Chapter4. Ego

1140 Words
Esoknya Shen terbangun di pelukan Sky. Entah kapan lelaki itu pulang dan menemaninya sepanjang malam. Ia tersenyum, ketika mata Sky terpejam ia terlihat tampan. Shen menyentuh hidung dan bibirnya bergantian. Ia masih merasakan kecupan hangat Sky sebelum ia pergi. Wanita mana yang tidak menggila mendapatkan Sky? Tampan, kaya, dan royal. Ia meratukan Shen meski mulutnya tak selalu mengaku. Di dekatnya, perbedaan sosial itu tak pernah ada, ia mengenal Sky lebih dari siapa pun. “Kapan kau pulang?” bisik Shen pelan. Sky tersenyum. Rupanya ia hanya pura-pura memejamkan mata menunggu Shen bangun. Ia terjaga sepanjang malam ditemani beberapa botol alkohol sebelum membaringkan diri di samping Shen. “Kau tidak berbuat macam-macam, kan?” wajah Shen membulat. Ia baru sadar sesuatu. Semalam, ketika ia kabur lewat jendela, ia ingin menemui Sky. Anton berada di rumah sendirian dan menyeretnya ke gedung teater. Seluruh istana Andromeda sangat sepi, hanya beberapa pengawal yang berjaga di depan gerbang, jauh letaknya dari bangunan utama. Sesampainya di sana, ia melempar tubuh Shen ke atas kursi dan mulai mendekat. Shen berontak, namun tenaganya kalah jauh hingga membuatnya terbanting. Beberapa kali Anton merobek paksa seragamnya, Shen tetap mampu mengelak. Tenaganya habis. Ia sudah tak sadarkan diri sebelum ia melihat Orlando meringsek masuk. “Aku minta maaf atas semua yang terjadi, Shen. Setelah ini, aku pastikan semua baik-baik saja.” Sky membelai wajah Shen dengan lembut, “Tidak akan ada pernikahan antara keluarga Bussara dan Andromeda.” “Maksudmu?” Shen menatap tak percaya. “Mama juga tidak akan bisa mengubah keputusanku.” “Apa kau serius?” Shen masih tak percaya, “Kau paling tidak bisa membantah kata-kata nyonya.” Sky tersenyum. Kali ini ia merengkuh tubuh Shen dengan erat. Ia seakan tak mau memberikan kesempatan pada siapa pun untuk memisahkan mereka. Mengapa ia sangat mencintai Shenina? Karena Shen adalah satu-satunya orang yang paling peduli dan mengerti soal dirinya. Keluarganya hanya sibuk mengurusi bisnis, sementara Sky kecil yang kesepian menjadi introvert karena keadaan. Sampai sosok gadis kecil datang ke istana Andromeda dengan ibunya. Judy menerima mereka dengan mudah, padahal seleksi untuk menjadi pelayan di keluarga mereka tidak sembarangan. Mereka selalu bersama hingga perasaannya berubah menjadi kasih sayang tak terbendung dan menyatakan cinta. Gayung bersambut, Shen ternyata menyimpan rasa yang sama, hingga terciptalah hubungan rahasia antara pewaris Andromeda Group dan pelayannya. “Kita akan ke luar kota besok.” “Kenapa? Apa ada sesuatu?” “Aku harus mengurus beberapa hal dengan Klien terkait akuisisi hotel Le Meredien secepatnya. Persiapkan dirimu, kita akan tinggal 3 hari di sana.” Jelas Sky. “Hanya kita berdua?” “Orlando, sepupuku Emily juga akan ikut. Karena sebagai kepala pengawas, ia harus ikut menyidak kelayakan konstruksi bangunan hotel. Apa kau keberatan?” Mungkin Sky berpikir soal insiden air tumpah itu akan membuat relasi keduanya menjadi tidak nyaman. Emily tak perlu ikut jika memang Shen tidak nyaman. Tapi Judy memaksa Emily untuk berada di sampingnya saat kunjungan kerja itu. “Tidak, kok. Pekerjaan memang harus menyertakan ahlinya. Aku dan Nona Emily baik-baik saja, Sky.” “Baiklah. Aku akan mengurus semua kebutuhanmu, kamu hanya perlu berangkat denganku saja, Shen.” Esoknya Ruby datang dengan dua koper penuh yang diangkut oleh supir pribadinya. Sky dan Shen kaget. Berbeda dengan mereka, Judy dan Emily tertawa girang akan kehadiran Ruby, mereka menyusun rencana yang tidak semua orang tau. Sky langsung menarik tangan Judy ke tempat lain. Ia benar-benar harus mempertanyakan hal itu. “Mama sudah janji tidak akan memaksa pernikahan kami, kan!?” “Sky sayang, dengarkan mama,” Judy mengelus telapak tangan Sky, “Mama tak memaksamu, tapi coba pikirkan, kau baru saja tunangan kemarin, tidak mungkin hari ini langsung mengumumkan pembatalan mendadak. Setidaknya hormatilah keluarga Bussara. Hormati citra Ruby sebagai perempuan, tokoh publik , yang semua orang tau bahwa ia wanita terhormat. Kau menunjukkan sikap acuh di depan umum saja sudah menjadi pemberitaan, apalagi pembatalan pertunangan!” Judy memasang wajah penuh harap. Ia sangat ingin Sky menerima saja idenya, dan perlahan-lahan ia bisa merubah keputusan Sky. Ia memainkan intrik kotor, ia akan bermain secara halus sampai impiannya terlaksana. “Tunggu lah satu bulan lagi, mama sendiri yang akan bicara dengan keluarga Bussara.” Yang dikatakan Judy memang ada benarnya. Keluarga Bussara tidak bersalah atas pertunangan mereka. Semakin ia pikirkan, semakin ia menyesal tak menolak dari awal rencana Judy itu. Terbayang raut wajah Shen di matanya, apakah gadis itu akan nyaman dan mau memberikan waktu sedikit? Satu bulan lagi, ya, satu bulan dan ia akan menjadi milik Shenina selamanya. “Baiklah, ma. Setelah itu, tak ada yang bisa menghalangi keputusanku!” Judy tersenyum puas. Ia menghantar kepergian anaknya dengan ramah yang dibuat-buat. Ruby merebut kursi depan milik Shen yang terpaksa pindah ke belakang. Meski dalam hati berdebar dan bertanya-tanya, soal kemungkinan janji kekasihnya semalam, ia akan tetap percaya sampai Sky mengucapkan sendiri kepadanya. Ia memilih maklum. Membiarkan sakit tersembunyi dalam sunyi, walau rasanya terkoyak tercabik-cabik. Sepanjang jalan Shen hanya diam. Ia hanya menyaksikan interaksi dua manusia di depannya dengan perasaan campur aduk. Ia tak dapat membayangkan jika Sky bisa tersenyum karena gadis lain yang berusaha mencari perhatiannya. Hanya ia yang berhak. Seingatnya Sky juga pernah berkata, ia jarang tersenyum jika ia tak menyukai lawan bicaranya. Apa jika ia tersenyum sekarang, lantas mulai menyukai Ruby? Setelah mendarat dengan mulus sekitar jam 12 siang, mereka memilih untuk istirahat di kamar masing-masing. Esok hari baru mereka melakukan inspeksi bersama. Shen memilih untuk menikmati aroma laut favoritnya dari balkon kamar yang menghadap ke bibir pantai. Dari jauh, ia melihat Ruby dan Sky tengah menikmati suasana yang sama dengan bertelanjang kaki. Ia melihat Ruby tersenyum cerah, tatkala mereka dikerubuti oleh fans Ruby, gadis itu mulai menggelayuti tangan Sky. Mereka adalah pasangan paling serasi tahun ini menurut media social yang sedang ia baca sekarang. Publik tahu mereka tengah berada di kota itu hanya dengan satu postingan Ruby. Dengan status mereka sebagai tunangan, Shen hanya bisa meringkuk di atas kasur, mustahil mendekati Sky. Ia meraih ponsel, mencoba mengirim pesan teks pada kekasihnya berharap pemandangan yang mereka buat segera usai. [Sky, kau di mana?] Ia melihat Sky tidak memperhatikan ponselnya dari kejauhan. Hingga pesannya terabaikan, Shen menangis dalam diam. Ia memilih untuk terbaring di atas kasur. Sorenya ia terbangun. Ketika mengecek ponsel ia mendapati pesan Sky. Lelaki itu tak membalas pesan yang sebelumnya. Dia hanya bilang akan menjemput Shen saat makan malam nanti. Shen kembali rebah, tubuhnya terasa lemas tak bertenaga. Dunianya tanpa Sky hanyalah muram, ditambah ia menyaksikan dengan mata kepala sendiri bahwa Sky bersikap manis terhadap wanita lain meski hanya sebagai pencitraan. Pukul 18.30 ia sudah bersiap. Bel pintu kamar berbunyi menandakan bahwa Sky sudah ada di depan pintu. Betapa rindunya ia ketika seharian tak bertemu Sky. Meski hatinya sangat panas, rasa cemburunya lebih besar. Saat membuka pintu nanti, ia akan menghambur ke pelukan Sky dan menikmati aromanya lebih lama. Hatinya kembali berbunga. Dengan wajah merah merona ia membuka pintu, dan ...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD