Harga Sebuah Janji
“Seperti yang sudah kalian janjikan kepadaku, pernikahan antara Iren dan Daffin harus segera dilangsungkan. Semakin cepat, semakin baik.”
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi bagiku rasanya seperti petir yang menghantam tepat di tengah hati.
Aku baru saja menginjak usia sembilan belas tahun. Hari ini seharusnya menjadi hari yang membahagiakan. Aku baru pulang membawa sesuatu yang selama ini kuperjuangkan—selembar ijazah SMA dengan nilai yang membanggakan.
Aku membayangkan wajah bahagia Papa dan Mama ketika melihat hasil belajarku. Aku membayangkan mereka tersenyum, memujiku, dan mengatakan bahwa aku sudah tumbuh menjadi anak yang membanggakan.
Namun, kenyataan yang menungguku di rumah justru berbeda. Bukan pelukan. Bukan ucapan selamat. Melainkan sebuah keputusan yang mengubah hidupku. Sebuah rencana pernikahan yang diharuskan untukku dengan laki-laki yang bahkan belum pernah kukenal.
Tanganku masih menggenggam erat ijazah itu ketika aku berdiri di ambang pintu ruang tamu. Aku menatap orang asing yang baru saja berbicara tentang masa depanku seolah-olah hidupku hanyalah sebuah kesepakatan.
“Maaf kalau saya lancang,” ucapku dengan suara bergetar. “Tapi saya tidak setuju dengan pernikahan ini. Aku menolaknya dengan sadar!”
Semua mata langsung tertuju kepadaku.
Aku tahu perkataanku terdengar kasar. Aku tahu mungkin aku dianggap tidak sopan. Namun, bagaimana mungkin aku hanya diam ketika seseorang menentukan seluruh hidupku tanpa meminta pendapatku?
Aku masuk ke dalam rumah tanpa menunggu izin. Ini hidupku. Masa depanku. Dan aku berhak memperjuangkannya. Aku berhak mencari kebahagiaanku sendiri.
“Iren? Kamu sudah pulang?”
Mama Rita segera berdiri dari kursinya dan menghampiriku. Wajahnya terlihat lembut, seperti seorang ibu yang khawatir kepada anaknya. Namun, aku tahu sisi lain dari dirinya.
Mama Rita adalah ibu sambungku. Papa menikah dengannya setelah Mama kandungku meninggal dunia. Saat itu usiaku baru tujuh tahun. Aku masih terlalu kecil untuk memahami kenapa hidupku berubah begitu cepat.
Aku hanya tahu, sejak hari itu rumah yang seharusnya menjadi tempat ternyaman perlahan terasa asing. Mama Rita datang bersama putrinya, Tisa. Awalnya aku berharap memiliki seorang kakak yang bisa menyayangiku. Usia kami tidak terpaut terlalu jauh. Tisa hanya tiga tahun lebih tua dariku.
Aku pikir kami bisa menjadi keluarga yang saling mendukung, tapi kenyataannya tidak seperti yang kubayangkan. Aku selalu merasa menjadi orang asing di rumah sendiri.
Jika Tisa menginginkan sesuatu, Papa akan berusaha memenuhinya. Jika aku memiliki keinginan, selalu ada alasan untuk menolaknya. Bahkan untuk sekarang, alasan yang harus aku turuti itu adalah sebuah pernikahan.
“Sini duduk dulu,” ucapnya lagi.
Namun, pria yang bertamu itu justru berdiri.
“Kalau begitu, saya pamit pulang. Kalian persiapkan saja semuanya. Seminggu lagi pernikahan harus dilaksanakan.”
Dadaku terasa sesak.
Seminggu? Mereka benar-benar sudah menentukan semuanya?
Aku bahkan belum sempat menjelaskan apa yang kurasakan.
“Maaf, Om.”
Langkahnya berhenti.
“Saya tidak mau menikah dengan anak Om.”
Kalimat itu keluar begitu saja. Aku melihat wajah Mama Rita berubah panik.
“Iren!”
Nada suaranya penuh peringatan, tapi kali ini aku tidak mau mundur. Aku sudah terlalu sering diam. Sudah terlalu sering menerima.
Tamu itu menatapku cukup lama. Anehnya, ia tidak marah. Ia hanya mendekat dan membisikkan sesuatu.
Seketika tubuhku membeku. Aku tidak menyangka mendengar kalimat itu darinya.
Pria itu hanya tersenyum kecil sebelum akhirnya meninggalkan rumah kami.
Setelah pintu tertutup, suasana langsung berubah.
“Seharusnya kamu tidak berkata seperti itu kepada Pak Darma, Iren!” Suara Mama Rita meninggi.
Aku sudah menduga. Di depan orang lain, ia bisa berpura-pura menjadi ibu yang baik. Tapi ketika hanya ada kami, aku tahu bagaimana sikapnya.
“Beliau orang yang sangat berjasa kepada keluarga kita. Saat Papa kamu kesulitan uang, siapa yang membantu? Pak Darma, Ren! Beliau memberikan pinjaman ketika tidak ada orang lain yang peduli.”
Aku terdiam. Bukan karena aku setuju, tapi karena aku merasa tidak adil.
“Kenapa harus aku, Ma?” Suaraku mulai bergetar.
“Ada Mbak Tisa. Usianya lebih dewasa. Kenapa bukan dia? Mbak Tisa yang lebih pantas, Ma!”
Mama Rita langsung menghela napas.
“Tisa sedang kuliah. Dia punya masa depan. Dia sedang mengejar cita-citanya.”
Aku menatap Papa yang sejak tadi hanya diam.
“Terus aku bagaimana, Pa?”
Tidak ada jawaban.
Aku menggenggam ijazahku lebih erat.
“Lihat ini, Pa. Ma.”
Aku mengangkat ijazah itu.
“Aku juga punya mimpi. Aku juga belajar keras. Aku juga ingin kuliah. Aku juga ingin bekerja. Aku bisa membantu keluarga ini.”
Tanganku perlahan turun ketika melihat tidak ada satu pun dari mereka yang tertarik melihatnya. Sakit rasanya. Ternyata perjuanganku tidak berarti apa-apa bagi mereka.
“Kamu berbeda dengan Tisa, Ren.” Kalimat Mama Rita membuatku menatapnya. “Dia punya masa depan cerah. Kamu harus sadar diri.”
Aku seperti kehilangan napas.
“Sadar diri?”
“Iya. Kamu harus bersyukur. Ada keluarga kaya yang mau menikahimu. Hidupmu akan lebih baik. Kamu tidak perlu merepotkan Mama lagi.”
Kalimat terakhir itu diucapkan pelan, tapi aku mendengarnya jelas.
Air mataku mulai menggenang.
“Kenapa Mama selalu pilih kasih untuk Mbak Tisa?” Aku mencoba tersenyum, tetapi gagal. “Aku juga anak Papa. Aku juga bagian dari keluarga ini.”
Papa masih diam. Diamnya lebih menyakitkan daripada bentakan.
“Andai Mama kandungku masih hidup ...,” bisikku.
Mungkin semuanya tidak akan seperti ini. Mungkin ada seseorang yang membelaku.
“Aku tidak meminta hal yang aneh, Ma. Aku Cuma ingin kesempatan. Aku baru lulus SMA. Umurku baru sembilan belas tahun. Aku belum siap menikah. Masa depanku masih sangat panjang, Ma!”
Mama Rita menatapku tajam.
“Kamu pikir hidup selalu sesuai keinginanmu?”
Aku menunduk.
“Aku hanya ingin memilih hidupku sendiri.”
Tiba-tiba wajah Mama Rita berubah keras. “Iren, kamu harus tau diri!” Suaranya menggema di ruang tamu. “Tisa itu berbeda denganmu. Jangan pernah menyamakan dirimu dengannya.”
Aku menggigit bibir. Kata-katanya kembali mengingatkanku pada luka lama. Luka yang selama ini kusimpan. Luka yang membuatku takut dengan laki-laki asing.
“Aku bukan menolak karena tidak mau menghormati Mama,” ucapku pelan. “Aku punya alasan.” Aku menarik napas. “Mama tahu aku punya trauma. Mama tahu apa yang terjadi dulu. Tapi kenapa sekarang Mama memaksaku menikah dengan orang yang tidak kukenal?”
Mataku mulai panas.
“Kenapa aku yang harus membayar semua ini? Aku bukan orang yang memakai uang itu untuk bersenang-senang, tapi kalian sendiri yang menghabiskannya hingga menjadi utang yang nggak bisa kalian bayar. Kenapa aku yang harus mengganti semuanya?”
PLAK!
Suara tamparan itu membuat ruangan mendadak sunyi. Kepalaku menoleh ke samping. Pipiku terasa panas. Aku tidak percaya Mama Rita benar-benar melakukannya.
Aku menatap Papa. Berharap ada pembelaan, tapi tidak ada. Papa hanya menunduk.
Saat itu aku sadar. Aku benar-benar sendirian.
“Seminggu lagi kamu harus menikah, Ren.” Suara Mama Rita terdengar lebih tenang. “Kalau tadi kamu tidak membuat Mama marah, tamparan itu tidak akan terjadi.”
Tangannya menyentuh pundakku. Sebuah gerakan yang seharusnya menenangkan, tapi bagiku terasa seperti ancaman.
“Jangan membantah lagi. Masuk ke kamar.”
Aku berjalan perlahan meninggalkan mereka walau dengan terpaksa. Ijazah yang tadi kugenggam erat kini terasa tidak berarti.
Aku masuk kamar dan menutup pintu. Air mataku jatuh tanpa bisa kutahan. Semua orang berkata pernikahan akan membawa kebahagiaan.
Tapi kenapa bagiku, pernikahan itu terasa seperti hukuman?
Dan yang paling menyakitkan, aku bahkan belum tahu apakah laki-laki yang akan menjadi suamiku itu benar-benar seseorang yang bisa menyelamatkanku atau justru menjadi awal dari penderitaan baru.