Aku terdiam membiarkan Revan mengoleskan entah apa disetiap jemariku. Dan sialnya aku membiarkannya begitu saja. Well, aku sedang malas berdebat dan benar benar lelah saat ini. Aku juga tidak peduli wajah datar, tatapan tajam dan rahangnya yang mengeras semanjak aku duduk disini.
"Istirahatlah."
"Terimakasih."
Gumamku sebelum bangkit dan meninggalkan Revan diruang tegah, kami sudah tiba di Penthouse nya 30 menit yang lalu. Membiarkanku membersihkan diri sebelum menyeretku dan bermain dengan jariku dan entah apa yang dioleskannya.
Oh yah, Selama aku tinggal disini Revan tidur dan menginap dimana?
Ya tuhan!
Aku merasa bersalah menguasai Penthouse nya seolah aku adalah seorang putri tak tahu malu.
"Amoura?"
Baru saja aku ingin menghempaskan tubuhku keatas tempat tidur laknat Revan sang pemiliknya memanggil namaku.
"Apa?"
Gumamku, ia menatapku dengan mata biru sebiru lautannya dengan diam.
"Kita akan segera menemui keluargaku."
Aku mengagguk dan sialnya tatapan Revan kearah tempat tidur membuatku teringat kejadian yang sangat tidak ingin aku ingat apalagi membahasnya.
"Aku pergi."
***
Oh! My! God!
Aku takut, jantungku sudah menggila bahkan sebelum aku memakai gaun biru malam selutut yang melekat sangat indah ditubuhku. Belum lagi aksen sulur berwarna putih diujung gaub nya yang mengembang serta kerah lebar membuat kalung berbandul cincin milikku tampak anggun disana belum lagi anak anak rambutku yang kugulung dengan asal disepanjang tengkukku.
"Amoura?"
Itu suara Revan, aku bergegas memasang sepatu berhak pendek senada yang entah bagaimana pas dikakiku.
"Kau-"
"Iya, tunggu sebentar."
Gerutuku meraih pelembab yang nyaris kulupakan untuk bibirku yang sedikit pucat.
Selesai.
Aku menoleh dan mendapati Revan yang menatapku dengan mata biru indahnya begitu tajam hingga aku mulai tidak nyaman.
Kuakui dan aku tak akan bisa pernah berbohong jika pria dihadapanku sangat luar biasa tampan.
Kadang aku mempertanyakan kelainan sexualku yang tidak pernah tertarik pada Pria tujuh tahun terakhir ini tentunya sebelum si k*****t Revan datang tiba tiba dan menyerang kehidupan memmmbosanku.
"Ayo."
Aku hanya menggumam membiarkan Revan menggenggam jemariku dengan tangan lebar dan hangatnya.
Satu hal yang membuatku sering kali sulit menolak perlakuan Revan.
Tentu saja.
Kehangatan yang diam diam pria itu tawarkan padaku bukanlah sesuatu yang mudah untuk seorang Amoura sekalipun bisa menolaknya.
**
Perutku kembali bergejolak saat melihat sepasang suami istri dan seorang Nenek yang duduk manis disalah satu meja Restoran yang sangat mewah ini hingga tanpa sadar aku mencengkram kemeja Revan dengan kuat.
"Tidak apa apa."
Bisik Revan mengulurkan tangannya mengusap kerutan dikeningku.
Yatuhan bisakah pria itu berhenti membuatku makin ketakutan?
Perlakuannya membuat wanita yang sudah berumur kuyakini Nenek Revan menatapku dengan tatapan tajam.
"Selamat malam Mom, Dad dan Nenek Cantikku."
"Kau mengejekku Revan?"
"Mana mungkin aku berani, Nenek. Oh yah, Ini Amoura calon istriku."
Aku tersenyum simpul sedikit merendahkan tubuhku memberi salam.
"Selamat malam."
"Selamat malam, Cantik. Jangan sungkan, Silahkan duduk."
Aku cukup lega mendapat sambutan hangat dari Pria paruh baya yang sangat mirip dengan Revan bahkan dari sorot mata tajam yang jelas berasal dari dirinya.
Hanya saja wanita yang aku yakini Ibu Revan itu hanya mengagguk menatapku tanpa minat.
Berbeda dengan Nenek Revan yang menatapku dengan tatapan tajam penuh penilaiannya.
"Selera Revan memang tidak pernah salah, kalau begitu dimana kalian bertemu?"
"Dad.."
"Direstoran, Tuan Greyson."
"Bukan Tuan tapi Daddy!"
Aku sedikit terkejut mendengar permintannya. Dad. Berapa tahun aku tidak menyebutkan panggilan itu?
"Dad?"
"Goodgirl!"
Revan menggenggam jemariku dibawah meja, mungkin pria itu menyadari suaraku yang sedikit bergetar.
"Apa Pekerjaanmu?"
"Amoura Asisten pribadiku, Mom."
"Asisten? Lalu bagaimana dengan Bianca?"
"Bianca masih bekerja denganku, jangan membahasnya. Please?"
Aku merasa bersalah melihat pertengkaran kecil Revan dan ibunya karnaku.
"Seharusnya dia tahu bukan, Dad mu sedang sakit?"
"Nenek.."
"Dan seharusnya dia datang Menjenguk Dad mu."
"Nenek, Amoura juga baru pulih. Dia bahkan sempat tidak sadarkan diri."
"Jangan berusaha membelanya, Revan."
"Nenek.."
Revan terlihat mencoba meredam rasa kesalnya karna tudingan Nenek dan tatapan bosan ibunya.
"Perempuan macam apa yang ingin kau nikahi Revan?"
"Mom, bisakah kita tidak membahas itu sekarang?"
"Kenapa tidak? Kita harus tahu bagaimana dan dari mana dia berasal."
"Mom.. Please.."
"Cukup!"
Aku hanya bisa terdiam, memang apa yang harus kukatakan untuk membela diriku?
Tidak ada.
Karna pada kenyataannya tidak ada yang bisa di banggakan pada diriku.
"Tidak apa apa."
"Memang benar seharusnya orang yang akan mendampingi Revan adalah orang yang berasala dari kelas kelas dan tentunya orang yang setera dengan keluarga kalian. Bagaimanpun, aku tidak memiliki itu. Aku juga sudah mengatakan pada Revan Ka-"
"Dan aku juga sudah mengatakan akan menikahimu apapun yang terjadi, Amoura. "
"Tapi, Revan-"
"Tidak ada tapi, Amoura!"
"Sudahlah, dia saja tidak ingin menikah denganmu jangan memaksanya."
Revan menoleh kearah Mom nya dan aku bisa melihat kekecewaan yang amat besar dimata Biru itu.
"Aku bilang Cukup!"
Wajah Ayah Revan tampak mengeras entah yang mana yang membuatnya narah tapi aku hanya bisa menunduk menatap tangan Revan yang masih setia menggenggam jemariku, sialnya tenggorokanku mulai terasa pahit.
Oh tidak.
Aku pikir aku akan berhenti meminum obat tapi lambungku mulai bermasalah lagi dan ini tentu bukanlah waktu yang tepat.
"Tuan Greyson, Terimakasih untuk makan malamnya. Tapi, sepertinya aku harus pergi sekarang. Sepertinya, aku memang tidak seharusnya disini"
"Amoura!"
"Selamat malam."
Aku menyentak tangan Revan seraya berbalik dan bergegas pergi dengan seraya membekap mulutku.
Aku benar benar merasa mual.
"Amoura!"
Aku makin mempercepat langkahku tidak peduli rasa sakit dan mual yang makin membuat tubuhku bergetar.
"Amoura."
"Ap-"
Aku terdiam saat menoleh pada pemilik tangan yang mencekal lenganku begitu erat. Aku meneguk salivaku susah payah mendapati mata secoklat mataku menatapku dengan tajam seolah ingin mengulitiku hidup hidup.
"Amoura?"
Aku menoleh kearah suara yang jelas milik Revan yang menatapku dengan khawatir bercampur kesal.
Apa lagi saat tatapannya jatuh pada cekalan kuat dilenganku.
"Lepaskan dia!"
"Oh. Jadi sekarang kau beralih jadi p*****r?"
"Jaga mulutmu, Alan!"
Bentakku kesal, rahangnya mengeras membuatku teringat dengan sifat tempramentalnya yang sangat mudah marah.
"Aku mencarimu kemana mana, sialan! Dan kau bersenang senang tak tahu malu diluar sani!"
Aku tahu Alan sangat Cemas padaku dan aku juga tahu seorang Alan menunjukkan perasaannya sangat berbeda dengan orang pada umunya mengingat pria itu hidup dijalanan tujuh tahun terakhir ini dan melewati kehidupan lebih keras dariku yang lagi lagi membuatku semakin merasa bersalah.
"Lepaskan, Amora!"
"Apa pedulimu b******k?"
"Alan, naafkan aku!"
Alan menoleh dan menatapku dengan kesal sekali kali ia melirik Revan yang tampak hati hati kalau kalau pria dihadapanku berbuat hal yang tak akan terduga.
"Aku tanya, siapa dia?"
"Aku calon suaminya!"
"Aku bertanya, Amoura!"
Geram Alan membuatku makin ketakutan, Hey! kalian belum tahu siapa pria menyeramkan dihadapanku ini.
Meskipun aku berani bertaruh Alan tidak pernah berpikir membunuhku.
Tapi tidak dengan orang lain!
"Iya, Dia calon suamiku! Apartemenku di Renovasi dan aku tinggal di Penthouse nya!"
Akhirnya wajah menyeramkan itu menghilang dari permukaan, bahkan cengkraman dilenganku sudah mengendur sebelum ia menarikku kedalam dekapannya dan memelukku begitu erat.
"Aku membencimu, b******k!"
Bisiknya membuatku bernafas lega. Kata benci bagi seorang Alan bisa memiliki jutaan makna yang tak terduga.
Aku sekalipun.
**