Aku melirik sejenak dan kembali melempar pandangan ke arah lain. Orang yang baru saja bertanya adalah Om Satya. Rasa itu mulai datang secara perlahan. “Iya, Om. Namaku Iren. Mungkin nama pasaran, jadi banyak yang sama. Permisi, Om, aku mau kembali ke kamar,” jawabku tanpa berani melihatnya. “Loh, buru-buru banget. Masa nggak mau mengobrol denganku sih? Sekarang aku sudah jadi Om-mu juga loh. Ayo kita minum bareng.” Langkah kakinya terdengar semakin mendekat. Aku tidak bisa jika harus berlama-lama dengan orang itu. Rasa takut itu kian datang menghampiriku. Aku harus segera pergi dari sini. “Iya, Om, maafkan aku. Kakiku sedang sakit, tadi nggak sengaja terjatuh. Jadi, aku lebih baik istirahat saja di kamar.” Aku mulai melangkah dengan susah payah. Rasa sakit di lututku semakin terasa be

