.
"Aku juga membawa pesan darinya. Dia bilang memaafkanmu, Nak. "
Air mata jatuh di pipi Travis. Claudia mengusap air mata pria rapuh itu dengan lembut.
"Selain itu ibu ingin menyampaikan hal yang pernah ibu dengar dari Pammy. Dia pernah bilang jika ingin kalian bahagia, dia juga merasa bersalah karena menjadi duri pada hubungan kalian. Jadi--lupakan semuanya, Nak. Maafkanlah dirimu. Ini sudah setengah tahun sejak kematian Pammy. Jangan tenggelam dalam perasaan bersalah lagi, sudah waktunya kau menata hidupmu. "
Claudia memeluk Travis yang masih meneteskan air mata. Dan pria itu menangis lebih keras dari sebelumnya. Badannya bergetar karena emosi yang ia pendam.
"Cobalah memaafkan dirimu sendiri, sebenarnya itu adalah bagian tersulit yang kau hadapi. "
Usai memeluk Travis, Claudia berbalik meninggalkan Travis dan menghilang dari pandangannya. Travis hanya memandang wanita itu hingga mobilnya tidak lagi terlihat.
.
.
.
Sedangkan di rumah sederhana di perbatasan kota--Queens. Pamela membalut tubuhnya dengan kimono tidur. Dia mengeringkan rambutnya yang basah setelah mandi. Kemudian Pamela merenggangkan punggungnya dan bersandar. Pekerjaan sebagai perawat di klinik kecil cukup menguras tenaganya. Ini disebabkan tenaga medis di perbatasan kota ini cukup sedikit, hal tersebut dikarenakan letak kota ini sedikit terpencil meski tidak ketinggalan. Jadi dia menjadi lebih sibuk dalam membantu pasien yang datang untuk berobat. Tetapi dia tidak keberatan, karena dia sangat menyukai pekerjaan itu.
Coklat hangat menjadi pilihan Pamela untuk merilekskan tubuh dan pikirannya. Sambil membawa cangkir coklat hangat itu Pamela menjatuhkan bokongnya ke sofa di pinggir ranjangnya. Matanya melirik ke arah koran yang terpampang berita pernikahan yang cukup megah.
"Oh, apakah ada berita pernikahan artis? " Pamela mengambil koran yang di dalamnya terdapat foto pernikahan yang mewah. Dia terkagum-kagum dengan dekorasi yang menghias pernikahan itu seperti sebuah istana dalam dongeng.
"Hem, seperti pernikahan Cinderella. Sangat megah dan--" Pamela mengamati foto yang ada di koran. Entah mengapa dia merasa tidak asing dengan foto-foto ini.
"Wedding of the year, pernikahan Travis Manex dan Selena Miller. " Pamela mengeja judul di koran itu.
Deg.
Travis Manex... Selena Miller.
Deg.
T-Travis.
d**a Pamela terasa berdebar melihat pernikahan itu. Perasaannya terasa tidak nyaman saat melihat foto pria yang dingin di koran.
Nyut.
"Aduh...! " pekik Pamela, "A-apa yang terjadi pada diriku? "
Nyut.
Ingatan yang mengalir terasa menghantam otaknya dengan keras. Kepalanya seakan berdenyut karena gelombang memory yang merangsek masuk.
"Nyonya, tubuh anda demam. Apakah saya perlu memanggil tuan? "
"Panggil saja dokter bi. Aku akan menghubungi Travis. "
"Iya, saya akan memanggil dokter yang ada di ujung sana. Rumahnya tidak jauh. Saya juga akan membeli s**u untuk anda. "
"Iya bi. "
"Hallo... Travis, bisakah kau datang? A-aku...ah. "
"Aku masih sibuk Pamela. Tolong, jika kau butuh sesuatu panggil saja Lely. "
"Ugh mengapa dia menutup teleponku... Kepalaku pusing, apa ini? Mengapa ada darah yang keluar!?"
"Akh, aku harus memanggil bibi... Ku harap dia belum pergi. "
Bruk.
"Nyonya!!! "
Pamela menjambak rambutnya dengan keras. Air matanya terus mengalir tanpa henti. Bibirnya gemeletuk karena rasa sakit di kepala yang turun menuju dadanya. Dia teringat kembali dengan masa lalunya. Namun ada kesedihan yang tidak bisa ia tahan. Dia bahkan berharap jika tidak pernah ingat kembali kejadian paling mengerikan dalam hidupnya.
"Hiks... Bayiku~ ya Tuhan... Bayiku. "
"Dia...Bayiku sudah tidak ada lagi. Aku gagal, hiks aku wanita yang gagal melindungi bayiku. "
Pamela mengusap air matanya. "Sepertinya kau sudah memenuhi keinginanmu yang tertunda Travis. Semoga kalian bahagia. Sekarang kita tidak ada hubungan apapun lagi. " Pamela meletakkan koran itu dan menuju ranjang. Dia mengabaikan perasaan kesakitan yang menghantam dadanya dan menuju kamar mandi, lagi.
Usai resepsi pernikahan, Selena pulang ke apartemen Travis yang terletak di Wall street, ia terus menunggu kedatangan Travis di apartemen yang selama ini ditinggali Travis ketika enggan pulang ke rumah.
"Dia bahkan tidak pulang kesini. "
Selena merutuki Travis yang tidak kunjung datang meski resepsi sudah selesai beberapa jam yang lalu.Ayahnya sudah hampir meledak di resepsi pernikahan karena marah bercampur malu. Terlebih para tamu mulai menggosip dengan begitu keras.
"Baiklah, aku harus menyuruhmu pulang Travis! Kau tidak bisa seperti ini terus."
Jari-jari Selena bergerak memencet tombol telepon pintar yang hampir menjadi korban kemarahannya.
"Hallo Travis, dimana kau sekarang! Aku sudah menunggumu!?" teriak Selena.
"A-aku mendengar Pammy memanggilku. Maaf Selena, aku tidak bisa pulang. Aku baru saja mendengar Pammy memanggilku di rumah ini. "
Deg.
"Berhenti merasa bersalah Travis, dia sudah meninggal. Sadarlah. "
"Tapi aku yakin tadi ada suara Pammy. Tut tut. "
"Travis--ke hiks. "
Terputusnya sambungan teleponnya menambah kesedihan Selena di hari pernikahannya. Dia sekarang hanya bisa menangis dan mencoba bertahan. Sama seperti yang Pamela lakukan dahulu.
Tbc.