Saya Belum Berhasil Melaluinya

1280 Words
"Untuk hari pertama tanpa kamu, saya belum berhasil melewatinya." - Rinjani *** Elo makan dengan lahap makanan yang dibuatkan adiknya. Setelah kelelahan, bukan karena membereskan rumah, tetapi mendengarkan nyanyian Rinjani yang tak usai juga sampai sesiang ini. Meskipun begitu, nasi goreng Rinjani memang selalu menjadi juara kedua di hatinya, yang pertama tetaplah diduduki sang Mama. Piringnya sudah tandas, begitupun dengan piring adiknya. Super. “Abang …,” panggil Rinjani dengan sedikit berbisik kepada Elo. Ia sudah selesai makan di saat abangnya itu masih sibuk mengunyah. Ternyata, suasana hening yang tercipta di antara dia dan Elo tidak mengenakkan karena tidak hening-hening amat. Bagaimana bisa hening jika gigi sang abang sibuk beradu dengan sendok saat menyuapi mulut laki-laki itu makanan? Sungguh menyebalkan. Elo mendongak dengan sendok yang masih melayang di depan wajahnya, “Ya? Kunaon, Neng Geulis?” tanyanya dengan nada Sunda yang belepotan. Alasannya adalah karena dia orang Jawa. Rinjani memutar bola matanya, “Nasinya dimasukkan ke mulut dulu, kasihan diambangkan begitu,” ucapnya. Ia melirik pada kerupuk udang yang tersimpan di dalam toples jingga bermerek mahal peninggalan mamanya, sepertinya menggoda dan lezat sekali. Tanpa pikir panjang Rinjani membuka tutup toples itu, mengambil satu lembar kerupuk, kemudian mengunyahnya dengan bahagia. Elo memastikan makanan yang baru saja ia kunyah sudah tertelan dengan sempurna. Didorong oleh air mineral yang tinggal setengah dan nasi dari suapan terakhir itu sukses meluncur di tenggorokannya untuk menuju lambung. Setelah semua prosesi makannya selesai, ia lantas menatap Rinjani dalam-dalam. Dia masih membaca raut dan binar mata kesedihan yang ditampilkan oleh adiknya itu. Elo menggenggam tangan Rinjani yang sudah bebas dari kerupuk udang, karena setelah ia selesai menghabiskan makannya, adiknya itu juga ikut menatapnya. Sekarang mereka justru tatap-tatapan dan saling mengirimkan semangat lewat genggaman tangan yang erat. Mereka tahu bahwa mereka harus melewati semua ini berdua tanpa mengandalkan sosok yang lain. “Kenapa, Jan?” tanya Elo. Rinjani meringis, “Apa menjadi anak kuliahan itu enak, Bang?” tanyanya. “Jani lihat Abang justru sibuk, agak kurusan karena kurang makan. Apalagi Abang juga sedang giat-giatnya mengurus kafe,” sambungnya. Elo tersenyum, kemudian menggeleng, “Kamu nanti juga akan merasakan bahagia di tengah kesibukkan, mengurus bersama kesenangan, Jani … kamu akan merasakan semua ini dengan lebih bahagia dari Abang kok,” jawabnya. “Abang … Jani enggak mau kuliah boleh? Jani bantuin Abang untuk jaga kafe saja, Abang saja yang kuliah, ya?” Rinjani nyaris menurunkan semua air mata yang berkumpul di pelupuk matanya. “Rasanya Jani enggak sanggup kalau harus punya hidup baru sementara Meru belum pulang ….” Nuyyan mengelus puncak kepala adiknya itu. Mau bagaimana pun juga, dia sebagai kakak harus siap sedia memberikan pengertian saat adiknya hilang kepercayaan diri begini, “Kenapa? Jani … Abang sudah janji sama Mama sama Papa untuk terus jagain kamu, untuk memastikan semua perjalanan kamu adalah perjalanan yang baik. Memastikan pendidikan kamu juga termasuk ke dalamnya ….” Ia mengembuskan napasnya. “Abang yakin kamu hanya perlu waktu untuk berpikir lebih jernih kok, Jan …,” terangnya. Rinjani mengembuskan napasnya lemah, “Jani mau ke pantai.” Ia tersenyum sembari melepaskan genggaman tangan mereka. Tidak ada kalimat apapun yang bisa ia keluarkan untuk menjawab ucapan Elo kali ini. Elo menelisik ekspresi adiknya itu, “Sore?” “Iya, masa siang, nanti Jani jadi hitam.” Rinjani mengambil tutup toples kerupuk udang tadi dan menutup kembali toples tersebut. Sebelumnya ia sudah mengambil dua lembar kerupuk udang untuk ia makan. “Tunggu …,” ucap Elo sembari menahan tangan Rinjani agar tidak menutup toples tersebut karena dia juga tergiur dengan kerupuk udang yang dimakan adiknya itu. Rinjani mencebik, “Tadi pas dibuka lebar Abang enggak mau, waktu mau ditutup malah mau.” “Ye, biarin!” Elo mencibir. “Masalah banget, ya, buat kamu?” tanyanya. “Apaan, sih!?” sahut Rinjani bersungut-sungut. Elo tertawa, kemudian mencubit pangkal hidung adiknya itu. “ABANG!” bentak Rinjani. “Itu tangan Abang bekas minyak kerupuknya, nanti Jani jerawatan Abang enggak mau membelikan obatnya, ‘kan!” protesnya. “Maaf … maaf ….” Elo mengambil tisu dan langsung membersihkan tangannya. “Nanti ke pantainya mau sama Abang?” “Maunya sama Meru, tapi orangnya sudah hilang.” Elo membelalakkan matanya, “Hush!” tegurnya. “Jangan kayak begitu ngomongnya, nanti kalau hilang betulan, nangis,” sindirnya. “Memang sudah hilang, Abang …,” jawab Rinjani. “Jani …,” ingat Elo lagil Jani menutup mulutnya, sebenarnya ia sudah rindu dengan laki-laki itu. Gatal tangannya ingin membuka blokiran yang dilakukannya, tapi ia tidak mau merasakan sedih lagi. “Tapi Abang mau ke kampus sama cek kafe dulu, Dek. Ada rapat di kampus,” terang Elo. “Tapi nanti Jani dikasih jajan, ya, Abang?” Rinjani menampilkan wajah memelasnya. “Berapa?” “Dua juta saja, Bang, enggak apa-apa.” “Kepalamu.” “Dih?” jawab Rinjani, kemudian ia tertawa. “Tapi Jani minta uang, ya, Abang?” “Iya,” jawab Elo diiringi dengan anggukkan. “Untung Abang belum punya pacar.” “Iya, ih, sudah semester lima masa belum ada anak Pamung yang kecantol sama Abang?” Rinjani menyelidiki Abangnya. Tidak mungkin kalau tidak ada yang mau sama Abangnya yang super ganteng ini, kata Mama mereka dulu seperti itu. “Memangnya kenapa?” “’Kan Abang ganteng.” Elo tersenyum. “Kata Mama.” Elo membuang napas kasar. Elo menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, ia juga tidak mengerti. “Anak Pamung gengsinya tinggi-tinggi, Dek, enggak kelawan sama Abang. Abang mau fokus sama kamu yang masih galau aja.” Ia tersenyum. “Kasihan, sudah galau terus kurang perhatian pula.” “Ish, Abang!” Rinjani merajuk. “Jani enggak galau, ya!” “Dah, ah, Abang mau siap-siap.” Elo menegakkan dirinya dan berjalan menuju kamarnya. “Jangan lupa beresin rumah, Dek!” Rinjani mencebik, “Siapa, sih, yang suka berantakin rumah? Jani mah mana pernah.” “Iya, Abang, iya.” Rinjani terkekeh. Untungnya ia masih punya Elo yang amat menyayanginya. Semesta, cukup Mama, Papa sama Meru saja. Abang jangan, nanti Jani menenggelamkan diri di segitiga Bermuda biar dimakan piranha. Rinjani menyelesaikan suapan nasi gorengnya, bayangan Mahemeru hadir lagi di otaknya. Buru-buru ia menepis bayangan itu, dia tidak mau menangis sementara dapurnya belum beres seluruhnya. Rinjani harus sibuk, supaya pikiran tentang Meru tidak datang melulu. *** Hari pertama tanpa Mahameru …. Saya memblokir kamu dari segala media sosial yang saya punya, tetapi nama, senyum, tawa, canda bahkan aromamu saja masih terpatri dan tak mau hilang dari hati, jiwa dan pikiran saya. Apa kamu sehebat itu? Punya magis apa dan berguru di mana kamu? Apa dari kecil saya ini sudah teracuni pelet kamu, ya? Meru, apa benar dua tahun itu harus saya percayai? Bagaimana kalau di sana kamu menemukan gadis yang lebih cocok untuk menjadi pendampingmu dibandingkan saya? Saya harus apa? Bagaimana kalau kamu lupa jalan pulang? Apa iya saya harus mengingatkan kamu kalau ada rumah dengan hatimu yang tertinggal di Kediri ini? Kediri menjadi rindu …. Kendiri berubah sendu .… Lariknya menghayat kalbu, menyebabkan sedu… Saya rindu, untuk hari pertama ditinggalkan kamu, saya pilu. Kira-kira kamu sudah rindu belum, ya? Apa kamu masih terduduk di kereta dan memandang ke samping jendela. Apa yang berhasil masuk ke netramu, Meru? Hamparan sawahkah? Lautan birukah? Sabanakah? Gurun pasirkah? Atau, pemandangan-pemandangan lain yang lebih seru? Nanti, kalau kamu sudah kembali, apakah kamu mau menceritakan seluruhnya sama saya? Kamu sudah makan, Meru? Apa makananmu masih sama? Apa kau masih meminum kopi di sana? Atau, kamu sudah punya minuman favorit yang baru? Kamu masih suka nasi padang kah, Meru? Atau kamu sudah mulai suka jenis nasi yang lain? Meru … semoga kamu sehat-sehat, ya. Untuk hari pertama tanpa kamu, saya belum berhasil melewatinya. - Rinjani yang kehilangan Mahamerunya .… ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD