Langit sore mulai menyelimuti atmosfer bumi, bayangan pepohonan mulai menjauhi atau bahkan menghilang dari permukaan bumi. Entah menyembunyikan diri dimana mereka itu, atau mungkin bukan hanya karena sembarang menyembunyikan diri, melainkan karena perpisahan dan pertemuan itu sudah diatur dengan sedemikian cantiknya oleh Tuhan.
Bukan hanya mereka, namun burung-burung yang berterbangan, binatang-binatang karnivora, herbivora atau benda-benda langit yang belum nampak sekalipun telah menyiapkan diri untuk melaksanakan tugasnya masing-masing. Itu adalah bukti nyata bahwa pertemuan dan perpisahan akan terjadi ketika saatnya semua memang harus terjadi.
“Apa kau lapar Ellva?” Arizal melepaskan tas gendongnya dan mulai mengacak-acak isinya, mereka kini berada di bawah pohon yang tinggi menjulang ditengah hutan. Entah dimana mereka kini berada, duduk bersandar kepada batang pohonnya yang lebar dengan kaki yang sama-sama diselonjorkan. Ellva mengusap-usap kakinya bergantian, lalu menatap Arizal perlahan.
“Heem. Benar-benar lapar!” Jawabnya pendek sambil melengkungkan bibirnya kebawah.
“Baiklah, kita lihat apa yang aku temukan didalam tasku.” Katanya pelan masih dengan mata yang disipitkan, mencoba mengira-ngira apa yang dia punya didalam tasnya. Beberapa menit kemudian dia akhirnya mengeluarkan tangannya lalu menunjukan dua buah jeruk ke arah Ellva.
“Sepertinya Tuhan masih memberikan rezekiNya kepada kita. Ini, kamu mau?” tawarnya lagi seraya menyerahkan satu buah jeruk kepada Ellva, senyum kecil mengembang dimulutnya.
“Boleh juga.” jawab Ellva pendek, kepalanya ia miringkan sedikit. Entah kenapa ia merasa kalau Arizal tidak bersikap seperti biasa ketika Ellva mengenalnya pertama kali ketika hari pertama mos dilaksanakan, saat itu ia terlihat sedikit kuno dan culun, juga terlihat seperti lelaki yang perlu bimbingan kelelakian. Jujur saja sebenarnya diawal pun ada sedikit rasa kesal dihati Ellva ketika ia dipasangkan dengan Arizal, kenapa? karena Arizal adalah lelaki yang waktu itu pernah ditolong Ellva untuk mengikatkan tali sepatunya, sehingga Ellva mendapatkan kaki gajah di kedua kakinya karena hukuman dari Zevan si senior kaki gajah itu.
Tapi apa yang dilihatnya saat ini tidaklah demikian. Arizal yang terlihat dimata Ellva saat ini berubah seratus delapan puluh derajat, ia terlihat normal-normal saja seperti selayaknya laki-laki kebanyakan. Ellva menggeleng-gelengkan kepalanya mencoba mengenyahkan pemikiran konyolnya yang ia rasa tidak masuk akal. Ia menghirup napas sejenak, lalu meraih jeruk dari tangan Arizal perlahan dan menggenggamnya dengan kedua tangannya, kakinya kini sudah ia tekukkan. Arizal terlihat memasukan potongan-potongan jeruk itu ke mulutnya, Ellva menatapnya dengan ragu lalu memperhatikan jeruk yang ia genggam ditangan kanannya.
“Kenapa kau tidak memakannya? kau tidak suka buah jeruk?” Arizal tiba-tiba bersuara mengagetkan Ellva yang baru saja mengalihkan pandangannya.
“Maaf, untuk saat ini aku hanya bisa memberikanmu jeruk saja. Karena aku memang tidak membawa bekal apapun. Air mineral cadangan yang aku punya pun sudah aku berikan padamu. Jadi, makanlah yang ada saja.” lanjutnya.
Ellva menarik napas berat lalu mengembuskannya perlahan.
“Bukan, sama sekali bukan itu, tapi...” Ellva terlihat ragu mengatakannya, namun ketika dia melihat raut muka Arizal yang terlihat penasaran akhirnya ia pun berujar pasrah
“Baiklah, baiklah.” Katanya sambil mengangkat tangannya didepan dadanya, seolah ia siap menjelaskan.
“Jujur, aku tidak bisa mengupas buah jeruk. Karena itu aku belum memakannya.” Ellva tersenyum ragu dan malu, Arizal terlihat melongo mendengar pengakuannya, bibirnya terangkat sedikit menunjukan keanehan, lalu sebelum ia berpikir lebih jauh lagi Ellva pun kembali berujar.
“Kalau kamu tidak keberatan, maukah kamu mengupaskannya untukku, supaya aku bisa memakan isinya. Karena sepertinya aku sudah mulai kehausan lagi.” Ellva tersenyum beberapa kali. Kali ini sambil menyodorkan jeruk dari genggamannya kearah Arizal. Arizal masih memandang Ellva tak percaya, lalu sedetik kemudian jeruk itu sudah berpindah tangan dari Ellva ke tangannya. Arizal meraihnya.
“Astaga Ellv, kupikir kamu memang tidak berniat untuk memakannya. Teryata...” Arizal terkekeh kecil sebelum akhirnya memberikan jeruk yang sudah dikupasnya kembali pada gadis itu.
“Ini. Makanlah.” Katanya kemudian.
Ellva mengerutkan hidungnya, lalu meraih jeruk yang sudah dikupas dari tangan Arizal.
“Terima kasih.” Arizal mengangguk kecil, lalu berkata lagi.
“Coba katakan padaku Ellv, sejak kapan kamu tidak bisa mengupas buah jeruk? karena aku pikir mengupas buah jeruk bukanlah hal yang sulit. Benarkan?” Arizal melanjutkan pertanyaannya tentang jeruk itu, lalu menarik kakinya mendekat ke dadanya. Dia memiringkan kepalanya memandang Ellva, alisnya terangkat sedikit, sebelum kemudian tertawa kecil karena mendapati pipi kiri Ellva yang penuh dengan jeruk.
“Astaga, apa kamu benar-benar lapar?kulihat pipimu begitu penuh.” Arizal menggeleng-gelengkan kepalanya.
Glek!
Ellva menelan jeruk yang dikunyahnya sejak tadi, “Apa kamu sedang mengejekku sekarang?” Tanyanya ketus.
“Apa kamu merasa aku seperti itu kepadamu?” Arizal malah balik bertanya kepada Ellva.
“Hemm?” Alisnya terangkat lagi, namun senyum geli itu masih tergambar diwajahnya. Ellva tidak menjawab pertanyaannya, ia hanya mendengus kesal.
“Jadi?” Tanyanya lagi.
“Apa?” Dengus Ellva, kali ini matanya sedikit Ellva pelototkan padanya.
“Lebih baik sekarang kamu gembok mulutmu itu, lalu coba kamu hubungi kembali anak-anak yang lain, karena aku yakin kamu tidak menginginkan kita terus berada disini sampai binatang-binatang buas itu menjadikan kita makan malam mereka bukan?” Mata Arizal terlihat mengerjap, lalu dia pun berujar dengan malas.
“Oke, oke. Akan aku coba untuk memuaskan rasa penasaranmu walaupun aku rasa yang aku lakukan ini akan sia-sia saja, karena kamu sendiri pun tahu kalau sinyal disini sangat nol besar.” Arizal terlihat memutarkan bola matanya dan menghembuskan napasnya pasrah seraya mengeluarkan ponsel dari saku celananya.
Namun sebelum ia benar-benar berhasil menghubungi satupun nomor telepon di ponselnya, terdengar suara seseorang memanggil-manggil namanya dan Arizal.
“Kau dengar itu?” Tanya Ellva pada Arizal, Ellva lalu berdiri dan menarik lengan jaket Arizal untuk mengikuti berdiri.
“Ellva?”
“Apa?” Jawab Ellva tanpa melihat Arizal disampingnya.
“Jangan menarik-narik jaketku. Kamu tahu ini bukan-” Sebelum Arizal benar- benar menyelesaikan perkataannya, Ellva menyelanya dengan kesal.
“Diam Arizal! ini bukan saatnya kamu memamerkan atau mengatakan apapun padaku.
Ellva memandangnya kesal. “Kamu tidak mendengar kalau ada seseorang yang memanggil-manggil nama kita?” Ellva berkata lagi seraya menajamkan pendengarannya kearah depan.
“Kamu dengar itu?”
Arizal mengikuti gerakan gadis itu sambil meletakkan tangannya di telinga
“Iya, aku mendengarnya. Lalu?” ia meletakkan kedua telapak tangannya seolah-olah apa yang didengarnya itu tidak memberikan manfaat yang berarti. Lagi-lagi Ellva mendengus kesal.
“Arizal! baiklah kalau kamu tidak ingin pulang, biar aku sendiri yang mencari sumber suara itu.
Ellva berbalik memunggunginya, namun sebelum gadis itu benar-benar pergi meninggalkan Arizal, sesosok tubuh tinggi dengan perawakan tegap tiba-tiba keluar dari balik semak-semak rimbun didepannya.
“Oh, akhirnya aku bisa menemukan kalian disini.” Sosok itu berkata lega, seolah-olah masalah berat yang dipikulnya telah lepas dengan sendirinya. Ia menumpukan tangannya diatas lututnya, napasnya terdengar masih berantakan.
“Oh syukurlah. Senior kaki gajah, aku sudah menunggu pertolongan ini sejak tadi.” ujar Ellva antusias.
“Kami!” Ralat Arizal cepat.
“Apa katamu?” Zevan bertanya heran dan memandang Ellva dengan pandangan tajam.
“Senior kaki gajah?” Tambahnya lagi.
“Hah,” Ellva membalas tatapan itu dengan ragu. Mata Zevan terlihat menyala dan menuntut penjelasan. Ellva mengutuk kebodohannya sendiri, bisa-bisanya dia seceroboh itu mengatakan hal yang sangat terlarang untuk dikatakan, namun malah mengalir begitu saja dengan lancar.
“Ehm, aku, aku-.” Ellva melirik ke kanan dan ke kiri, berharap mendapat jawaban yang pasti untuk dia berikan kepada Senior itu. Dan sepertinya dewi fortuna memang sedang berpihak padanya saat ini karena tidak lama kemudian empat orang senior yang lain keluar dari balik semak-semak tadi.
“Ya ampun astaga, ternyata Ellva dan Arizal ada disini. Hei, kami sudah mencari kalian selama tiga jam, bayangkan! dan kamu Zevan, kamu sudah berhasil menemukan mereka pertama kali, good job bro!” senior yang ku tahu bernama Daniel itu menepuk punggung Zevan dengan bangga.
“Kamu memang selalu bisa diandalkan teman.” Tambahnya lagi. Yang dipuji hanya mengangkat bahu kecil.
“Sebaiknya kita semua cepat kembali ke perkemahan sebelum bulan tepat berada diatas kepala kita. Katanya cepat, kemudian berjalan mengajak semuanya.