Chapter 5. Drama

1122 Words
“Hai, Shen!” Ruby berdiri di samping Sky dengan gandengan yang sama sejak siang. Ia tak bisa menyembunyikan raut wajah. Sky sudah menepis berulang kali, ia sadar dan melepas tangan Ruby dengan kasar. Ia mengulurkan tangan kepada Shen dengan suasana yang aneh. Sekali-sekali ia melirik sekitar, publik akan kejam menggoreng informasi soal siapa saja untuk mendapatkan sensasi. Sekali lagi ia teringat perkataan Judy, reputasi keluarga adalah segalanya. “Kau tidak akan menggandeng wanita lain di depanku kan, Sky?” Ruby berpura-pura tidak peka terhadap keadaan. “Kita sudah bertunangan, meski kau membawa masa lalumu, tidak baik terus bersamaan, apalagi di depan seluruh orang.” “Masa lalu?” Shen hendak membalas, tapi ditahan oleh Sky. “Shen juga keluargaku. Kau tak berhak berkomentar.” Balas Sky. Rasanya Ruby akan mengumpat dan histeris. Ia diabaikan secara langsung di hadapan gadis yang ia benci. Dalam hati Shen apakah ada yang tahu, bahwa diakui sebagai keluarga bukan suara hatinya. Ia tak pernah diakui sebagai kekasih kepada satu orang pun. Tapi Sky menggandengnya malam ini, hatinya sedikit terobati. “Ba-baiklah! Kalian duluan saja kalau begitu. Aku ke kamar Emily dulu.” Ruby memencet kamar di sebelahnya dengan tak sabar setelah menyaksikan Shen dan Sky pergi. Lama tak mendapat respon, ia menggedor pintu Emily dengan tak sabar. Ruby langsung menerobos masuk dan terduduk di atas kasur. “Kenapa lagi?” Emily sudah terbiasa melihat kekesalan Ruby, seolah ia tahu apa penyebabnya. “Apa kau merasa kalau Shen itu semakin mengganggu?” Ruby bertanya sambil mencengkeram spring bed dengan kuat. “Dari sejak dia datang ke keluarga kami, sudah mengganggu.” Balas Emily datar. Ia melanjutkan mengeringkan rambutnya yang sempat tertunda. “Dia itu seperti lintah yang menghisap habis darah Sky. Lihat! Kau hanya dapat rangkanya saja!” “Sialan!!!!” Ruby menggertak hingga Emily kaget. Beruntung hair dryer yang ia pakai tak terlempar ke wajah Ruby yang mulus. “Tenang! Kita beri pembantu itu Shock terapy sebentar lagi.” “Kau harus membantuku, Mily!” “Tentu saja! Kau pikir aku sangat menyukainya sampai aku tak tega?” “Arghhh!! Aku benci pembantu itu, Mil!” Ruby menarik selimut yang rapi hingga keluar dari sisi-sisinya. Emily datar saja, sekali lagi karena ia paham sikap Ruby sejak dulu. Meski rautnya penuh ekspresi, kalau ia tidak suka, itu akan tercetak jelas di wajahnya. Di sisi lain, Sky dan Shen duduk di meja resto dengan dingin. Sky dengan gerak-geriknya seakan tak ingin ada orang yang memerhatikan, dan Shen yang merasa tak dihargai seperti hanya dijadikan asisten. Yah, memang benar, ia hanya asisten dalam konteks yang lebih sopan. Shen tak hendak memulai pembicaraan, Hanya karena Sky berdehem untuk memecah keheningan, ia menunjukkan sedikit reaksi. “Maaf ...” ucap Sky perlahan. “Apa ini, Sky? Kamu tau betapa terhinanya aku dengan keberadaan Ruby?” Shen tak mampu menahan gejolak hatinya lagi, kali ini biar ia keluarkan semua uneg-uneg yang terpaksa diam. “Shen, tenanglah. Ruby juga tak bersalah dengan apa yang terjadi.” “Reputasi, yah? apa semua keluarga kaya lebih butuh reputasi ketimbang perasaan?” “Shen, hanya sebentar lagi. Setidaknya satu bulan lagi, lalu semua akan pulih seperti kita dulu.” Shen menggeleng. Satu bulan lagi untuk hubungan mereka pulih, atau sebulan lagi ia akan siap kehilangan Sky untuk selamanya? Melihat Ruby saja ia seolah tau semua sudah direncanakan dengan matang oleh mereka. Konon lagi dengan Judy, sampai mati pun ia tak akan menerima Shen. Sejujurnya dalam hati kecil Shenina, mereka tak akan berhasil. “Kenapa aku merasa sebulan itu kamu akan menjadi milik orang lain, ya?” Shen menunduk, air matanya jatuh tanpa bisa dibendung. “Kamu mulai nyaman di dekat Ruby, padahal saat tidak denganku, kau lebih memilih sendiri. Melihatmu tersenyum padanya, berjalan beriringan, dan dikagumi banyak orang, rasanya tersiksa sekali.” Sky terdiam. Ia mengaku salah dalam hati, tapi nampaknya Shen sedang salah paham. Ruby cerewet, hingga membuatnya ingin selalu membalas. Shen hanya salah mengartikan maksudnya. “Tolong jangan menangis, Shen.” Sky mengelus tangan Shen dengan lembut. “Aku tahu ini salah, tapi aku hanya akan menjadi milikmu. Kita sedang menunggu waktu yang tepat untuk bicara dengan semua orang. Untuk menunggu waktu itu, kita harus tenang tanpa membuat huru-hara.” “Jadi aku menjadi pencetus munculnya huru-hara?” “Sudahlah, Shen. Tolong pahami kondisi sekarang, kau biasanya paling pengertian.” Sky melihat kedatangan Ruby dan Emily. Mereka diikuti para fansnya hingga ke meja tempat mereka berada. Shenina menjauh dari kerumunan, hingga menyisakan Ruby dan Sky. Mereka sibuk mencecar dan meminta pose manis sebagai kenang-kenangan. Banyak pula yang mendoakan semoga hubungan mereka langgeng sampai mati. Shen muak. Ia muak semuak-muaknya dengan drama Ruby di depan kamera. Tak jauh dari sana, Emily tengah berjalan menggenggam segelas besar minuman berwarna merah. Dengan sengaja ia lewat di depan Shen, pura-pura tersandung, dan menumpahkan semua cairan itu ke tubuh si gadis. Shen kaget, sekilas senyuman Emily terlihat di ekor mata. Sengaja. “Upps! Aku kira kau kain lap!” Emily berlalu. Orang-orang yang mengidolakan Ruby telah pergi, hingga di meja menjadi tiga orang. Shen telah basah, warna merah pekat itu menjadi noda memalukan di gaun putihnya. Sky fokus pada ponsel, hingga tak melihat apa yang terjadi dengan Shenina. Sampai akhirnya gadis yang terabaikan itu memutuskan kembali ke kamar dengan hati yang perih. “Apa kalian melihat Shen?” tanya Sky pada Ruby dan Emily yang asyik bercerita. “Ahhh! E ... Tadi dia keluar, katanya mau cari udara segar.” Ruby berbohong. Padahal mereka sudah mengalihkan perhatiannya supaya tidak mengingat gadis itu lagi. “Sky, Apa kau mau berjalan-jalan ke tepi pantai? Aku sangat ingin membuat vlog dengan suasana malam yang indah. Tolong, ya??” Sky masih diam. Ruby terus merengek hingga telinganya terasa penuh. Ia mengiyakan saja supaya gadis itu cepat diam. Lagipula ia hanya asal jawab, mungkin kegiatan itu tak akan pernah terjadi. Ia masih memikirkan hubungannya yang rumit dengan Shen sampai sekarang. “Nanti aku akan ke kamarmu.” Balas Ruby semangat. “Tunggu saja aku di luar, jangan pernah masuk ke kamarku.” Sky melenggang pergi dengan cuek. Ruby menumpahkan semua kesalahan atas sikap cuek Sky dan keberanian Shenina dalam mempengaruhi Sky. Ia sangat ingin membuat kedua orang itu berpisah. “Kau harusnya jangan terang-terangan!” Emily mengomentari sikap Ruby. “Sky itu naif. Dia menyukai gadis yang merawatnya, bukan yang mengejarnya!” “Seharusnya dia beruntung, tahu? Seorang influencer dan pebisnis cantik sepertiku mengejarnya dari zaman sekolah putih abu-abu! Sialnya, ada gadis yang menghalangi melulu. Apa kau masih bisa sabar?” Emily meneguk wine yang tersaji sampai tandas. Kerongkongannya terasa kering, sampai ia merasa harus menyelam ke dalam laut. “Aku menyesal tak menumpahkan air panas tadi,” timpal Emily, “tak apa, tugas kita di sini harus selesai. Shen harus mengubur cintanya dalam-dalam.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD