PART. 1 JENNIFER

1057 Words
Jennifer (20 tahun) , atau biasa disapa Jenny. Terbaring di atas ranjangnya, ia tampak sangat gelisah, sebentar miring ke kanan, sebentar miring ke kiri, sebentar telentang dengan tatapan ke langit-langit kamar. Hatinya sangat gelisah, karena sebuah nama yang tengah mengganggu pikirannya. Bukan nama seorang pria yang sedang digandrunginya, tapa nama seorang wanita yang harusnya ia panggil mommy. Angelica (40 tahun), nama wanita itu, wanita yang sudah mengandung dan melahirkannya. Melahirkannya, lalu meninggalkannya saat usianya baru 6 bulan. Melahirkannya, namun tidak pernah andil dalam membesarkan dan mendidiknya. Dan, tiba-tiba saja wanita itu datang kembali. Berharap diterima masuk kembali ke dalam rumah tempat Jenny dibesarkan. 'Hhhh, apakah Daddy masih mencintai wanita itu? Apakah Daddy tidak sakit hati atas apa yang sudah dilakukan wanita itu terhadapnya? Wanita itu sudah menghianati Daddy, semudah itukah Daddy bisa menerima wanita itu kembali? Apakah Daddy terlalu mencintainya, sehingga tidak menikah sampai saat ini. Hhhh, jika Daddy memang mencintainya, dan menginginkan wanita itu, biar aku yang pergi, Dad, aku tidak bisa menerimanya, tidak sebagai istri Daddy' Jenny bangkit dari berbaringnya, lalu duduk di tepi ranjang. Sebuah rencana mulai ia siapkan, dan akan ia laksanakan untuk beberapa hari ke depan. Ia bertekad pergi dari rumah tempat ia dibesarkan, tapi sebelumnya ia harus punya tempat tinggal dan pekerjaan. Ia yakin, Felicia, sahabatnya akan punya solusi untuknya. Jenny mengambil beberapa lembar pakaiannya dari dalam lemari. Lalu ia masukan ke dalam tas kuliahnya yang cukup besar. Beberapa hari kedepan ia akan melakukan hal yang sama. Diam-diam memindahkan pakaiannya dari lemari kamarnya, ke rumah Felicia, sahabatnya. 'Maafkan aku, Daddy, aku mencintai Daddy, tapi aku tidak bisa menerima wanita itu masuk kembali ke dalam kehidupan Daddy, tidak sebagai istri Daddy!' *** Jenny menuruni anak tangga, dilihat daddynya sudah duduk di ruang makan. Tasnya yang sarat muatan ia tinggalkan di belakang sofa ruang tengah, ia tidak ingin daddynya mengajukan pertanyaan yang menyelidik demi melihat tasnya. "Pagi, Daddy" Jenny memberi salam pada pria berusia 43 tahun yang tengah asik dengan koran pagi di tangannya. "Pagi." Bradd menurunkan koran, lalu melipatnya. Bradd memang pria yang tidak banyak bicara, ia tidak biasa ber basa basi, ia hanya bicara hal yang penting saja. Mereka memulai sarapan mereka, dua pelayan mendekat untuk melayani mereka berdua. "Kuliah?" "Heum." "Pulang kuliah mampirlah ke butik mommymu, dia ingin memberikan gaun untukmu," ucap Bradd bernada datar saja. "Kenapa gaunnya tidak dia titipkan pada Daddy saja?" "Mommymu ingin kamu memilih sendiri, gaun mana yang kamu suka. Gaun itu nanti yang harus kamu pakai, saat acara makan malam bersama keluarga Jason, Jumat depan," ujar Bradd, mengingatkan Jenny, akan rencana makan malam bersama keluarga Jason, pria yang dijodohkan dengan Jenny oleh Bradd, dan Jack, ayah Jason, yang merupakan relasi bisnis Bradd. Menurut Bradd, perjodohan itu berasal dari pembicaraan Abraham, kakek Jenny, dengan Jonatahan, kakek Jason. Jadi Bradd, dan Jack hanya meneruskan keinginan kedua kakek itu saja. "Jenny, kamu dengar apa yang Daddy katakan?" Bradd menatap wajah Jenny, yang tidak menjawab perkataannya. "Ya, Daddy," jawab Jenny tanpa semangat. Bradd menarik napas, ia sangat tahu, Jenny tidak menyukai Angelica. "Lemahkanlah sedikit hatimu, Jenny. Dia ibu kandungmu, meski kamu ingin mengingkarinya, tapi ikatan darah di antara kalian tidak akan bisa diputuskan." ucap Bradd berusaha membujuk Jenny. "Aku tahu," jawab Jenny singkat. Ada rasa sakit di dalam hatinya, karena daddynya terkesan lebih membela Angelica. Ada rasa kecewa di dalam hatinya, karena daddynya membagi perhatiannya pada Angelica. Perhatian yang tadinya hanya menjadi miliknya seorang. Jenny merasa, wanita itu sudah merebut apa yang menjadi miliknya selama ini. Kedatangan wanita itu terasa menghancurkan kebahagiaan, dan kedamaian yang ia rasakan selama ini. Wanita itu sekonyong-konyong datang, membawa maaf untuk ia berikan kepada daddynya. Tapi tidak ada kata maaf yang terucap untuknya. Wanita itu seakan sengaja datang untuk mengusik kebahagiaannya, untuk merebut apa yang selama ini menjadi miliknya. Wanita itu .... "Jenny!" "Ya, Dad." Jenny tergeragap mendengar panggilan daddynya. "Apa yang kamu lamunkan?" "Tidak ada, ehmm, Daddy tidak ke kantor?" Bradd menatap jam di pergelangan tangannya. "Baiklah, Daddy pergi, ingat ucapan Daddy tadi, temui mommymu" "Ya, Dad." Jenny menganggukan kepala, Bradd mengecup puncak kepala Jenny, sebelum meninggalkan ruang makan. Jenny menatap punggung daddynya, rasa sakit kembali menyusupi hatinya. *** Jenny turun dari mobil yang disupiri Simon, supir pribadinya. Felicia langsung menyambutnya, mereka memang sudah bicara banyak semalam, soal keinginan Jenny kabur dari rumah. Mereka menuju mobil Felicia, lalu meletakan tas Jenny di jok belakang mobil Felicia. Jenny memindahkan pakaiannya ke tas yang dibawakan Felicia, setelah semua pakaiannya berpindah tas, barulah Felicia mengunci kembali pintu mobilnya. Mereka berjalan beriringan menuju kelas mereka. "Bagaimana?" Tanya Jenny. "Kapan kamu ingin pergi?" Felicia balik bertanya. "Kalau bisa hari ini juga" "Hari ini, kamu baru membawa beberapa lembar pakaianmu, Jenny!" "Aku bisa membeli pakaian baru nanti, uang tabunganku cukup banyak." "Kenapa tiba-tiba kamu mempercepat rencanamu?" "Hari ini Daddy memintaku menemui wanita itu, aku tidak ingin menemuinya. Dia Ibu kandungku, tapi sikapnya seperti ibu tiri saja bagiku. Dia cuma manis saat berada di hadapan Daddyku, di belakang Daddy, aku melihat sorot permusuhan di matanya. Aku tidak membencinya, tapi aku tidal bisa menerima dia masuk ke rumah kami sebagai istri Daddy" jawab Jenny dengan penuh semangat, namun ia mampu mengontrol suaranya, agar volumenya tetap rendah. Felicia menghentikan langkah, ditatap wajah sahabat karibnya sejak 8 tahun lalu itu. "Apa kamu siap, meninggalkan semua kemewahan yang selama ini kamu rasakan, Jenny? Kamu terbiasa semua serba ada, dan semua serba dilayani oleh pelayan di rumahmu." "Aku siap, dengan segala resiko, atas keputusan yang sudah aku ambil. Hhhh, Daddy mungkin terlalu mencintai wanita itu, karena itu dia tidak menikah selama ini, jika Daddy merasa bahagia dengan kehadiran wanita itu di sisinya, aku rela meninggalkan semuanya," jawab Jenny dengan mata berkaca-kaca. "Kenapa kamu tidak mencoba membuka hatimu, untuk menerima mommymu, Jenny? Aku kira itu lebih baik dari pada kamu harus pergi. Daddymu pasti akan sangat terluka, dan cemas karena kehilanganmu. Mereka adalah kedua orang tuamu, apa kamu tidak ingin hidup memiliki orang tua lengkap, aku kira itu impian semua anak di dunia bukan?" Felicia menatap Jenny dalam kebingungan, akan jalan pikirannya sahabatnya. Jenny balas menatap Felicia, ia sadar, apa yang dikatakan Felicia memanglah benar, tapi kasusnya tidak sesimpel itu, ada hal yang tidak bisa ia ungkapkan pada Felicia, meski Felicia adalah sahabat karib yang paling ia percaya. Ada bagian hidupnya yang tidak ingin ia ungkapkan kepada orang lain, bagian yang akan menjadi rahasia yang akan ia simpan sendiri di dalam hatinya. BERSAMBUNG
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD