“Tunggu, Mas. Apakah ucapanmu tadi benar?” tanyaku sembari bangkit dan duduk memandangnya. Mas Daffin kaget. Ia melihatku sekilas. Lalu, kembali memalingkan wajah ke arah lain. Ia pun tidak menjawab pertanyaanku. “Mas, katakan sejujurnya. Aku butuh jawabanmu.” Aku masih menahan ujung bajunya agar dirinya tidak begitu saja meninggalkan tempat ini. “Dari tadi kamu nggak tidur?” tanyanya tanpa melihatku. “Aku bangun dan pura-pura tidur agar kamu cepat pergi dari sini, Mas. Aku nggak mau membukakan pintu karena berpikir kalau kamu bakal memarahiku lagi. Aku malas mendengarkannya, Mas.” Aku berbicara sesuai dengan apa yang ada di dalam d**a. Awalnya memang diriku malas mendengarkan kata-kata yang membuat luka. Namun, ternyata Mas Daffin justru berbicara sesuatu yang lain. “Seharusnya kamu

