“Aku akan membagi kalian menjadi beberapa pasangan. Diisini ada semacam permainan kecil dari panitia, dan game itu mewajibkan kalian untuk menemukan huruf-huruf yang nantinya akan membentuk nama dari kelompok kalian masing-masing. Burung Bangau adalah kata kunci. Dimana huruf-huruf dari kata Burung Bangau itu disembunyikan, dan kalianlah yang harus menemukannya, setiap pos dilengkapi dengan kejutan-kejutan yang akan menambah poin kelompok kalian, jadi jangan lewatkan sedikitpun kesempatan untuk menambah poin bagi kelompok kalian itu. Mengerti?”
“Siap, mengerti.”
“Oh dan satu lagi, perlu kalian ingat bahwa urutan kalian kembali ke posko utama untuk memberikan hasil kalian adalah yang juga akan menentukan posisi tenda kalian berada. Jadi berhati-hatilah jangan sampai kalian dapat posisi tenda paling ujung, oke!”
“Fakih, aku tunjuk kau sebagai ketua. Jadi kau juga harus siap untuk pergi sendiri, bagaimana? kau siap?”
“Siap, kak.” Fakih menjawab mantap atas tawaran senior kaki gajah itu.”
Ellva bekerja samalah dengan Arizal dan kau Clyde bergabunglah dengan Dewara. Silahkan bekerja sama untuk tim kalian. Siap semua?”
“Siap!” Jawaban serempak keluar dari semangat tim Burung Bangau.
“Oke. Well, aku tunggu kalian tiga jam kemudian disini. Come on, let’s go! jangan sampai tenda kalian berada di paling ujung!” Senior kaki gajah itu bertepuk tangan menyelesaikan perintahnya.
***
Untuk sekian kalinya Ellva mengelap peluh di keningnya, cahaya matahari yang menyorotinya terasa semakin menusuk-nusuk rahangnya saja, air mineral yang Ellva miliki sudah ia habiskan tegukannya beberapa meter sebelum sampai ketempat yang mereka tidak tahu dimana letaknya ini. Arizal menuntun Ellva beberapa saat, lalu berujar,
“Sebaiknya kau tenangkan dulu detak jantungmu itu! aku sudah mendengar detaknya berantakan lagi!” Arizal memandang Ellva sekilas sebelum akhirnya dia maju beberapa langkah kearah depan, dia melirik kompas yang dipegangnya ditangan kiri, lalu mendaratkan tongkat yang dia pegang ditangannya yang lain kebumi.
“Ellv, apakah kamu tidak berpikir bahwa kita salah jalan? aku belum menemukan tanda apapun semenjak tadi.” Arizal mengomentari keluhan Ellva dengan jawaban lagi. Pohon-pohon menjulang yang berdiri seolah menyangga langit luas terlihat diantara dedaunan itu mulai menakuti Ellva dan Arizal.
Ellva memperhatikan Arizal gugup. “Apakah kamu berpikir demikian?” Ellva bertanya dengan ragu.
“Hem, aku tidak yakin. Hanya saja aku pikir kompas yang kita bawa ini mengalami kerusakan. Jadi, mungkin saja apa yang aku cemaskan benar-benar terjadi.” Arizal berbalik menatap Ellva, lalu mengangkat bahu, wajahnya menjelaskan bahwa ia sedikit percaya dengan asumsinya itu.
“Jadi apa yang akan kita lakukan sekarang?” Tanya Ellva padanya, walaupun Ellva yakin sebenarnya dirinya pun tidak percaya bahwa Arizal dapat menjawab pertanyaannya.
“Entahlah, mungkin kita hanya harus menyusuri jalanan setapak ini, walaupun aku tidak tahu kemana jalan ini nantinya akan mengantarkan kita.”
“Oke, baiklah.” Jawab Ellva pasrah, Ellva mulai memaksakan kakinya untuk berdiri kembali sebelum akhirnya Arizal melemparkan botol minumnya pada Ellva. Ellva menangkapnya dengan kaget.
“Eh apa yang kamu-?” sebelum Ellva menyelesaikan kalimatnya, Arizal dengan cepat langsung menyela kata-katanya.
“Minumlah! dan pegang botolnya, aku tidak tega melihatmu kehausan.” Arizal mulai berdiri. “Oh iya, dan tolong jangan menggaruk-garuk lehermu seperti itu, itu terlihat sangat mengerikan.” Lanjutnya lagi, kali ini tanpa menoleh sedikitpun kepada Ellva. Ellva mendengus kesal, namun akhirnya ia hanya bisa berkata, “Terima kasih.”
***
“Kemana mereka? ini sudah satu setengah jam berlalu setelah kami semua menyelesaikan perjalanan. Aku sungguh khawatir.” Clyde memandang sekelilingnya, lalu pandangannya tertuju kepada Zevan yang juga terlihat khawatir.
“Apa yang akan kita lakukan, Kak Zev? mereka masih saja belum kembali.” Clyde bertanya dengan gusar.
“Kamu tenang Clyde, aku tahu kamu khawatir. Bahkan kita semua juga khawatir, aku yang bertanggung jawab disini. Jadi aku yang akan mencari mereka, kalian selesaikan pekerjaan kalian dan aku dibantu beberapa senior yang lain akan berusaha mencari mereka.” Zevan memberi isyarat kepada beberapa temannya untuk segera beranjak meninggalkan tempat perkemahan menuju hutan, lalu mereka mulai masuk ke hutan untuk melancarkan pencariannya.
“Bagaimana? apakah ponselnya bisa dihubungi?” Dewara bertanya dengan cemas, matanya berkelit-kelit penasaran. Tapi jawaban yang bisa diberikan Clyde hanyalah gelengan kepala yang diikuti dengan gigitan bibir.
“Sudahlah, lebih baik sekarang kamu tenang dan selesaikan tugasmu yang lain. Aku yakin para senior itu bisa menyelesaikan tugasnya dengan baik untuk menemukan Ellva.
Dewara memiringkan wajahnya, menatap Clyde yang gusar semenjak tadi.
“Kamu sudah makan?” Dewara bertanya berusaha mengalihkan perhatian Clyde. Yang ditanya hanya menggeleng kecil.
“Nah, lebih baik sekarang kamu pergi ke posko dan ambilah makan siang dari sana, aku yakin perutmu sudah mulai protes karena pemiliknya mengabaikannya. Lagi pula aku tidak yakin kau bisa bertahan dengan rasa lapar, Clyde.” Dewara bertanya dengan sedikit tertawa geli, tangannya mengusap-usap perutnya sendiri, sedikit mengolok-olok Clyde yang biasanya tidak bisa lepas dari makanan.
“Issh.” Kellston mendesis menjawab cemoohan dari Dewara. Mulutnya dimonyongkan tanda tak setuju. Dewara kemudian tertawa geli melihat tingkah Kell yang mulai pergi menjauhi dirinya.