CHAPTER 6.Gadis Lain Itu Bukan Cinta

1140 Words
Baru saja Emily dan Ruby siap merencanakan sesuatu, mereka mendapat kabar dari Judy bahwa mereka semua harus segera pulang secepatnya setelah rapat terhadap akuisisi hotel selesai. Pengangkatan CEO baru harus digelar lusa karena kondisi perusahaan sedang rumit. Hanya sedikit akal-akalan, Judy ingin melancarkan sedikit aksi untuk mendukung hubungan pertunangan anaknya supaya diperkuat publik. Sementara Sky sedang lengah, ia akan mencuri kesempatan mengeratkan ikatan dengan keluarga Bussara. Saat itu Shen merajuk. Sejak Emily mengatainya kain lap, ia menjauhkan diri dari mereka, termasuk Sky. Ia bahkan semakin meradang saat Sky tak mempertanyakan gadis itu ke mana setelah makan malam. Semua berjalan seakan baik saja untuk mereka, tidak untuk Shen. Merasa ada yang salah, Sky mengajaknya bicara setelah persiapan untuk pulang. Ia mengajak Shen ke kamarnya dan bicara perlahan. “Apa kau masih marah?” Sky mencoba meraih tangan Shen, namun ditepis. “Tidak.” Jawab Shen. Tapi Sky tersenyum. Shen menghindari kontak mata tanda ia sedang tidak baik-baik saja. Sky menarik tangan Shen hingga mereka terjerembab jatuh ke atas kasur. Shen berada di atas tubuh Sky yang terasa bergetar halus. Ia pun merasakan hal yang sama, matanya seolah terpaku pada rahang indah yang dekat sekali dengan wajahnya. Irama jantung yang perlahan mulai kencang itu tak mengganggu, justru keduanya menikmati semilir angin laut yang seolah mendukung. “Kau jangan coba untuk membujukku yah , Sky! Aku sedang tidak mau bicara.” Shen berusaha bangkit, namun tubuhnya ditahan oleh tangan kokoh Sky. Sky tak fokus, ia hanya memandangi bibir seksi Shen dan berulang kali meneguk Saliva. Tangannya sedikit merambat ke bagian lain, ia berusaha menekan dirinya sekeras mungkin. Anehnya tubuh Shen sedikit bereaksi, ia memejamkan mata terlihat menikmati setiap sentuhan tangan Sky, ia bisa menggila dan lepas kendali juga. “Aku tak membujukmu. Aku hanya ingin menghabiskan waktu sebentar sebelum pulang dengan kekasihku.” Wajah Shen memerah, berusaha mengalihkan pandang ke arah balkon untuk menerima udara segar. Rasanya suite yang luas itu lebih pengap. Tiba-tiba ia merasa tersentak ketika tubuhnya sudah berada di bawah Sky. Rasanya seperti akan tenggelam, Sky meliuk dalam cerukan leher Shen yang sensitif. “Aku tahu kau mau menghabiskan waktu denganku, katakan kalau kau suka.” Bisik sky halus. Ia merengkuh pinggang Shen dengan tegas. Shen tak mampu mengeluarkan suara kecuali anggukan kecil. Apakah ia pasrah? Untuk saat itu ia akan pasrah dengan apa pun yang akan dilakukan Sky terhadap dirinya. Tubuhnya lebih ringan, seperti balon yang melayang di udara dan bertemu bianglala yang indah. “Kau suka?” bisik Sky sekali lagi, “Apa aku boleh menyentuhmu seperti ini?” Kontak mata semakin bertaut, Sky langsung melumat bibir Shen dengan lembut. Gadis itu membalas, ia tak mau kehilangan moment ini dengan tak menyambut sikap Sky. Semakin lama semakin panas, Sky tak sadar hingga melepaskan kemeja kerja yang belum sempat ia buka. Hingga beberapa waktu ia kembali tersadar. Ia sudah berbuat terlalu jauh dan membetulkan pakaian Shenina yang acak-acakan. Sky menghindar. Sementara Shen langsung bangkit dengan muka lebih padam. Antara malu dan kesal. Ia malu terlalu terbuka di hadapan Sky dan ia kesal karena menganggap Sky mempermainkan dirinya. Namun bayangan kejadian itu lebih membekas daripada yang ia duga. Ia segera berlari keluar kamar Sky dan terduduk di atas kasur hotelnya sendiri. Tubuhnya tenggelam dalam ranjang yang empuk dan berkhayal seolah ia tengah memeluk Sky. Apa yang ia pikirkan barusan? Apakah ia menyukai perbuatan Sky? Sejujurnya ia sangat mendamba hal itu. Di mana hanya ada ia di pelukan Sky, menyelami cinta dan berbagi kasih sepanjang waktu. Ia hanya menunggu waktu yang tepat, waktu yang menyatukan dirinya dengan Sky dalam ikatan sakral, dan Sky miliknya selamanya. “Apa kau tidur nyenyak, nyonya Sky?” goda Sky ketika ia membukakan pintu mobil untuk Shen. Mereka akan berangkat ke bandara dengan formasi yang berbeda. Kali ini, Shen duduk di depan bersama Sky. Ruby yang mengetahui bangkunya telah direbut, memilih untuk ikut di mobil kedua bersama Emily dan Orlando. Jangan kira bahwa ia akan tenang, ia justru menyimpan kemarahan yang sangat besar dan bersiap menyatakan perang terhadap Shen ketika pulang nanti. Ia tak terima, Sky mengabaikannya bahkan saat ia berbicara. Ia selalu menatap Shen dan mengutamakan gadis itu dalam segala hal. Membuatnya murka dan sangat ingin menampar mulut Shen yang licik. “Kau tak takut orang lain melihatmu denganku?” Shen bertanya karena penasaran. “Karena Ruby tunanganku?” Sky menyetir dan berusaha fokus. “Ya, kau kan selalu bilang reputasi nomor satu.” Sindir Shen. “Sekarang buatku kamu yang nomor satu.” “Sky jangan bercanda!” Meskipun Shen senang, tapi ia sedikit ragu. “Memang kuakui reputasi nomor satu untuk keluarga Andromeda. Aku tidak merajuk lagi, sekarang aku paham maksudmu.” “Apa yang nyonya Sky pahami?” “Maksudku memang kau terlahir untuk mengutamakan itu semua. Kalau kau mengutamakan aku, justru itu ... Maksudku istimewa.” “Kau memang sangat istimewa untukku.” Sky tersenyum seraya mengelus rambut Shen gemas. “Setelah sampai di rumah, aku akan menemui keluarga Bussara dan minta maaf.” Mata Shen melotot sempurna. Ia tak menyangka Sky akan membuat keputusan yang cepat hanya dengan sekali rajukan darinya. Ia yakin Sky akan melakukannya, kesungguhan dari ucapannya benar-benar membuat Shen yakin. “Aku akan membatalkan pertunangan kami dalam jumpa pers Minggu depan dan mengatakan kalau aku sudah punya kekasih.” Lanjut Sky. “Kau akan membukanya ke seluruh publik?” Shen terkejut. “Aku tak mau menunggu lama kalau itu akan menyakiti hatimu, Shen. Selama ini memang aku yang terlalu bodoh dan mengikuti kemauan mereka.” “Aku senang kau mengambil keputusan itu.” Lusa kemudian acara pengangkatan Sky sebagai CEO resmi dari Andromeda Group dilaksanakan. Hal yang sama terjadi, orang-orang terpandang, relasi keluarga yang sama besar dan kemeriahan pesta yang tak kalah megah dari pertunangan Sky sebelumnya . Seolah semua telah dirancang bak pesta pernikahan yang membuat orang akan berpikir bahwa tak lama lagi memang akan ada pesta lebih besar yang terjadi. Semua orang bersulang dan menyatakan selamat kepada Sky secara langsung. Ruby turut hadir menggandeng tangan Sky meski beberapa kali ditepis walaupun di depan tamu. Sky mulai terbiasa cuek, ia tak mengharapkan kehadiran Ruby dan mengalihkan setiap pandangannya ke beberapa tempat. Ia mencari keberadaan kekasihnya. Beberapa saat kemudian ia mendapatinya sedang berdiri dengan pose menggoda dekat kolam renang. Ia mengenakan gaun hitam yang elegan pemberiannya dulu. Gaun yang paling ia sukai karena mengekspos semua sudut kecantikan Shenina. Ia mengambil ponsel dan melihat gadis itu melakukan hal yang sama. “Kau mau keluar?” ucap Sky. “Tentu. Kalau tuan Sky yang terhormat mau menghabiskan waktu denganku, apa boleh buat.” Balas Shen centil. “Hei!” Sky sudah berada di dekat Shen dan mengulurkan tangan. Sky meraihnya dan mencium dengan khidmat. Beberapa tamu yang berada di dekat mereka sangat heran, kenapa seperti ada pasangan yang tertukar di sana. Beberapa mulai bergunjing, Sky tak peduli, ia menarik Shen berlalu. “Aku menyiapkan hadiah spesial untukmu ...”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD