Part 11

956 Words
Aku tersentak saat Revan menarik lenganku kedekapannya menatap Alan yang mendengus kesal dengan tatapan membunuhnya. "Kau siapa, Huh?" "Revan!" Revan hanya melirikku sebentar sebelum menatap Alan yang dengan santainya menyalakan sebatang rokok yang terselip dibibirnya. Oh tuhan, maafkan aku tidak bisa menjaga Alan dengan baik. "Dia Adikku, Revan!" "Aku bukan Adikmu!" Aku memutar bola mataku malas mendengar Alan yang begitu ketus dan aku tidak bisa menyalahkan siapapun dengan sikap kasarnya. "Terserah!" "Sudah kukatakan jangan pernah mengatakan kata sialan itu!" Dan aku hanya bisa berdecak melihat tatapan tajam Alan yang siap membunuhku. "Ada apa?" Alan menghembuskan asap rokonya dengan pelan dan aku bisa merasakan dekapan Revan yang makin erat ditubuhku. "Aku pikir kau sudah mati kelaparan di Apartemenmu." "Alan." "Aku tidak berbohong, sekarang kau sudah mempunyai calon suami dan aku tidak perlu repot repot melihatmu." "Alan!" Kesalku dan ia hanya terkekeh menyebalkan sebelum menatap Revan dengan tajam. "Alan." "Revan." Dan aku benar benar bersyukur melihat Alan yang mau berkenalan dengan Revan setidaknya dengan cara baik baik tanpa menggunakan kepalan tangan dan kata kata kotornya. "Kau pria paling gila senang direpotkan perempuan ini." "Alan!" "Sama sekali tidak, aku bahkan senang direpotkan Amoura." Alan menaikkan alisnya seraya tersenyum penuh arti. "Kau yakin? Aku saja menyerah tinggal serumah dengannya. Selain dia merepotkan dan cerewet, dia juga ceroboh, menyebalkan-" "Alan, Stop it!!" Dan Alan hanya menyeringai menyebalkan sebelum memasukkan kedua tangannya kedalam saku jaketnya. "Sebaiknya aku pergi dan kau Revan. Aku akan membunuhmu jika Amoura menangis. Aku benci gadis yang cengeng dan suka merengek." "Alan!" "Jangan temui aku." Alan mengecup pipiku sekilas sebelum berbalik meninggalkan Revan dengan kening yang betlipat lipat. "Entah ini perasaanku tapi, dia sedikit aneh?" Aku mengedikkan bahuku dan menggeliat melepaskan diri dari dekapan Revan. "Bersyukurlah karna aku mengatakan jika kau calon suamiku!" "Aku memang calon suamimu!" Aku mendengus kesal berniat beranjak tapi Revan kembali mencekal lenganku dan memegang kedua bahuku agar menatap kedua mata kristallnya yang indah. "Aku sudah bilang ingin menikahimu, dan tidak ada yang bisa merubah itu." "Dan kau beruntung Alan melepaskanmu hidup hidup!" "Jangan mengalihkan pembicaraan." "Memang begitu seharusnya." "Amoura!" Aku menepis tangan Revan sebelum mengulurkan tanganku menyentuh kepalaku yang terasa berdenyut, Aku bahkan merasa mual. Oh, tidak. Aku melupakan makan malamku. "Amoura?" "Aku mau pulang." **      Aku mengerjapkan mataku sebelum merasakan gejolak hebat yang membuatku melompat dari tempat tidur. Bagaikan ada tangan tangan nakal yang memaksa isi perutku keluar melalui tenggorokanku dengan paksa. Brengsek! "Amoura?" Aku bisa mersakan jemari panjang Revan yang mengumpulkan helaian rambut disisi wajahku dan memijat pelan tengkukku. "Sudah membaik?" Aku hanya mengagguk, selain karna lemas aku benar benar malu membiarkan Revan melihat hal menjijikkan ini. "Ayo, kau harus makan!" "Terimakasih." Gumamku saat Revn membantuku bersandar dikepala tempat tidurnya, aku semakin ragu memanggil Revan b******k dan semacamnya jika ia terus bersikap baik padaku. "Dad ingin menemuimu." Aku hanya diam menatap mangkuk sup masih dengan asap yang mengepul dan aroma gurih menggiurkan. "Hm, apa ada sesuatu?" "Entahlah, Dad hanya ingin menemuimu secepatnya." Aku menggit bibir bawahku cemas akan mendapat sambutan kurang baik -lagi- Oleh Mom dan Nenek Revan yang cukup galak itu. "Kenapa?" "Apa kau yakin dengan pernikahan ini? Kau tahu, bukan? ak-" Aku terdiam saat jemari panjang Revan menyentuh bibirku dengan mata tajamnya yang menatapku dengan dalam. Oh, Bumi! Telan aku sekarang juga! "Jangan katakan apapun, jika itu keluargaku aku akan mengurusnya. Jika itu tentang perasaanmu kita akan sama sama mencari tahu." Juga perasaanmu, Tuan Revan. Bagaimanapun, aku merasa kau hanya tertarik padaku karna rasa ingin tahumu. Ayolah, Amoura! Berpikir berpikir berpikir. "Hei, habiskan makananmu dan istirahatlah." Aku memegang erat lengan Revan yang beniat beranjak meninggalkanku. "Terima kasih untuk semuanya." "Tidak, Amoura. Kau adalah calon istriku, kau menerimaku itu bahkan tidak sanggup menandingi apa yang aku berikan padamu." Aku hanya menunduk terdiam, aku hanya bingung tidak tahu harus melakukan apa atau bersikap seperti apa saat ini. "Amoura?" Lagi lagi jemari itu menyentuhku, menyentuh daguku dan mengangkatnya agar menatap mata biru yang diam diam selalu kupuja. Harus aku akui Revan adalah pria paling b******k yang selalu mampu mencuri hati siapa saja bahkan tanpa melakukan apapun. "Jangan berpikir terlalu keras." Satu kecupan hangat mendarat dibibirku, tidak ada gairah disana hanya isapan lembut sebelum beranjak meninggalkan jejak panas disana, bahkan kehangatan itu menjalar hingga ketulang tulangku. Kehangatan ini. Kehangatan yang sangat aku rindukan. Dan tanpa seisinku air mata itu diam diam jatuh saat Revan menutup pintu kamarnya. Yatuhan. Ada apa dengan kehangatan ini? Dan aku semakin terisak. Revan sialan. Dia membuatku menangis. ** Oke! Aku tahu Arti tatapan Bianca yang seolah ingin melahapku hidup hidup. Apalagi mengingat kejadian waktu lalu yang jelas membuatnya ingin mencabik cabikku. Well, sedikit menyebalkan mengingat Mom Revan saat menyebut nama gadis itu tapi apa daya, aku hanya butiran pasir dalam tumpukan gula. "Tuan Revan, ini hasil perjanjian minggu lalu dengan Artha's Group." Aku hanya melirik Clara yang sedang menyodorkan beberapa kertas didalam map pada Revan. Dan kembali memainkan tablet Revan. Tidak. Aku tidak sedang bekerja. Katakan aku seperti anak kecik tapi aku hanya ingin bermain Game agar pikiranku teralihkan dari seorang Revan. Lagi pula pemiliknya juga tidak kebertan. "Amoura, kecilkan suaranya!" Aku hanya menggumam sebelum menempelkan daguku pada meja kaca masih terpaku pada layar datar ditanganku. "Amoura." "Maaf." Gumamku sebelum benar benar mematikan suara tablet Revan yang entah sedang membahas apa dengan Clara. "Revan!" Aku nyaris menjatuhkan tablet Revan saat pintu ruangan menjeblak dengan kasar menunjukkan wajah Bianca yang memarah karna menahan amarah. Ada apa lagi dengan perempuan satu ini? "Jaga sikapmu, Bianca!" Tegur Revan dengan dingin, matanya menajam berkilat penuh peringatan. Kuakui itu cukup menakutkan. "Kau benar benar kejam padaku, Revan!" "Bianca." "Kau menolakku dan ingin menikah dengan perempuan ini?!" Aku memutar bolamataku malas, bisakah dia berbicara tanpa berteriak? "Jangan menunjukku." Aku menepis jari telunjuk bercat merah yang teracung kearahku. "Keluar dari ruanganku, Bianca!" "Revan!" Rengeknya yang membuat perutku terasa bergejolak, Revan jelas menyadarinya hingga aku tidak sadar sejak kapan pria itu melangkah lebar dan berdiri disampingku memegang bahuku. "Ada apa, Amoura?" Aku memegang lengannya dengan erat saat rasa mual itu makin mendesak. Aku bahkan kesuliatan menggerakkan kakiku untuk berdiri. "Toilet!" Aku tidak tahu apa yang terjadi berikutnya selain Revan yang menggendongku dengan panik menuju toilet. Aku merepotkan Revan -lagi- **
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD