Ternyata Bukan Kamu

1340 Words
"Saya sudah banyak menemukan bahu, tetapi kenapa tidak ada bahu kamu di antaranya, Meru?" - Rinjani *** Rinjani memberengut, “Bang Elo sering jelek-jelekan saya, Mas?” Nuyyan hanya bisa merespon dengan tertawa saat mendengarkan pertanyaan Rinjani. Rinjani memalingkan wajahnya kesal saat melihat Nuyyan yang menambah kadar kekencangan tawanya. Melihat ke sekeliling parkiran motor yang sudah diramaikan oleh orang-orang yang juga ingin mengambil motor mereka. Tiba-tiba terdapat bayangan seorang laki-laki yang mirip sekali dengan seseorang di masa lalunya. Seseorang yang sampai detik ini masih membuat hatinya luluh lantak tak terkira. Seseorang yang menemaninya dari kecil hingga umur enam belas tahun lamanya. Seseorang yang begitu dicintainya, bahkan hingga sekarang. Seseorang yang begitu berharga, tetapi sekarang laki-laki itu sudah hilang dari peredaran Rinjani. Laki-laki itu Mahamerunya. “Meru!” seru Rinjani kencang, lalu berlari ke arah laki-laki berkemeja kotak-kotak yang hilang di belokan. Ia menarik napas sejenak untuk menetralkan rasa kaget yang sempat menikam jantungnya. Mahameru tidak pernah kehilangan cara untuk membuatnya kaget. Kemudian, gadis yang bernama Rinjani itu berlarian dengan rasa rindunya yang membuncah ingin segera disembuhkan. Berkejaran dengan dengan rasa cinta yang tak terkira, yang sampai saat ini tak ia tahu ke mana ujungnya. Saat ini, dia berlarian untuk menemukan muara untuk meluapkan semua rindunya. Tidak mungkin dia sia-siakan, bukan? Rinjani melebarkan matanya saat melihat punggung dengan baju kotak-kotak tadi, “Meru, tunggu!” serunya lagi saat melihat laki-laki yang sama masuk ke salah satu gedung di kampus. “Yaa Tuhan, aduh!” pekik Rinjani jeri. “Rinjani!” seru Nuyyan yang ikut mengejar kemana gadis itu berlari. Rinjani tak mengacuhkan panggilan panik Nuyyan, juga tidak memedulikan lututnya yang perih akibat tersungkur. Ia bangkit, kemudian membersihkan tangannya yang sedikit kotor. Setelah itu kembali berlari untuk mengejar manusia yang sangat mirip dengan Mahameru. Tidak mau kehilangan kesempatan hingga harus membuatnya kehilangan laki-laki itu untuk ke sekian kali. Rinjani sedikit terseok dalam melanjutkan perjalanannya, ia merasakan lututnya sudah benar-benar perih. Mungkin ada sebaret luka yang nangkring di sana, tapi tidak apa-apa. Sungguh, baginya Mahameru adalah apapun yang harus ia serahkan pada semesta agar tetap bisa bersama dengan laki-laki itu. Saat kaki Rinjani juga sudah masuk ke gedung tersebut, ia memandang ke sekeliling ruangan. Namun, tak lagi tertangkap dengan netranya laki-laki berkemeja kotak-kotak yang dikenalinya sebagai Mahamerunya. Puas ia mengitari gedung dengan tergesa, berharap rindu yang selama ini membuncah akan segera terpecah. Namun, tak jua terlihat di matanya seorang laki-laki yang dia pikir adalah pusat segala rasa rindunya. Rinjani berhenti, kakinya sudah kebas berlari ke sana dan ke mari, tetapi yang dicari tak kunjung terdapati. “Meru,” lirihnya penuh dengan kekalutan. Ia mengatur napasnya agar tetap bisa bertahan, apalagi untuk melanjutkan kehidupan. Rinjani menarik dan mengembuskan napasnya dengan pelan, “Apa tadi itu benar-benar kamu? Apa kamu sudah rindu dengan saya? Apa kamu ingin menemui saya? Apa kamu tadi juga sedang mencari saya? Tetapi kenapa saat saya memanggilmu, kamu tidak menoleh? Apakah kamu sudah lupa dengan suara saya?” satu titik air mata mulai menyentuh pipi tembamnya. Rinjani terduduk karena dia merasa bahwa tulangnya sudah tidak ada, “Kenapa kamu enggak ke saya, Meru? Kenapa kamu enggak ke … sini …,” sambungnya sembari menekan ulu hatinya yang kesakitan. “Kenapa kamu berlari, Rin?” tanya Nuyyan saat kakinya sudah berpijak di samping Rinjani. Ia juga ikut menjongkok demi melihat Rinjani dengan lebih jelas. “Kenapa?” tanyanya lagi saat matanya bersitatap dengan mata gadis itu. Rinjani kembali melihat ruangan kosong itu dengan tatapan hampa, “Meru …, Mas,” lirihnya dengan nada begitu lemah. Nuyyan mengernyit, “Meru?” Rinjani mengangguk antusias. “Siapa, Rin?” tanya Nuyyan berikutnya. Rinjani mengembuskan napasnya, kemudian mengedarkan matanya lagi. Ia tampak bingung dan rasanya tidak mengerti. Kenapa laki-laki tadi begitu mirip dengan Mahameru? Apa semesta lagi-lagi mengajaknya bercanda? Apa semesta tidak bosan memainkan perasaannya? “Mahameru Era Arlanta,” ucap Rinjani lirih, sekarang ia sudah tak sanggup menahan air matanya yang banyak meluruh. Dia biarkan rintik bening itu menganak sungai di pipinya. Tak berusaha ia hapus, justru dia nikmati segala rasa rindu yang membuncah, yang akhirnya bisa ia ekspresikan dengan tangisan yang selama ini Rinjani tahan. Semakin lama, semakin deras pula luruhnya. Dia sentuh air mata itu, ia merasakan kelembutan bulirnya, kelembutan yang menjadi simbol rasa cinta dan rasa rindu yang berpadu satu. Sementara itu, Nuyyan yang tak mengerti apa-apa hanya bisa menatap Rinjani prihatin. Ia tak tahu apa yang menyebabkan gadis itu meluncurkan air mata berharganya. Dia juga tak mengerti kenapa gadis yang saat ini di hadapannya tiba-tiba berlari dengan berkali-kali menyebutkan nama seseorang. “Rinjani?” panggil Nuyyan. Ia mencoba menyentuh bahu gadis itu dan merasakan bahwa bahunya bergetar. Dia tidak paham apa yang Rinjani rasakan saat ini, tetapi sepertinya itu sakit sekali, bukan? Rinjani menyeka air matanya yang justru tidak mau berhenti mengalir, “Ya?” sahutnya atas panggilan Nuyyan. “Kenapa, Mas?” sambungnya dengan suara bergetar. “Mau ke kafe atau ke tempat makan, Rinjani? Saya pikir kamu butuh tempat yang lebih efisien untuk menangis. Takutnya kalau di sini saya justru akan disangka sebagai laki-laki jahat yang menyakiti kamu,” ujar Nuyyan. Ia selingi kalimatnya dengan seringaian tipis, berharap hal tersebut cukup untuk memberi sedikit hiburan untuk Rinjani. Mendengar itu, Rinjani mengembangkan senyumnya, lalu mengibaskan tangannya di muka. Berusaha menetralkan gejolak yang dirasakan oleh hatinya, berusaha berdamai dengan rasa rindu yang baru saja berhasil terkeluarkan, meski belum seutuhnya. “Saya nggak apa-apa, Mas.” Rinjani hanya mengangguk pelan. “Kita bisa pulang sekarang?” tanyanya. “Yakin? Kamu enggak apa-apa? Betulan?” tanya Nuyyan memastikan. Rinjani mengangguk pasti, “Iya, Mas, saya enggak apa-apa,” ucapnya meyakinkan. Nuyyan mengangguk-anggukkan kepala dan menatap Rinjani sejenak, “Tentu saja kita sudah boleh pulang. Tapi, kamu mau mencari makanan atau melakukan apa dulu?” tawarnya. Rinjani sebagai pihak yang ditanyai justru menggelengkan kepalanya, “Tidak, Mas, langsung pulang saja. Saya biasa masak di rumah, untuk Abang juga.” “Oh begitu. Ya sudah, ayo ke parkiran lagi. Atau, kamu mau menunggu di sini?” tanya Nuyyan. Rinjani mengangguk lemah. “Mau berdiri dulu?” tanya Nuyyan sembari tegak dari jongkoknya tadu. “Saya bantu?” tawarnya sambil mengulurkan tangan. Rinjani mengangguk lagi, kemudian menggapai tangan Nuyyan dan berdiri walau dia justru sempoyongan. Nuyyan memastikannya bersandar pada dinding ruangan agar tidak terduduk dengan tiba-tiba. Bagi Rinjani, perlakuan laki-laki yang baru masuk ke hidupnya ini termasuk manis, tetapi tetap Mahameru adalah laki-laki termanis yang pernah ia temui. “Kaki kamu luka,” ujar Nuyyan agak panik saat melihat pakaian bawahan Rinjani sudah rembes dengan darah. “Kaki kamu luka, Rin!” serunya. Pupil mata Rinjani membesar saat melihat ekspresi panik yang Nuyyan tampilkan, kemudian ia menunduk untuk melihat kondisi lututnya. Meru, bahkan lutut yang luka ini sudah tidak terasa perihnya saat saya mempunya harapan untuk segera bertemu kamu, tapi harapannya bubar, batinnya. Ia hanya mengembuskan napasnya untuk merespon kepanikan yang Nuyyan tunjukkan. “Rin?” panggil Nuyyan sembari menyentuh bahu gadis itu. “Sudah biasa, Mas,” jawab Rinjani tak acuh, kemudian ia mengedikkan bahunya. “Sudah biasa luka di lutut?” Rinjani menggeleng, “Sudah bisa oleh luka.” Nuyyan menggeleng, kemudian bersimpuh di depan Rinjani untuk memeriksa luka gadis itu. Rinjani menghentikan pergerakkan tangan Nuyyan, “Enggak perlu, Mas, saya bisa mengobatinya di rumah,” cegahnya. Nuyyan mendongak, “Tapi, Rin, itu …,” ucapnya sembari menunjuk luka Rinjani. Rinjani menggeleng, “Saya bisa sendiri, kita pulang saja.” Nuyyan berdiri, kemudian mengangguk, “Tapi aman, Rin?” tanyanya. Rinjani mengangguk, “Semoga, Mas,” jawabnya. “Oke, Saya ke parkiran dulu, ya. Jangan lari lagi, nanti saya bingung mencari kamu ke mana, nanti saja kena ultimatum atau bahkan bogem mentah dari Elo. Dia galak,” ujar Nuyyan, lalu di akhiri dengan tawa sekedarnya. “Apalagi sekarang kondisi kamu luka.” Rinjani tersenyum tipis, “Abang memang galak, Mas.” Nuyyan hanya mengangguk, lalu dia berjalan ke arah parkiran. Sementara Rinjani hanya menunggu di luar gedung yang nyaris saja menemukannya dengan Mahamerunya. Duduk di pelataran gedung dengan gontai, masih tetap berusaha untuk menetralisir rasa kaget dan rasa kangen yang ada di hatinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD