"Mah, kematian apakah semenyeramkan itu? Apakah lebih menyeramkan daripada hidup Gama yang sangat menyakitkan ini? Mah, gimana kalo Gama udah ga kuat lagi sama kehidupan Gama sendiri? Apa Gama boleh ikut Mama?" Tanya Duka yang saat ini tengah berada di balkon apartemen miliknya sembari menatap ke arah langit tanpa bintang. Ya, mendung layaknya hatinya dan juga kosong layaknya pikirannya. Kekosongan pikiran itu sebenarnya tidak boleh Duka terus menerus hadapi. Itu semua karena seharusnya ia tidak begini. Seharusnya dirinya bisa lebih kuat lagi daripada dirinya yang dulu karena saat ini ia sudah mulai beranjak dewasa. Ia sudah mulai mengerti apa itu hal-hal yang membuat dirinya sakit dan bahagia. Seharusnya ia bisa mencegah rasa sakit itu, tapi jika rasa sakit itu di lakukan oleh keluargany

