Namanya Nuyyan

1162 Words
“Apakah itu adalah kamu?” *** Jam sudah menunjukkan pukul lima sore, langit sudah mulai gelap. Mendung, sepertinya musim hujan akan tiba. Kampusnya masih ramai, di bawah pohon akasia, duduklah seorang gadis yang sedang memegang kotak makanannya. Menselonjorkan kaki, menutup mata, merasakan hembusan angin membelai kulitnya. Rinjani menarik napas, membuangnya lagi, menarik, menghembuskan perlahan, menarik lagi, lalu menghelanya kasar. Sudah tiga jam dia menunggu Elo yang katanya mau rapat BEM, yang katanya juga cuma dua jam. Ia ingin melesak masuk ke sekretariat BEM FMIPA kampusnya, menarik kuping Elo agar segera membawanya pulang. Dia sudah lapar sekali. Tadi, saat Rinjani ke lantai lima ingin meminta bekal punya Elo, karena bekalnya ditumpahkan oleh nenek lampir berwajah menor. Namun ternyata, saat ia sudah sampai ke depan ruang kelas Elo, Abangnya itu justru sedang menyuapkan suapan terakhir nasi goreng ke mulutnya. Dia kecewa. “Abang lama, ih,” rengek Rinjani. Kesiur angin yang membelai anak rambutnya membuat ia memejamkan mata. Menenangkan hati dan mendinginkan otak setelah masalah pertama tadi pagi. Ternyata, setelah dia pikir semuanya sudah selesai, tetap saja dia menerima tatapan sinis dari senior-seniornya ketika berpapasan. Dan ia hanya menanamkan dalam hatinya bahwa semua sudah menjadi terserah. “Elo kalau rapat memang lama.” Suara yang Rinjani kenal, mulai beradaptasi ke indranya. Namun, gadis itu tidak mau membuka matanya. Ia masih ingin menikmati belaian angin tanpa diganggu siapapun. “Saya boleh duduk di sini?” Rinjani tidak merespon apa-apa. Lima menit hening, Rinjani membuka matanya karena ia pikir suara tadi sudah hilang atau hanya halusinasinya saja. Namun, saat dia ke samping terlihat laki-laki berwibawa yang tadi mengenalkan dirinya bernama Nuyyan Anugerah tengah melakukan hal yang sama seperti hal yang Rinjani lakukan tadi. Menutup mata, menikmati hembusan angin yang lembut. “Kalau mau, kamu bisa pulang sama saya?” tawar Nuyyan, masih dengan posisinya yang sama. Rinjani mengedikkan bahunya. Pulang bersama? Oh, tidak akan terjadi. Lagipula mereka bahkan belum berkenalan. Bagaimana kalau laki-laki di sampingnya ini justru penculik yang sedang mengincar organ dalamnya? “Saya bukan member black market yang suka jualan organ dalam manusia.” Nuyyan membuka matanya, menatap ke wajah Rinjani yang terperangah. “Kamu keren saat melawan Jeasy yang super bossy itu,” akunya. Rinjani mengernyitkan keningnya, “Ya, semoga Kakak bis- ….” “Mas,” ingat Nuyyan. Rinjani mengangguk, “Ya, semoga Mas Nuyyan bisa mengubah senioritas yang seperti itu.” “Iya, saya akan men- ….” “Abang!” Rinjani berseru saat melihat Elo keluar dari pintu sekretariat BEM FMIPA dan seruannya berhasil memotong kalimat yang akan Nuyyan ucapkan. Muka abangnya itu kusut dan kusam. Tampaknya rapat tadi sukses menarik semua energi dan kegantengan Abangnya. “Abang sehat?” Elo mengedikkan bahunya. “Tapi kayaknya enggak, sih,” simpul Rinjani. “Terserah kamu, Jan.” “Emmmm ….” Rinjani mengangguk. “Jani pulang sama Abang?” Elo menggeleng, “Abang mau ke kafe.” “Lah? Jani pulangnya sama siapa?” “Jani ikut ke kafe.” Rinjani cemberut, “Jani ada tugas, Abang!” rengeknya. “Rinjani pulang sama saya aja, Lo,” tawar Nuyyan. “Kalau dia mau,” sambungnya sembari menatap ke Rinjani. Elo menggeleng tegas, “Enggak usah, Yan. Adik gue cerewet bukan main.” “Abang!” Nuyyan menahan tawanya, Rinjani menambah kadar cemberutnya. “Enggak apa-apa, saya tahu rumah kamu.” Nuyyan menatap Rinjani, yang ditatap hanya menampilkan wajah pasrahnya. “Jani pulang sama Nuyyan enggak apa-apa, ya?” pujuk Elo. Rinjani terlihat berpikir, “Tapi nanti Jani dibelikan es krim?” pintanya. “Lima kotak.” Rinjani mengangguk, “Deal!” serunya, lalu menyalami Elo. “Titip adik gue, Yan. Kalo berisik lemparin aja ke laut. Dia seneng kok.” “Kalau Abang siap kehilangan Jani, enggak apa-apa, kok!” “Tapi Abang siap, kok!” Plak! Bahu Elo sukses menjadi tempat tangan Rinjani mendarat. Elo dan Nuyyan kompak tertawa, sementara gadis yang ditertawai sudah mengacir ke arah parkiran dengan berlari. Sesampainya di parkiran, ia hanya bisa menatap ratusan motor yang ada dengan cengo. Memangnya dia tahu di mana motor Nuyyan diparkirkan? Bahkan dia saja baru hari ini mengetahui bahwa laki-laki itu bernama Nuyyan. Parkiran yang luas dipenuhi oleh ratusan motor berbagai merk, berbagai tipe, warna, tinggi, bau, jenis spion dan semacamnya. Ternyata, di belakang parkiran motor ini ada parkiran mobil yang tak kalah banyak isinya. Mobil bermacam merk, mulai dari yang termewah hingga yang termahal. Mulai dari bayar tunai, sampai kredit hingga sepuluh tahun. Namun, kendaraan Nuyyan yang mana? “Sok-sokan duluan, padahal enggak tahu kendaraannya. Dasar!” seru Elo yang sudah sampai di belakang Rinjani. Rinjani pura-pura bergidik, “Hih, ada suara di parkiran ini! Ngeri.” Setelah kalimat itu tuntas terucapkan, Rinjani merasakan sakit di kepalanya. “Hih, ada yang jitak Jani!” “Adik gue halunya memang kebangetan, Yan.” Nuyyan hanya tertawa, persaudaraan Rinjani dan Elo unik untuknya. Elo berjalan menuju parkiran motornya yang ada di paling depan, memasukkan kunci, menghidupkan motornya. Setelah itu, menarik gas dan tak lupa mengklakson adiknya dan juga Nuyyan. Tak lupa, senyum manis ia sisipkan di wajah tampannya. “Jani tahu motornya Mas?” Rinjani menggeleng. “Yuk, agak di belakang.” Rinjani menggeleng lagi. “Kenapa?” tanya Nuyyan bingung. “Saya menunggu di sini saja boleh, Mas? Pegal kakinya,” ujar Rinjani. Nuyyan hanya mengangguk, lalu berjalan ke arah motornya yang tampaknya memang terparkir di bagian dalam. Tanpa menunggu lama, ia sudah berada persis di depan Rinjani. Laki-laki itu mengendarai motor antik yang klasik. “WOW!” teriak Rinjani. Gadis itu bertepuk tangan dengan riang. “Motornya keren, Mas.” Nuyyan hanya tertawa. “Keren banget …,” puji Rinjani lagi. Matanya bergriliya mengabsenkan semua bagian motor Nuyyan. “Sudah mau naik atau tetap ingin di sini?” tanya Nuyyan saat Rinjani tidak juga naik ke motornya. “Eh? Ya, naiklah, Mas. ‘kan Mas Nuyyan mau mengantarkan saya pulang ke rumah? Apa enggak jadi?” tanya Rinjani bingung. Nuyyan hanya tertawa dan mengibas-kibaskan tangannya di depan wajah. Baginya, gadis yang ada di hadapannya ini begitu lucu dan menggemaskan. “Duh, Jani, kamu yang lucu ini kok sering dijelek-jelekin sama Elo, sih?” Rinjani memberengut, “Bang Elo sering jelek-jelekan saya, Mas?” Nuyyan hanya bisa merespon dengan tertawa saat mendengarkan pertanyaan Rinjani. Rinjani memalingkan wajahnya kesal saat melihat Nuyyan yang menambah kadar kekencangan tawanya. Melihat ke sekeliling parkiran motor yang sudah diramaikan oleh orang-orang yang juga ingin mengambil motor mereka. Tiba-tiba terdapat bayangan seorang laki-laki yang mirip sekali dengan seseorang di masa lalunya. Seseorang yang sampai detik ini masih membuat hatinya luluh lantak tak terkira. Seseorang yang menemaninya dari kecil hingga umur enam belas tahun lamanya. Seseorang yang begitu dicintainya, bahkan hingga sekarang. Seseorang yang begitu berharga, tetapi sekarang laki-laki itu sudah hilang dari peredaran Rinjani. Laki-laki itu Mahamerunya. “Meru!” seru Rinjani kencang, lalu berlari ke arah laki-laki berkemeja kotak-kotak yang hilang di belokan. Ia menarik napas sejenak untuk menetralkan rasa kaget yang sempat menikam jantungnya. Mahameru tidak pernah kehilangan cara untuk membuatnya kaget. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD