“Kalo mata kamu minus, sana pakai kacamata! Jangan bikin malu dengan tindakan impulsif kamu yang sok tahu itu!”
***
“Lo denger enggak? Maju!” ujar senior Rinjani yang laki-laki, yang sama sekali tak ia ketahui namanya.
Rinjani menoleh untuk melihat seniornya itu. Laki-laki dengan kemeja flannel warna merah kotak-kotak tanpa dikancing dan di dalamnya laki-laki itu memakai kaos warna hitam. Untuk bawahannya kakak tingkatnya itu menggunakan celana jeans yang sedikit robek di bagian dengkul, berkacamata dengan senyum yang disinis-siniskan. Dih, memangnya saya bakal takut, ya? batin Rinjani, ia menahan bibirnya agar tidak keceplosan menertawai muka sok sengak laki-laki itu.
“Kak … aduh …,” rengek Rinjani sembari memutar bola matanya bosan.
“MAJU, ANJING!”
“GUK! HAHAHAHA!” ejek Rinjani membuat teman-temannya semakin menatap kagum ke arahnya. “Mohon maaf, Kakak memerintahkan saya untuk maju?”
Senior itu mengangguk.
Rinjani tersenyum. “Memangnya Kakak siapa?” tanyanya. Teman-temannya terperangah melihat aksi Rinjani sekali lagi. Benar-benar berani.
“Anjing lo! Berani banget lo!” teriak Bianta. Suasana hening, kian mencekam.
“Ya! Saya berani, tidak seperti Kak Bianta yang harus mengajak pasukan hanya untuk menyerang saya!” Rinjani menarik senyum dan menunjukkan barisan giginya ke arah Bianta, biarkan saja kakak tingkatnya itu semakin kesal.
“MULUT LO, ANJING!” teriak Jeasy.
“Gila banget, gila!” seru seniornya yang lain karena mereka kaget dengan nyali Rinjani yang ternyata sebesar itu.
Rinjani berdiri, ia masih bisa mengendalikan emosinya. “Kalian bilang Devan cupu? Kalian enggak sadar kalau yang cupu, pengecut dan culun itu kalian? Merengsek masuk ke kelas maba yang baru saja menyelesaikan kuliah. Mengepung kami. Padahal tidak semua maba yang salah. Berteriak nyalang, seolah paling benar, meminta bantuan dengan yang lain hanya untuk mencari maba yang bernama belakang Nazzarda. Hahahahahah! Kalian semua cupu!” ujarnya dingin. Berhasil menikam emosi semua elemen seniornya.
“Berani-beraninya lo!” Jeasy maju ke bangku Rinjani, menarik kasar tangan gadis itu. Ia ingin menyeret Rinjani sampai adik tingkatnya itu bertekuk lutut di hadapannya. Suruh siapa menjadi junior yang sengak dan sombong begini, apalagi di depannya.
Rinjani tidak akan membiarkan ia ikut, dia dengan lincah membalikkan keadaan. Memelintir tangan Jeasy yang menarik tangannya kasar. Membuat Jeasy meringis dan berteriak minta dilepaskan. Rinjani dapat melepaskan tangannya dengan mudah.
“Saya tidak punya masalah sama kamu, Kak. Dan, yang perlu kakak semua ketahui saya tidak pernah mencari masalah dengan Kak Bianta dan teman-temannya. Mereka yang memanggil nama belakang saya, nama Papa, dengan nada melecehkan, sudah diberitahu, tetapi ngeyel. Jadi, daripada kakak semua melakukan hal-hal bar-bar di sini yang memalukan dan kelakuan anak kecil lainnya, lebih baik kakak semua keluar. Tidak lapar? Soalnya kami lapar, ingin memakan bekal. Mata kuliah Kimia Dasar sudah cukup untuk membuat otak panas, Kakak semua lebih baik jangan,” ucap Rinjani cepat, kemudian ia duduk lagi dikursinya, lalu mengambil bekal yang dia bawa. Tak mengindahkan tatapan mematikan dari para seniornya.
Ranggy, sahabat Jeasy merasa terlukai melihat sahabatnya diperlakukan tidak senonoh oleh maba songong. Ia melesak maju, menuju meja Rinjani. Mengambil kotak bekal gadis itu, membantingnya, setelah itu menampar dengan penuh kekuatan pipi Rinjani.
Rinjani meringis. “Saya enggak pernah punya masalah sama kamu!” Ia mendorong Ranggy dengan keras, sehingga gadis itu terduduk. “Saya membuat bekal ini subuh-subuh, bekal yang sama juga untuk Abang. Dan dengan gobloknya kamu membantingnya!? Gila!? Kalau lapar, cari makanan di kantin sana, jangan mengganggu makanan orang!” ujarnya membentak marah.
“Lo udah berani-beraninya memelintir tangan temen gue!” bela Ranggy. “Lo jadi maba udah songong, jadi lo pantas untuk dapatin ini semua!”
“Tangan teman kamu yang menarik tangan saya kasar!” balas Rinjani dalam, tatapannya semakin tajam. “Punya mata enggak kamu, hah?” sergahnya. “Kalo mata kamu minus, sana pakai kacamata! Jangan bikin malu dengan tindakan impulsif kamu yang sok tahu itu!” sambungnya.
“Dasar b*****h, enggak tahu malu!” bentak Ranggy. Ia maju beberapa langkah lagi untuk dapat menggapai tangan Rinjani dan menyeret gadis itu.
“Enggak usah sok bentak saya! Kalau kamu pikir itu keren, itu enggak sama sekali! Malu!” sahut Rinjani. Sungguh, saat ini dia sudah sampai di puncak emosi paling tinggi. Terang saja, dalam sejarah hidupnya tidak ada yang berani membanting makanan buatannya, sekarang justru ada orang gila berkedok senior yang berani melakukan itu padanya.
Ranggy membelalakkan matanya yang sudah memanas karena amarah, “ANJ-!”
“Stop!” Suara berat laki-laki menghentikan omongan tidak tersaring dari Ranggy.
Rinjani tidak kenal siapa laki-laki dengan suara berwibawa itu. Meru?
Laki-laki itu menarik napasnya dalam, “Semua senior dari semua semester silakan keluar, kalian sangat mengganggu kenyamanan mahasiswa baru!” titahnya dalam. Suara itu berkarisma. Sontak semua seniornya melangkah keluar dengan dengusan dan ber-huhu ria. Tidak terima atas perintah laki-laki ini.
“Saya minta maaf atas semua perlakuan senior kalian pagi ini.” Semua mahasiswa baru mengangguk takzim. “Perkenalkan nama saya Nuyyan Anugerah, kalian bisa memanggil saya Mas Nuyyan, karena saya tidak mau dipanggil Kakak atau Abang. Saya semester lima dan sekarang sedang diamanahkan menjadi ketua umum himpunan mahasiswa farmasi. Jadi, kalau ada masalah kalian bisa membicarakannya sama saya.”
Rinjani menatap sekilas seniornya itu, tetapi baginya lebih penting nasib nasi gorengnya yang sudah tumpah ruah. Satu tetes air mata luruh dari matanya. Sangat menyebalkan saat nasi goreng yang sudah dimasak sedari subuh justru harus bernasib naas karena keegoisan dan kesongongan manusia-manusia bersumbu pendek seperti seniornya tadi.
“Dan untuk kamu Rinjani,” ujar Nuyyan seraya menunjuk ke arah Rinjani, gadis itu balas menatapnya. “Kalau kamu sudi, nasi goreng kamu bisa saya ganti. Kita bisa makan di kantin bersama,” tawarnya.
Rinjani menggeleng lemah, muka sedihnya amat kentara. “Terima kasih, saya bisa minta bekal Abang,” jawabnya. Lalu kembali meratapi nasi gorengnya.
Nuyyan mengangkat bahu. “Oke, sekali lagi saya minta maaf atas keributan tadi.”
Rinjani mengangguk sekali, ia masih sibuk menatapi nasib nasi gorengnya.
Nuyyan tersenyum, kemudian mengangguk, “Saya permisi,” pamitnya sembari berjalan keluar ruangan.
“Iya, Kak,” balas mahasiswa baru serentak. Devan bangun dari duduknya, langsung menuju bangku Rinjani. Teman-temannya yang lain mulai mengangkat kepala, wajah mereka mulai berwarna.
“Rinjani keren,” puji Devan. Namun, yang dipuji masih menatap nasi gorengnya. Perlahan tangannya meraup nasi yang tumpah, dimasukkan lagi ke kotak, bisa ia buang ketika sudah di rumah. Rinjani lupa mengacuhkan Devan.
Teman-teman mereka yang lain menatap ke arah Rinjani, ingin berkenalan. Satu dua orang mendekati bangkunya, menyebutkan nama dan mengulurkan tangan. Gadis itu hanya membalas dengan senyum dan membalas jabatan tangan sebentar, seraya mencoba mengingat nama teman-temannya. Lia, Putri, Fina, Gilang, Cika dan lain-lain, Rinjani sudah lupa.
***