Dengan cepat, tanganku memegang pipi bekas kecupan itu. Aku terkesiap dengan apa yang telah dilakukan oleh Mas Daffin. Lalu, aku memandangnya. Namun, degupan jantung tiba-tiba semakin terpacu akibat ingatanku kembali terlempar ke masa itu. Ya, traumaku datang di saat seperti ini. Seharusnya, kejadian ini adalah sesuatu yang romantis bagi pasangan suami-istri. Beda jauh denganku. Justru, rasa tertekan dan ketakutan datang mengusik jiwaku. Bagaimana aku bisa menjadi istri yang baik? “Apa yang kamu lakukan, Mas?” Aku berusaha menjauh darinya. Rasa takut yang datang secara tiba-tiba itu yang membuatku bersikap seperti ini. Napasku terengah, mengingat hal buruk di masa lalu yang samar-samar muncul diingatan.Tubuhku seakan bergetar karena rasa takut itu kian memenuhi hati dan pikiran. Perkira

