“Saya tahu, kamu pasti tetap baik-baik saja.”
Berhasil melewati satu tahun tanpa Mahameru ….
Tahun pertama tanpamu persis saya lewati beberapa hari yang lalu. Semuanya terlihat baik-baik saja, meski ada rongga yang menganga di dalam hati saya. Tidak apa-apa. Mahameru, setahun sudah kamu berkelana, apa kabar? Ah, buruk sekali saya menanyakan kabarmu di surat ini, sementara sayalah yang memblokade caramu menghubungi saya. Saya egois, ya? Tetapi lebih egois kamu, Meru, kamu pergi tanpa mengajak saya.
Padahal bukan hal yang sulit untuk kamu mengajak saya, ‘kan? Kamu tidak memilihnya dan hal itu sangat disayangkan.
Sehujan dini hari ini tak menetralkan rasa perih yang hadir di dalam hati saya, sehujan yang saya harapkan, ternyata justru meluluh-lantakkan. Sepotong rindu yang tiba-tiba melesak hadir. Memaksa masuk, menerobos relung, membuat pikiran berontak, menjadikan kicauan hati porak-poranda. Tak apa, tak mengapa, silakan hadir, hadirlah saja, saya terima. Biarkan saya menikmatinya, menikmati rasa perih yang diberikan hati, menikmati euforia jeri yang menikam nadi, menikmati kenangan yang sudah lawas terpatri. Tidak apa-apa.
Bukankah saya dilahirkan untuk dicabik-cabik oleh perasaan rindu? Rindu terhadap yang sudah tidak ada, Mama dan Papa. Saya juga harus dihadapkan dengan rindu kepada orang yang ada, tetapi tiada, raganya yang membuatnya tak ada, Mahameru. Sulit, bukan? Ingin mengeluh, tapi kata orang-orang ada yang lebih menyedihkan dari saya.
Padahal … saya sama sekali tidak sedang membanding-bandingkan jalan kehidupan.
Sudah, segitu saja kata-kata yang saya buat. Saya rindu.
Satu tahun tanpamu, Meru.
- Rinjani
***
Matahari terbit setengah jam yang lalu, melemparkan rasa hangat yang menjalar pada rongga d**a. Pagi selalu indah, harapan-harapan baru muncul, bola mata kembali terbuka, lelah-lelah sudah menguar. Semuanya baik-baik saja untuk Rinjani saat ini. Bunga pada tanaman berebutan memekarkan cantiknya. Embun pada pohon nampak memesona. Kicauan burung saling bersahutan ingin mendapatkan perhatian.
Rinjani terpaku menatap langit-langit kamarnya. Kegiatan ini sudah dia lakukan semenjak pagi pertama ketika Mahameru sudah tidak ada. Berbicara dengan dirinya sendiri sembari membayangkan ada percakapan yang hidup di langit-langit kamarnya. Kalau saja masyarakat luas tahu kegiatan anehnya ini, barang tentu ia sudah dicap sebagai gadis yang gila karena ditinggalkan oleh seorang laki-laki.
Setelah berdebat dengan dirinya sendiri dan menghitung waktu untuk hal-hal seterusnya yang harus dia kerjakan, maka Rinjani memilih untuk beranjak dari ranjangnya. Ia berdiri dan menatap dirinya sendiri di depan cermin tegak yang ada di sisi ranjang. Sengaja ia pasang lebih dekat dengan ranjangnya agar bisa bercermin dengan cepat dan agar tetap sadar diri.
“Kamu hebat, Rin.”
Rinjani terdiam sebentar, “Rin?” ulangnya. “Kenapa kamu justru memanggil wanita di dalam cermin ini Rin?” tanyanya pada diri sendiri. Kemudian, ia terdiam lama sembari menatap pantulan matanya yang ada di cermin. Ternyata lama-lama perih juga.
“Sudahlah!” ucap Rinjani sembari memulai aktivitas yang seharusnya ia jalankan sejak tadi.
***
Rinjani mematut dirinya di cermin panjang yang menampakkan tubuhnya dari atas sampai bawah. Menggunakan baju kemeja berwarna putih dan bawahan rok dasar berwarna hitam, memakai almamater kampusnya yang masih baru. Bahkan, belum dicuci. Gadis itu tersenyum.
Menautkan pada diri bahwa sudah satu tahun Mahameru hilang. Tidak apa-apa. Sebentar lagi. Entah ia akan menunggu satu tahun lagi untuk menjumpai laki-laki itu, atau hanya membiarkan dirinya terbawa arus. Entah akan bertemu kembali atau tetap berpisah. Tidak apa-apa. Meski hatinya tak akan pernah mampu, tetapi diri harus menjalaninya selalu.
Ruangan kamarnya sudah rapi. Buku-buku tertata berurutan sesuai ukuran. Pena dan pensil sudah tersusun di atas meja, dalam gelok kaca yang dikhususkan sebagai tempat penyimpanannya. Selimutnya yang berwarna abu-abu sudah terlipat, di samping bantal dan gulingnya. Semuanya baik-baik saja, tetapi tidak untuk hatinya.
Rinjani menarik dan mengembuskan napasnya dengan teratur. Fotonya dengan Mahameru juga masih tertata di tempatnya semula, tempat awalnya, tidak berubah. Biarkan, biarkan ia harus membiasakan diri. Mungkin. Entahlah, rasanya semakin memikirkan sebuah perpisahan yang sudah terlalu banyak akan membuat runyam pikiran dan hati. Gadis itu memijat keningnya yang tiba-tiba saja jadi pening. Sekali lagi, entahlah.
“Semangat, Rinjani, semangat,” ucap Rinjani sebagai mantra hidupnya setahun terakhir ini. Ia mengepalkan tangan dan melemparnya ke udara sebagai bentuk semangat yang sudah ada di hatinya.
Sebulan yang lalu ia dikabarkan lulus di Universitas Pamungkas, satu kampus dengan Abangnya. Jurusan yang sama, hanya berbeda program studi. Elo di program studi kimia, sementara Rinjani di program studi farmasi.
Banyak yang ingin Rinjani ceritakan tentang hari-harinya setahun ke belakang kepada Merunya. Semuanya, rasanya ia ingin menangis, lalu Meru memeluknya, memberikan ketenangan, memberikan apa yang selama ini Rinjani inginkan dari Mahameru: hati dan jiwanya. Bukan malah kepergian tanpa alasan, bukannya kehilangan tanpa kebahagiaan. Rinjani tak mau itu, dia hanya menginginkan Merunya kembali. Namun entahlah, rasanya keinginan itu sudah memuai, bersama kabar yang tak kunjung sampai.
Rinjani menggeleng cepat. Hatinya berseteru.
“Satu tahun lagi.”
Itu suara Elo. Ia melihat adik kesayangannya yang tampak bingung memandang dirinya sendiri di cermin. Bersedih hati, sejak setahun yang lalu. Apa yang sudah Elo lakukan agar luka hati adiknya itu membaik? Sudah banyak hal, tetapi tidak ada yang mempan.
Rinjani menatap kembali wajahnya yang ada di depan cermin, kemudian tersenyum sinis, “Kalau Jani bilang Jani enggak mau ketemu sama Meru lagi, Abang percaya?” tanyanya sembari menoleh menatap Elo.
Elo tersenyum menenangkan, “Abang akan percaya kalau Jani enggak kayak gini. Kalau Jani menjalani hari-harinya dengan biasa aja, baru Abang percaya. Sementara, lihatlah Jani sekarang …,” lirihnya. Ia sangat merasa bersalah atas kepedihan yang adiknya rasakan, tetapi ia bisa berbuat apa?
Rinjani menghembuskan napasnya panjang, melenguh lebih tepatnya. Abangnya benar, kata-kata yang barusan ia ucapkan sulit dipercaya dengan keadaannya yang seperti ini. Benar-benar rindu, rindu yang sudah kelewatan. Kenapa juga dia tak mau jujur pada hatinya? Kenapa juga Rinjani menampik semua fakta, bahwa dia sudah benar-benar rindu untuk bercengkerama?
Elo mendekat ke arah Rinjani dan langsung mengibaskan tangannya saat sudah ada di hadapan adiknya itu, “Eh,” tegurnya. “Mahasiswa baru enggak langsung pergi ke kampus, nih? Nanti dimarahin senior,” sindirnya. Terkadang, ia merasa geram dan gemas sendiri saat melihat Rinjani bengong dengan tatapan mata yang kosong.
Rinjani mengerjapkan matanya berkali-kali untuk mengembalikan kesadarannya, “Bareng Abang?” tanyanya
Elo mengangguk. Ia meraup adiknya ke dalam pelukannya, mentranfer kekuatan. Dia harus memberitahu pada Rinjani kalau di sini masih ada seorang Abang yang selalu berdoa untuk kebahagiaannya.
“Abang sayang kamu, Jan.”
“Jani sudah tahu, Bang.”
***